
Pov Melly 3
Suatu hari, Rudi mengatakan jika dia berharap kalau aku mau menjadikannya ayah sambung bagi putriku Davina.
"Apa kamu merasa nyaman denganku?" dia mulai membuka obrolan saat malam hari dia datang ke rumah untuk ke sekian kali.
Aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak merasakan getaran apa-apa saat di dekatnya. Walau aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya dalam hidupku dan putriku kini.
"Mel?" panggilnya lembut.
"Aku? Aku nggak tahu, Rud," sahutku pelan.
"Pak Anto memang baik dan juga tampan. Aku nggak akan bisa bersaing dengannya. Tapi yang pasti, dia nggak akan bisa ada untuk kamu dan Davina," ucapnya lirih tapi sukses membuatku kaget.
"A-apa maksud ucapan kamu?" tanyaku kaget.
"Aku tahu, kamu menyukai pak Anto!"
"Kamu! Kamu jangan asal bicara! Mana mungkin aku menyukai pak Anto!" ucapku tidak terima walau sebenarnya ucapan Rudi benar adanya. Tapi aku sedang dalam tahap belajar melupakan perasaanku itu.
"Alhamdulillah jika ucapanku salah!"
"Aku ngantuk!" ucapku seraya berdiri, sengaja supaya dia pulang.
"Maafkan aku, Mel!" ucapnya dengan wajah memohon.
"Hmm, aku benar-benar sudah ngantuk!"
"Aku. Aku berharap kamu mau menerimaku sebagai ayah sambung bagi Davina."
Mataku membulat. Apa dia sedang melamarku?
Tiba-tiba dia memegang tanganku yang segera aku tepiskan. Karena aku memang tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis.
"Aku menunggu jawaban kamu, Mel!"
"Ma-maafin aku. Aku masih ingin sendiri!" tolakku halus.
Setiap hari, Rudi selalu menunjukkan sikap peduli yang berlebihan padaku. Terkadang dia seperti terlalu over protektif padaku. Dan selalu memaksaku untuk mau di antar jemput olehnya.
Karena tidak ingin berdebat, akhirnya aku pun mau menerima tawarannya.
"Terimakasih, pak!" ucapku saat baru saja sampai di depan rumah.
"Kok 'pak' lagi, sih? Kenapa kamu nggak mau panggil aku 'mas' ?" protesnya untuk kesekian kali setiap aku memanggilnya dengan sebutan 'pak'.
"Maaf, mungkin karena sudah terbiasa!" aku beralasan.
"Hhmm, jadi apa kehadiranku sudah membuatmu terbiasa?"
Aku mendongak, "Kamu masih single, kenapa nggak mencari yang single juga?"
"Kamupun single. Aku nggak mungkin mendekati istri orang!"
"Ta-tapi aku. . ."
"Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku. Wanita yang selalu aku ingat saat aku hendak memejamkan mataku dan di saat aku baru saja terbangun!"
Hhh, apa itu akan berlaku selamanya? Tanyaku dalam hati.
***
Saat dia baru saja meninggalkan rumah setelah mengantarkanku pulang, ibuku mengajakku bicara.
"Kamu sudah dewasa, Mel. Jangan terlalu lama membuang waktu jika memang kalian sama-sama suka!" ucap ibu membuat aku kaget.
"Maksud ibu?"
__ADS_1
"Kamu ada hubungan kan sama nak Rudi?"
Aku menggeleng cepat, "Nggak, bu!"
Dahi ibu berkerut, "Lalu kenapa setiap hari dia mengantar jemput kamu kerja?"
"Hhmm, dia memaksa, bu. Aku nggak enak nolak terus."
"Sepertinya dia pria yang baik, sama seperti pria yang waktu itu menolong kamu saat Davina di rawat di rumah sakit."
"Maksud ibu?"
"Nak, menikahlah dengan laki-laki yang mencintai kamu bukan laki-laki yang kamu cintai! Jika kamu nggak mau kecewa lagi."
"Tapi mas David juga dulu mencintai aku, bu. Sekarang dia berubah. Bisa saja suatu saat nanti Rudi juga berubah."
"Jangan menyamakan semua orang, nak!"
"Bu, aku sekarang sudah bisa mencari uang sendiri walau hanya bekerja di minimarket. Aku akan berhemat dan menabung untuk masa depan Davina. Aku nggak mikir untuk menikah lagi. Cukup rasanya kekecewaan yang sudah aku rasakan. Aku belum bisa percaya lagi sama laki-laki!"
"Hhmm, tapi kamu jangan memberikan harapan pada nak Rudi."
"Aku sudah sering bilang kalau aku masih ingin sendiri, bu. Tapi dia nggak mau mengerti. Dia selalu bilang akan menunggu."
"Hhmm, istikharah!" tegas ibu yang langsung beranjak dari hadapanku.
***
"Kamu sungguh-sungguh kan, sayang?" tanyanya membuat mataku membulat.
Dia baru saja memanggilku dengan sebutan 'sayang' di saat aku mengiyakan pertanyaannya.
"Sekali saja mas menyakitiku, aku akan berhenti!" tegasku.
Aku nggak akan menjadi bodoh untuk kedua kalinya.
"In Sya Allah!"
"In Sya Allah!"
"Hhmm, terimakasih,"
"Mas yang harusnya berterimakasih. Terimakasih sudah mau menerima mas!"
"Hhmm,"
"Mas ingin menjadikanmu halal bulan depan!"
Mataku membulat, "Bu-bulan depan?"
Dia mengangguk yakin, "Mas takut kamu berubah pikiran. Mas takut kamu buat patah hati!"
Aku tersenyum. Entah senyum itu tiba-tiba saja mengembang tanpa aku sadari.
"Kamu tersenyum!" ucap pria itu sembari menatapku juga dengan senyumnya.
Aku lalu menunduk. Malu dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tersenyum. Ya. Senyum pertamaku setelah aku tahu mas Anto sudah menikah lagi.
Satu bulan kemudian, aku sedang di rias di kamarku. Semua persiapan dari undangan sampai konsumsi mas Rudi yang mengurus. Aku tidak di biarkannya melakukan apapun. Kami hanya mengundang tak lebih dari lima puluh orang tamu undangan saja.
Aku menunggu di dalam kamar. Yang aku tahu, saat ini semua tamu sudah hadir. Mas Rudi sedang duduk di hadapan pak penghulu bersama ayahku juga yang kesehatannya mulai membaik.
Tiba-tiba aku mendengar kata 'Sah', di ucapkan oleh hampir semua tamu yang hadir. Ibu menghampiriku, membimbingku menuju mas Rudi. Yang beberapa menit lalu sudah sah menjadi suamiku.
Aku sungguh malu. Semua mata tertuju padaku hingga membuat kepalaku reflek menunduk.
"Terimakasih, sayang!" ucap mas Rudi setelah kami selesai menandatangani buku nikah.
__ADS_1
Acara resmi selesai, semua tamu sedang menikmati hidangan yang di pesan mas Rudi dari sebuah catering. Ada beberapa tamu yang mulai meninggalkan acaraku setelah memberikan aku dan mas Rudi ucapan selamat.
Ternyata mbak Santi, pak Anto dan putri mereka Alya datang ke pernikahanku. Mbak Santi bahkan memberikanku kado sebuah mesin cuci yang aku tahu harganya pasti mahal. Mereka benar-benar orang yang baik.
Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Aku sedang membereskan dapur yang masih berantakan sedangkan ibu sedang membujuk putriku supaya malam ini mau tidur bersama beliau.
"Sayang, kenapa masih di dapur?" mas Rudi tiba-tiba sudah berdiri di belakangku seraya memelukku.
"Mas? Bikin kaget saja!" ucapku kaget. Hampir saja gelas yang masih banyak busa sabunnya terjatuh.
"Maaf, sayang! Kamu sibuk banget sampai nggak tahu mas datang."
"Iya mas. Aku harus cepat menyelesaikan ini."
"Mas bantu, ya?" tawarnya.
Aku menoleh saat mendengar ucapannya, "Mas?"
"Hmm?"
Hatiku menghangat. Mas Rudi mau membantuku di dapur. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kenapa kamu menangis?" tanyanya dengan wajah sedih.
Aku langsung memalingkan wajahku lalu menghapus airmata yang hampir saja jatuh.
Mas Rudi memegang kedua bahuku, memutar tubuhku supaya menghadap ke arahnya.
"Kenapa kamu menangis? Kamu nggak bahagia menikah dengan mas?" tanyanya dengan wajah sedih.
Aku langsung memeluknya. Menangis, menumpahkan segala perasaanku lewat tangisan.
"Terimakasih. Terimakasih sudah menyayangi dan menerimaku!" ucapku di sela isak tangis.
Dia mengusap lembut punggungku.
"Mas yang seharusnya mengucapkan kata-kata itu! Tolong jangan menangis!" pintanya memohon.
Dia lalu melepaskan pelukanku. Memandang wajahku lekat-lekat hingga jantungku berdebar kencang. Debaran pertama yang aku rasakan saat bersamanya.
Dia mendekatkan wajah kami berdua membuat aku reflek memejamkan mata. Tiba-tiba. . .
"Mel? Ehh, ma-maaf. Ibu hanya mau bilang kalau Davina sudah tidur!" ucap ibu yang langsung berlalu.
Aku tidak bisa membayangkan merahnya wajahku saat ini.
"Ke kamar yuk!" ajak mas Rudi.
"Ini belum selesai, gimana, mas?" tanyaku gugup.
"Besok pagi, ya. Mas janji akan bantuin kamu. Besok kan kita masih libur," bujuknya memohon.
Aku mengangguk dengan senyum malu. Mas Rudi lalu merangkulku, mengajakku ke kamar. Jantungku makin berdegup kencang. Sudah lama aku tidak merasakan ini. Sudah lama aku tidak di sentuh laki-laki bahkan saat masih berstatus istrinya mas David.
Mas Rudi membaringkanku di atas tempat tidur. Dia memperlakukanku begitu lembut. Aku yang awalnya malu dan minder karena statusku yang sudah pernah menikah menjadi lupa diri. Mas Rudi membuatku benar-benar bahagia malam ini.
"Terimakasih, sayang!" bisik lembut mas Rudi di telingaku saat kami baru saja selesai memadu hasrat.
Aku yang harusnya berterimakasih. Terimakasih untuk kebahagiaan ini. Untuk semua rasa ini.
.
.
.
.
__ADS_1
22