Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 108


__ADS_3

Pov Melly


Rumah tangga yang aku bina selama lebih tiga tahun awalnya aku anggap baik-baik saja. Sampai saat jabatan suamiku mulai naik dan pendapatannya bertambah, mas David mulai berubah sering pulang malam dan saat hari libur pun dia jarang di rumah. Walau dia tipe suami dan ayah yang cuek tapi saat hari libur dia akan mengajakku ke rumah orang tuanya. Kebetulan aku cukup akrab dengan adik perempuannya.


Aku dan mas David menikah saat usiaku masih sangat muda, sembilan belas tahun. Dan kami harus menunggu untuk mendapatkan putri pertama kami, Davina. Saat Davina mencapai umur satu tahun, mas David mampu membeli sebuah rumah sederhana untuk kami tinggali.


Aku pikir mas David sudah kembali seperti dulu, tapi ternyata kebiasaan barunya yang sering pulang malam dan jarang dirumah saat libur kerja kembali terulang lagi. Saat aku menanyakan hal itu padanya, dia justru marah.


"Kamu itu nggak usah rewel! Yang penting, mas masih kasih uang buat kamu dan Davina! Jangan jadi istri yang manja kemana-mana harus sama suami!" ucapnya emosi.


Selalu seperti itu. Padalah aku hanya minta waktu saat libur kerja saja bukan setiap hari.


Suatu hari tiba-tiba ada seorang pria datang ke rumah dan menunjukkan video yang memperlihatkan padaku saat mas David tengah selingkuh dan pria itu bilang kalau selingkuhan suamiku adalah istrinya sendiri.


Jujur, memang sempat terlintas di pikiranku beberapa bulan ini melihat perubahan diri mas David yang sangat drastis. Setiap libur kerja dia selalu pergi dengan pakaian rapi dan wangi.


Setelah mas David pulang, aku lantas menanyakan kebenaran ucapan dari pria itu.


"Mas, jadi selama ini kamu sudah selingkuh dari aku!"


"Tahu darimana kamu? Jangan asal nuduh!" sungutnya.


Aku lalu menceritakan ciri-ciri pria yang tadi mendatangiku. Dia terlihat marah lalu keluar rumah dengan membanting pintu. Aku tahu kalau yang dikatakan pria itu benar karena aku lihat sendiri videonya. Aku hanya bisa duduk termenung meratapi nasib ku. Bagaimana nasib pernikahanku selanjutnya. Jujur aku tidak mau berpisah dari mas David. Aku Mencintainya.


Dan beberapa bulan kemudian mas David membawa seorang wanita yang bernama Lisa. Wanita itu di akuinya sebagai istri kedua. Aku ingat kalau wanita itu yang ada dalam video. Rasanya jantungku mau lepas dan persendianku lemas mendengar semua kata-katanya.


Dia lantas membawa istri keduanya ke kamar yang seharusnya menjadi kamar Davina jika Davina besar nanti. Sejak saat itu, aku mulai hidup bersama dengan maduku. Uang belanja yang mas David berikan padaku berkurang lebih separuhnya. Aku tahu pasti karena mas David berikan kepada istri mudanya.


Tetangga kiri kananku mulai bertanya padaku tentang siapa Lisa. Aku tidak mau mengatakan apa-apa kepada tetangga di sini karena aku tidak mau menjadi bahan gosip. Amu hanya tersenyum saja setiap kali ada yang menanyakan tentang wanita itu.


Sejak saat itu aku makin jarang keluar rumah. Aku hanya keluar jika hanya ingin belanja ke warung saja. Sejak kedatangan Lisa di rumah ini, aku jadi sering di kamar saja bersama putriku karena mas David dan Lisa selalu memamerkan kemesraan mereka di depanku.


Hatiku sangat sakit. Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya bersikap seperti itu. Mas David pun mulai jarang memberikan nafkah batin untukku karena memang hampir setiap malam Davina rewel jadi mas David malas ke kamarku.


Setiap pagi aku harus melihat pemandangan Lisa yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya. Lalu dia akan tersenyum mengejek ke arahku.

__ADS_1


Aku semakin tidak betah di rumah. Wanita itu di rumah bagaikan seorang majikan sedangkan aku bagaikan seorang pembantu. Dia sama sekali tidak pernah membantu pekerjaan rumahku. Bahkan untuk sekedar membuatkan mas David kopi saja dia tidak mau.


Saat Davina rewel dan menangis, dia selalu marah-marah dan mengatakan kalau aku ini tidak bisa mengurus anak. Aku sudah berusaha untuk sabar tapi harga diriku semakin di injak-injaknya.


Saat itu malam hari, mas David dengan istri mudanya baru pulang entah dari mana. Wanita itu memintaku memasak air untuk dia mandi. Tentu saja aku menolak. Aku lebih memilih tidur menemani Davina di kamar. Tapi dia marah-marah lalu menari rambutku. Aku tidak terima dan akhirnya aku tidak bisa menahan diri.


Aku jadi hilang kendali. Aku balas menarik rambutnya dengan sekuat tenagaku sampai mendorongnya jatuh ke lantai. Drama pun dimulai. Lisa menangis dan menuduhku telah menyiksanya.


"Mas, lihat istri tua kamu yang tidak tahu diri ini? Dia tega mendorong aku karena marah tidak kamu ajak jalan-jalan!" tuduhnya yang membuat mas David berang padaku.


"Dia bohong, mas! Tadi dia yang. . ."


"Kamu yang bohong! Dasar, bisanya cuma iri saja isi hati kamu itu!" dia memotong ucapanku.


"Mas benar-benar tidak adil sebagai suami!" ucapku kesal.


Dan saat itulah pipiku ini merasakan panasnya tamparan. Aku langsung masuk ke kamarku. Percuma saja rasanya bicara dengan orang yang hatinya sudah buta.


Sejak itu, aku jarang mau menegur suamiku itu. Aku juga sudah malas masak. Apa yang aku lakukan di rumah ini rasanya tidak ada baiknya di mata mas David. Aku hanya memasak untuk Davina saja dan kalaupun aku ingin makan, aku akan masak telur atau mie instan saja.


Aku tahu dan pernah mendengar sendiri kalau Lisa menginginkan jadi satu-satunya istri bagi mas David. Aku tahu itu maksudnya apa. Kalau memang pernikahan ku akan berakhir, aku akan terima. Hingga akhirnya suamiku kembali marah-marah karena sudah berapa hari aku tidak mau masak.


Dia kembali melayangkan tangannya.


"Dasar istri tidak tahu diuntung. Percuma saja kamu menjadi istriku!" ucapnya kasar.


"Maksud kamu, mas?" tanyaku lagi.


"Iya, kamu memang tak becus jadi istri!"


"Ya sudah kalau gitu ceraikan saja aku!"


"Oh jadi kamu mau aku ceraikan?" tanya mas David makin emosi.


"Iya, ceraikan saja Aku!"

__ADS_1


"Baik aku akan ceraikan kamu. Aku talak kamu saat ini juga!" ucap mas David lantang lantas pergi meninggalkanku.


Beberapa detik kemudian Lisa mendekatiku dengan senyum merekah, "Untuk apa lagi kamu di sini?"


"Bukan urusanmu!" jawabku berang.


"Kamu bukan istrinya mas David lagi. Jadi ngapain kamu masih di sini? Pergi sana!" Lisa kembali mengusirku sambil mendorongku.


Aku lalu pergi dari rumah saat mas David dan Lisa sedang tidak ada di rumah. Aku membawa semua pakaian Davina dan juga pakaianku. Untung saja aku masih memiliki sedikit uang tidak bisa memesan taksi online dengan membawa banyak tas besar berisi pakaianku dan juga Davina.


Aku sengaja memilih waktu saat tetangga sedang tidak ada di luar. Aku pergi ke rumah orang tuaku. Tentu saja orangtua kaget.


"Kenapa kamu pulang dengan membawa pakaian sebanyak ini, Melly?" tanya ibu.


"A-aku sudah diceraikan oleh mas David, bu."


"A-apa?" Ibu terlihat kaget dan Syok.


.


.


.


.


.


.


Maaf masih ada typo


.


.

__ADS_1


23


__ADS_2