
Alya
Seorang gadis berhijab biru muda sedang duduk seorang diri di depan ruang dosen dengan gelisah. Hari ini dia harus menyerahkan tugas kelompoknya sendirian tanpa di temani teman-temannya yang sudah pamit pulang lebih dulu.
Seorang pria muda yang baru satu tahun ini menjadi salah satu dosen di universitas di mana gadis itu menimba ilmu. Dosen yang terkenal tampan tapi dingin dan irit bicara itu bernama Kevin Pramudya. Tapi sekalinya bicara, Kevin bisa membuat lawan bicaranya takut terlebih untuk para mahasiswi.
Dengan jantung berdegup kencang, Alya menatap ke lapangan di depannya dan sesekali menoleh ke arah pintu.
Setelah setengah jam menunggu, ternyata dosen yang dia tunggu baru saja keluar dari ruangannya.
"Masuk!" titahnya yang membuat Alya kaget lantas segera berdiri lalu masuk ke dalam.
"Assalammu'alaikum, pak!" sapa Alya sembari menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam. Duduk!" titahnya.
Alya pun menurut, gadis itu duduk berhadapan dengan Kevin.
"Mana tugas kalian?" tanyanya datar.
"Ini, pak," Alya segera menyodorkan sebuah makalah ke atas meja di hadapannya. Kevin lantas membuka dan membolak-balik setiap lembar halamannya sembari sesekali melirik ke arah Alya yang kadang menunduk dan terkadang pandangan mereka bertemu.
"Yakin ini tugas di kerjakan bersama?" tanyanya menyelidik.
"I-iya, pak!" jawab Alya pelan.
"Hhmm, mana teman-teman kamu yang lain?"
"Me-mereka sudah pulang duluan, pak,"
"Gadis bodoh!" ucap Kevin pelan tapi menembus sampai ke hati Alya hingga gadis itu tersentak.
Alya mendongak. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Lalu Alya buru-buru menunduk kembali.
"Sudah. Silahkan keluar!"
"Hhmm, terimakasih, pak!" ucap Alya pelan lantas bangkit dari duduknya, "Permisi, pak!" pamit Alya kemudian.
"Sering-sering saja menyerahkan tugas kelompok sendirian!"
"A-apa, pak?"
"Pintar saja tidak cukup. Kamu juga harus cerdas! Pulanglah!"
"Hhmm, i-iya, pak!" pamit Alya lagi dan buru-buru keluar dari ruang dosen.
Sampai di luar, "Huuhh, apa maksud ucapan pak Kevin tadi,ya. Kalau terlalu lama berhadapan dengan pak Kevin bisa-bisa jantungku benar-benar copot," gumam Alya seraya mengusap dadanya.
"Kenapa jantungmu?" tanya seseorang dari arah belakang.
Seketika Alya menoleh, "Hhm, pak?" ucapnya gugup.
Gadis itu bahkan lupa belum menutup pintu. Dia bisa merasakan wajahnya mulai merah dengan jantung yang makin berdetak kencang.
Kevin menatap Alya sekilas dengan sorot mata tajam lantas pria itu segera berlalu dari hadapan Alya.
"Huuhh, apesnya aku!" keluh Alya.
Alya lalu melangkahkan kakinya ke gerbang kampus. Hari menjelang sore, kampus masih sedikit ramai mahasiswa dan mahasiswi yang mondar mandir.
Alya merogoh tasnya hendak mengambil handphone.
"Aahh, moga saja mas Andre masih di jalan. Bisa minta jemput. Lumayan hemat ongkos taxi," gumamnya seraya tersenyum.
Dia mulai melakukan panggilan telpon sambil berjalan tanpa menoleh-noleh lagi hingga. . .
"Aakkhh!" Alya terjatuh berikut handphone yang ada di tangannya akibat menghindari mobil yang sedang belok ke arahnya.
Mobil itu berhenti di dekatnya. Alya mendongakkan kepalanya lantas gegas berdiri setelah mengambil handphonenya.
"Kamu?" ucap seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Pak Kevin?"
"Kamu bisa hati-hati nggak sih? Hampir saja kan saya tabrak!" ucapnya kesal.
__ADS_1
"Hhmm, ma-maaf, pak."
Kevin menatap Alya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan yang sulit gadis itu artikan. Alya hanya mematung di tempatnya berdiri.
Tak lama kemudian, pria itu berlalu meninggalkan gadis itu lantas kembali ke mobilnya. Baru saja Alya hendak melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus yang hanya tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba Kevin membuka pintu mobil di sebelahnya.
"Hey!" panggil Kevin.
Alya menoleh kaget.
"Naik!" titah Kevin.
Alya hanya menatap bingung ke arah dosennya itu.
"Naik!" titah Kevin lagi.
"Ehmm, i-iya, pak," jawab Alya gugup.
Kenapa pak Kevin memintaku naik ke mobilnya. Batin Alya bingung. Tapi dia tetap bergerak naik ke mobil dosennya itu.
Kevin segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak menyadari jika gadis di sebelahnya sedang berusaha mengatur nafasnya karena merasa seperti kekurangan oksigen di dalam mobil. Gemuruh di dadanya menambah rasa tak nyaman gadis itu karena berada satu mobil dengan dosennya yang hanya berdua saja. Alya memang tidak pernah berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya dalam satu mobil.
"Di mana rumah kamu? Apa harus muter-muter dulu, heh!" tanya Kevin dingin.
"Ehmm, rumah saya di daerah G, pak," jawab Alya lirih.
Mobil terus melaju membelah jalan yang mulai macet hingga Kevin memelankan laju kendaraannya. Alya terlihat gelisah. Rasanya rumahnya masih sangat jauh.
Satu jam berlalu dengan cepat, akhirnya mereka sampai juga di rumah Alya. Alya menarik nafasnya perlahan.
"Rumah saya nomor delapan, pak!" jelas Alya tanpa di tanya.
Kevin segera memarkirkan mobil di depan pagar.
Baru saja mobil berhenti, dari arah berlawanan, masuk sebuah mobil dan mereka sama-sama berhenti di depan pintu pagar.
"Mas Andre," gumam Alya.
"Siapa?" tanya Kevin yang mendengar gumaman Alya.
Alya menoleh sekilas, "Hhmm, mas Andre. Kakak saya!" jelas Alya lantas membuka pintu mobil, "Terimakasih banyak pak, sudah berbaik hati mengantar saya pulang." ucap Alya kemudian.
"Hhhmm," Alya hanya bisa berdehem lalu turun dari mobil.
"Alya?!" panggil Andre yang membuka kaca jendela mobilnya.
"Hhmm, mas."
"Di antar siapa, kamu?" tanya Andre penuh selidik.
"Aku-aku di antar sama. . ."
"Andre?!" panggil seseorang.
Kedua kakak adik itu langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata dosenny Alya. Kevin.
"Kevin?" sahut Andre yang langsung membuka pintu mobilnya lantas gegas keluar. Begitupun dengan Kevin, dia gegas menghampiri Andre.
Kedua orang itu lantas berpelukan sembari saling menepuk-nepuk punggung.
"Apa kabar kamu? Makin keren saja!" tanya Andre.
"Aku baik. Alhamdulillah. Bagaimana denganmu? Kamu juga makin keren!" sahut Kevin.
Alya hanya memperhatikan saja tingkah dua orang pria di hadapannya.
"Yah begini," ucap Andre.
"Eh, kamu saudaranya dia?" tanya Kevin seraya menunjuk ke arah Ayla.
Andre menoleh ke arah Alya, "Iya, dia adikku!"
"Ahh, serius kamu? Adik beda orangtua, kan?"
"Serius, donk! Adik kandungku dari ayah dan ibu yang sama!" tegas Andre.
__ADS_1
Kevin terlihat sedang berpikir.
"Hhmm, mas. Aku masuk duluan, ya!" pamit Alya.
"Hmm, kamu utang penjelasan sama mas!" sahut Andre.
Mata Alya membulat, "Apaan sih mas, utang-utang segala."
"Pak Kevin, saya masuk dulu. Terimakasih," pamit Alya yang segera berlalu dari hadapan dua orang pria itu.
"Hhmm. . ." sahut Kevin yang terus memperhatikan Alya yang mulai masuk ke dalam pagar rumahnya.
"Eh, kamu beneran jadi dosen?" tanya Andre tak percaya.
"Hhmm."
"Tua banget kamu di panggil 'pak' oleh adikku! Hahah!" Andre tergelak.
"Lah kamu? Jadi dokter, kan?"
Andre mengangguk, "Alhamdulillah!"
"Selamat ya, akhirnya. Sudah spesialis, belum?"
"Belum, kok. Belum lama juga dapet gelar dokternya. Eh, masuk, yuk!"
"Sudah sore. Lain kali saja," tolak Kevin halus.
"Ok, deh. Aku tunggu, loh. Kangen juga sama teman-teman sekelas kita dulu. Apa kabar mereka."
"Iya, sama. Ya sudah, aku pulang dulu. Salam buat ayah bunda kamu!" pamit Kevin.
"Ok, hati-hati di jalan. Bye!"
"Bye!" Kevin kembali ke mobilnya begitupun Andre.
Andre lalu masuk ke rumahnya. Di ruang keluarga, berkumpul semua anggota keluarga.
"Assalammu'alaikum," ucap Andre.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.
"Loh, mas Andre kok sudah pulang?" tanya Alina.
"Iya, dosennya ijin jadi nggak ada kuliah hari ini."
"Oohh, ya sudah mandi dulu sana!" titah neneknya.
"Iya, nek. Aku ke kamar dulu!" pamit Andre.
Sementara Alya sedang di kamarnya. Dia masih kepikiran tentang dosennya tadi.
"Mas Andre ternyata kenal sama pak Kevin. Ahh, dunia sempit juga ternyata. Semoga pak Kevin tidak mempersulitku seperti pada teman-teman yang lain." gumam Alya.
Di sebuah mobil yang sedang melaju pelan, "Ternyata gadis itu adiknya Andre. Huuhhh, semoga dia tidak cerita macam-macam tentang sikapku selama ini terhadap para mahasiswi. Dan Andre juga tidak menceritakan tentang aku saat sekolah dulu pada adiknya. Bisa jadi gosip semua mahasiswi nanti. Biasanya kan para gadis senang bergosip. Aahh, kalau si Alya macam-macam, aku ancam saja akan memberikan dia nilai jelek. Ya, itu pasti bisa membuat gadis itu takut." gumamnya.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya author nulis kisahnya satu-satu. Semoga suka. 😊🙏
.
.
.
__ADS_1
.
10