
Alya naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia melihat suaminya sedang tidur tengkurap. Hatinya merasa tidak enak. Apa sebegitu sedihnya suaminya itu atas penolakannya. Dia bukanlah orang yang tega apalagi terhadap orang yang dia sayang. Alya merasa berdosa.
Alya lalu duduk di pinggir tempat tidur di dekat suaminya. Terdengar suara nafas suaminya yang teratur. "Hhmm, tidur," gumam Alya.
Dia menatap wajah suaminya yang hanya terlihat dari samping karena separuhnya tertutup bantal. Alya tersenyum. Teringat saat dia memberikan hukuman untuk suaminya itu tapi saat dia teringat keraguan suaminya hingga tatapan marah itu, Alya merasakan dadanya sesak.
Apa begitu pentingnya setetes darah di malam pertama. Harusnya mas Kevin tahu tidak semua gadis memberikan bukti itu di malam pertamanya. Dia harusnya bisa merasakan sendiri.
Alya bangkit dari duduknya tapi tiba-tiba tangannya di tarik hingga dia terjatuh menimpa Kevin yang ternyata sudah membalik badannya.
"Mas!" ucap Alya kaget.
"Maafin mas,"
Alya menarik nafasnya, "Sudah aku maafin, mas."
"Hhmm, tapi sikap kamu berbeda. Kamu masih menyimpan marah."
"Hhh, aku nggak marah. Aku hanya sedih dan kecewa."
"Maafin mas, sayang!" pinta Kevin dengan wajah memohon. Tampak penyesalan mendalam di hatinya. Kenapa sampai berpikir yang tidak-tidak tentang istrinya.
"Aku sudah maafin mas!"
"Tapi kenapa sikap kamu. . ."
"Hhmm, aku. ."
"Mas sungguh-sungguh menyesal. Mas memang bodoh! Tak seharusnya mas bicara seperti itu. Mas memang pantas di hukum!" ucap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, aku sudah maafin mas. Tapi untuk itu, aku belum lagi siap. Aku harap mas mengerti,"
"Hhmm, iya mas mengerti. Mas juga nggak maksa. Kapanpun kamu mau, mas akan tunggu,"
"Mas mau tunggu sampai kapanpun?"
"Hah? Sampai kapan?"
"Sampai tahun depan!"
"Apa?" mata Kevin membulat.
Alya tersenyum lalu melepaskan pelukan suaminya, ikut berbaring di sampingnya.
"Aku nggak percaya diri, mas."
"Hmm, kenapa?"
"Aku tahu, mas itu lelaki yang perpecksionis!"
"Apapun penilaian kamu, tapi kamu lah yang mas pilih sebagai teman hidup mas!"
"Mas yakin nggak menyesal?"
"Hhh, mas menyesal. Menyesal sudah membuat hatimu sakit!"
"Aku. . ."
"Mas akan selalu sabar menunggu kamu membuka lagi hatimu untuk mas!"
"Aku-aku belum pernah mencintai seseorang sebelumnya. Aku begitu sakit karena orang yang aku cinta sudah meragukan aku," ucap Alya lirih.
Kevin menoleh ke arah istrinya dan mengubah posisi tidurnya miring dengan bertumpu pada lengannya. Dia meraih dagu istrinya hingga mata mereka bertemu.
"Mas juga mencintai kamu, sayang!"
"Cinta itu menerima kelebihan dan kekurangan bukan menuntut jadi seperti yang kita mau. Tapi mas?"
"Mas menerima kamu apa adanya, sayang!"
"Kalau ternyata aku seperti yang mas tuduhkan, apa mas masih menerima aku?"
"Sayang. . ."
"Aku sudah berusaha menjaga diriku selama ini. Ciuman pertamaku juga mas yang ambil bahkan sebelum kita menikah. Tapi apa sekarang?" suara Alya terdengar bergetar.
Kevin langsung memeluknya, "Maafin mas."
__ADS_1
Alya mulai terisak.
Kevin melepaskan pelukannya lalu mendekatkan wajah mereka berdua, mencium mesra bibir istrinya dengan lembut.
"Mas?"
Nafas Kevin memburu, "Mau, ya?" pintanya dengan wajah memohon.
Alya memalingkan wajahnya.
"Sayang?"
Alya bisa merasakan debaran jantung suaminya yang berpadu dengan deru nafas yang memburu.
Alya memejamkan mata tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya. Kevin tersenyum dan terjadilah apa yang dia inginkan. Rasa cinta sudah mengalahkan segalanya.
Walau saat ini Alya cenderung pasif, tapi tetap mampu membuat senyum terukir di bibir suaminya.
"Terimakasih, sayang!" ucap Kevin sesaat setelah mereguk manisnya surga dunia. Dia mencium dahi istrinya penuh kasih sayang.
Saat hendak mengeratkan lagi pelukannya, Alya justru beringsut mundur hingga ke ujung tempat tidur. Menarik selimutnya hingga sebatas leher.
"Sayang?" dahi Kevin berkerut.
"Hmm, mas nggak mandi?" tanya Alya.
"Mandi, yuk!" ajak Kevin.
"Mas mandilah, aku. . ."
"Hh, baiklah. Mas mandi duluan," sahut Kevin. Lebih baik jangan di paksa nanti ngambek lagi. Batin Kevin.
Kevin segera ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, dia sudah keluar dari kamar mandi. Aroma segar sabun menyeruak ke dalam kamar. Alya memejamkan matanya menikmati harum segar suaminya.
Setelah beberapa menit, Alya turun dari tempat tidur.
"Mau mandi, ya? tanya Kevin.
"Hhmm, iya."
"Bisa jalan sendiri?"
Kevin tersenyum melihatnya. Aku akan takhlukan kamu lagi. Batin Kevin.
Alya berendam dalam bathup dengan mata terpejam. Huhh, kenapa sih nggak bisa nolak. Dia merutuki dirinya sendiri.
Setengah jam di kamar mandi, dia keluar dengan memakai handuk kimono.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Kevin cemas.
"Aku nggak apa-apa, kok," jawab Alya pelan.
"Hhmm, kirain kenapa mandinya lama."
"Hhhmm."
"Tadi Annisa manggil, mas bilang kamu sedang mandi."
Mata Alya membulat, "Apa?" Kok bilang aku lagi mandi, sih. Mandi jam segini. Huhh. Batin Alya kesal.
Alya gegas memakai pakaiannya yang tertutup sampai leher lalu memakai hairdyer untuk mengeringkan rambutnya. Jangan sampai tatapan aneh mengarah padanya. Baru pukul sepuluh pagi sudah mandi lagi.
Setelah itu Alya hendak keluar dari kamar.
"Aku turun dulu, mas."
"Hhmm, mas juga," sahut Kevin.
Alya menoleh, "Tapi rambut mas basah."
"Loh memangnya kenapa?"
Alya menarik nafas panjang, "Sini aku keringkan dulu!" ucap Alya lantas mengambil hairdyer dan mulai mengeringkan rambut suaminya.
Kamu pemalu banget. Biarkan saja orang lihat toh kita pengantin baru. Batin Kevin. Dia sesekali melirik istrinya yang tengah pokus dengan hairdyer di tangannya.
"Sudah, mas," ucap Alya.
__ADS_1
"Hhmm, terimakasih, sayang!" sahut Kevin.
Mereka turun ke bawah bersama. Kevin menggandeng tangan Alya mesra. Dari bawah, Andre melihat dengan mengulum senyum.
"Mas, ada apa Annisa manggil?" tanya Alya.
"Kita jadi kan liburan. Kamu mau liburan kemana?" tanya Andre.
"Aku terserah mas saja."
Andre menoleh ke arah Kevin.
"Iya, terserah kamu saja, Dre," sahut Kevin
"Mas! Aku sekarang sudah jadi kakakmu, loh."
"Hhmm, mas!" sahut Kevin malas.
"Ayo ikut!" Andre merangkul Kevin mengajaknya ke teras.
"Adik-adik maunya ke Bali saja. Menurutmu," tanya Andre.
"Aku juga menurut saja. Alya mau ikut itu sudah cukup."
"Hhmm, dia masih marah?"
"Bilangnya sih nggak."
"Sepertinya nggak. Ini rambut sepertinya wangi sampo lagi," goda Andre.
"Heheee," Kevin tersenyum semringah.
"Tuh, aku bilang apa. Adikku itu bukanlah orang yang tegaan. Hatinya baik dan lembut."
"Iya, aku tahu."
"Jadi bagaimana kalau nanti sore kita pergi. Kita pesan tiket sekarang?"
"Okelah! Kita pesan online saja!"
Alya duduk sendirian di pinggir kolam renang. Kakinya dia masukkan sebatas lutut ke dalam kolam.
"Sayang," Kevin tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya lalu ikut duduk dan memasukkan kakinya ke dalam air.
Alya menoleh, "Mas?"
"Kita ke Bali, ya?" Kevin merangkul bahu istrinya.
"Terserah saja, mas."
"Mas ingin kamu lekas hamil, sayang!"
Dahi Alya berkerut, "Aku ingin kerja dulu, mas."
"Hhmm, iya. Tapi kalau ternyata kamu hamil, bagaimana, hmm?"
"Hhh, baiklah. Aku akan berhenti kerja kalau aku hamil."
"Terimakasih, sayang!" Kevin memeluk dan menciumi wajah istrinya gemas.
"Mas, iihh! Nanti ada yang lihat," protes Alya.
"Biarin. Sudah halal ini!"
"Iiiihh!" wajah Alya memerah.
Kevin tersenyum semringah. Aku akan bikin kamu cepat hamil. Kalau bisa aku yang lebih dahulu jadi ayah mendahului si Andre.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
13.3