Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 174


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Darren sudah selesai dengan ujian akhirnya. Waktunya dia untuk bersantai sembari menunggu nilai ujiannya keluar. Darren melangkah dengan riang keluar dari gerbang sekolah. Dia sudah lama tidak lagi mengendarai sepedanya. Papanya mengharuskan dia naik angkot supaya lebih cepat sampai tujuan.


"Aku mau ke minimarket, ah. Mumpung belum siang. Tapi aku belum ketemu Annisa hari ini. Hhh, kangen banget rasanya," Darren membalik badannya menatap ke arah taman di mana gadis yang dia rindukan selalu duduk di sana menunggu jemputan.


Darren berjalan beberapa langkah untuk menunggu angkot yang lewat. Lima menit, angkot datang, Darren buru-buru naik. Tidak sampai setengah jam, angkot tiba di depan minimarket. Darren pun turun setelah membayar ongkos.


Darren mengetuk pintu gudang yang sedikit terbuka.


"Siapa?" sahutan dari dalam.


"Assalammu'alaikum, pak Rudi," ucap Darren.


"Wa'alaikumsalam. Masuk!" titahnya.


Darren pun masuk, "Pak Rudi," panggil Darren.


Rudi menoleh, "Loh, kamu Darren?"


Darren tersenyum kecil, "Iya, pak. Hhmm, aku mau kerja di sini lagi. Kira-kira boleh nggak ya sama pak Anto?" tanya Darren ragu.


"Ohh. Kalau masalah itu, kamu tanyakan langsung sama beliau. Kan kamu bilang waktu itu masih boleh kerja lagi di sini. Dan kebetulan memang belum ada karyawan baru lagi."


"Oh iya, pak. Hhmm, pak Anto ada di ruangannya nggak, ya?"


"Coba saja kamu ke sana. Kalau nggak ada, kamu cari di depan atau lantai atas."


"Iya, pak. Kalau begitu, aku cari pak Anto dulu!" pamit Darren.


Darren lantas pergi ke ke ruangan Anto.


Tok tok tok. Beberapa menit tidak ada sahutan. Ah mungkin pak Anto sedang ngecek barang di depan atau lantai atas. Batin Darren. Dia lalu mencari Anto di depan tapi tidak ada. Darren mencoba mencari di lantai atas, ternyata Anto baru saja berbicara dengan kasir di sana.


"Pak Anto," panggil Darren. Dia terlihat ragu.


Anto menoleh ke arahnya, "Darren?" tanya Anto kaget.


Darren tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Met siang, pak," sapanya ramah seraya mengulurkan tangannya.


Anto pun menyambut uluran tangan Darren, "Gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah aku baik, pak," jawab Darren.


"Syukurlah,"


"Hhmm, pak. A-aku bisa bicara sebentar?" tanya Darren malu.


"Bisa. Ayo, ke ruangan saya saja!" ajak Anto.


Mereka lalu pergi ker ruangan Anto. Setelah sampai, mereka duduk saling berhadapan.


"Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?" tanya Anto.


"Hhmm, aku-aku boleh kerja di sini lagi, pak? Aku sudah selesai ujian!" jelas Darren. Dia menundukkan kepalanya karena takut dan juga malu.


"Urusan sekolah kamu sudah beres?" tanya Anto meyakinkan.


"Tinggal menunggu hasilnya saja, pak."


"Hhmm, ya sudah kalau begitu. Tapi orangtua kamu nggak melarang kamu kerja, kan?" tanya Anto lagi.


Darren langsung mengangkat wajahnya. Dia bingung hendak menjawab apa, sedangkan dia memang bekerja diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya.


"Darren?"


"Hhmm, pak. Tolong ijinkan aku bekerja lagi di sini!" pinta Darren dengan wajah memohon.


"Darren, kenapa kamu tidak mau minta ijin dulu, supaya kamu bisa bekerja dengan tenang. Tanpa takut ketahuan orangtua kamu. Saya pun tidak mau nanti di salahkan," jelas Anto.


Darren menundukkan kepalanya, "A-aku nggak berani, pak. Hhmm, papa nggak ijinkan aku bekerja," ucap Darren lirih.


"Hhmm, coba kamu minta pengertian dari orangtua kamu, ya."

__ADS_1


Hhh, Darren menghela nafas berat. Pupus sudah harapannya untuk dapat bekerja lagi di minimarket Anto.


"Baiklah, pak. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Darren dengan wajah sedih. Dia lalu bangkit dari duduknya.


"Darren. Saya tunggu, ya. . ." ucap Anto lembut.


"Hhmm, iya, pak. Aku pulang dulu," sahut Darren tidak bersemangat.


Darren melangkah dengan lesu.


"Darren!" panggil Rudi.


Darren menoleh, "Iya, pak," sahut Darren lirih.


"Kenapa wajah kamu gitu? Jelek tahu!" gurau Rudi.


"Memang sudah jelek," sahut Darren lirih masih dengan wajah sedih.


"Hehee, kamu kenapa, sih? Habis di putusin cewek, ya? Ayo kerja sana. Kerjaan banyak, kamu malah melamun!"


"Hhmm, aku nggak jadi kerja, pak," jawab Darren lalu melanjutkan langkahnya keluar.


"Hey, apa maksud kamu? Pak Anto nggak mau terima kamu bekerja di sini lagi, ya?" tanya Rudi heran.


Darren menggelengkan kepalanya, "Bu-bukan."


"Lantas kenapa wajahmu jelek begitu?"


"Hhmm, pak Anto minta aku ijin dulu sama orangtuaku!" jelas Darren.


"Oohh. Ya tinggal minta ijin saja apa susahnya?"


"Nggak mungkin di kasih ijin!"


"Loh, kenapa? Cari kerja itu susah, loh. Kok malah nggak di kasih ijin. Aneh."


Darren masih memasang wajah sedihnya.


Hh, pak Rudi nggak tahu sih ada hubungan apa antara pak Anto dengan orangtuaku. Padahal yang salah tuh orangtuaku tapi tetap saja mereka yang nggak suka pada pak Anto. Batin Darren.


"Aku pulang dulu, pak!" pamit Darren lantas segera naik angkot yang kebetulan lewat.


Sampai di rumahnya, Darren duduk termenung di teras.


"Darren!" panggil papanya dengan suara tinggi membuatnya berjingkat lalu menoleh ke sumber suara.


"Papa?"


"Ngapain kamu melamun di sini? Bukannya masuk!"


"Hhmm, nanti, pa. Masih ingin menikmati angin," sahut Darren.


Papa galak terus sama aku. Dari kecil bahkan aku nggak pernah di cium sama papa apalagi sudah sebesar ini. Apa papa tidak ada rasa sayang sedikitpun padaku? Hhmm, tapi waktu itu papa kasih aku uang untuk sekolah. Hh, entahlah. Batin Darren. Dia mengusap kasar wajahnya sendiri. Beberapa saat kemudian dia masuk ke kamarnya.


"Sudah pulang kamu, nak?" tanya Lisa dari balik pintu kamar putranya.


Darren mengangguk lesu, "Iya, ma."


Lisa lalu masuk ke kamar, "Kamu kenapa?"


Hhh, Darren menarik nafas panjang, "Aku ingin kerja lagi, ma."


"Kerja di tempat kamu waktu itu?" tanya Lisa.


"Iya, ma."


"Hhmm, ya sudah kerjalah. Kan ujian kamu sudah selesai tinggal menunggu hasilnya saja."


"Tapi, ma. Papa pasti nggak ijinin aku kerja."


"Biar mama nanti yang bilang sama papa."

__ADS_1


"Mama yakin?"


"Mama akan usahakan!"


"Hhmm, mama nggak tahu kan aku kerja di mana?"


"Kerja di bengkel, kan?"


Darren menunduk seraya menggelengkan kepalanya, "Bukan, ma."


"Loh, nggak kerja di sana lagi? Lantas kerja di mana?"


"Hhmm, minimarket," jawab Darren lirih.


Dahi Lisa berkerut, "Minimarket?"


Darren mengangguk, "Minimarket mantan suami mama."


"Apa? Kamu jangan bercanda, nak!"


Darren menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu. . .?"


"Aku dan pak Anto awalnya nggak tahu. Kan kita baru tahu saat aku di rawat waktu itu, ma!"


Lisa mengusap wajahnya lalu menarik nafas berat.


"Maaf, ma. Aku nggak tahu."


"Lalu kenapa setelah tahu, kamu masih mau kerja lagi di sana, Darren?"


"Ma, siapa yang mau memperkerjakan anak yang belum lulus sekolah?"


"Di bengkel kamu waktu itu? Di toko?"


"Ma,di bengkel aku hanya di kasih gaji seratus lima puluh ribu satu minggu. Di minimarket pak Anto aku di kasih dua juta karena karyawan baru. Malah, aku kemarin di kasih tiga juta padahal aku nggak kerja satu bulan full."


"Darren, berapapun gajinya yang penting halal!"


"Di minimarket kan halal, ma!"


"Tapi itu beda, nak. Kalau papa kamu tahu bisa marah besar!"


"Hhmm, makanya pak Anto minta aku ijin dulu sama mama papa. Kalau boleh, baru aku bisa kerja lagi di sana."


"Hhh, papa kamu nggak akan ijinkan, nak."


"Kalau mama?" tanya Darren penuh harap.


"Mama. . ."


"Ma, ijinkan aku, ya!" pinta Darren dengan wajah memohon.


"Mama takut kalau sampai papa kamu tahu, nak."


"Hhh, ya sudah ma, nggak apa-apa," sahut Darren lirih.


Dia lalu berbaring di atas tempat tidurnya dengan lengan sebagai bantal, menatap langit-langit kamar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


20


__ADS_2