
Alina dan Anisa terus saja berjalan. Mereka begitu asik melihat pemandangan malam di luar. Karena mereka jarang sekali keluar malam hari. Saat mereka sadar dan menoleh ke arah hotel, mereka kaget ternyata mereka sudah sangat jauh dari hotel.
"Lin, kita di mana ini? Itu kan hotelnya, jauh banget dari sini," ucap Annisa kaget.
Alina pun tak kalah kaget saat melihat ke arah hotel yang hanya ada terlihat tulisannya saja.
"Ayo kita kembali lagi aku takut nih!" ajak Annisa.
Mereka buru-buru berbalik arah. Saat mereka baru saja berjalan beberapa menit ternyata ada tiga orang laki-laki dewasa yang menghadang mereka.
"Hai cantik," sapa salah satu dari mereka.
"Lin," Annisa menyikut lengan Alina.
"Mau kemana? Kita jalan-jalan, yuk!" ajak mereka.
"Iya, nih. Berlima sepertinya asik!"
Alina dan Anisa ketakutan. Alina langsung menarik tangan Annisa dan mereka berlarian sepanjang jalan tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Ayo lari terus, Nis!" titah Alina.
Setelah beberapa menit. "Berhenti dulu Lin, aku capek!" pinta Annisa.
"Jangan, Nis. Nanti mereka mengikuti kita. Ayo cepat!" Alina terus menarik tangan Annisa.
Tiba-tiba Annisa jatuh. Alina pun spontan berhenti dan berusaha menolong saudaranya. Beruntung di sana tidak terlalu sepi, jadi tiga orang laki-laki tadi tidak mengejar mereka.
"Mereka tidak mengejar kita," ucap Alina menoleh ke belakang.
"Syukurlah. Lin, lihat kakiku sakit," keluh Annisa.
"Ayo, aku bantu kamu berjalan, yang penting orang tadi tidak mengejar kita," ucap Alina.
Mereka lalu berjalan dengan tertatih.
"Istirahat dulu, Lin. Kan mereka enggak ngejar kita," pinta Annisa dengan wajah letih.
"Ya sudah kita istirahat sebentar.
Mereka pun beristirahat beberapa menit sambil sesekali menoleh ke belakang. Takut laki-laki tadi ngejar mereka.
"Hotelnya sudah semakin dekat. Ayo kita jalan perlahan, hari sudah makin malam. Aku takut nanti makin sepi di sini," ajak Alina yang diberi anggukan oleh Annisa. Mereka pun kembali berjalan pelan-pelan.
"Hati-hati, Nis!" ucap Alina.
"Iya, Lin. Lututku sakit," keluh Annisa.
"Hhmm, sabar ya. Sebentar lagi kita sampai ke hotel.
Jarak mereka dari hotel tidak sampai seratus meter lagi. Mereka tersenyum semringah.
"Alina! Annisa!" tiba-tiba ada yang meneriakkan nama mereka.
Mereka menghentikan langkah kakinya.
"Mas Andre, Nis!" seru Alina.
Andre dari jauh berlarian ke arah mereka. Setelah sampai dia langsung memeluk Alina lalu Annisa.
"Kalian kemana saja! Kita semua nyariin!" ucap Andre yang tak bisa menahan haru.
"Mas nyariin kita?" tanya Alina kaget.
"Tentu saja, dek. Kalian dari mana?"
Alina dan Annisa saling tatap.
"Hhmm, maafin kita, mas," ucap Alina dan Annisa.
"Mas yang minta maaf. Maafin mas ya, sayang!" ucap Andre seraya menatap adik kembarnya intens.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalian baik-baik saja," ucap Kanaya.
"Annisa tadi jatuh, mas. Lututnya sakit. Jadi susah berjalan," jelas Alina.
"Kenapa bisa jatuh, dek?" tanya Andre khawatir.
"Tadi ada yang tiga orang laki-laki gangguin kita jadi aku paksa Annisa lari, mas," jelas Alina sedih.
"Ya Allah," mata Kanaya berkaca-kaca.
"Siapa yang gangguin kalian?" tanya Andre emosi.
"Nggak tahu, mas." Alina menggelengkan kepalanya.
"Mas, kita balik ke hotel saja. Kasihan mereka!" ucap Kanaya.
"Ayo dek, mas bantu," ucap Andre lembut.
Melihat adiknya yang kesulitan berjalan, Andre berniat menggendongnya.
"Mas gendong, ya?" tawar Andre.
Annisa menatap kakaknya lalu menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, mas. Masih bisa, kok." tolak Annisa.
Sampai di hotel, Alya sudah menunggu, "Dek!" teriaknya lantas memeluk adik kembarnya satu-persatu.
"Kalian nggak apa-apa, kan?" tanyanya cemas.
"Alhamdulillah kita nggak apa-apa, mbak," sahut Alina.
"Tapi mbak lihat Annisa jalannya kok susah gitu? Kakinya sakit, dek?"
"Sakit sedikit, mbak. Tadi jatuh."
"Jatuh? Di mana?"
"Hhmm, di sana, mbak!" tunjuk Annisa ke arah mereka jalan-jalan tadi.
"Hanya luka kecil kok, mbak. Besok juga sudah sembuh," tolak Annisa halus.
"Kamu yakin, dek?" Alya merangkul bahu Annisa.
Annisa mengangguk, "In Sya Allah, mbak."
"Hhmm, yasudah kalau begitu. Yuk kita ke kamar kalian."
Mereka lalu mengantar Alina dan Annisa ke kamarnya. Sampai di kamar, Alina segera berbaring karena kelelahan setelah berlari tadi. Annisa pun ikut berbaring. Alya lalu memeriksa luka di kaki adiknya itu.
"Lutut kamu memar, dek. Perih banget, ya?"
"Iya, memar, mbak. Tapi nggak apa-apa, kok. Perih dikit."
"Mas Andre, apa nggak di kasih betadine saja lukanya? Aku takut nanti infeksi?" tanya Alya.
"Oh iya, mas belikan. Semoga di hotel ada. Mas pergi dulu," pamit Andre.
"Aku temani, Dre," sahut Kevin.
"Tapi nggak ada yang jagain mereka, Kev. Kamu di sini saja jagain mereka," tolak Andre halus.
"Kamu nggak apa-apa sendirian?"
"Nggak apa-apa, kok!" sahut Andre.
"Aku temani ya, mas?" tanya Kanaya.
"Sayang, kamu di sini saja, ya. Mas belum tahu mau cari di mana."
"Hhmm, handphonenya jangan lupa di bawa," pesan Kanaya.
"Iya, ini maa bawa handphone, kok."
__ADS_1
Kanaya lalu mengantar Andre sampai depan pintu.
"Apa kalian nggak lapar?" tanya Kevin.
Alye menoleh ke arah adik-adiknya, "Kalian lapar, kan? Mas Kevin pesankan makanan, ya?"
Alina dan Annisa saling pandang, "Kita sudah makan tadi, mbak," jawab Alina.
"Kapan kalian makan?"
"Hhmm, tadi."
"Hhmm, maaf ya, dek. Padahal kita mau makan malam bersama."
Alya terlihat sangat menyesal. Tapi tetap bersyukur masih bisa bertemu lagi dengan adik kembarnya.
"Ya sudah, aku pesan makan malam dulu," ucap Kevin.
Tak lama kemudian Andre datang dengan membawa betadine. Alya dengan hati-hati merawat luka adiknya.
"Tahan, ya. Perih sedikit supaya nggak infeksi."
"Iya, mbak."
Setelah selesai, Annisa menyusul Alina berbaring.
Pesanan makanan pun datang. Mereka makan bersama di kamar si kembar.
"Kalian nggak mau makan lagi?" tanya Alya.
"Masih kenyang, mbak," sahut Alina.
"Aku mau minum saja, mbak," pinta Annisa.
Selesai makan, mereka ngobrol-ngobrol sembari menemani adik kembarnya.
Alya memijat-mijat kaki kedua adiknya bergantian.
"Sudah, mbak," tolak Annisa halus.
"Nanti mbak capek," imbuh Alina.
"Sudah enakan kakinya?"
Alina dan Annisa mengangguk.
Pukul sebelas malam, Andre, Kanaya, Kevin dan Alya kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Besok kalau kaki kamu sudah mendingan, kita jalan-jalan, mau?" tanya Andre.
"Iya mau, mas," sahut Alina dan Annisa.
"Ya sudah kalau gitu, kita ke kamar dulu, ya. Kalian istirahatlah. Kalau butuh apa-apa, telepon mas. Dering telepon mas sudah mas bikin full," ucap Andre.
"Baiklah, mas."
Mereka pun keluar dari kamar si kembar kembali ke kamar masing-masing.
.
.
.
.
.
.
8
__ADS_1