
Pag-pagi sekali setelah melalui malam panjang mereka, Andre bangun lalu memberikan sebuah kecupan selamat pagi pada istrinya.
Kanaya membuka matanya. Dia tersenyum saat melihat suaminya yang sedang memberikan tatapan mesra padanya.
"Mas. . ."
"Selamat pagi cantikku!"
Kanaya tersenyum, "Selamat pagi pangeranku!"
"Masih ngantuk, ya?" tanya Andre.
"Sedikit!"
"Yuk mandi, sayang!" ajak Andre.
Kanaya meregangkan otot-ototnya kemudian mengulurkan tangannya minta di gendong.
"Hhmm, manjanya istriku!" ucap Darren lantas menggendong istrinya lalu membawanya ke kamar mandi.
Setelah bathup penuh dengan air, mereka pun mandi bersama.
Setelah selesai mandi bersama, mereka lalu sholat subuh berjamaah. Kanaya mencium punggung tangan suaminya sedangkan suaminya memcium.
"Sayang, mas antar ke rumah bunda ya?"
"Hhmm, mas nggak ke sana juga?"
"Mas kan kerja, sayang. Kita menginap di rumah bunda hari ini, ya."
Kanaya mengangguk, "Iya, mas. Aku ikut kemana mas pergi!" jawab Kananya.
Semoga saja papi ijinkan! Batin Kanaya.
Karena hari masih cukup gelap, kanaya kembali bermalas-malasan di tempat tidur.
"Sayang, kok tidur lagi?" tanya Andre.
"Hhmm, belum waktunya sarapan, mas. Sekarang jam lima saja belum, kan!"
Andre menyusul berbaring di atas tempat tidur. Mereka tidur saling berhadapan. Andre mengusap lembut wajah istrinya. Kanaya memejamkan matanya. Usapan kecil namun mampu menciptakan desiran aneh di tubuhnya.
Andre makin mendekat lalu memberikan kecupan di dahi istrinya. Kanaya tersenyum saat setiap inci wajahnya tak luput dari sentuhan bibir suaminya.
Andre memeluk istrinya dan di balas oleh Kanaya. Udara pagi yang dingin kembali membangkitkan hasrat mereka. Dan tanpa harus menunggu, mereka kembali memadu hasrat di atas tempat tidur. Kanaya tidak bisa menolak. Dia pun sama merasakan seperti apa yang suaminya rasakan. Cinta makin bersemi di hati mereka.
Setengah jam, udara pagi yang dingin berubah menjadi panas. Peluh membasahi keduanya. Keduanya seperti enggan untuk bangun.
"Mas?"
"Hhmm?"
"Yuk mandi, nanti mas terlambat kerja."
"Sebentar lagi. Mas masih ingin dekat-dekat sama kamu!"
Bukannya melepaskan pelukan, Andre justru makin mengeratkannya. Peluh mereka pun bercampur jadi satu.
"Hhmm, mas jadi malas kalau sudah dekat-dekat kamu!"
"Loh, kenapa, mas?" tanya Kanaya kaget.
"Mas ingin dekat-dekat kamu terus. Untung saja sudah halal!" goda Andre.
"Hhmm, mas!"
__ADS_1
"Ya sudah, yuk kita mandi lagi!" ajak Andre.
Setelah selesai mandi untuk yang kedua kalinya pagi ini, mereka turun kebawah sambil Kanaya merangkul bahu suaminya mesra.
Mereka langsung menuju ke ruang makan. Ternyata semua keluarga sudah berkumpul. Mereka menatap ke arah Kanaya dan Andre sekilas.
Mereka lalu sarapan bersama. Kanaya mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Semua yang ada di meja makan memperhatikan saja apa yang di lakukannya. Papi Kanaya terlihat tidak suka dengan apa yang di lakukan putrinya itu.
Setelah selesai sarapan, mereka bersantai di ruang keluarga. Kanaya dan Andre duduk berdampingan dengan Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Mereka terlihat sangat romantis.
Tak lama kemudian Andre dan Kanaya berdiri.
"Pi, mi, kak Kalla, kita pergi dulu!" pamit Andre.
"Loh, Kanaya mau kemana? Ikut ke rumah sakit?" tanya papi Kanaya.
"Kanaya saya antar ke rumah saya, pi!" jawab Andre.
"Apa, kamu tinggalkan putri saya di rumah kamu selama kamu kerja?"
"Kan ada bunda sama nenek, yah. Aku pasti nggak akan kesepian," ucap Kanaya.
Papi Kanaya berdiri. Dia menatap Kanaya dan Andre bergantian dengan tatapan tidak suka lantas berlalu dari sana. Andre menelan salivanya. Sulit sekali menakhlukkan mertuanya itu.
"Mi, papi. . ." ucap Kanaya sedih seraya menatap ke arah maminya.
"Kalian sabar, ya! Mami akan berusaha terus untuk membujuk papi kamu!"
"Iya, mi," sahut Kanaya masih dengan wajah sedih.
"Jangan sedih terus, sayang!" pinta Andre.
Kanaya mengangguk lemah. Mereka lalu berpamitan.
Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di sebelahnya istrinya terlihat tengah melamun.
"Hhmm, nggak apa-apa, mas!" jawab Kanaya lirih.
"Mau menginap di rumah papi lagi, hhmm?" tawar Andre. Dia tidak tega melihat wajah sedih istrinya itu.
"Nggak kok, mas."
"Maaf ya sayang, mas egois!"
"Mas nggak egois, kok. Memang sudah seharusnya aku mengikuti apa kata suamiku. Mami pun dari dulu selalu menurut apa yang di katakan papi."
"Mas nggak ingin kamu sedih, sayang!"
"Asalkan mas selalu ada untukku!"
"Justru itu mas kan sibuk, jarang ada waktu buat kamu kecuali malam."
"Iya, mas!"
"Minggu depan, mas sudah mulai kuliah. Makin sedikit wakti kebersamaan kita."
"Nggak apa-apa, mas. Asalkan mas nggak tergoda yang lain!"
Andre tersenyum, "In Sya Allah, sayang. Lagipula sudah ada kamu yang membuat mas tergoda setiap saat!" ucap Andre sembari menatap istrinya dengan tatapan menggoda.
Kanaya tersenyum malu.
Mobil sudah sampai di rumah bundanya
"Bunda, aku titip istriku, ya!"
__ADS_1
"Iya, nak. Nggak usah khawatir!" sahut Santi.
Setelah mencium dahi istrinya penuh kasih sayang, Andre pun meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Andre memarkirkan mobilnya di bassman.
Di ruang IGD semua rekannya sedang menangani pasien. Andre lantas ikut membantu mereka. Ternyata ada seorang pasien tertabrak kereta api. Seorang pemuda dengan pakaian yang sudah tidak beraturan.
"Kenapa dia?" tanya Andre khawatir.
"Jatuh karena hampir tertabrak kereta api yang sedang melintas di dekat jalan Pahlawan!" jelas Ferry.
"Astagfirullah. Semoga dia cepat sadar supaya kita bisa memberitahukan keluarganya."
Beruntungnya pemuda itu hanya tersenggol tapi sampai sekarang dia masih belum juga sadar.
"Kartu identitasnya nggak ada juga?" tanya Andre.
Ferry menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah selama belum ada keluarganya yang datang, taruh di ruang observasi saja dulu!" saran Andre.
"Tapi administrasinya belum ada yang urus."
"Hhmm, kasihan kalau masih di sini. Biar aku sajalah yang mengurus administrasinya," ucap Andre.
"Loh, Dre?" rekannya kaget.
"Nggak apa-apa, kok. Kasihan dia."
Andre lantas ke bagian administrasi. Dia yang akan bertanggung jawab atas pemuda itu.
Setelah urusan pemuda itu selesai, Andre kembali sibuk mengurus pasien yang lain.
Menjelang siang, Andre melihat sebentar kondisi pemuda itu. Setelah itu, dia pergi ke restoran untuk makan siang.
Sebelum memulai pekerjaannya lagi, Andre kembali menjenguk pemuda itu yang masih belum sadar.
"Bagaimana, Dre?"
"Masih sama seperti tadi pagi!" jawab Andre.
Sampai sore Andre hendak pulang pun, pemuda itu masih belum juga sadar. Tapi tubuhnya sudah tidak panas seperti tadi pagi.
"Aku pulang dulu, ya. Kalau ada kabar tentang pemuda itu segera hubungi aku." pesan Andre.
"Iya, Dre. Semoga dia bisa secepatnya sadar!" ucap Wahyu.
Andre lalu pergi ke parkiran. Dia melajukan mobilnya perlahan. Dia mengingat pemuda tadi. Kenapa dia merasa kalau pemuda itu dekat dengannya. Ada rasa ingin melindungi.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. 😊🙏
.
.
.
__ADS_1
23