
Pov Melly
Keesokan harinya mas David datang ke rumah untuk mengajakku pulang ke rumahnya.
"Kita bukan suami istri lagi, mas. Ingat, kamu sudah mengucapkan talak padaku!" tolakku.
"Mas minta maaf. Mas kan hanya memberimu talak satu. Kita masih bisa rujuk. Mas janji akan berlaku adil pada kalian!" bujuknya.
"Maaf, mas. Aku nggak bisa. Aku sudah tenang di rumah orangtuaku!" tolakku lagi.
"Kalau kamu nggak mau rujuk, terserah kamu. Tapi Davina akan mas bawa. Kamu nggak akan mampu menghidupi putriku!" ancamnya.
"Aku nggak mau putriku di rawat sama ibu tiri!"
"Nggak semua ibu tiri itu jahat!"
"Tapi Lisa adalah contoh ibu tiri yang jahat!"
"Dia nggak sejahat yang kamu pikir. Kamu saja yang iri padanya."
"Mas, kamu mau Davina disiksa sama dia? Kamu mau anakku mati di tangan istri muda kamu itu?"
"Kamu jangan berlebihan! Lisa nggak akan mungkin membunuh anak kita, dia juga punya anak."
Mas David terus saja membela istri mudanya.
"Maaf, aku nggak mau mempertaruhkan nyawa anakku di tangan kamu, mas! Aku nggak akan menyerahkan Davina sama kamu!"
"Terserah, kalau kamu masih mau bercerai, kamu harus menyerahkan Davina padaku!"
"Aku akan memperjuangkan anakku!" tegasku.
Mas David lalu pergi dari rumah dengan menahan kesal. Karena dia tidak mungkin membawa paksa Davina. Putriku itu pasti akan terus menangis.
Beberapa hari kemudian aku mendapatkan surat penggilan sidang cerai. Sebenarnya aku tidak ingin datang tapi aku tidak mau jika mas David yang mendapatkan hak asuh Davina, aku jadi terpaksa datang.
Sidang cerai pun dimulai. Setelah menjalani beberapa proses sampai satu bulan lebih, aku dan mas David akhirnya resmi bercerai dengan hak asuh Davina ada di tanganku di karenakan Davina yang masih usia balita yang masih sangat membutuhkan ibunya. Selain itu, aku juga membeberkan fakta kalau mas David sudah selingkuh dan menikah lagi tanpa izin dariku.
Dan akhirnya dia memasrahkan Davina padaku. Sebenarnya mas David diwajibkan memberikan nafkah bulanan pada Davina sebanyak Rp500.000 tapi ternyata dia hanya memberikan Rp300.000 saja selama satu bulan.
__ADS_1
Aku tidak mau mempermasalahkan uang itu asalkan Davina ada di tanganku, itu sudah aku syukuri. Aku akan berusaha bekerja sekeras mungkin untuk menghidupi anakku walau tanpa bantuan dari ayah kandungnya.
Selama hidup sama ibu dan ayahku yang sedang sakit-sakitan, aku hanya bekerja sebagai buruh cuci. Pernah suatu hari Davina sakit. Aku tidak mempunyai uang sama sekali. Saat aku sedang mengajak Davina pergi dengan bermodalkan uang Rp50.000 dari ibu, tiba-tiba di jalan aku bertemu dengan mantan suami dari Lisa.
Dia memaksa untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Karena Davina yang terus saja menangis, akhirnya aku mau menerima bantuannya.
Davina ternyata harus di rawat di rumah sakit. Awalnya aku tidak mau karena aku tidak mempunyai biaya tapi dia terus memaksa. Dia bilang kalau dia yang akan membayar semua biaya rumah sakit. Karena melihat kondisi Davina yang sudah parah, mau tidak mau aku menerima bantuan dari pria yang bernama Anto itu.
Dia pria yang sangat baik. Aku sampai heran kenapa Lisa sampai selingkuh sama mas David yang sebenarnya kasar. Mas Anto juga lebih tampan dari mas David, lebih halus tutur katanya. Entahlah apa yang Lisa lihat dari mantan suamiku itu.
Mas Anto sering menjenguk Davina dan memberikanku makanan. Sungguh, aku sangat bahagia setiap kali dia datang. Jantungku selalu berdetak lebih cepat setiap mengetahui kedatangannya. Dan aku begitu gugup setiap berbicara denganya hingga aku tidak berani untuk menatap matanya yang mampu menggetarkan hatiku. Entahlah apa yang sedang aku rasakan ini.
Beberapa hari kemudian, Davina benar-benar sembuh. Saat aku dan ibu sedang membereskan barang-barang kami, tiba-tiba mas Anto datang. Dan lagi-lagi debaran jantungku terasa berbeda setiap kali menatap matanya. Akupun merasa lega karena ternyata dia menepati janjinya untuk membayarkan semua biaya rumah sakit Davina yang tidak sedikit itu. Entah kenapa dia begitu baik pada kami hingga membuatku makin kagum padanya.
Sejak Davina pulang dari rumah sakit, sejak itu pula aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku merasakan keinginan yang kuat untuk dapat bertemu dengannya. Berharap dia akan datang ke rumah ibu karena dia sudah tahu rumah ibu saat pernah mengantarku pulang waktu itu. Tapi harapanku hanyalah tinggal harapan. Mungkin dia sudah melupakan kami. Salahkah apa yang aku rasakan? Dosakah aku? Sedangkan aku tahu dia sekarang berstatus sama denganku.
Aku yang tidak memiliki pekerjaan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan dengan mengajak Davina. Karena sejak orang yang biasa memakai jasaku mencuci baju sudah mempekerjakan orang lain, aku jadi tidak punya lagi pekerjaan.
Aku menyusuri pasar hingga toko dengan berbekal air minum dan roti saja. Jika ada kardus bekas yang lumayan banyak, aku ambil. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari barang bekas saja karena lumayan juga sehari aku bisa mendapatkan uang dua puluh sampai tiga puluh ribu rupiah dan tidak perlu bekerja seharian. Dan aku bisa melakukannya kapanpun aku sempat. Berharap masih ada rezeki di jalanan setidaknya untuk anakku. Alhamdulillah, putriku pun tidak rewel di jalan.
Sampai suatu hari saat hujan deras. Aku berteduh di sebuah minimarket yang banyak orang berteduh di sana. Tiba-tiba ada yang mengenaliku. Seseorang yang sangat aku harapkan bertemu.
Dia, mas Anto. Pria baik yang mulai menggeser mas David dari kepala dan hatiku. Tapi pertemuanku dengannya justru mengulang lagi apa yang pernah aku rasakan pada mas David dulu. Kecewa. Iya. Aku merasakan kekecewaan itu lagi. Dia sudah tidak lagi berstatus sama sepertiku. Sudah ada wanita cantik dan kaya di hidupnya kini. Pantas saja aku sudah lama tidak melihatnya.
Wanita itu bernama Santi. Dia sangat baik. Dia menawarkan pekerjaan untukku di minimarketnya. Memang mbak Santi pantas mendapatkan mas Anto. Bukankan orang baik akan di pertemukan dengan orang yang baik juga? Dan aku? Mungkin aku bukanlah orang yang baik.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk hidup sendiri saja tanpa ada lawan jenis yang mengisi hidupku. Aku takut merasakan perasaan itu lagi. Aku merasa tidak akan ada seseorang yang tulus dan selalu ada untukku.
Karena desakan ekonomi, akhirnya aku menerima tawaran dari mbak Santi. Terpaksa aku harus menekan perasaanku demi Davina. Aku tidak ingin Davina menderita.
Aku pun mulai bekerja di minimarket mbak Santi. Aku di tempatkan di gudang karena posisi kasir tidak ada yang kosong.
"Kamu baru, ya?" tanya seseorang. Karyawan di minimarket mbak Santi.
"I-iya," jawabku sambil menundukkan kepala.
"Aku Rudi. Karyawan di sini juga. Aku sebagai pengawas gudang di sini!" ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Melly," sahutku seraya menakupkan kedua tanganku di depan dada dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Sejak saat itu Rudi mulai mendekatiku. Sampai dia nekat mengikutiku pulang karena aku tidak mau di antarkan pulang olehnya.
"Kamu sudah punya anak?" tanya dia suatu hari.
Aku mengangguk, "Aku janda dengan seorang putri!" sahutku.
"Hhmm, tak mengapa!" ucapnya yang membuat aku bingung. Apa maksud dari ucapannya itu.
Hingga saat aku sedang menjemur pakaian, dia datang.
"Ada apa ke rumahku?" tanyaku datar.
"Aku ingin bertemu si cantik, boleh?" tanyanya.
Aku mendongak. Si cantik, siapa maksudnya.
"Aku membawakan coklat untuknya. Di mana dia?" tanyanya lagi saat aku masih terdiam dengan pikiranku.
Oh, dia ingin bertemu putriku.
Tiba-tiba putriku keluar dari rumah.
"Hai, cantik!" ucap Rudi seraya melambaikan tangannya ke arah putriku yang berdiri di depan pintu.
"Om Rudi?" ucap putriku kaget.
Rudi lalu memamerkan dua bungkus coklat ke arah putriku, "Buat si cantik Davina!" ucap Rudi.
Sejak saat itu, Rudi sering main ke rumah dengan alasan menemui putriku.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
22