
Aku meninggalkan istriku dan mbak Melly berdua saja di kantor. Mungkin mbak Melly lebih mau bercerita jika dengan sesama wanita. Dulu saat baru mengenalnya,aku memang sedikit bersimpati padanya terlebih melihat anaknya yang masih kecil. Tapi Allah mengirimkan Santi untuk jadi pendamping hidupku. Aku pun mulai melupakannya dan fokus pada istriku saja. Entah apa yang terjadi dengan mbak Melly sekarang,aku sudah lama tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu setelah membayarkan biaya rumah sakit anaknya.
Aku kembali ke minimarket,hujan masih sangat deras sampai makin banyak orang-orang yang menumpang berteduh. Dan rezeki buat minimarket juga. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya berbelanja minuman atau pun makanan.
Sejam kemudian aku kembali ke kantor karena sebentar lagi aku mau menjemput Alya di sekolahnya. Tapi sampai di depan pintu,aku tidak sengaja mendengar pembicaraan antara mbak Melly dan istriku.
"Terimakasih,mbak. Tapi saya nggak mau merepotkan!" ucap mbak Melly.
"Nggak merepotkan kok,mbak. Daripada mbak kerja jauh banget dari rumah,kan?" ucap istriku.
"Tapi saya nggak akan bisa bekerja dengan benar kalau sambil membawa anak saya,mbak."
"Nggak apa-apa,kalau Davina rewel,mbak bisa meninggalkan pekerjaan sebentar sampai dia nggak rewel lagi. Bagaimana?"
"Hhhmm,saya pikir-pikir dulu ya mbak."
Tok tok. "Assalammu'alaikum!" ucapku.
"Wa'alaikumsalam!" sahut istriku dan juga mbak Melly.
Aku lalu masuk dan duduk di meja menghadap ke komputer. Aku lihat di meja di depan sofa ada bekas nasi bungkus. Mungkin istriku menyuruh karyawan untuk membelinya.
"Hujan masih deras,mas?" tanya istriku.
"Iya,masih. Sebentar lagi kita mau jemput Alya." sahutku.
"Oh,iya. Sekalian antar mbak Melly pulang,mas."
"Oh,ya ayo kalau gitu sekarang saja!" sahutku.
Kami lalu menuju ke mobil yang terparkir di depan minimarket. Mbak Melly dan anaknya duduk di belakang. Tak lupa istriku membawakan banyak makanan untuk mbak Melly.
Mbak Melly sempat menolak tapi istriku bilang itu untuk Davina dan akhirnya mbak Melly mau menerimanya.
Aku mengantar mbak Melly terlebih dahulu. Ternyata dia masih tinggal di rumah orangtuanya. Rumah yang dulu pernah aku datangi saat mengantarnya pulang.
"Terimakasih banyak,mbak,mas!" ucapnya saat akan turun dari mobil.
Tiba-tiba istriku menyelipkan amplop ke tangan mungil Davina. Gadis kecil itu menatap istriku bingung sejurus kemudian menoleh ke arah ibunya.
"Apa ini,mbak?" tanya mbak Melly seraya menatap istriku.
"Itu buat Davina!" jawab istriku.
"Tapi,mbak?" mbak Melly hendak mengembalikan amplop itu.
"Buat Davina,mbak. Tolong jangan di tolak,ya!" ucap istriku lembut.
Mbak Melly tersenyum, "Terimakasih,mbak!" sahutnya kemudian.
"Kalau masih butuh pekerjaan,hubungi nomor saya tadi ya,mbak!" ucap istriku lagi.
__ADS_1
Mbak Melly mengangguk, "Iya,mbak. Terimakasih banyak. Saya pulang dulu!" pamitnya kemudian turun dari mobil.
Setelah wanita itu masuk ke rumahnya,aku kembali melajukan mobil.
"Mas?" panggil istriku.
Aku menoleh sekilas, "Hhmm,kenapa?"
"Mas nggak ada hubungan apa-apa kan sama mbak Melly sebelum kenal denganku?"
Aku langsung mengerem mendadak. Kaget dengan pertanyaannya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyaku seraya menatapnya lekat-lekat.
"Hhmm,ng-nggak apa-apa,mas! Aku cuma tanya saja!" jawabnya gugup.
"Kenapa kamu bisa ada pikiran seperti itu?"
"Hhmm,maaf mas. Lupain saja pertanyaan aku tadi."
"Bicara!" tegasku. Aku tidak ingin istriku berpikir yang aneh-aneh.
Dia menoleh, "Hhmm,mas. Aku hanya. . ."
"Mas hanya menolong dia dan anaknya saja saat itu! Karena anaknya sangat membutuhkan pertolongan! Nggak lebih. Kita juga hanya pernah beberapa kali bertemu. Kamu tahu,dia adalah mantan istri dari selingkuhan mantan istri mas yang akhirnya mereka kini menikah dan mbak Melly di ceraikan karena mantan istri mas!" jelasku.
Istriku langsung membulatkan matanya, "Apa,mas?"
"Hhmm,apa salah jika mas membantunya di saat mantan suaminya nggak peduli terhadap anaknya yang sedang sakit?"
"Hhmm,ma-maafkan aku,mas. Aku hanya. . ."
"I-iya,mas!"
"Ada lagi yang mengganggu pikiran kamu?"
"Hhmm,aku-aku ingin membantunya tapi dia terus saja menolak. Dan tatapan matanya saat melihat mas. . .hmm,"
"Kamu nggak usah mikir yang nggak-nggak. Mungkin dia malu,atau nggak ingin merepotkan kita. Saat itupun jika mas nggak maksa membawa anaknya ke rumah sakit,dia tetap nggak akan mau!"
"I-iya,mas."
"Hhmm,kita jemput Alya,ya!" ajakku kemudian.
Aku mulai melajukan mobil ke sekolah Alya. Aku lirik istriku yang seperti sedang melamun. Sepertinya dia masih memikirkan tentang mbak Melly. Aku juga bisa merasakan tatapan aneh dari mbak Melly. Dia selalu salah tinggkah setiap kali aku memergokinya tengah menatapku. Tapi aku tidak mau berpikir macam-macam. Mungkin saja dia kaget tahu aku sudah menikah lagi.
Sampai di depan pintu gerbang sekolah Alya ternyata putriku itu belum pulang. Sekolah masih sepi.
"Alya belum keluar," ucapku.
"Iya,mas."
"Kamu kenapa? Masih mikirin mbak Melly?"
__ADS_1
"Hhhmm,mas. Aku. . ."
Aku menarik nafas berat. Entah apa yang di pikirkan oleh istriku itu.
"Mas terakhir bertemu dia saat Davina mau pulang dari rumah sakit. Ada ibunya mbak Melly juga saat itu. Setelah itu kita nggak pernah lagi bertemu!"
"Mas sering menolongnya?"
"Nggak juga."
"Hhmm,apa mungkin dia menganggap pertolongan mas itu beda."
Aku mengernyitkan dahiku, "Beda?"
"Iya,mas. Mungkin dia menaruh harapan lebih. Dia tadi lebih banyak diam dan nggak akan ngomong sebelum aku tanya. Wajahnya juga terlihat sedih dan murung."
"Sudah,jangan berpikir macam-macam. Mungkin dia sedang banyak masalah juga. Sedang sedih atau entahlah kita nggak tahu masalah yang orang lain sedang hadapi. Membesarkan anak sendirian tanpa suami yang peduli. Kadang mas merasa bersalah. Kalau bukan karena mantan istri mas yang merebut suaminya,mungkin saat ini hidupnya masih bahagia dengan suaminya. Tapi mungkin juga sudah nasibnya. Kita nggak tahu nasib seseorang,kan?"
"Hhmm,iya mas. Tapi tadi dia nggak cerita tentang suaminya yang menikah dengan mantan istri mas. Makanya aku kaget saat mas bilang. Hidupnya pasti berat. Aku makin kasihan dengannya,mas. Semoga dia mau menerima tawaranku bekerja."
"Kamu menawarinya bekerja di mana?"
"Bekerja di minimarket kita,mas. Membantu mas mencatat barang-barang gudang!"
"Apa?"
"Iya,mas. Kenapa?"
"Hhmm,nggak kenapa-kenapa. Tapi dia kan punya anak."
"Tapi dia bilang kalau dia tinggal dengan orangtuanya. Dan aku juga nggak melarang dia membawa anaknya,mas."
"Hhmm,nggak enak sama karyawan lain kalau dia kerja sambil bawa anak,yank!"
"Anaknya bisa main denganku,mas. Siapa tahu bisa memancing aku hamil,kan."
"Hhmm,kita lihat saja apa dia mau."
"Iya,mas. Sepertinya mbak Melly itu orangnya baik dan nggak macem-macem!"
"Iya,semoga saja!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
22