
Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sialnya jam-jam segini adalah jam-jamnya jalanan macet. Banyak sekali mobil yang lalu lalang. Hingga aku sampai di rumah sakit sedikit lebih lama. Setelah memarkirkan mobilku,aku bergegas naik ke lantai 3 dimana ruang ICU berada. Aku langsung menemui suster yang ada di depan ruang ICU.
"Suster, apa saya boleh masuk ke dalam?" tanyaku gugup campur cemas.
"Oh, pak Anto ya suami dari pasien Santi?" tanya suster.
Aku mengangguk, " iya sus!" sahutku.
"Silakan masuk, pak! " ucap suster.
Aku lalu memakai pakaian khusus yang disediakan di ruangan yang ada di sebelah ruang ICU. Setelah itu aku masuk ke dalam. Ternyata istriku sedang tidur. Aku lalu bertanya pada suster yang sedang sibuk membereskan alat-alat medis di mejanya.
"Sus, tadi pihak rumah sakit telepon saya. Ada apa ya, sus?" tanyaku.
"Oh suaminya bu Santi, ya?"
Aku mengangguk.
"Istri bapak tadi sudah mulai bergerak-gerak dan dia mulai sedikit membuka matanya tapi setelah itu ia kembali tertidur. Tapi dokter bilang kalau pasien sudah mulai sadar. Saat ini bu Santi sudah tidak koma lagi tapi sedang tertidur."
"Benarkah itu sus?" tanyaku kaget bercampur senang.
"Iya, pak. Tadi dokternya bilang begitu. Sepertinya saat istri bapak mulai membuka matanya, dia merasakan pusing hingga dia kembali tertidur."
"Alhamdulillah!" ucapku seraya mengusap wajahku perlahan.
Aku lalu duduk di sebelah istriku, menggenggam tangannya yang sedikit mulai hangat tidak sedingin seperti tadi saat aku tinggal.
"Sayang, maafkan mas ya tadi saat kamu membuka matamu mas tidak ada di sampingmu. Tadi saat mas pulang ke rumah, salah satu bayi kembar kita menangis."
Aku mencium punggung tangannya, "Yank, bangunlah. Kita pulang kerumah. Anak-anak sangat merindukanmu terutama bayi kembar kita. Mereka pasti merindukan sekali dekapan hangatmu!"
Aku lalu membacakan ayat-ayat suci Alquran di telinganya. Perlahan aku mengusap pucuk kepalanya dan sesekali mencium pipinya lembut. Aku baru sadar kalau ada sebagian alat bantu kehidupan di tubuh istriku sudah tidak ada lagi.
"Suster, kenapa alat yang biasanya ada di hidung istri saya sudah tidak di pasang lagi? Biasanya ada dua!" tanyaku heran.
"Oh itu ventilator, pak. Selang oksigen untuk membantu pernafasan istri bapak. Sekarang ibu sudah tidak membutuhkannya lagi karena sudah beberapa hari saturasinya selalu normal dan tidak pernah lagi naik turun. Kondisi pasien mulai stabil.
"Oh begitu. Lalu selang yang satunya kenapa masih ada, sus?" tanyaku seraya menunjuk selang yang satu lagi yang masih ada di hidung istriku.
"Kalau itu NGT, pak. Untuk memasukan cairan makanan ke lambung bu Santi. Karena ibu masih membutuhkan asupan kecuali nanti kalau ibu sudah bisa makan sendiri baru alat itu akan dilepas!" jelas suster.
Aku mengangguk mengerti. Semoga istriku cepat sadar dan bisa makan sendiri jadi dia tidak perlu lagi alat bantu itu. Aku sungguh tidak suka melihat semua alat-alat yang menempel di tubuh istriku. Melihat semua selang itu membuatku takut dan selalu khawatir setiap hari.
Aku menunggu beberapa saat istriku membuka matanya. Aku tidak mau beranjak dari sisinya. Aku ingin saat dia membuka matanya nanti yang dia lihat pertama kali adalah aku bukan orang lain.
Satu jam kemudian aku merasakan pergerakan di tangannya yang sedang aku genggam. Aku lalu mengamati wajahnya. Matanya bergerak-gerak. Bulu mata lentik itu yang selalu membuatku terpana menatapnya semakin sering bergerak. Aku menunggu dengan hati berdebar-debar. Tak lama kemudian aku mendengar suara lenguhannya.
"Uhhhh,"
Aku gegas memanggil suster.
"Suster, istriku sepertinya sudah bangun!" seruku.
Suster lantas mendekatiku. Dia mulai memeriksa tubuh istriku dari tangan sampai kepala istriku.
"Istri bapak sudah bangun!" jelas suster.
__ADS_1
Dan memang istriku itu sudah membuka matanya perlahan dan dia mengernyitkan matanya. Sepertinya matanya silau. Mungkin karena sudah lama tidak terkena sinar lampu.
"Silahkan, pak. Tapi pasien jangan terlalu banyak diajak bicara, ya!" pesan suster.
Aku terus menggenggam erat tangan istriku yang juga membalas genggaman tanganku. Aku usap-usap pucuk kepalanya penuh kasih sayang. Dan akhirnya mata itu benar-benar terbuka.
"Mas. . ." ucapnya Lirih seraya menatapku lembut.
"Iya, sayang ini mas!" sakutku.
Tak terasa air mataku jatuh. Aku sangat bahagia. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Aku lalu menciumi wajah istriku! Dia tersenyum tipis. Sepertinya dia masih sangat lemah sekali sampai tersenyum pun dia seperti kesusahan.
Perlahan, tangan satunya yang terdapat selang infus bergerak ke arah perutnya lalu mengusap perut itu perlahan. Dahinya tiba-tiba berkerut.
"Kandunganku!?" tanyanya lirih dengan wajah sedih. Matanya mulai berkaca-kaca, "Bayiku mana, mas?" dia bertanya dengan suara bergetar.
"Bayi kita sudah lahir dengan selamat sayang!" bisikku di telinganya.
Wajah sedih itu tiba-tiba berubah. Mulutnya terbuka, "Be-benarkah, mas?" tanyanya seakan tidak percaya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Iya, sayang. Putri kembar kita sudah lahir sehat dan selamat. Mereka ada di rumah sama ibu, Alya dan Andre!" jelasku.
"Putri kembar kita?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Iya sayang. Bayi kembar kita dua-duanya perempuan!"
Tiba-tiba dia menangis lagi. Aku rasa kali ini adalah tangisan bahagia.
"Aku mau melihat bayi kembar kita, mas!" pinta istriku dengan wajah memohon.
"Iya, sayang. Kamu pasti akan melihat mereka tapi kita izin dulu sama dokter, ya!"
"Dokternya ada tapi kamu kan baru saja sadar, yank. Masih belum boleh pulang dulu!"
"Tapi aku ingin bertemu bayiku, mas!" desaknya dengan suara bergetar. Dia seperti hendak menangis.
"Yank, kamu koma selama empat bulan lebih. Dan dokter tidak akan mengijinkan kamu pulang!"
Mata istriku membulat. Dia hendak bangun, "Apa, mas? Aku koma selama empat bulan lebih?" tanya istriku kaget.
"Jangan bangun dulu, yank. Ayo berbaring lagi!" titahku lalu membantunya untuk kembali berbaring.
Istriku menurut. Mungkin juga dia belum kuat untuk duduk. Dia mulai terisak. Aku lalu memeluknya seraya mengusap rambutnya lembut.
"Sabar ya, yank! Kamu pasti bertemu dengan putri kembar kita!" hiburku.
"Aku nggak bisa merawat mereka, mas. Aku ibu yang nggak berguna!" ucapnya di tengah isak tangis.
"Huusss! Jangan berkata seperti itu, yank! Kamu itu ibu yang hebat! Buktinya mereka baik-baik saja. Tumbuh sehat!"
Dia melepaskan pelukanku, "Mereka nggak sakit apa-apa kan, mas? Aku ingat saat aku jatuh itu kandunganku baru tujuh bulan padahal aku ingin mengajak mas belanja kebutuhan mereka."
"Mereka sehat dan cantik-cantik!"
"Mereka kan lahir prematur. Apa mereka benar-benar baik-baik saja, mas?" tanyanya cemas.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja. Mereka hanya ingin di peluk sama bundanya!"
__ADS_1
"Aku mau pulang, mas!" tangisnya makin kencang.
"Ssstt, jangan nangis keras-keras, yank. Di sebelah ada pasien juga!" titahku yang merasa tidak enak hati. Tidak enak hati terhadap istriku karena melarangnya menangis dan juga tidak enak terhadap pasien lain.
Aku kembali memeluknya. Mengusap-usap bahunya supaya dia bisa merasa tenang.
"Lalu kapan aku boleh pulang, mas?"
"Suster pernah bilang, kalau kondisi kamu sudah benar-benar stabil baru akan di pindahkan ke ruang ranap biasa tapi tetap belum boleh pulang ke rumah, yank! Kamu masih butuh perawatan!"
Hhh, dia menarik nafas berat, "Mas. . ."
"Hhmm, apa sayang?" tanyaku seraya melepaskan pelukan.
Pandangan mata kami bertemu. Getar-getar itu kembali aku rasakan. Aku benar-benar sudah lama sekali merindukan saat-saat seperti ini.
"Terimakasih. . ." ucapnya lirih.
"Hhmm, terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih sudah menjaga dan merawatku selama aku koma. Terimakasih masih setia mendampingiku."
Aku tersenyum, "Kamu itu istri mas. Belahan jiwa mas. Tentu saja mas akan melakukan semua itu, yank!"
"Mas, aku benar-benar nggak salah pilih suami. Aku sangat mencintai kamu, mas!"
"Mas juga, yank. Mas sangat mencintai kamu!" balasku.
Aku makin mendekatkan wajah kami berdua. Aku lalu menatap bibirnya. Bibir yang beberapa jam lalu sangat pucat, kini sedikit memerah. Aku lalu mendekatkan bibirku ke bibirnya tapi belum sampai bibirku menyentuh bibirnya tiba-tiba dia memalingkan wajahnya.
Dahiku berkerut. Ada apa dengannya? "Yank?"
"Hhmm, mas. Aku kan sudah koma lebih empat bulan. Selama itu aku nggak gosok gigi!" jawabnya malu-malu.
Aku tersenyum lalu mencubit hidungnya.
"Tiap hari mas gosok, kok!" gurauku.
Dahinya berkerut, "Masa, mas?"
Aku menahan tawa lalu cepat-cepat mencium bibinya sekilas.
"Mas iihhh!" protesnya seraya memukul bahuku lembut.
Wajah pucat itu kini merona. Lekaslah pulih, yank. Aku sangat merindukanmu!
.
.
.
.
.
Maaf jika masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😊🙏
__ADS_1
.
14.3