
Karena kelelahan menangis, Alya kembali tertidur. Gadis kecilku itu terus menggenggam tangan bundanya seolah takut di tinggalkan. Dia pasti sangat trauma dengan kejadian yang menimpanya tadi siang. Semoga saja, dia bisa cepat melupakan kejadian itu.
Tapi aku masih penasaran apa tujuan Lisa datang menemui putriku lagi. Padahal dia seharusnya sibuk mengurusi suaminya yang juga mengalami kecelakaan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku sangat kaget begitu pintu aku buka.
"Selamat sore, pak!" ucap salah satu dari dua orang polisi yang datang.
"Hhmm,sore, pak!" sahutku kaget.
"Boleh kita masuk?" tanyanya.
"Oh, iya. Silahkan masuk!" sahutku ramah.
Kedua bapak polisi itu menjelaskan tujuan mereka datang adalah untuk menanyakan perihal kecelakaan yang menimpa putriku. Memang di simpang jalan itu sudah terdapat CCTV tapi mereka ingin menanyakan kenapa Alya sampai berteriak dan memberontak saat sedang di atas sepeda motor hingga menyebabkan David kurang fokus hingga menabrak pengendara lain.
Aku lalu menjelaskan dari awal masalah kami. Walau sebenarnya aku tidak ingin orang lain tahu tapi tetap saja polisi memerlukan keterangan dariku.
"Jadi begitu masalahnya. Berarti putri bapak masuk dalam kasus korban penculikan karena memaksa anak di bawah umur untuk pergi tanpa ijin dari orangtuanya dan si anak jelas-jelas sudah menolak!" jelas bapak polisi.
"Apa perlu bicara sama putri saya, pak? Dia baru saja sadar beberapa menit, lalu tertidur lagi," tawarku.
"Saya rasa keterangan bapak sudah cukup untuk saat ini. Karena sudah jelas bagaimana hubungan antara putri bapak dengan orang yang membawanya. Kalau di perlukan, kita akan datang lagi. Keterangan korban memang sangat di perlukan nanti.
"Maksud pak polisi?"
"Ini sudah masuk tindak kejahatan, pak. Kita akan proses menurut hukum yang berlaku!"
"Hhmm, baiklah, pak. Sebisanya saya akan bantu memberikan keterangan. Tapi tidak ada korban jiwa kan, pak?"
"Alhamdulillah, korban jiwa tidak ada tapi ada satu pasien yang kondisinya masih kritis dan sampai saat ini belum sadar!"
"Ya Allah, kasihan sekali. Semoga bisa segera sadar kembali!" ucapku berdoa.
"Ya sudah kalau begitu, kita permisi dulu pak. Terimakasih atas waktunya. Semoga putrinya segera pulih!" pamit kedua bapak polisi.
"Sama-sama, pak. Terimakasih!" sahutku lantas mengantar mereka sampai ke depan pintu.
Seandainya si David kena pasal, apa dia akan di hukum? Aah, entahlah. Biar polisi yang saja yang menangani masalah ini. Yang pasti, aku juga tidak akan membiarkan dia begitu saja.
Aku duduk di sebelah putraku yang tengah tertidur. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengenai putriku, aku akan melakukan yang terbaik untuknya. Aku pikir sudah cukup masalahku dengan ibu kandungnya. Aku tidak pernah menggangu ataupun merugikannya tapi tetap hal yang sama sekali tidak aku bayangkan terjadi juga. Dan itu terjadi pada putriku.
Walau begitu aku tetap harus bersyukur. Allah masih memberiku kesempatan menjaga amanahNya dengan baik. Seolah menjadi kesempatan kedua bagiku untuk merawat putriku itu.
Menjelang sore, ibu dan adikku datang menjenguk. Suara tangispun kembali pecah di dalam ruang ranap Alya. Nenek dan cucu saling berpelukan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Cucu nenek yang sabar, ya! Nenek akan rawat Alya dengan baik!" ucap ibuku seraya mengusap kepala cucunya penuh kasih sayang.
"Nenek tinggal di rumah bunda, ya!" pinta putriku dengan wajah memohon.
Ibuku lantas menoleh ke arahku. Aku menganggukkan kepala.
"Ibu akan rawat Alya di rumah, ya?" tanyaku pada istriku.
Aku tetap meminta ijin darinya walau aku tahu dia pasti setuju. Walau bagaimanapun, aku dan kedua anakku menumpang di rumahnya. Toh istriku sedang hamil dan tentu dia tidak akan bisa mengurus Alya sendirian saat aku tidak ada dengan kondisinya itu. Tapi aku juga tidak akan bergantung sepenuhnya pada ibuku. Beliau hanya akan merawat putriku di saat aku sedang bekerja saja.
***
"Dek, kamu mau pulang apa menginap di sini?" aku bertanya pada adikku Aminah.
"Aku ikut ibu menginap di sini juga, mas. Nggak apa-apa, kan?" tanyanya.
"Ya nggak apa-apa. Mas mau pulang ke rumah."
"Mas kenapa pulang?" tanya istriku.
"Mas mau ambil pakaian ganti untuk kita," sahutku.
"Oh iya, mas. Aku ikut pulang juga deh," ucapnya.
"Katanya mau menginap di sini?" tanyaku heran.
"Oh, ya sudah. Andre mau ikut pulang nggak, ganti pakaian kamu. Sama bawa alat sekolah kamu. Kalau mau ikut menginap di sini kamu tetap harus sekolah besok!"
"Iya, yah!" sahut putraku.
"Kita pulang sebentar ya, bu. Titip Alya!" pamitku pada ibu.
Kami bertiga lalu pergi meninggalkan kamar ranap Alya menuju parkiran mobil.
***
Aku terbangun saat mendengar adzan subuh. Aku meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku. Semalam aku tidur di kursi di sebelah putriku. Gadis kecilku itu hanya ingin tidur sambil memeluk tanganku. Dia pun sering terbangun dan rewel.
Istriku masih tertidur nyenyak di ranjang yang ada di sebelah ranjang putriku. Andre tidur di sofa sementara ibuku, Aminah dan anaknya tidur beralaskan karpet lembut yang aku bawa dari rumah semalam karena semua orang ingin tidur di rumah sakit menemani putriku.
Aku lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku berniat sholat subuh di masjid. Sebelum ke masjid terlebih dahulu aku membangungkan keluargaku.
Masjid terletak masih dalam lingkungan rumah sakit. Langit masih gelap. Udara dingin terasa menusuk kulit hingga aku melingkarkan tangan di bahuku.
Setelah selesai menunaikan kewajibanku, aku lalu pergi mencari sarapan untuk keluargaku. Sepertinya bubur ayam enak. Aku pun berniat membeli enam bungkus sama minuman dan juga cemilan.
__ADS_1
Antrian cukup panjang. Aku lantas menunggu sambil duduk di kursi panjang dimana sebagian orang sedang menikmati semangkuk bubur ayam hangat dan sebagian lagi sedang menunggu. Lebih setengah jam aku mengantri sampai langit sedikit terang barulah pesananku di antarkan.
Aku gegas kembali ke ruang ranap putriku. Aku harus naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
Baru saja sampai di depan pintu, aku mendengar suara putriku memanggil-manggilku.
"Ayah! Aku mau ayah!" teriaknya.
Ceklek. Aku membuka pintu yang tidak terkunci.
"Assalammu'alaiku," ucapku.
Mereka kompak menoleh, "Wa'alaikumsalam," sahut mereka hampir berbarengan.
"Ayah!" seru putriku.
Aku lantas memberikan pada adikku apa yang tadi aku beli lalu gegas mendekati putriku.
"Ayah!"
"Iya, nak!" aku mengecup dahinya lembut.
"Ayah dari mana? Lama banget!" keluhnya manja.
"Maaf, sayang. Tadi ayah ke masjid lalu mencari sarapan untuk kita. Ayah beli bubur ayam. Ayah suapin, mau?"
"Kaki aku sakit banget, yah!" ucapnya seraya mengernyitkan dahinya. Matanya berkaca-kaca.
"Iya, sayang. Sabar, yah! Pasti sembuh, kok!" ucapku menghiburnya.
"Aku mau pulang, yah."
"Iya, nanti kita tanya sama dokter kapan Alya boleh pulang, ya!"
Gadis kecilku itu hanya mengangguk kecil. Rasanya aku tidak sanggup melihat ekspresi wajahnya.
Hari ini aku akan memintakan ijin ke sekolahnya sekaligus memberitahukan keadaan Alya pada gurunya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
20