Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 176


__ADS_3

Saat sarapan, Kanaya kembali mual-mual hingga dia hanya sarapan sedikit saja dengan roti tawar. Setelah selesai sarapan, Kanaya mengantar suaminya sampai di depan pintu.


"Nanti siang kalau nggak sibuk, mas makan siang di rumah,"


"Iya, mas."


"Kamu nanti makan lagi, ya. Sedikit-sedikit nggak apa-apa, yang penting perutnya di isi!" titah Andre.


"Iya, mas. Nanti aku minta bikinin sama bibi air jahe seperti yang di bikinkan bunda."


"Iya, sayang. Makan minum apa saja yang kamu suka, ya!"


"Iya, mas."


"Mas kerja dulu!" ucap Andre seraya mengusap lembut pipi mulus istrinya.


"Hhmm, mas hati-hati di jalan!"


Kanaya lalu mencium punggung tangan suaminya dan Andre membalas dengan mencium dahi istrinya penuh kasih sayang.


Andre pun segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Sedangkan Kanaya masuk kembali ke rumah.


Andre bekerja dengan tidak tenang. Entah kenapa, pikirannya selalu tertuju pada sang istri. Kebetulan IGD sedang tidak banyak pasien, Andre meminta ijin pada rekan kerjanya untuk mengambil istirahat lebih awal karena memang mereka beristirahat secara bergantian.


Andre melajukan mobilnya ke arah rumah orangtua Kanaya karena istrinya masih di sana.


Kanaya. Batin Andre. Dia terlihat gelisah.


Setelah sampai, Andre buru-buru memarkirkan mobilnya di depan rumah. Setelah mengucapkan salam, Andre gegas masuk karena pintu tidak di kunci. Sepi. Sepertinya penghuninya sedang di kamar. Andrepun gegas menuju ke lantai atas di mana kamar istrinya berada.


Ceklek. Andre masuk. Tempat tidur kosong bahkan masih rapi. Andre pun masuk ke kamar mandi tapi kosong, di balkon pun tidak ada juga.


"Kanaya kemana, ya?" gumam Andre.


Andre pun berinisiatif menelepon istrinya itu tapi ternyata handphone istrinya ada di atas nakas. Andre kembali menyimpan handphonenya.


"Apa Kanaya pergi di ajak mami dan lupa membawa handphone, ya. Tapi masa pergi nggak ijin aku dahulu?"


Andre keluar lagi dari kamar. Dia turun ke bawah, ke dapur, ruang keluarga, semua dia datangi kecuali kamar lain sampai Andre tiba di pintu yang mengarah ke kolam renang di samping rumah. Pandangannya berhenti di ayunan yang tidak jauh dari kolam. Ada dua orang yang sedang duduk di sana membelakanginya. Tangannya mengepal. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dadanya pun naik turun melihat di depannya.


Perlahan Andre berjalan mendekat.


"Nay, aku sungguh-sungguh suka sama kamu! Sudah lama, Nay. Aku nggak peduli walau kamu sudah menikah. . ." suara laki-laki itu begitu menghiba dengan tangan yang berusaha memegang tangan wanita di sampingnya walau wanita itu terus menepis tangannya. Tanpa sengaja Kanaya menoleh ke belakang.


"Mas. . ."


"Maaf saya menggangu!" ucap Andre pelan namun dengan penekanan.


"Mas?" Kanaya gegas turun dari ayunan lalu mendekati Andre kemudian mengulurkan tangannya.


Andre mundur satu langkah hingga tangan itu tidak mampu menggapainya. Andre lalu menghampiri laki-laki itu, melayangkan tinjunya ke wajah laki-laki yang baru saja merayu istrinya.


"Mas?"


"Kenapa? Kamu keberatan aku memukulnya, hmm?" rahang Andre mengeras.


"Bu-bukan, mas. Aku. . ."


Andre berbalik arah lantas berlalu dari sana. Kanaya mengejarnya.


"Tunggu, mas. Ini nggak seperti yang mas pikirkan!"


Andre membuka pintu mobilnya, gegas pergi dari sana.


"Mas Andre!" masih terdengar samar teriakan istrinya.


Andre mengusap wajahnya kasar. Matanya memerah. Dia sungguh-sungguh kecewa dengan apa yang baru dia lihat. Tak menyangka, istri yang dia anggap polos ternyata pandai bermain di belakangnya.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Andre berusaha sekuatnya untuk fokus menangani pasien walau pikirannya masih berkecamuk.


Tiba-tiba.


"Dokter, tolong ada pasien yang pingsan!" teriak suster.


"Fer, tolong kamu saja!" pinta Andre seraya menunjuk ke arah pasien kecelakaan yang baru saja datang. Dia baru saja selesai menangani satu pasien.


"Dre!" teriak Ferry.


Andre menoleh dengan malas, "Ah si Ferry," gumamnya lantas mendekati rekan kerjanya itu.


"Butuh bantuan?" tanya Andre tanpa menoleh ke arah pasien yang sedang di tangani oleh Ferry.


Ferry menoleh ke arah Andre lantas menarik tangannya menghadap ke pasien.


"Lihat!" titah Ferry.


Andre terpaku menatap sosok yang terbaring di hadapannya.


"Kanaya?" jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Tubuh Andre pun gemetar.


"Kanaya!" Andre memeluk tubuh itu. Dia menangis tanpa suara.


"Pendarahan. Kita harus membawanya ke ruang bersalin, Dre!" titah Ferry.


Andre yang masih syok, menurut saja. Dia ikut menemani istrinya masuk.


"Sabar, Dre!" ucap Ferry seraya menepuk bahu Andre.


Setelah dokter memeriksa dan memberi pertolongan.


"Maaf, dokter Andre. Sudah tidak bisa di selamatkan!" jelas dokter kandungan yang pertama kali memeriksa kehamilan Kanaya.


Andre mengusap wajahnya kasar. Dia jatuh terduduk di lantai.


Andre duduk tak jauh dari istrinya. Dia melamun. Tatapannya kosong. Beberapa menit kemudian.


"Istri anda sudah sadar, dok!" jelas suster mengagetkan Andre.


Andre lantas mendekati istrinya.


"Mas, aku bisa jelasin," ucap Kanaya lirih. Air matanya luruh.


Andre menempelkan jari telunjuknya di bibir, "Sssstt, jangan banyak bicara dulu!"


Kanaya menggelengkan kepalanya, "Nggak. Aku harus jelasin. Aaww, sakit!" lirihnya sembari menyentuh area bawahnya. Dahinya mengernyit.


"Kamu istirahat dulu, jangan banyak gerak!"


"Ke-kenapa sakit banget, mas?" tanya Kanaya panik dan bingung.


"Hhmm, ka-kamu tadi. . ."


"A-aku tadi jatuh saat turun dari taxi, mas. Aku mau nyusul kamu. Aku. . ." Kanaya makin terisak. Bahunya bergetar.


"Istirahat saja. . ."


"Tiba-tiba dia datang saat aku sedang berjemur di ayunan. Aku baru hendak mengusirnya saat mas tiba. Sungguh, mas!"


Wajah wanita itu terlihat frustasi. Andre masih belum mengatakan tentang kondisi kandungannya. Dia takut istrinya makin frustasi.


"Mas, apa mas nggak percaya sama aku? Aku nggak mungkin mengkhianati kamu, mas. Terlebih aku sedang hamil. Aku nggak gila, mas. Aku nggak mungkin melakukan itu! Aku cinta kamu, mas!"


Andre tetap berdiri. Dia ingin memeluk istrinya. Ingin menenangkan istrinya itu tapi rasa cemburu masih menguasai hatinya.


Melihat suaminya masih diam saja, Kanaya duduk lantas menghapus air matanya. Tangisnya reda namun air mata tetap luruh tanpa henti. Detik berikutnya, wanita itu hendak turun dari ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Mau kemana?" cegah Andre.


"Pulang. A-aku seperti sendirian di sini," ucapnya dengan menahan tangis.


"Nay. . ."


"Aaww!" jeritnya tertahan.


"Kamu masih sakit. Jangan bangun dulu! Suster sedang siapkan kamar rawat inap buat kamu."


"Buat apa? Toh aku sendirian di sini!"


"Mas akan jagain kamu!"


"Oh, dokter Andre mau jagain aku? Masih banyak pasien lain yang membutuhkan dokter! Aku nggak apa-apa sendirian. Aku bukanlah orang yang penting!" ucap Kanaya pelan namun penuh penekanan.


Tiba-tiba suster datang, "Dokter Andre, kamar ranap untuk ibu Kanaya sudah siap!"


"Hhhm, terimakasih, sus!" jawab Andre.


Karena tubuhnya memang masih lemah di tambah rasa nyeri, Kanaya menurut saja saat di bantu untuk pindah ke kamar ranap.


Kanaya berbaring membelakangi Andre. Bahunya bergetar. Dan dia terlihat mengusap-usap perutnya.


Hati Andre merasa sakit melihatnya.


Tak lama kemudian suster datang lagi untuk mengganti cairan infus yang hampir habis serta membawakan obat untuk Kanaya.


"Bu Kanaya, kalau mau ke kamar mandi pelan-pelan saja supaya tidak nyeri area pribadinya, ya. Ini saya juga bawakan pembalut!" jelas suster setelah selesai mengganti cairan infus.


"Pembalut? Saya tidak sedang datang bulan, sus!" sahut Kanaya bingung.


"Hhmm, bu Kanaya kan baru saja keguguran. Masih ada sisa. . .


"Keguguran?" potong Kanaya kaget.


Suster terlihat bingung, "Hmm, saya permisi dulu!" pamitnya lantas gegas keluar dari kamar ranap Kanaya.


Kanaya menoleh ke arah suaminya, "Apa maksud suster tadi?" Kanaya menatap suaminya penuh tanda tanya.


"Sayang, ka-kamu keguguran," jawab Andre lirih.


Mata Kanaya membulat, dadanya naik turun, "A-apa?"


"Hhmm, kamu sabar, ya!"


Kanaya menggelengkan kepalanya keras, "Nggak! Nggak mungkin. Itu pasti bohong, kan!"


"Sayang, denger dulu!"


"Nggakk!!" teriak Kanaya histeris.


.


.


.


.


.


.


.


22

__ADS_1


__ADS_2