
Seperti saran ibu dan menuruti keinginan istriku, kedua putri kembarku akhirnya akan di aqiqah pada hari Jumat minggu ini.
"Kita akan mengundang siapa saja, yank?" tanyaku.
"Aku ingin mengundang anak-anak dari Panti Asuhan dan tetangga kiri kanan saja, mas. Sama karyawan kita. Kalau mas mau undang yang lain nggak apa-apa, kok!" jawab istriku.
"Mas menurut saja seperti keinginan kamu. Masalah konsumsinya bagaimana? Apa kita masak sendiri?"
"Nggak, mas. Kita pakai catering seperti waktu syukuran minimarket. Kambingnya juga minta dimasakin sama orang catering langsung."
"Begitu juga bagus, yank. Supaya kita tidak terlalu capek lagipula tidak ada yang bisa mengerjakan semuanya, kan!"
"Iya, mas."
Kamis malam harinya, ibu dan bu Mina di bantu juga oleh bibi sibuk membuat sedikit kue untuk tambahan di acara besok.
"Besok aku masih sekolah kan, yah?"
"Masih donk. Memangnya Alya mau libur?"
Alya menggeleng cepat, "Acara adik kembar kan sore, yah. Paginya aku masih bisa sekolah, kan?"
"Iya, nak. Kamu sama mas masih harus sekolah, donk! Masa libur."
"Iya, yah. Mana besok ada tugas maju ke depan kelas. Kalau aku nggak sekolah, bisa nggak dapet nilai!"
"Iya, nak. Alya kan mau jadi juara kelas jadi harus rajin sekolah!"
"Mas, amplop yang aku minta mas bawa nggak?" tanya istriku tiba-tiba.
"Oh iya, yank. Masih ada di mobil. Mas ambilkan dulu, ya!" sahutku lantas keluar rumah, mengambil amplop pesanan istriku tadi.
Untung saja aku ingat tadi ambil di minimarket.
Aku kembali masuk ke rumah, "Ini, yank!" ucapku sembari menyerahkan amplop putih pada istriku.
"Mau di isi uang berapa amplopnya?" tanyaku.
"Biasa,mas. Aku suka yang ganjil. Jadi mau aku isi tiga ratus ribu saja. Nggak apa-apa kan?"
"Iya, nggak apa-apa kok, yank!"
***
Beberapa hari kemudian, tibalah hari Jumat yang sudah di rencanakan. Acara Aqiqah kedua bayi kembarku akan dilaksanakan pada Jumat sore setelah salat ashar.
Dari pagi, ibu sudah sibuk di dapur di bantu bu Mina. Walaupun hidangan nanti sudah di pesan melalui catering, tapi namanya ibuku, selalu saja ingin membuat sesuatu yang bisa kita santap bersama.
"Aromanya sedap banget, bu? Kue apa itu?" tanyaku.
"Ibu bikin kue lapis. Buat cemilan bagi tamu sebelum acara di mulai!" jelas ibu.
"Loh, bukannya semalam sudah bikin kue?"
"Semalam ibu bikin puding sama brownis!"
"Hhhmm, jangan terlalu capek ya, bu!" tegasku.
__ADS_1
"Iya. Kan nggak setiap hari juga. Buat cucu ibu sendiri, kok! Dulu ibu ingin sekali punya anak kembar, eh dapetnya cucu kembar! Seneng banget ibu!" jelasnya dengan senyum semringah.
"Hhmm, iya deh! Aku tinggal dulu, bu!" pamitku.
Aku lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar atas. Istriku di bantu oleh adikku Aminah sedang mengurus si kembar. Karena minimarket aku liburkan hari ini, jadi aku bosan hanya duduk-duduk santai saja di rumah. Hanya sesekali membantu istriku jika sudah sangat kerepotan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga dan waktunya sholat ashar. Setelah sholat ashar, kami semua bersiap-siap. Kedua putri kembarku sudah selesai di dandani layaknya seorang putri. Alya pun tidak mau ketinggalan. Gadis kecilku itu memakai pakaian terbaik yang dia punya.
Aku menunggu di depan pintu masuk. Tamu undangan sudah sebagian yang datang . Anak-anak dari Panti Asuhan juga sudah dijemput. Catering yang menyiapkan konsumsi juga sudah siap di dapur berikut masakan yang berbahan daging kambing. Ada gulai dan juga sate. Di tambah kue-kue yang di bikin oleh ibuku dari semalam.
Setelah semua tamu sudah datang termasuk para ustadz dan ustadzah, acara Aqiqah Alina dan Annisa pun di mulai. Istriku memberikan kata sambutan. Istriku itu memang pandai berbicara di depan umum. Tak lupa juga dia mengucapkan kata-kata syukur kepada Allah atas anugerah yang sudah di berikan. Dua orang bayi kembar dan juga kesembuhannya setelah koma selama empat bulan lebih. Semua yang mendengarkan sebagian menangis terharu.
Dan yang membuat aku jadi salah tingkah karena tatapan dari para tamu ke arahku saat istriku itu juga menyebut namaku. Aku sebagai suami yang sempurna yang Allah kirimkan untuknya. Aahh, aku begitu tersanjung di buatnya. Aku yang tidak mempunyai apa-apa ini dia anggap sebagai suami yang sempurna.
Setelah istriku memberikan sambutan, ada seorang ustadz yang mengaji serta usradzah yang membacakan doa-doa.
Acara Aqiqah putri kembarku pun selesai. Untungnya mereka anak-anak yang manis, yang tidak rewel saat acara sedang berlangsung.
Walau acara sederhana yang penting niatnya sudah terlaksana. istriku terlihat sangat bahagia sambil terus menggendong buah hati kami.
"Selamat ya bu Santi, atas kelahiran putri kembarnya dan juga kesembuhannnya!" ucap karyawan minimarket yang sengaja kami libur kan hari Jumat ini.
"Terimakasih, ya. Kalian sudah mau datang." ucap istriku.
Saatnya tamu untuk makan hidangan yang sudah di sediakan. Setiap tamu pun kebagian oleh-oleh yang sudah disiapkan oleh istriku. Sedikit uang untuk anak-anak di Panti Asuhan. Setiap anak akan mendapatkan satu buah amplop dan juga bingkisan yang berisi pakaian muslim. Setelah tamu mulai habis, kami sekeluarga yang makan bersama.
"Satenya enak banget. Hhmn nyam-nyam!" ucap Alya sambil mengunyah sate."
"Iya ya,dek. Nggak bau!" sahut Andre.
"Bunda kok nggak makan satenya?" tanya Alya dengan mulut penuh.
"Loh, kenapa,bund?"
"Bunda memang nggak bisa saja!"
"Hhmm," dahi Alya berkerut.
***
Malam harinya, setelah selesai makan malam, kami semua sudah masuk ke kamar masing-masing. Walau acara aqiqahnya sederhana tapi cukup melelahkan. Terutama bagi ibu-ibu. Banyaknya sisa masakan dan makanan membuat mereka berbagi tugas membagikannya ke para tetangga.
Aku lihat istriku sedang meregangkan otot-ototnya. Pasti dia sangat kelelahan. Aku lalu mendekatinya.
"Capek, yank?" tanyaku seraya mengusap wajahnya.
"Hhmm, sedikit, mas!"
"Mas pijitin, ya?"
"Memangnya mas bisa?"
"Bisa donk! Kan pijit punggungnya saja. Sama kaki juga ya?"
"Hhmm, boleh, mas! Pakai minyak telon supaya hangat, mas!" pintanya.
"Ayo tengkurap dulu!" titahku.
__ADS_1
Istriku lalu berbaring tengkurap. Aku memijatnya perlahan.
"Enak nggak pijitin mas, hmm?"
"Hhmm, kurang kuat, mas!" sahutnya pelan.
Hhh, mas memang sengaja pelan, yank. Takut kamu sakit. Batinku.
"Mas kuatin dikit, ya!" ucapku seraya menambah sedikit tenaga memijatnya.
Tidak sampai setengah jam dia sudah minta berhenti.
"Pijatnya sudah, mas!" pintanya.
Aku berhenti memijatnya, dia pun membalik badan menghadap ke arahku.
"Gimana pijatan mas, hmm?"
"Enak kok, mas. Mas juga mau di pijat?"
"Mau donk!" sahutku cepat.
"Ya sudah mas tengkurap dulu. Mas mau pakai balsem apa minyak telon?"
"Nggak pakai apa-apa, yank!"
"Loh, mana enak, mas! Pakai minyak telon, ya. Supaya sedikit hangat."
Aku menggeleng lalu mengusap wajahnya. Mendekatkan wajah kami berdua. Lalu mengecup bibirnya lembut.
"Hhmm, mas. Tadi minta di pijat kok malah. . "
"Pijatnya beda, yank!" aku memotong ucapannya.
"Iiihh, mas ini!" ucapnya dengan wajah memerah.
"Ayo, yank!" aku sudah tidak sabar.
"Ehhmm, mas nggak capek?" tanyanya.
"Mas nggak akan capek dengan pijatan kamu itu, yank!" jawabku dengan sorot mata menggoda.
"Hhmm, mas ada-ada saja, deh!" dia makin tersipu malu.
Aku kembali mencium bibirnya lembut namun hanya sebentar saja. Lalu mulai menarik tengkuknya, menatap matanya yang mulai terlihat mendamba.
Aku mencium lagi bibirnya sebentar namun berulang-ulang hingga kami sama-sama berhasrat. Aku baringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kami mulai saling memberikan kesenangan dunia.
.
.
.
.
.
__ADS_1
12