Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 175


__ADS_3

Andre baru saja sampai di rumah. Dia buru-buru pergi ke kamarnya menemui istri tercinta yang sedang hamil muda. Sifatnya yang manja pun bertambah sejak kehamilannya.


"Sayang," sapa Andre saat melihat istrinya tergolek lemah di tempat tidur.


"Mas. . ." sahut Kanaya manja lantas bangkit dan duduk di sisi tempat tidurnya.


"Mas ke kamar mandi dulu ya, sayang!"


"Hhmm. . ."


Lima belas menit kemudian Andre keluar dengan tubuh yang mengeluarkan aroma sabun yang segar.


"Mas, biar aku saja yang pakaikan pakaian mas!" pinta istrinya manja.


Andre berjalan mendekat, lalu mengulurkan pakaian yang baru dia ambil dari lemari. Kanaya lalu memakaikan suaminya pakaian setelah mengeringkan tubuhnya yang basah dengan handuk.


"Terimakasih, sayang," ucap Andre setengah berbisik lantas duduk di sebelah istrinya. Merangkulnya mesra dengan meletakkan kepala istrinya di bahunya yang kokoh.


"Mas. . ."


"Hmm, kenapa?"


"Boleh nggak malam ini kita menginap di rumah papi. Aku kangen sama mami. Papi juga sedang ada di rumah. Lagipula, kita belum memberitahu papi sama mami tentang kehamilanku."


"Hhmm, baiklah kalau begitu," sahut Andre. Ingin menolak tapi tidak ingin membuat istrinya bersedih.


Sore itu mereka pergi ke rumah orangtua Kanaya.


Saat hendak makan malam, Kanaya merasakan sedikit mual walau tidak separah saat pagi hari. Hingga orangtuanya heran dan juga khawatir. Belum lagi Kanaya yang terlihat sedikit pucat dan tubuhnya yang lebih kurus dari biasanya.


"Kamu kanapa, nak? Lauknya kamu nggak suka?" tanya mami.


"Loh, ini kan lauk kesukaan dia, mi!" ucap papi.


"Hhmm, perutku mual makan itu, mi, pi!" jelas Kanaya.


"Kamu juga kelihatan nggak segar. Kamu nggak bisa urus diri sendiri? Apa terlalu sibuk mengurus suami?" tanya papi Kanaya sinis.


"Pi!" mami menggelengkan kepalanya.


Andre hanya bisa menghela nafas berat.


"Aku hamil, mi, pi!" jelas Kanaya.


"Apa?" tanya mami dan papi bersamaan dengan ekspresi kagetnya.


"Jadi kamu sudah hamil, nak?" tanya mami Kanaya hampir tidak percaya.


"Iya, mi. Hampir dua bulan," jelas Kanaya.


"Alhamdulillah, akhirnya mami mau punya cucu," ucap mami dengan senyum semringah, "Selamat ya sayang, Andre. Kalian akan jadi orangtua," imbuhnya.


"Terimakasih, mi," sahut Andre.


Hanya mami Kanaya yang mengucapkan selamat sedangkan papi Kanaya terlihat diam tanpa ekspresi. Andre dan Kanaya dapat merasakan itu.


Mereka kemudian mengobrol sampai pukul sembilan di ruang keluarga. Papi Kanaya pamit lebih dulu ke kamarnya setelah itu Kanaya dan Andre pun menyusul masuk ke kamar mereka.


"Mas, maafin sikap papi, ya," ucap Kanaya setelah mereka selesai menunaikan ibadah sholat.


"Hhmm, nggak apa-apa, sayang," sahut Andre.


"Mas, terimakasih,"


"Terimakasih untuk apa?"


"Untuk pengertiannya."


"Tidak masalah, sayang. Nggak perlu kamu pikirkan, ya. Pikirkan saja calon anak kita!" ucap Andre sembari mengusap perut istrinya.


"Iya, mas."

__ADS_1


"Tidur, yuk!" ajak Andre kemudian menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


"Hhmm, mas?"


"Hhmm, kenapa?"


Nggak biasanya mas begini. Bahkan nggak ada peluk, nggak ada cium sama sekali. Batin Kanaya.


Kanaya melirik suaminya sekilas yang sudah memejamkan matanya. Tapi dia tahu kalau suaminya itu belum tertidur. Nafasnya masih tidak teratur. Pasti mas masih mikirin ucapan papi tadi. Aku pikir papi sudah bisa menerima pernikahanku dengan kehamilanku ini tapi ternyata masih belum berubah.


Azan subuh membangunkan mereka berdua.


"Mas?"


"Kamu duhulu yang mandi apa mas?"


"Hhmm, mas duluan nggak apa-apa," sahut Kanaya.


"Hhmm, ya sudah mas duluan, ya,"


Hhmm, nggak ada ucapan selamat pagi. Apalagi, hmm. . . Kanaya kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.


Tak berapa lama, Andre keluar dari kamar mandi.


"Mas, maaf aku belum siapkan pakaiannya,"


"Nggak apa-apa, mas ambil sendiri saja,"


"Hhmm," Kanaya bangkit dari tidurnya. Berjalan mendekati suaminya. "Aku pakein, ya!" imbuhnya lagi. Andre diam saja saat istrinya membantunya memakai pakaian.


"Kamu mandilah, mas tunggu kita berjamaah!" titah Andre.


"Iya, mas."


Kanaya gegas pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi, mereka sholat subuh berjamaah.


"Mas, maaf kalau aku ada salah," ucap Kanaya sembari mencium punggung tangan suaminya selesai sholat.


Kanaya lantas membereskan alat sholat lalu menyusul suaminya duduk di sisi tempat tidur.


"Mas,"


"Ya, ada apa?"


"Hhmm, aku masih ingin di sini, boleh?" tanya Kanaya ragu.


"Ya terserah kamu saja," jawab Andre datar.


Kanaya yang makin bingung dengan perubahan sikap suaminya jadi tidak sabar untuk menanyakan langsung.


"Mas berubah."


"Hhmm, berubah? Apanya?"


"Mas berbeda!" wajah Kanaya mulai berubah sedih.


"Apanya yang berubah? Apanya yang berbeda?"


"Tuh, kan!" Kanaya bangkit kemudian berjalan keluar balkon. Tangisnya tumpah di sana.


Andre menyusulnya, "Kamu kenapa nangis, sayang?" tanya Andre bingung.


"Nggak, kok. Kelilipan," jawab Kanaya berbohong dan tanpa menoleh sedikitpun.


"Hhmm, bohong, ya!" Andre merangkul pinggang Kanaya dari belakang lantas mencium rambut istrinya itu.


"Setiap kita ke rumah ini, mas pasti berubah. Aku tahu papi memang keterlaluan tapi kenapa mas jadi berubah sikapnya padaku," ucap Kanaya dengan suara bergetar.


Andre lantar memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. Andre menyentuh dagu istrinya supaya mata mereka saling bertatapan, "Mas nggak berubah, sayang. Kenapa kamu berpikir seperti itu, hhmm?"

__ADS_1


"Mas berbeda. Ini pasti karena ucapan papi. Aku tau. . ."


"Nggak, sayang!"


"Iya!"


"Hhmm, coba bilang, mas berubah seperti apa?"


"Hhh, pikir saja sendiri!" jawab Kanaya ketus.


"Loh, galak istri mas ini!"


"Bukan galak, tapi sedih!"


"Hhmm, mas tahu kenapa sedih."


"Apa?"


Andre langsung menggendong istrinya lalu membawanya ke kamar.


"Mas. . ."


Tanpa bertanya lagi, Andre langsung mencumbu istrinya itu.


Setengah jam kemudian, "Nggak sedih lagi, kan?" tanya Andre dengan senyum menggoda. Wajah Kanaya yang kelelahan itu merona merah seketika. Entah karena suaminya yang membuatnya terbiasa dengan percintaan yang panas setiap malam, hingga jika sekali saja tanpa itu, Kanaya jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Kamu kan sedang hamil muda, kita tidak boleh melakukannya setiap hari, sayang. Bukan karena mas berubah. Kondisi kamu juga lemah kan sejak hamil."


"Hhmm,"


"Mas tetap sayang dan cinta kamu. Bahkan makin besar! Kamu harus tahu itu! Jadi jangan berpikir macam-macam apalagi sampai membuat kamu sedih!"


"Hhmm, tapi mas jadi dingin. Sekedar mencium dan memelukku saja mas nggak mau. Gimana aku nggak mikir macam-macam."


Andre menghela nafas panjang, "Kamu itu selalu bisa membuat mas tergoda. Makanya mas nggak cium dan peluk kamu supaya mas nggak tergoda untuk melakukan itu, sayang!"


"Hhmm, masa?"


"Iihh, tentu saja, sayang!" Andre mencium gemas pipi istrinya.


"Hhmm, habisnya saat di rumah bunda kita masih melakukannya. Tapi di rumah papi, mas langsung berubah setelah mendengar ucapan papi semalam."


"Hhh, papi kamu memang benar. Kamu terlalu capek mengurusi suami kamu ini yang inginnya setiap malam, hhmm. . ."


"Aku nggak kecapekan karena itu, mas. Aku pucat karena hamil!"


"Iya, mas tahu kalau kamu juga mau. . ." Andre menatap istrinya dengan tatapan menggoda.


"Iiiihh," Kanaya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hahahaa, kenapa harus malu, hmm? Kalau kamu mau, kamu bilang sama mas, ya! Jangan tiba-tiba ngambek seperti tadi!"


"Iiihh, siapa juga yang ngambek gara-gara itu!" Kanaya memukul bahu suaminya gemas.


"Hhmm," Andre kembali menghujani istrinya dengan ciuaman.


"Mas iiihh!"


"Tuh kan, sayang. Mas jadi mau lagi!"


"Hhmm,"


"Sudah ya, kita mandi saja. Mas khawatir kalau keseringan!"


"Hmm, iya mas!"


.


.


.

__ADS_1


.


9,3


__ADS_2