
Beberapa minggu kemudian, Kevin dan Andre kompak mengadakan acara aqiqah bagi putra dan putri mereka berbarengan.
Mereka hanya mengundang anak yatim piatu dari panti asuhan,keluarga dan tetangga dan teman dekat saja sesuai dengan keinginan Andre dan Kevin. Tapi tetap saja undangan yang datang lebih dari dua ratus orang.
Minggu pagi ini, rumah keluarga Andre sudah mulai banyak orang.
Darren dan orangtuanya turut hadir di sana. Suasana rumah begitu ramai.
Tak lupa Darren membantu Annisa dan Alina menata-nata hidangan yang akan di hidangkan di ruang tamu.
Kedua remaja itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk saling melepas rindu. Alina yang merasa seperti obat nyamuk memutuskan meninggalkan mereka berdua.
Alina duduk sembari memperhatikan tamu-tamu yang mulai berdatangan dengan wajah sendu. Di tengah keramaian tapi dia merasa kesepian. Biasanya dia ada teman bercanda tapi sejak saudara-saudaranya sudah mempunyai pasangan semua, Alina mulai merasa seorang diri. Karena walau Annisa belum menikah, dia lebih sibuk dengan Darren.
Alya dan Kanaya sedang bersiap di kamar mereka bersama putra dan putri mereka yang sudah tampan dan cantik dengan pakaian terbaik.
Kedua bayi terlihat anteng karena sebelum acara di mulai. Mereka sudah di beri ASI terlebih dahulu agar perutnya kenyang dan tidak rewel saat acara berlangsung.
Pukul tujuh malam,acara akan segera di mulai. Setelah tamu undangan datang semua, acara pun di mulai dengan pengajian terlebih dahulu.
Setelah itu acara pengguntingan rambut sang bayi. Putri Andre terlebih dahulu yang maju. Rambut Adelia di gunting sedikit lalu di simpan oleh bundanya. Setelah itu giliran putra Kevin yang bernama Keanu yang di gunting rambutnya sembari bersholawat. Setelah selesai, mereka lalu membacakan doa.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar.
Kini para tamu undangan sedang menikmati hidangan yang telah di siapkan di meja prasmanan. Bingkisan untuk di bawa pulang para undangan sudah di siapkan di meja dekat pintu masuk.
Alina ikut membagikan bingkisan pada anak-anak yatim piatu. Tiba-tiba ada seseorang lagi yang ikut membantu. Alina menoleh sekilas namun kembali fokus ke anak-anak yang sedang mengantri.
Setelah semua anak sudah kebagian lalu pulang kembali ke panti asuhan dengan mengendarai kendaraan yang sudah di sewa oleh Anto.
Alina lalu duduk di teras sembari melihat anak-anak itu. Tawa canda mereka terdengar begitu renyah. Mereka terlihat bahagia sembari memeluk bingkisan masing-masing di depan dada.
"Eheemm," tiba-tiba seseorang duduk di sebelah Alina.
Gadis itu pun menoleh, lalu tersenyum.
"Kok sendirian?"
"Hhmm, i-iya. Aku lagi lihat anak-anak itu," tunjuk Alina pada anak-anak panti asuhan yang sedang menaiki mobil.
"Kenapa dengan anak-anak itu?"
"Kasihan," jawab Alina lirih.
Dahinya berkerut, "Kasihan? Kenapa?"
Gantian Alina yang mengerutkan dahinya, "Kakak nggak ngerasa kasihan sama mereka?"
"Kasihan. Hanya kakak tanya kenapa kamu kasihan sama mereka."
"Hhmm, mungkin alasanku sama dengan alasan kakak."
"Oh, ya? Kita cocok, donk," ucapnya dengan senyum menggoda ke arah Alina.
Alina memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Gadis itu diam saja.
"Oh, iya. Tidak lama lagi kamu akan lulus sekolah, ya."
__ADS_1
"Hhmm, iya, kak. Beberapa bulan lagi. Ini sedang sibuknya les sana sini supaya makin menguasai pelajaran."
"Hhmm, setelah lulus sekolah, Alina mau kuliah di mana? Apa jadi dokter seperti mas Andre?"
Alina menggelengkan kepalanya, "Nggak, kak."
"Lalu jadi apa? Apa jadi seperti bunda Santi saja yang jadi ibu rumah tangga yang mempunyai anak-anak yang cantik seperti yang ada di hadapan kakak ini," godanya lagi.
Iihh, kakak ini apaan sih daritadi ngomongnya aneh terus. Hhmm, kok aku jadi deg-degan gini. Batin Alina tanpa berani menoleh.
"Daripada di sini tidak ada temannya, kita jalan, yuk?"
Alina menoleh dengan dahi berkerut. Jalan? Kakak ini ajak aku jalan. Hhmm, nggak ah. Aku takut. Batin Alina.
"Hhmm, besok aku ada tugas sekolah, kak. Setelah acara ini, aku mau ngerjain tugas itu," ucap Alina.
"Oohh, bagaimana kalau kakak bantu ngerjain tugasnya? Siapa tahu kakak masih ingat pelajaran sekolah dulu," tawarnya.
Wah, kebetulan banget. Pelajaran Kimianya susah juga. Batin Alina, "Beneran, kak?"
"Beneran, donk!"
"Ok, aku ambil dulu bukunya ya," pamit Alina.
"Iya, kakak tunggu di sini," sahutnya. Nggak apa-apa, deh nggak jadi jalan-jalan. Deketin pakai cara belajar saja. Mumpung belum di tikung sama si Wahyu. Batinnya dengan senyum kemenangan.
Tak lama kemudian Alina kembali dengan membawa buku sekolahnya.
"Kak,"
"Ini, kak," ucap Alina sembari menunjukkan tugas sekolahnya.
"Masih satu kelas sama Annisa, ya?"
Alina menggelengkan kepalanya, " Nggak, kak. Kelas dua belas ini kita di pisah padahal sekolah sudah di mulai dua bulan, kita baru di pisah."
"Oh, begitu, ya." sembari menganggukkan kepalanya.
"Iya, kak."
Mereka pun mulai mengerjakan tugas sekolah Alina.
Tak berselang lama, Andre sudah berdiri di belakang mereka.
"Eheemm," Andre berdehem.
Mereka berdua sontak menoleh, "Mas Andre?" ucap Alina kaget.
"Dre, ngagetin saja kamu. Iisss," desisnya tidak suka.
"Lagi apa kalian?" tanya Andre dengan tatapan curiga ke sahabatnya itu.
"Lagi pacaran," sahutnya.
Wajah Alina langsung menegang, "Ng-nggak kok mas," sanggahnya.
"Adikku nggak boleh pacaran, loh."
__ADS_1
"Hhmm, iya-iya. Nggak lihat nih aku lagi bantu adik kamu ngerjain tugas sekolahnya?"
"Hhmm, alasan," Andre menyebik.
"Sssttt, sana lah. Ganggu saja. Adelia nangis, tuh!"
"Nggak. Lagipula ada mama dan omanya."
"Ah, payah kamu, Dre. Tenang saja nggak akan aku buat lecet adikmu."
"Hahahaa," Andre tergelak.
"Sana!" usirnya lagi.
Andre menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dia masih kecil. Masa depannya masih panjang. Mau kuliah juga dia sampai jadi Master, baru bisa di halalin," gurau Andre.
"Aah, kamu. Takdir orang siapa yang tahu. Yang penting usaha. Sana!"
Andre meninju bahu sahabatnya itu, "Jangan nyesel loh, ya!"
"Nggak. Sana!"
"Dek, hati-hati sama dia. Buaya!" ucap Andre lantas meninggalkan mereka berdua.
"Payah masmu itu, dek."
Alina mengulum senyumnya.
"Kamu nggak akan kuliah sampai jadi Master kan? Kelamaan itu. Ntar kamu bosan," hasutnya.
"Nggak apa-apa, kak. Aku ingin mengungguli mas Andre," sahut Alina sembari mengulum senyum.
Matanya membulat sempurna. Ah, serius ini? "Nanti ketuaan, loh. Anak perempuan kelamaan kuliahnya."
"Banyak kok wanita karir yang menikah sudah dewasa. Kalau sampai ketuaan ya nggaklah."
Aku yang ketuaan nungguin kamu, Alina. Batinnya nelangsa. Pikirannya menerawang kemana-mana.
"Ayo, kak. Masih banyak ini yang belum di kerjain," ucap Alina.
"Eh, iya, dek. Yang nomor berapa lagi ya yang belum?" tanyanya bingung.
"Iiihh, masa lupa. Yang nomor enam ini, kak," tunjuk Alina.
"Eh, iya, ya," sahutnya kemudian sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tdak gatal.
Alina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
.
06
__ADS_1