
Pov Lisa
Gara-gara kedatangan mas Anto ke rumah mertuaku waktu itu, mas David tanpa pikir panjang langsung membawa Alya kabur dari rumah tanpa bicara dulu padaku.
Mas Anto langsung mengejarnya. Tapi beberapa saat kemudian aku mendengar kabar kalau suamiku kecelakaan bersama putriku di jalan yang tidak jauh dari rumah. Aku bergegas ke sana dan ternyata benar, suami dan anakku kecelakaan dan mereka sudah di bawa ke rumah sakit.
Aku langsung menyusul ke rumah sakit mencari suamiku. Tapi tak lama suster menemuiku dan memintaku untuk mengurus administrasi. Aku kebingungan dari mana aku uang untuk membayar uang muka pengobatan suamiku? Terpaksa satu-satunya cincin yang aku miliki aku jual untuk membayar biaya pengobatan suamiku karena kalungku sudah aku jual waktu itu.
Beruntung luka mas David tidak terlalu parah jadi biaya pengobatannya tidak terlalu mahal sementara yang aku dengar putriku kakinya patah dan ada satu korban lain masih kritis.
Aku lalu mencoba mencari tau di mana putriku di rawat. Mas Anto tidak mau memberitahuku tapi aku tidak kehilangan akal, aku lalu bertanya pada suster. Ternyata putriku itu di rawat di ruang ranap yang berkelas dan tentunya harganya mahal. Darimana mas Anto uang, atau jangan-jangan istri barunya yang membayar semua biaya rumah sakit.
Beruntung banget mantan suamiku itu. Sementara aku mendapatkan suami yang pengangguran padahal awalnya dia mempunyai pekerjaan yang bagus tapi karena dia kurupsi akhirnya di pecat. Masih beruntung bosnya tidak sampai memenjarakannya karena mas David mau mengembalikan uang yang dia kurupsi. Sejak itu kehidupanku dan mas David menjadi susah.
Saat aku menemui putriku, ternyata putriku itu menolakku. Dia seperti benci padaku. Pasti mas Anto yang sudah menghasut lnya. Kenapa Mas Anto seperti itu, aku semakin benci kepadanya.
Aku pikir masalahnya selesai saat suamiku sembuh, ternyata suamiku terkena kasus. Salah satunya kasus penculikan. Dan semua karena mas Anto. Ah, andai saja mas Anto mau menuruti kemauanku, pastilah mas David tidak akan membawa Alya kabur dari rumah.
Hidupku benar-benar kacau sekarang. Uang nggak punya, suami yang aku pikir akan pulang ke rumah setelah sembuh justru malah di bawa ke kantor polisi dan di tahan di sana entah sampai kapan. Aku rasa mas Anto bisa membebaskan mas David jika dia dan Alya tidak memberikan kesaksian yang memberatkan mas David.
Aku kembali mendatangi mas Anto ke minimarketnya.
Lisa!" ucap mas Anto kaget saat melihatku.
"Aku ingin bicara penting!" ucapku.
"Penting buat siapa?" tanya mas Anto ketus.
"Kamu jangan menutup mata, mas! Jangan pura-pura nggak tahu!" ucapku kesal.
"Bagi saya yang penting itu keluarga saya. Hanya keluarga saya!"
"Dasar egois kamu!"
"Pergilah! Saya nggak mau ribut!" usirnya.
"Aku nggak akan pergi sebelum kita bicara!" desakku yang makin emosi karena dia mengusirku.
"Kamu benar-benar keras kepala! Justru kamu itu yang egois!"
"Terserah! Aku hanya ingin kamu bebaskan suamiku! Apa kamu sengaja ingin membalas dendam padaku, haahh?"
"Buat apa dendam? Toh aku sekarang sudah bahagia. Jauh lebih bahagia daripada denganmu!" ucap mas Anto dengan angkuhnya.
"Sombong kamu, mas! Kamu pikir aku nggak bahagia apa pisah dari kamu? Aku jauh lebih bahagia!" ucapku tak kalah angkuh walau sebenarnya hidupku sekarang kacau.
__ADS_1
"Ya sudah, jadi nggak usah saling ganggu! Biar kita hidup masing-masing!"
"Siapa juga yang ganggu kamu! Aku hanya minta kamu bebaskan suamiku! Semua ini gara-gara kamu!"
"Suami kamu bukan urusanku! Urus diri masing-masing! Kalau memang suami kamu kaya, suruh dia sewa pengacara yang handal! Gunakan uangnya, jangan di simpan saja. Buktikan kalau suami kamu itu memang benar kaya!"
"Keterlaluan kamu! Kalau bukan gara-gara kamu, suamiku nggak akan di tahan polisi!"
"Terserah! Pergilah. Jangan usik hidup saya!"
Dia segera pergi dari hadapanku tanpa mempedulikan lagi teriakan-teriakanku yang terus memanggilnya. Aku benci kamu, mas!!
Mas Anto tetap tidak mau mendengarkanku setiap kali aku menemuinya. Aku tahu dia pasti marah banget atas apa yang terjadi pada Alya tapi harusnya dia mikir, seandainya dia mau memenuhi permintaanku, mas David nggak akan sampai nekad.
Akhirnya aku kembali lagi kantor polisi menemui mas David.
"Bagaimana, apa suami kamu mau?" tanya mas David.
Aku menggeleng lemah.
"Kamu benar-benar nggak bisa di andalkan!" ucapnya menahan emosi.
"Aku sudah berusaha, mas. Dari sejak Alya masih di rawat, aku sudah memintanya membebaskan kamu. Ke minimarketnya saja aku sebenarnya sudah malu, karyawannya sudah banyak yang mengenaliku!" akupun tak kalah emosi.
"Hhh, kalau sampai dia masih tidak mau membatalkan kesaksiannya, aku sudah pasti akan mendekam di penjara! Dan kamu bebas mau sama lelaki manapun!" ucapnya sinis.
"Bukannya kamu memang begitu? Tidak akan sanggup hidup menderita dan akan mencari laki-laki lain!"
"Mas jangan sembarangan kalau ngomong!"
"Terserah. Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan datang lagi kalau tidak membawa kabar baik untukku!" usirnya.
"Mas! Harusnya mas mikirin jalan lain! Sewa pengacara kek, daripada harus membusuk di sini!"
"Uangnya kamu punya?"
"Iiihh, kok tanya aku? Aku uang darimana, mas?"
"Huuhh, kamu memang hanya mengandalkan fisik kamu saja!" dengusnya.
"Ya kan mas mau sama aku karena fisik aku!"
"Sekarang fisik kamu sudah nggak berguna, kecuali?"
"Kecuali apa?" tanyaku emosi. Aku paham maksud ucapannya.
__ADS_1
"Pikir sendiri!"
"Enak saja! Nggak akan pernah, mas! Kamu benar-benar tega, mas. Kamu bisa mengucapkan kata-kata itu. Aku sungguh nggak ada artinya buat kamu!" hatiku sakit sekali rasanya mendengar suamiku sampai berkata seperti itu.
Mas David mengusap wajahnya kasar, "Jangan nangis di sini!" bentaknya saat bulir bening mulai memenuhi pelupuk mataku.
"Ternyata kamu nggak pernah sayang sama aku, mas. Baiklah, aku akan pergi, mas! Aku akan bawa anak kita. Dan kamu, nggak akan bisa menemui kami lagi!" ucapku sambil menahan tangis.
Aku lalu bangkit berdiri hendak meninggalkan dia tapi tiba-tiba dia menarik tanganku kuat lalu dia membawaku dalam pelukannya.
"Maafkan, mas. Mas hanya emosi sesaat saja! Mas sayang sama kalian berdua!" ucapnya seraya mengusap kepalaku lembut.
Aku mendongakkan kepalaku, "Mas benar sayang sama aku dan Daren?" tanyaku lalu menatap netranya mencari apa ada kebohongan di sana.
Dia mengangguk, "Jangan pergi. Hhh, di dalam lemari di bawah pakaian mas ada sertifikat rumah, kamu jual saja rumah itu buat bayar pengacara!"
"Tapi, mas. Kalau rumah itu di jual nanti kita tinggal di mana?"
"Kita ngontrak saja dulu. Kamu nggak ingin mas di penjara lama-lama, kan?"
"Hhhmm, kalau kita sewa pengacara, mas nggak akan di penjara, kan?"
Mas David menunduk, "Mas nggak tahu!"
"Loh, kok masih nggak tahu? Percuma donk kita sewa pengacara kalau mas masih di penjara."
"Hhh, setidaknya bisa meringankan hukuman mas! Nanti mas akan tanya sama orang."
"Baiklah,mas. Aku pulang dulu kasihan Daren aku titipkan sama adik kamu. Adik kamu itu sedikitpun tidak perhatian dan sayang sama anak kita. Walaupun dia nggak suka sama aku tapi Daren itu kan keponakannya!"
"Hh, dia sayang kok sama Daren hanya tidak suka memperlihatkannya di depanmu saja! Pulanglah," ucap mas David lembut.
Aku sudah tidak merasa sedih lagi setelah aku yakin mas David sayang sama aku dan anakku. Aku lalu pulang kembali ke rumah mertuaku. Semoga saja akan ada hal baik nanti.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
08