
Alya dan keluarganya baru saja sampai di lokasi tempat di adakannya acara wisuda seangkatannya. Dia tampil sangat cantik. Semua keluarga ikut menghadiri acara wisudanya termasuk Kevin yang akan mendampinginya.
"Kamu cantik banget," bisik Kevin membuat wajah Alya merah dan terasa hangat.
Walau terkadang tingkahnya membuat Alya kesal tapi jauh di lubuk hati terdalamnya, dia sangat menyukai semua yang Kevin lakukan untuknya. Terlebih Kevin bukan menggoda untuk mempermaikannya tapi menggoda untuk memilikinya.
Mungkin nanti akan banyak hati yang terluka saat kita berdua berfoto bersama, mas. Batin Alya sembari menatap teman-temannya.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Tiba waktunya untuk wisudawan dan wisudawati berfoto. Tak ketinggalan keluarga juga ikut berfoto bersama.
Terakhir Alya berfoto berdua Kevin. Seperti yang sudah Alya tebak, banyak mata yang iri melihat mereka berdua. Kalau dulu Alya merasa takut dan malu tapi kini semua rasa itu hilang. Tak lama lagi hubungan mereka menjadi jelas dan itu seperti mimpi saja. Salah satu dosen idaman pada mahasiswi kini menjadi calon suaminya dan besok, akad itu akan di laksanakan.
Tak ada satupun teman yang Alya beritahu apalagi mengundang mereka. Karena akhir-akhir ini semua teman yang pernah dekat dengannya menjadi berubah. Seperti menjauhinya.
Setelah acara foto-foto selesai, mereka lalu pergi dari sana. Alya ikut bersama mobil Kevin. Andre dan Kanaya pun ikut bersama mereka. Rencananya mereka akan pergi ke restoran untuk makan siang.
"Kalian pilih sendiri menunya!" titah Anto saat sudah sampai di restoran.
"Ok siap, yah!" sahut Alina.
Setelah selesai makan siang, mereka lalu pulang ke rumah.
Sampai di rumah ternyata ada seorang karyawan dari butik langganan Santi yang datang membawa pakaian untuk acara pernikahan Alya besok.
"Alya coba dulu di kamar pakaiannya!" titah Santi.
"Baik, bun," sahut Alya.
Dengan di temani kedua adiknya, Alya mencoba pakaiannya di kamar.
"Wah, pakaian pengantinnya indah banget, ya," puji Annisa.
"Hhhmm, kamu suka?" tanya Alina.
"Suka, Lin. Bagus banget."
"Ya sudah nanti kalau kamu nikah sama kak Darren, kamu pakai lagi saja pakaian ini. Kan lumayan nggak usah beli lagi. Hahaha," goda Alina.
"Apaan sih, Lin!"
"Sudah ih, bertengkar terus," ucap Alya.
"Aline loh, mbak," sahut Annisa kesal.
"Sudah, kalian coba pakaian kalian dulu, sana!" titah Alya.
"Hmm, kita seragam berenam, ya kak?" tanya Alina.
"Masa? Tadi aku lihat pakaiannya ada tujuh, loh."
"Tujuh? Buat siapa saja? Kalian kan hanya bertiga di tambah mbak Kanaya, nenek, tante Aminah. Mbak kan pakaiannya beda."
"Iya, ya. Nanti tanya bunda, deh. Siapa tahu kebanyakan bawanya."
"Iya, ya."
Tak lama kemudian, setelah selesai mencoba pakaian, mereka turun ke bawah.
"Bunda, pakaian seragamnya nggak kelebihan, ya?" tanya Alina.
"Nggak, kok. Pakaian seragamnya pas," jawab Santi.
"Aku hitung ada tujuh, bun. Kita di rumah ini ada lima di tambah tante jadi enam. Tadi aku hitung kok ada tujuh, ya?" tanya Annisa bingung.
__ADS_1
"Iya, bun. Aku juga hitung," sahut Alina.
"Oohh, yang satunya untuk ibunya kak Alya," jelas Santi.
"Buat ibunya kak Darren?" tanya Annisa kaget.
Santi hanya tersenyum, "Nanti sore Darren suruh ke sini, ya. Ambil pakaian untuk ibunya," titah Santi.
"Hhmm, kak Darren suruh ke sini, bun?"
Santi mengangguk.
"Asiikkk!" seru Alina.
"Kok asik, Lin?"
"Ya asik kan, bisa ketemu kak Darren. Hayo ngakuu! Hahaa," goda Alina.
Wajah Annisa memerah antara kesal dan malu, "Alin mulai, deh. Huhh!" ucap Annisa kesal lantas berlalu dari sana karena yang lain juga ikut menggodanya.
Di dalam kamarnya, Kanaya sedang mencoba pakaian seragamnya. Tiba-tiba Andre masuk, "Pas nggak pakaiannya, hhmm? Kamu sekarang kurusan, sayang,"
Kanaya menoleh, "Pas kok, mas. Masa aku kurusan, mas?"
"Iya. Kamu banyak pikiran, ya?"
"Hhmm, ng-nggak kok, mas."
"Kamu nggak bahagia jadi istri mas?"
"Mas, tentu saja aku bahagia jadi istri mas!" tegas Kanaya.
"Tapi kamu kurusan, sayang. Mas ngerasa gagal jadi suami kalau begini," ucap Andre dengan wajah sedih.
"Hhmm, kamu sekarang juga makannya sedikit. Apa masakannya kamu nggak suka, hmm?"
"Mas, aku suka, kok. Dari awal aku suka. Entah akhir-akhir ini memang selera makanku berkurang,"
"Kamu nggak betah di sini?"
"Betah, mas. Rumah mas ramai. Semuanya baik sama aku,"
Andre menatap istrinya lekat-lekat, "Lalu kamu kurusan itu pasti ada sebabnya, kan?"
"Ya karena aku makan kurang berselera, mungkin."
"Hhmm, mau makan di luar?"
"Mas, sama saja. Memang perutku sejak keguguran jadi kurang nyaman."
"Besok kita ke dokter, ya?"
"Loh, besok acara nikahan Alya kok malah kita mau ke dokter?"
"Acaranya kan sore. Kita ke dokternya pagi saja."
Kanaya menarik nafasnya berat, "Mas, aku-aku hanya kepikiran apa aku masih bisa hamil. Aku kan. . ."
"Jadi kamu mikirin itu?" potong Andre.
"I-iya, mas. Aku takut nggak bisa hamil lagi," ucap Kanaya sedih.
Andre memeluk istrinya lalu mengusap lembut pucuk kepalanya, " Waktu itu dokter bilang kalau kamu bisa hamil lagi kok. Jangan khawatir. Kalau kamu kepikiran itu terus, kamu bisa stres dan itu mempengaruhi, sayang!"
__ADS_1
"Tapi beneran kan, mas. Aku bisa hamil lagi?"
"In Sya Allah!" tegas Andre.
"Aku takut mas akan tinggalin aku kalau aku nggak bisa hamil lagi," ucap Kanaya sedih.
"Huss, dapet dari mana pikiran seperti itu? Mas kelihatan jahat banget, ya?"
"Bu-bukan begitu, mas. Tapi kan banyak suami yang meninggalkan istrinya karena istrinya yang nggak bisa memberikan keturunan."
Andre mengusap wajahnya kasar, "Astagfirullah, mas bukan suami yang seperti itu!"
"Maaf, mas. Maafin aku," ucap Kanaya lirih seperti hendak menangis.
Andre melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya lekat-lekat, "Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi! Kamu denger?"
Kanaya mengangguk, "Maafin aku, mas."
"Hhmm, lusa Alya dan Kevin akan berbulan madu. Apa kamu mau ikut?"
"Iihh, ngapain ikut orang yang lagi bulan madu, mas?" tolak Kanaya.
"Ya kita bulan madu juga bareng mereka, sayang."
Dahi Kanaya berkerut, "Nggak apa-apa, mas?"
"Memangnya kenapa?"
"Hhmm, kok nggak enak saja,"
"Kalau kamu nggak mau bareng mereka, kita bulan madu di kota lain saja nggak usah sama-sama mereka. Bagaimana, kamu mau, kan?"
"Mas, aku mau," ucap Kanaya dengan senyum bahagia.
"Mas sayang banget sama kamu. Jangan ragu untuk bilang apa-apa sama mas, ya. Jangan ada yang di tutupi!" ucap Andre pelan namun dengan penekanan.
"Iya, mas."
Andre mendekatkan wajah mereka berdua lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Jantung Kanaya mulai berdebar-debar.
"Nanti malam, ya," bisik Andre.
Wajah Kanaya memerah. Dia menganggukkan kepalanya dengan senyum malu.
"Sama suami sendiri nggak usah malu-malu. Kalau kamu mau jangan malu bilang sama mas. Daripada nanti makin kurus," goda Andre.
"Mas, iihh. Memangnya aku kurus karena itu!" Kanaya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Andre tergelak, "Hahaa," kemudian Andre mendaratkan ciuaman bertubi-tubi ke wajah istrinya yang sudah merah seperti kepiting rebus."
"Hhmm, mas,"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
22.3