Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 143


__ADS_3

Alya kembali masuk ke rumah setelah mobil Kevin sudah meninggalkan rumahnya. Wajahnya terlihat berseri-seri tidak seperti tadi yang murung.


"Ternyata pak Kevin sayang sama aku!" gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Wah kenapa tuh mbak Alya kok senyum-senyum sendiri?" celetuk Annisa.


Alya menghampiri mereka masih dengan senyum di bibirnya.


"Ah biasa saja, kok!" sahut Alya.


"Jadi mas Kevin itu teman sekolah Mas Andre dulu, ya?" tanya Annisa.


"Iya, dek!" jawab Andre.


"Mas mau menginap di sini, kan?" tanya Alya mengalihkan pembicaraan supaya keluarganya tidak banyak bertanya lagi tentang Kevin.


"Iya, dek. Kita menginap di sini beberapa hari!" jawab Andre.


"Asyik!" sahut Alina.


"Kita sambil nonton tv saja, yuk!" ajak bundanya.


Mereka pun lanjut mengobrol apa saja sambil nonton tv, untuk melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu dari saat pernikahan Andre.


Menjelang pukul sepuluh malam, mereka baru masuk kamar ke masing-masing. Saat Alya hendak melihat handphonenya, ternyata ada pesan dari Kevin.


[Selamat malam cantik]


Senyum langsung mengembang di bibir Alya.


"Selamat malam juga tampan!" gumam Alya sembari memejamkan matanya. Handphone berada dalam dekapannya.


Di dalam kamar Andre. Kanaya sibuk memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam lemari pakaian Andre. Sedangkan Andre berbaring di atas tempat tidur.


"Mas, sepertinya teman mas itu suka deh sama Alya!" ucap Kanaya.


"Mas juga sih merasakan itu. Semoga saja benar!" jawab Andre.


"Memangnya Kevin itu nggak punya pacar, mas? tanya Kanaya.


"Sepertinya sih nggak punya!" jawab Andre


"Kalau dia punya pacar, nggak mungkin kan dia bersikap seperti itu pada Alya!"


"Iya juga. Alhamdulillah kalau ternyata Kevin sudah membuka hatinya pada perempuan!" ucap Andre.


"Loh, memangnya kenapa, mas?"


"Karena dulu dia pernah patah hati dan juga nasibnya sama seperti mas, ibunya pergi dengan laki-laki lain!" jelas Andre.


"Ya allah kasihan banget Kevin ya, mas!" ucap Kanaya.


"Iya. Setelah itu dia berubah menjadi dingin apalagi terhadap lawan jenis. Dengan kita teman-temannya saja dia sedikit berubah, tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Memang sakit banget ya mas, dikhianati itu," ucap Kanaya.


"Iya, makanya mas gak mau pacaran!"


Setelah selesai membereskan pakaiannya, Kanaya menyusul suaminya duduk di sisi tempat tidur.


"Semoga kamu betah ya tinggal di sini. Mas akan cari kontrakan yang tidak jauh dari rumah sakit atau kampus."


"Tapi mas kan belum bilang sama papi mami, mas."


"Hhmm, kita ke rumah kamu kalau papi sudah pulang dari luar kota, ya?"


Kanaya mengangguk, "Iya, mas."


"Belum ngantuk, kan?" tanya Andre dengan senyum menggoda.


Kanaya mengangguk sembari tersenyum malu.

__ADS_1


Andre mendekatkan wajah mereka berdua lalu mencium bibir istrinya lembut. Saat hasrat makin naik, Andre lantas menggendong istrinya kemudian membaringkannya di atas tempat tidur. Malam panjang untuk pertama kali di rumah orangtuanya.


***


Alya baru saja selesai sholat. Di luar masih terlihat gelap. Dia memeriksa tugas kuliahnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, dia melihat handphonenya. Ternyata ada satu pesan dari seseorang.


[Met pagi, cantik]


Alya tersenyum membacanya. Hatinya rasa berbunga-bunga.


"Hhmm, balas nggak, ya?" gumamnya.


"Nggak usah, deh!" gumamnya lagi lantas kembali menyimpan handphonenya di atas nakas.


Kemudian Alya turun ke bawah. Di dapur terdengar suara bundanya sedang memasak di bantu oleh nenek.


Alya tersenyum, "Bahagianya mempunyai keluarga lengkap," gumamnya lagi.


"Met pagi, bunda, nenek!" sapanya hangat.


"Met pagi juga, sayang!" sahut bunda dan nenek.


"Pagi ini kita sarapan apa?"


"Nenek bikin bubur ayam. Kamu suka, kan?"


"Wah, suka banget!" ucap Alya lantas memeluk neneknya dari belakang.


"Ceria banget Alya pagi ini. Ada apakah gerangan yang terjadi pada cucu nenek yang cantik ini?"


"Iya ya, nek. Sepertinya cucu nenek ini sedang bahagia!" bundanya ikut menimpali.


"Mungkin juga karena sedang jatuh cinta!" celetuk Alina yang baru saja datang.


Mereka menoleh.


"Iihh, sok tahu adek!" ucap Alya sembari mengacak-acak rambut adeknya itu.


"Iiihh, nggak bener!" sanggahnya.


"Hhmm, bener apa nggak bener?" goda Alina lagi.


"Adek! Kamu, ya!" Alya hendak menjewer telinga adeknya itu tapi Alina dengan gesit menghindar dan berlari.


"Dek! Jangan lari kamu!" ucap Alya yang langsung mengejar adiknya.


"Hhh, dasar anak-anak!" ucap nenek.


Satu jam kemudian semua sudah selesai sarapan. Si kembar sudah siap berangkat ke sekolah.


"Bun, titip istriku, ya. Aku mau kerja dulu!" pamit Andre.


"Iya, nak. Paling nanti istri kamu bunda suruh beres-beres rumah," gurau bundanya.


"Hahaa, nggak apa-apa, bun. Supaya dia bisa belajar nanti kalau sudah punya rumah sendiri!" sahut Andre.


Kanaya dan bundanya hanya tersenyum saja.


"Loh, mas Andre nggak tinggal di sini lagi?" tanya Alina.


"Nggak, dek. Mas ingin mandiri. Itu juga belum tahu kapan, kok!" jawab Andre.


"Nenek doakan semoga rezeki kamu banyak!" ucap nenek tulus.


"Aamiin!"


"Alya bareng mas, kan?" tanya Andre.


"Iya, mas!" sahut Alya.


"Ya sudah anak-anak. Sudah waktunya berangkat!" ajak Anto.

__ADS_1


Si kembar ikut naik ke mobil ayahnya sedangkan Alya ikut ke mobil kakaknya. Setelah berpamitan, mereka pun meninggalkan rumah. Saat mobil Andre baru saja keluar dari pintu pagar, ada sebuah mobil berhenti di depan mobilnya.


"Loh, kok berhenti di depan kita, sih?" ucap Andre kesal.


"Hhmm, mas. Sepertinya itu mobil pak Kevin, deh!"


"Masa sih, dek?" tanya Andre.


Alya mengangguk, "Iya, mas!"


Yang di katakan Alya ternyata benar, pintu mobil terbuka lalu seseorang keluar dari dalam mobil. Kevin.


"Oh iya itu Kevin. Kok dia pagi-pagi sudah datang, ya?"


"A-aku nggak tau, mas!"


Kevin lantas turun dari mobilnya.


Andre membuka pintu mobilnya, "Kev!" panggil Andre.


Kevin mendekati mobil Andre.


"Hai, Dre!"


"Ada apa, Kev?"


"Hmm, boleh saya antar Alya ke kampus? Sekaligus aku juga mau ke kampus!"


"Oh gitu. Bolehlah jadi aku nggak perlu muter!" sahut Andre lantas menoleh ke arah adiknya. "Dek, kamu bareng Kevin saja, ya!" titah Andre.


"Tapi, mas?"


"Sudah sana. Masa orang sudah jauh-jauh jemput nggak mau?"


Alya terlihat ragu. Belum apa-apa jantungnya mulai berdebar tidak beraturan.


"Dek, kok melamun? Sana!"


"I-iya, mas!" jawab Alya dengan terpaksa.


Gadis itupun turun dari mobil kakaknya. Kevin masih berada di luar. Diapun membukakan pintu mobilnya untuk Alya.


"Silahkan cantik!" bisik Kevin saat Alya melewatinya.


Wajah gadis itu memerah. Dia tidak berani menatap dosennya itu yang menatapnya dengan tatapan cinta.


"Kev, titip adikku, ya! Jangan di apa-apain!" gurau Andre.


"Tenang saja. Paling nanti aku culik!" sahut Kevin.


"Waahh, kacau!" ucap Andre.


Mereka pun tertawa bersama.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. Selamat membaca ☺


.


.


.


.

__ADS_1


14


__ADS_2