Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 105


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Semoga kehidupanku juga selalu juga cerah. Dan semoga hari ini akan mendapatkan kabar yang baik untuk keluargaku.


Hari ini jadwal kontrol istriku. Tapi dari sejak bangun tidur, dia terlihat sedikit murung walau tidak tahu jelas tapi aku bisa melihat itu dari wajahnya. Tidak seperti pagi-pagi biasanya selalu tersenyum dan tertawa melihat tingkah laku si kembar.


Saat di meja makan pun, hanya denting sendok dan piring yang terdengar. Itupun istriku terlihat tidak bersemangat menghabiskan sarapannya kalau bukan aku yang memaksanya.


"Kamu sudah siap, yank?" tanyaku.


Dia hanya mengangguk lemah.


"Bu, hari ini aku akan mengantar bundanya anak-anak kontrol ke dokter. Titip si kembar sebentar ya, bu?" pamitku.


"Iya, nak. Semoga dokter menyampaikan kabar baik buat Santi!" sahut ibuku.


"Aamiin!" ucapku.


Terlebih dahulu aku mengantarkan Andre dan Alya ke sekolahnya.


"Kalau Alya sudah pulang tapi ayah belum jemput, Alya tunggu saja di depan kantor ya, nak. Ayah mau antar bunda ke dokter. Doakan semoga penyakit bunda benar-benar sudah sembuh!" pesanku.


"Iya, yah. Aku akan selalu mendoakan bunda."


"Ayah sama bunda pergi dulu, ya. Mas Andre tolong jagain adik Alya, ya!"


"Beres, yah!" sahut putraku.


Setelah mengantarkan kedua anakku ke sekolah, kami langsung pergi ke rumah sakit. Karena kami sudah membuat janji terlebih dahulu sama dokter yang menangani penyakit istriku, jadi kami tidak perlu menunggu lama.


Duduk setengah jam di ruang tunggu, nama istriku dipanggil. Kami lalu masuk ke ruangan dokter.


Istriku lantas diperiksa untuk melihat apakah sel kankernya sudah benar-benar hilang.


"Ibu yang rileks, ya. Jangan terlalu stres. Semoga sel kankernya benar-benar hilang!" ucap dokter.


Setelah itu kami di minta menunggu sebentar di ruang tunggu. Istriku masih saja diam seperti tadi, dengan pandangan kosong.


"Yank, kamu dengar kan dokter tadi bilang apa? Kamu tidak boleh stress dan banyak pikiran, kan!"


"Iya, mas," jawabnya pelan.


"Lalu kenapa kamu dari tadi diam terus, apa yang kamu pikirkan?"


"Aku nggak mikirin apa-apa kok, mas!"


"Nggak mikirin apa-apa tapi dari bangun tidur, kamu lebih banyak diam. Tidak seperti hari-hari kemarin. Pasti ada sesuatu yang kamu pikirin, kan?" tebakku.


"Sungguh, mas. Aku nggak mikirin apa-apa, kok."


"Yank, mas nggak suka loh di bohongi!" tegas ku.


Dia menarik nafas berat lalu mengusap wajahnya perlahan. "Aku hanya takut saja, mas!"


"Apa yang kamu takutkan?" tanyaku.


"Ya setiap menghadap ke dokter, perasaan aku selalu cemas. Mas tahu kan kalau aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan rumah sakit!" jelasnya."


"Hmm, nanti kita tanya sama dokter kapan kamu sudah tidak perlu kontrol lagi."


"Iya, mas!" jawabnya datar.


Tak lama kemudian istriku kembali dipanggil masuk ke ruangan dokter. Kami berdua lalu duduk berhadapan dengan dokter yang menangani penyakit istriku.


"Alhamdulillah. Bu Santi, penyakit kanker yang anda derita sudah hilang!"


"Alhamdulillah!" ucapku dan istriku hampir berbarengan.


Senyum langsung terkembang di bibir manisnya, yang dari sejak tadi pagi tidak aku lihat.


"Jadi saya sudah tidak perlu kontrol lagi ya, dok?" tanya istriku.

__ADS_1


Dokter tersenyum lalu menggelengkan kepalanya membuat senyum di istriku mendadak hilang.


"Ibu Santi tetap harus kontrol ya, bu. Minimal satu tahun sekali untuk memastikan sel kankernya tidak kembali lagi.


"Jadi sel kankernya masih bisa balik lagi, dok?" tanyaku.


"Memang benar bisa balik lagi. Tapi itu tergantung pasien sendiri. Ibu harus bisa menjaga pola makan, menjaga pikiran agar tidak stress."


Dia lalu melirik ke arahku lalu menundukkan kepalanya.


"Iya, dok!" jawab istriku.


"Jadi kapan saya kontrol lagi dok?"


"Minimal satu tahun dari sekarang ya, bu. Kalau mau enam bulan sekali juga nggak apa-apa. Tapi kalau ibu merasa baik-baik saja minimal satu tahun sekali saja!" jelas dokter.


"Baiklah, dok!" sahut istriku.


Setelah berbincang-bincang sejenak dan mengucapkan terima kasih, kami lantas pamit pulang. Kami keluar dari ruangan dokter, aku merangkul bahu istriku dengan mesra.


"Alhamdulillah, yank! Kamu benar-benar sembuh!" ucapku penuh syukur.


"Iya, mas!"


"Sekarang kita mau kemana lagi? Mau langsung pulang atau kamu ingin ke mana dulu?" tanyaku.


"Aku ingin langsung pulang saja, mas. Aku nggak bisa jauh dari si kembar!" jawab istriku.


"Ya sudah ayo kita pulang!"


Kami lalu pergi ke parkiran mobil. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Jadi mulai sekarang, kamu tidak boleh memikirkan hal yang berat-berat! Penyakit bisa juga datang dari pikiran, yank! Berpikiran positif saja dalam menghadapi apapun supaya hati dan pikiran kita tenang!"


"Iya, mas! Aku nggak akan banyak pikiran, kok! Kan ada mas yang selalu ada untukku. Ada mas yang selalu membuatku merasa bahagia," jawabnya.


Aku lantas mengusap pucuk kepalanya lembut. Sepanjang perjalanan pulang, aku perhatikan wajah istriku selalu tersenyum. Mungkin suasana hatinya yang membuat dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sehingga dia selalu menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Maaf ya, nak. Ayah telat jemput kamu!" ucapku saat Alya sudah naik ke mobil.


"Nggak apa-apa kok, yah. Kan ayah anter bunda ke dokter. Pasti antrinya lama."


"Terimakasih ya, sayang. Kamu anak bunda yang pengertian!" ucap istriku tersenyum.


Tak sampai satu jam, kami sudah sampai di rumah.


"Assalamualaikum!" ucapku dan istriku sambil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Ibuku berdiri di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam," sahut ibu.


"Si kembar sama siapa, bu?" tanyaku.


"Mereka sama adik kamu. Dia tadi datang diantar sama suaminya."


"Oh, begitu," jawabku.


Jujur saja aku kurang percaya meninggalkan kedua bayi kembar ku pada bu Mina. Bukan apa-apa aku hanya kurang yakin saja. Takut kejadian waktu itu terulang lagi.


Setelah membasuh tangan dan kaki, kami lalu segera menemui si kembar yang sedang bermain di ruang keluarga sama adikku dan anaknya.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kamu? Dokter mengatakan apa?" tanya ibuku sambil menoleh kearah istriku.


"Alhamdulillah bu, dokter mengatakan sel kankernya sudah hilang!" jelas istriku.


"Alhamdulillah," ucap ibuku.


"Tapi kamu tetap harus menjaga pola makan, kan?" tanya ibu lagi.

__ADS_1


"Iya, bu!" jawab istriku.


"Selain itu, minimal satu tahun sekali Santi tetap harus kontrol ke dokter, bu. Untuk memastikan sel kankernya tidak balik lagi!" imbuhku.


"Semoga saja kankernya tidak balik lagi! Aamiin!" ucap ibu.


"Ya sudah, aku mau ke minimarket dulu!" pamitku.


***


Sampai di minimarket, jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Baru saja aku masuk kantor dan duduk di kursiku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Masuk!" titahku.


"Assalammu'alaikum, pak!" ucapnya seraya masuk ke ruanganku.


Ternyata Rudi yang mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam. Silahkan duduk!"


"Pak, saya mau menyerahkan ini!" ucapnya seraya menyerahkan sebuah amplop padaku.


Aku lalu membuka amplop yang ternyata surat undangan itu. Sebuah undangan pernikahan atas nama Rudi. Dan yang membuat aku kaget, mempelai perempuannya bernama Meliani.


"Oh kamu mau menikah?"


"Iya, pak. Saya mau menikah sama mbak Melly."


"Mbak Melly?"


"Iya, pak. Mbak Melly yang dulu sama-sama di bagian gudang. Sekarang jadi kasir di lantai atas!" jelas Rudi.


"Oh, mbak Melly, ibunya Davina?" tanyaku kurang yakin.


"Iya, pak. Ibunya Davina."


Hhmm, sejak kapan mereka ada hubungan kok tahu-tahu sudah mau menikah. Batinku.


"Oh ya. Selamat, ya!" ucapku kemudian.


"Hhmm, pak Anto. Saya ke sini juga mau bertanya."


"Silahkan, mau tanya apa?"


"Hhmm, kalau saya dan mbak Melly menikah, apa kita masih boleh bekerja di sini?"


"Oh, tentu saja. Asal kalian bisa bekerja secara profesional, kenapa nggak?"


"Terimakasih banyak, pak!" ucapnya dengan senyum semringah.


"Sama-sama!" sahutku.


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak!" pamitnya.


"Hhmm, silahkan!" sahutku.


Aku lantas membuka surat undangan yang diberikan Rudi tadi. Sepuluh hari lagi ternyata mereka mau menikah. Semoga saja Rudi menjadi jodoh terakhir bagi Mbak Melly. Dan semoga Rudi benar-benar tulus pada wanita itu dan mau menerima Davina sebagai anaknya.


Mungkin sudah waktunya mantan istri David itu bahagia dan semoga wanita itu tidak akan mengalami hal yang dulu pernah dia alami. Dia pantas bahagia sama sepertiku yang kini sudah bahagia dengan pernikahan keduaku.


Aku letakkan surat undangan itu di atas meja lalu mulai mengerjakan pekerjaanku seperti biasa. Beberapa hari lagi karyawan akan gajian. Aku harus menyiapkan gaji mereka setelah pekerjaan harianku selesai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf jika masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😊🙏


__ADS_2