Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 64


__ADS_3

"Mbak Melly sedang apa?" tanya istriku saat kami sudah berada di gudang.


"Saya sedang santai saja,mbak. Tadi saya sudah selesai merapikan barang dan juga sudah selesai mencatat stok barang?" jelas mbak Melly.


"Mbak Melly sepertinya ada yang mencari mbak di luar!" ucap istriku.


"Siapa yang mencari saya ya,mbak?" tanya mbak Melly kaget.


"Saya juga belum tahu,mbak. Ayo kita lihat sama-sama!" ajak istriku.


Kami lantas meninggalkan gudang lalu pergi keluar minimarket setelah menitipkan Davina pada kedua anakku.


Di teras minimarket ada dua orang karyawan yang sedang berdebat dengan seorang laki-laki. Dan ternyata laki-laki itu adalah David.


"Mas David ngapain ke sini?" tanya mbak Melly gusar. Wajahnya terlihat cemas.


"Jadi benar kamu kerja di sini? Di tempat orang ini?" tanya David seraya menunjuk ke arahku.


"Iya mas aku kerja di sini!" jawab mbak Melly.


"Apa tidak ada tempat lain untuk kamu bekerja sampai harus bekerja disini,hehh?" tanya David dengan wajah tidak suka. Matanya menatapku nyalang.


"Aku sudah berusaha mencari kerja di tempat lain tapi tidak ada yang mau menerimaku bekerja dengan membawa anak selain keliling memulung sampah!" jawab mbak Melly dengan suara bergetar.


Aku dan istriku kaget hingga saling pandang saat mendengar ucapan mbak Melly. Jadi selama ini dia menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itupun dia lakukan sambil membawa anaknya yang masih kecil. Sungguh miris nasibnya.


"Sedangkan di sini kapanpun aku boleh membawa Davina!" tambahnya lagi.


"Pokoknya kamu tidak boleh bekerja di sini. Ayo pulang! "dia berusaha menarik tangan mbak Melly.


"Kamu sudah nggak berhak melarang aku ya,mas! Sekarang kamu bukan siapa-siapaku lagi. Aku bebas menentukan jalan hidupku sendiri!" jelas mbak Melly seraya menepiskan tangan David.


"Tapi Davina itu anakku dan aku tidak ingin dia deket-deket orang itu!" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arahku.


"Kenapa memangnya,mas? Mereka tidak jahat,kok! Mereka malah baik terhadapku dan juga Davina. Saat Davina sedang sakit parah kamu kemana,mas? Untung ada pak Anto yang mau bantu aku dan Davina hingga Davina bisa sembuh dari sakitnya. Itu juga pak Anto yang membayarkan semua biaya rumah sakit sementara kamu di mana,mas? Kamu hanya sibuk dengan istri barumu saja!"


"Kamu sekarang berani ya melawanku! Siapa yang ngajarin kamu,hehh?" bentak David.


"Karena aku benar,mas! Ngapain kamu sekarang ikut campur urusanku padahal kamu selama ini tidak pernah peduli padaku dan juga pada Davina. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri. Aku akan berusaha memberikan kehidupan yang layak untuk Davina. Kamu urusi saja dirimu sendiri dan istri baru mu itu!"


Plakk!! Tiba-tiba David melayangkan tangannya ke wajah mbak Melly.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu,ya!" bentaknya setelah berhasil memukul mbak Melly sementara wanita itu memegangi pipinya.


Istriku tiba-tiba mendekati mbak Melly dan hendak melindunginya dari kemarahan David. Melihat itu,aku pun lalu mendekati mereka. Aku tidak ingin David sampai bertindak kasar terhadap istriku.


"Kalian jangan ikut campur urusan pribadiku!" bentak David dengan tatapan nyalang ke arahku.


"Kamu yang tidak usah ikut campur urusan pribadiku,mas! Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir mbak Melly kemudian.


"Baiklah,aku akan pergi tapi dengan Davina! Mana anakku itu? Kamu sembunyikan di mana dia?"


"Davina itu anakku! Dari lahir sampai sekarang aku yang mengurus dan membesarkannya. Kamu dari dulu bahkan tidak pernah mempedulikannya. Jadi untuk apa sekarang kamu menanyakan dia? Bahkan hak asuh Davina pun ada di tanganku karena kamu ketahuan selingkuh! Tolong pergilah dari sini,mas. Biarkan aku hidup tenang dengan putriku.


"Tidak bisa! Aku harus membawa Davina. Aku ingin Davina dekat-dekat dengan mereka."


"Apa salah mereka sama kamu,mas? Kamu yang sudah salah terhadap pak Anto. Kamu yang telah berselingkuh dengan istrinya. Kenapa sekarang malah kamu yang membenci dia? Harusnya dia yang benci sama kamu,mas. Ingat mas,kamu yang sudah merusak rumah tangga dia dan juga rumah tangga kita."


"Kamu!" David hendak melayangkan tangannya lagi ke pipi mbak Melly tapi langsung aku tangkis tangannya dan aku hempaskan.


"Kamu berani ikut campur ya? Mentang ini daerah kamu? Sombong mentang dapat istri kaya."


"Iya,ini memang milik istri saya. Silahkan pergi dari sini atau akan saya panggilkan satpam!" ancamku.


"Berani kamu,ya! ucap David.


"Melly,ingat kamu ya,masalah kita belum selesai! Aku tunggu kamu di rumah ibumu!" ancam David lantas segera pergi dari minimarket lalu melajukan sepeda motornya dengan kencang.


Istriku lalu memeluk mbak Melly karena wanita itu mulai menangis.


"Maafkan saya mbak Santi,pak Anto,sudah membuat keributan di minimarket," ucap mbak Melly tak enak hati.


"Nggak papa kok mbak,bukan salah mbak. Ayo kita masuk lagi!" ajak istriku.


Kami lalu masuk kembali ke kantor. Beruntung Davina sedang asyik bermain dengan putriku Aliya jadi dia tidak mengetahui keributan di luar dan juga tidak melihat ayahnya.


"Saya langsung kembali ke gudang saja,mbak!" pamit mbak Melly setelah melihat putrinya yang sedang tenang bermain.


"Iya,mbak" sahut istriku.


Kami lalu duduk di sofa.


"Mas,bagaimana mbak Melly nanti kalau mantan suaminya datang ke rumah mereka? Aku takut dia di apa-apain!" ucap istriku khawatir.

__ADS_1


"Hhmm,semoga saja nggak,yank. Kan ada orang tua mbak Melly.


"Sepertinya dia benci banget sama mas sampai nggak suka mbak Melly kerja di sini."


Hhh,aku menarik nafas berat, "Entahlah,yank. Mas juga nggak pernah membalas apapun yang dia lakukan dulu."


"Benar-benar orang yang aneh. Tapi bagus juga sih mbak Melly pisah sama suaminya itu. Kalau aku jadi mbak Melly ya lebih baik pisah. Toh dari dulu suaminya nggak pernah peduli sama mbak Melly dan Davina,kan!"


"Hhmm,mungkin sudah takdirnya,yank!"


"Hhh,beruntungnya aku jadi istri mas!" ucap istriku seraya menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Aaww,yank!" teriakku kaget karena istriku bersandar di bahuku yang sakit.


"Ya Allah,maaf mas. Aku lupa," ucapnya penuh penyesalan seraya mengusap lembut bahuku dan meniup-niupnya.


"Nggak apa-apa,yank. Mas hanya kaget."


"Hhmm,aku olesi lagi sama salep ya,mas?"


"Nanti lagi sebelum tidur saja,yank. Kan tadi sudah," tolakku.


"Hhmm,"


Menjelang malam,minimarket tutup dan kami pun segera pulang. Mbak Melly dan Davina ikut ke mobil. Setelah sampai di depan rumahnya,mbak Melly pun turun sambil menggendong Davina yang sudah tertidur.


"Mbak Santi,pak Anto,terimakasih sudah mengantar kami pulang," ucap mbak Melly.


"Mbak,kalau ada apa-apa hubungi kita,ya!" pesan istriku.


"Hhmm,in sya Allah,mbak!" sahutnya.


Mbak Melly lalu berjalan ke rumahnya. Kami awasi sampai wanita itu masuk ke rumah setelah terlihat aman,barulah kami pulang.


.


.


.


.

__ADS_1


23


__ADS_2