
Setelah selesai makan siang, Annisa kembali menanyakan siapakah Darren yang dia maksudkan. Mereka berjalan ke ruang keluarga sedangkan Kanaya langsung masuk ke kamarnya.
"Mbak, siapa dia?"
"Kamu makannya dikit banget!" ucap Anto.
Annisa cemberut, "Nggak selera, yah."
"Nis, jangan ngeduluin mbak Alya loh, nikahnya!" goda Alina.
"Apaan sih, Lin!" jawab Annisa kesal lalu menjatuhkan diri di sofa di ruang keluarga.
"Darren, teman kamu, kata ayah!" jelas Alya.
"Ja-jadi bener itu kak Darren?"
Alya menarik nafas panjang, "Dia sudah nggak apa-apa, dek. Sudah mbak antar pulang."
"Tapi mbak tadi bilang kak Darren sampai susah berjalan. Kalau kakinya patah, nggak bisa jalan gimana?"
"Kamu nggak mau lagi sama kak Darren kalau dia nggak bisa lagi jalan?" tanya Alina.
"Paan sih, Lin!"
"Lin." Anto menggelengkan kepalanya ke arah Alina.
Alina hanya mengedikkan bahunya. Segitunya ya orang kalau jatuh cinta. Ah males banget. Batin Alina.
"Nggak, dek. Nanti juga pak Kevin mau ke rumahnya lagi melihat keadaan Darren."
"Aku ikut, mbak!" pinta Annisa dengan wajah memohon.
"Tapi mbak nggak ikut, dek. Pak Kevin yang ke sana sendirian, nggak tahu pagi apa siang."
Annisa kembali menekuk wajahnya.
"Coba kamu tanya Kevin, kapan mau nengok Darren," ucap Anto.
"Hhmm, iya, yah."
"Annisa pacaran sama Darren itu?" tanya Santi bingung.
"Iya!" sahut Alina cepat.
"Nggak, bun!" sahut Annisa. "Alina asal saja ngomong!" kesalnya.
"Dek, jangan terlalu memikirkan lawan jenis. Kamu kan masih sekolah, nak!" pinta bundanya.
"A-aku. . ." wajah Annisa memerah. Dia lalu menundukkan kepalanya.
"Hhmm, Darren pasti baik-baik saja, Nis. Ayah mau ke minimarket lagi, nih!" ucap Anto lantas bangkit dari duduknya berjalan ke arah pintu di ikutin oleh istrinya.
"Mas, Darren itu. . ."
"Hhmm, mas mau larang Annisa dekat sama Darren tapi anak itu baik, yank. Mas bukannya membelanya. . ."
"Aku tahu, mas. Aku sih nggak ngelarang tapi mas tahu sendiri bagaimana orangtuanya Darren terutama ayahnya."
"Hhmm iya, yank."
"Mas hati-hati kerjanya, ya!" ucap Santi lalu mencium punggung tangan suaminya.
"Iya, sayang!" sahut Anto seraya mencium dahi istrinya lembut.
Setelah mobil suaminya tidak terlihat lagi, Santi masuk ke dalam rumah. Anak-anaknya masih di ruang keluarga. Annisa sedang bicara berdua dengan Alya sedangkan Alina sedang mengotak atik handphonenya.
Santi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya. Dia lantas masuk ke kamarnya.
***
Malam hari, Kevin datang ke rumah Alya. Gadis itu tidak mau menjawab telepon ataupun membalas pesannya. Sekarang dia sudah berdiri di depan rumah Alya. Baru saja dia hendak mengetuk pintu, rupanya mobil Anto baru saja memasuki pekarangan rumah.
Anto berjalan mendekat ke arah Kevin.
"Om," sapa Kevin.
"Assalammu'alaikum," ucap Anto.
"Wa'alaikumsalam," sahut Kevin.
"Sudah lama, Kev?" tanya Anto.
"Baru saja, om," sahut Kevin.
"Ayo masuk!" ajak Anto lantas mereka pun masuk kemudian Kevin duduk di ruang tamu.
"Mau ketemu Andre, Alya?" tanya Anto.
Kevin tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hhmm. . ."
__ADS_1
"Alya, ya? Nanti om panggilkan!" ucap Anto.
Kevin mengangguk malu.
"Om tinggal dulu," pamit Anto.
Kevin tersenyum. Aah, calon ayah mertua memang paling pengertian. Batin Kevin.
Lima menit kemudian, Alya datang menghampiri Kevin.
"Pak Kevin mau ngapain?" tanya Alya ketus.
"Galak amat," sahut Kevin.
Alya cemberut lantas duduk di kursi yang ada di hadapan Kevin dengan jarak hampir dua meter.
"Sudah makan malam?" tanya Kevin.
"Sudah," jawab Alya.
"Kak Kevin?" tiba-tiba Annisa sudah berdiri di dekat Alya.
Kevin tersenyum, "Hay, Nis. . ."
"Hhmm, kak Kevin mau ajak mbak Alya keluar, ya?" tanya Annisa.
"Nggak, loh!" sahut Alya.
"Iya," sahut Kevin.
Annisa menggaruk-garuk kepalanya, "Hhmm, nggak kompak."
Annisa lantas duduk di sebelah Alya.
"Pergi saja sama kak Kevin, mbak. Ya?" pinta Annisa dengan wajah memohon.
Dahi Alya berkerut, "Males, mau istirahat. Capek!" jawab Alya.
"Mbak," Annisa bergelayut manja di lengan Alya.
"Dek, sudah malam. Ayah juga pasti nggak ijinin kita keluar."
Annisa mendengus kesal lalu beranjak dari duduknya, masuk ke dalam.
"Kok Annisa maksa kita keluar?" tanya Kevin heran.
"Hhmm, karena dia mau ikut," jawab Alya.
"Ikut? Memangnya mau kemana?"
"Apa? Annisa sudah kenal Darren?"
"Hanya aku yang baru tahu tentang Darren."
"Hhmm, lalu kenapa nggak jenguk bareng Andre?"
"Mas Andre nggak mau,"
"Hhmm,"
"Mbak Alya, makan malam," panggil Alina
Alya menoleh ke arah Alina kemudian ke arah Kevin. Kevin memberikan tatapan kecewa.
Alina segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa?"
Alya menunduk. Aku tahu kamu pasti mau ajak aku makan di luar makanya aku bilang sudah makan malam. Batin Alya.
"Mau ikut makan malam?" tawar Alya.
"Kev? Ikut makan malam, yuk!" ajak Andre yang muncul dari balik pintu.
Akhirnya Kevin ikut makan malam di rumah Alya. Setelah selesai makan malam, Kevin ikut berkumpul di ruang keluarga bersama.
"Jadi kapan kak Kevin sama kak Alya nikah?" tanya Alina dengan gaya usilnya.
"Siapa yang mau menikah, dek?" sahut Alya ketus.
"Heheee," sahut Alina.
"In Sya Allah secepatnya," jawab Kevin.
"Wah, serius?" tanya Andre.
"Tergantung Alyanya juga," ucap Kevin.
"Makin cepat makin baik. Iya kan, yah?" Andre menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah terserah kalian saja," sahut Anto.
__ADS_1
"Wah, mau pesta besar lagi kita!" celetuk Alina.
"Paan, sih!" ucap Alya kesal.
Annisa duduk di pojokan dengan wajah sedih.
"Loh, Annisa. Kamu kenapa, sayang?" tanya Kanaya lalu duduk di sebelah Annisa.
"Pacarnya sakit, mbak!" jawab Alina.
"Loh, Annisa sudah punya pacar? Siapa?" tanya Kanaya.
"Nggak kok, mbak. Jangan dengerin Alina,"
"Hhmm, besok Annisa mau ikut kakak jenguk Darren?" tanya Kevin.
"Beneran, kak?" Annisa langsung berdiri.
"Kalau ayah sama bunda ijinin!" sahut Kevin.
"Wah, sudah panggil ayah bunda juga. Cieee, ayah sama bunda mau dapet menantu lagi, nih!" celetuk Alina.
Alya menatap Kevin dan Alina dengan wajah kesal.
"Alya sama kak Kevin mau menikah?" tanya Kanaya kaget.
"Hhmm, jangan dengerin Alina, mbak. Suka bercanda dia!" sahut Alya.
"Weee!" Annisa menjulurkan lidah ke arah Alina yang di balas juga oleh Alina.
"Wah, mbak jadi bingung, nih," ucap Kanaya.
Andre mendekati istrinya, "Istirahat di kamar saja, sayang. Nanti kamu pusing dengerin adik-adik berdebat!" ajak Andre lalu merangkul istrinya dan membawanya ke kamar.
"Hhmm, nggak apa-apa, mas. Rame aku suka."
"Iya, sayang. Tapi kondisi kamu belum fit. Istirahatkan badan dan pikiran kamu dulu!"
"Hhmm, mas. Aku bosan di kamar terus. Dari sejak itu, aku kan di rumah terus," keluh Kanaya.
"Nanti kalau mas libur, kita keluar jalan-jalan, ya!"
Kanaya mengangguk setuju, "Iya, mas."
"Ya sudah sekarang lebih baik istirahat saja, ya. Mas sayang kamu!"
"Hhmm, aku juga sayang banget sama mas."
"Cup," Andre mencium lembut dahi istrinya.
Setelah ngobrol-ngobrol, Kevin pun berpamitan. Alya mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Besok kamu ke kampus jam berapa?"
"Aku besok nggak ke kampus," jawab Alya.
"Hhmm, ikut ke rumah Darren sekaligua saya jemput Annisa, ya?"
Alya menggeleng cepat, "Aku nggak ikut,"
"Loh, kenapa?"
"Nggak apa-apa!"
"Hhhmm, beliau tetaplah ibu yang melahirkan kamu dengan perjuangan."
"Aku ngantuk nih!"
"Hhmm, ya sudah saya pulang dulu, ya."
"Iya,"
Kevin pun meninggalkan rumah keluarga Alya.
"Kamu nggak tahu apa yang sudah di lakukan oalh ibuku dan suami barunya." gumam Alya.
.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo
.
.
__ADS_1
.
14