
Andre gegas pergi ke kamar adik-adiknya. Kanaya mengikutinya.
Tok tok tok.
Berkali-kali! di ketuk, tapi tak juga ada sahutan.
"Kemana mereka?" Andre makin cemas.
"Mungkinkah di kamar Alya, mas?" ucap Kanaya.
"Huuhh, apa mungkin, ya?" tanya Andre ragu.
"Siapa yang tahu, mas. Kita coba saja," ucap Kanaya.
"Baiklah," ucap Andre.
Mereka pun mengetuk kamar Alya yang berada di sebelah kamar si kembar.
Tok tok tok
Di dalam kamar Alya. Pasangan pengantin baru itu masih berada di kamar mandi.
"Mas, sudah pukul berapa ini?" Alya terlihat khawatir.
"Mas nggak tahu sayang,"
"Ya Allah, mas. Kan kita mau makan malam," ucap Alya.
"Sebentar lagi, sayang!" Kevin masih terus menggoda istrinya.
"Hhmm, mas. Sudah dulu, yuk!" pinta Alya sembari menghalau tangan suaminya.
"Sayang,"
"Mas, nanti lagi."
"Hhmm, beneran nanti lagi?" Kevin menatap istrinya masih dengan tatapan mendamba. Duh mas Kevin segitunya.
"I-iya, mas. Kita keluar dulu nanti mereka nyariin."
"Baiklah sayang. Tapi ingat janji kamu, ya!" Kevin menatap Alya dengan tatapan menggoda.
Alya menarik nafas panjang, "Iya!"
"Teraimakasih, sayang!" Kevin mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke kamar.
Kevin menurunkan istrinya lalu kembali memeluknya. Masih belum juga bosan, Kevin kembali mendaratkan ciuman ke wajah istrinya.
"Hhmm, mas."
"Kamu membuat mas nggak bisa berhenti, sayang!"
"Mas. . ."teriak Alya.
Tiba-tiba. Tok tok tok.
"Mas, siapa itu?"
Kevin menggelengkan kepalanya, "Mas nggak tahu."
"Bukain pintunya, mas!" pinta Alya.
Kevin lalu melepaskan pelukannya lantas gegas memakai celana pendek dan tshirtnya.
"Kamu pakai pakaian di kamar mandi saja, biar mas yang bukain pintu!" titah Kevin.
"Iya, mas."
Kevin lalu membukakan pintu.
Ceklek.
"Kev, ada Alina sama Annisa?" todong Andre saat pintu baru saja di buka.
Dahi Kevin berkerut, "Alina dan Annisa? Nggak ada," jawab Kevin.
Mata Andre membulat, "Apa? Ke-kemana mereka?" tubuh Andre bergetar.
"Jadi mereka nggak ada di kamarnya?" tanya Kevin bingung.
"Iya," sahut Andre lirih.
"Ada apa, mas?" tanya Alya yang baru datang selesai berpakaian.
__ADS_1
"Alina dan Annisa nggak ada di kamarnya!" jawab Kevin.
"Apa? Mas sudah ke kamarnya?" tanya Alya kaget.
"Hhmm, belum, sih. Tapi kita ketuk pintunya dari tadi nggak di bukain. Di telepon juga nggak di jawab," jelas Andre.
"Kita cek ke kamar mereka dulu!" ajak Kevin.
Mereka langsung menuju kamar Alina dan Annisa. Mereka ketuk berkali-kali tetap tidak ada sahutan.
"Tunggu, aku akan minta kunci cadangannya pada resepsionis," ucap Kevin lantas segera turun ke bawah ke petugas resepsionis.
"Maaf, mbak. Apa tamu kamar nomor 420 meninggalkan kunci kamarnya?"
"Hhmm, nggak ada, mas," jawabnya.
Hmm, apa mereka masih di kamar, nya. Batin Kevin.
"Kalau kunci cadangannya ada mbak? Bisa saya pinjam?" ucap Kevin.
"Loh, memangnya kuncinya kemana, mas?"
"Adik saya yang di kamar 420 tidak membuka pintu saat saya ketuk. Saya ingin tahu keadaanya, mbak!" jelas Kevin.
"Oh, begitu. Baiklah, mas." Petugas itu lalu memberikan kunci cadangan pada Kevin.
Kevin gegas kembali naik ke lantai empat.
"Ini kuncinya," ucap Kevin lantas segera membuka pintu.
Ceklek. Alya buru-buru masuk ke dalam. Kosong.
"Kosong," ucap Alya lirih. Dia menatap nanar ke seluruh ruangan.
"Tenang, kita lihat kamar mandi," ucap Kevin.
"Mana mungkin mereka di kamar mandi berdua," sahut Alya yang duduk lemas di sisi tempat tidur.
"Nggak ada."
Di balkon juga nggak ada."
"Handphone. I-ini handphone Alina sama Annisa!" ucap Alya dengan suara bergetar. Tangannya gemetar memegang handphone adik-adiknya.
"Mereka tidak ada di mana-mana," ucap Andre dengan suara lemah.
"Tenang sayang!" ucap Kevin menghibur.
"Mana bisa aku tenang, mas! Mereka menghilang tidak ada tahu kemana."
"Hhmm, tadi mereka beberapa kali menghubungi mas, dan kirim pesan juga."
"Mereka bilang apa?" tanya Alya.
Andre menghela nafas berat. Wajahnya menyiratkan penyesalan. "Mereka kirim pesan menanyakan kapan akan keluar."
"Nggak mas jawab?" tanya Alya lagi.
Andre menggeleng, "Mas, hmm. . ." Andre mengusap kasar wajahnya.
Alya menutupi wajah dengan kedua tangannya, Hari makin malam, kemana mereka.
"Kita cari. Jangan berdiam terus di sini!" ajak Kevin.
"Ini semua salahku!" ucap Alya frustasi.
"Sayang, kenapa bisa salah kamu?" tanya Kevin bingung.
"Seandainya kita nggak pergi."
"Ssstt, jangan menyalahkan diri sendiri. Kita akan menemukan mereka!" hibur Kevin.
"Mas yang salah. Mas nggak jawab telepon mereka. Mas nggak balas pesan mereka," ucap Andre.
"Apa? Ya Allah, handphoneku mati habis baterai. Kenapa nggak mas jawab?"
Andre mengusap wajahnya kasar. Alya menggelengkan kepalanya.
"Ini semua gara-gara kita. Kita yang sibuk dengan diri sendiri tanpa peduli mereka!" ucap Alya dengan emosi. Air matanya terus mengalir.
"Sudah, Al. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita cari mereka sekarang!" ajak Kevin.
Andre langsung bangkit dari duduknya, "Kev, kamu sama Alya dan aku sama Kanaya. Kita cari mereka berpencar."
__ADS_1
Mereka mengangguk setuju lantas menutup pintu kamar Alina. Alya masih terisak, rasanya kakinya lemas untuk di bawa berjalan. Pikirannya sudah macam-macam.
Kevin merangkul bahunya, "Doakan yang baik-baik, ya," bisik Kevin.
"Semua salah kita, mas. Kita malah asik sendiri!" sahut Alya kesal seraya mengusap air matanya.
"Hhmm, iya maafin mas, ya."
"Semoga mereka baik-baik saja," ucap Kanaya lirih.
Sedangkan Andre tampak makin frustasi. Jantungnya berdegup kencang.
Di dalam restoran. Alina dan Annisa baru saja selesai makan.
"Berapa, Nis?" tanya Alina.
"Tiga ratus delapan puluh lima, Lin!"
"Serius?" tanya Alina kaget.
Annisa mengangguk, "Biar pakai uangku saja."
Alina mengangguk, "Mau kemana lagi kita?"
"Jalan-jalan keluar, yuk! Yang dekat-dekat sini saja!" ajak Annisa.
"Ok. Daripada kita di kamar saja, kan."
"He eh. Yuk!"
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Di luar hotel masih terlihat ramai.
"Sekarang pukul berapa sih, Nis?"
"Hhmm, hampir pukul sembilan, Lin. Kita foto-foto, yuk!"
"Ayo!"
Mereka hendak mengambil handphone dalam tas ternyata tidak ada.
"Handphoneku!" teriak mereka hampir berbarengan.
"Yah, ketinggalan di atas tempat tidur," ucap Annisa.
"Hhmm, aku juga. Gara-gara kesal tadi handphoneku aku letakkan sembarangan di atas tempat tidur."
"Huuhh! Jadi gimana, balik lagi ke kamar?"
Alina mengedikkan bahunya.
"Nggak usah, ya. Nanti saja foto-fotonya."
Alina menganggukkan kepalanya, "Ok, deh. Yuk, kita ke sana. Itu loh, sepertinya jembatan menuju pantai, deh!"
"Masa, Nis?"
"Hhmm, ayo, deh!"
Dengan wajah di hiasi senyum, mereka melangkah dengan riang. Seakan melupakan saudaranya yang sedang sibuk dan khawatir mencari mereka.
"Indah banget, ya!" ucap Annisa.
Alina mengangguk, "Iya, banget! Sayang nggak bisa kita abadikan, ya!"
"Iya, nih. Seandainya kak Darren ikut lebih indah lagi," gumam Annisa tapi masih bisa di dengar oleh Alina.
"Indah buat kamu, buatku buruk!" celetuk Alina.
"Hehee, katanya mau cari bule."
"Cari paklek saja!" sahut Alina.
"Hahaaa, sana sama paklek!"
"Iiiihh!"
Mereka terus berjalan tanpa sadar makin menjauh dari hotel.
.
.
.
__ADS_1
.
14