
Keesokan harinya di jam istirahat aku ke rumah mbak Santi untuk mengantarkan dia kesalon langganannya. Sebenarnya dia tidak perlu sampai harus perawatan ke salon karena ingin menikah tapi aku tidak mau melarang. Mungkin dia ingin terlihat sempurna saat pernikahan kami nanti.
"Mas,mungkin aku baru selesai sekitar satu jam. Kalau mas mau pulang ke minimarket dulu nggak apa-apa," ucap mbak Santi.
"Nggak apa-apa biar mas tunggu saja!" sahutku.
Setelah dia masuk,aku lalu menunggu di luar sambil membaca koran. Satu jam kemudian dia keluar dari salon. Dia tampak makin cantik dan terlihat segar.
"Mas,maaf ya lama," ucapnya.
"Iya,nggak apa-apa,kok!" sahutku yang terus menatap wajahnya.
"Kita cari makan siang dulu ya,mas!" ajaknya.
"Ayo!" sahutku.
Kami lalu pergi ke sebuah restoran yang tak jauh dari salon.
Setelah memilih menu masakan,kami menunggu sebentar.
"Urusan di kantor KUA sudah siap kan,mas?" tanyanya.
"Alhamdulillah,semua sudah siap sama seperti calon pengantinnya!" sahutku menggodanya.
Dia lalu tersenyum malu, "Hhmm,mas. Kalau kita sudah nikah,ibu sama Aminah ajak tinggal di rumah,ya?"
Aku mengernyitkan dahiku, "Nggak enak. Nanti di kira orang bagaimana jika mertua dan adik ipar ikut tinggal bersama kita?" tolakku halus.
"Kenapa mikirin orang lain,mas? Biar rumah ramai. Boleh ya,mas?" pintanya dengan wajah memohon.
"Kan sudah ada Andre dan Alya. Di jamin rumah kamu pasti ramai kalau mereka sedang bertengkar!"
"Iihh,mas ini! Kalau mereka sekolah kan rumah pasti sepi. Nanti aku tanyain sama ibu dan Aminah saja,deh!"
"Nggak enak! Lagipula kalau suami Aminah pulang bagaimana? Rumah ibu juga kosong kalau semua tinggal di rumah kamu."
"Hhmm,kalau suami Aminah pulang kapan,mas?"
"Dia kan kerja di luar kota. Jauh juga. Jadi pulang hanya setahun sekali."
"Hhmm,"
"Kalau mau lebih ramai lagi,kamu penuhi saja permintaan Alya!"
"Permintaan Alya? Yang mana,mas?"
"Hhmm,kamu lupa?"
"Apa,ya?" Dahinya berkerut.
"Hhmm,baru kemarin sudah lupa!"
Dahinya berkerut, "Alya minta adik bayi?" tanyanya ragu.
Aku hanya tersenyum, "Kasih banyak-banyak. Rumah pasti ramai!"
"Iihh,mas! Lagipula aku sudah mau kepala empat."
__ADS_1
"Kenapa memangnya kalau sudah kepala empat?"
"Hhmm,aku pikir-pikir dulu ya mas?"
"Mas juga ingin punya anak dari kamu!"
Dia lalu tersenyum, "In sya Allah,ya mas!"
"Biar ada yang meneruskan garis keturunan keluarga kamu juga kan?"
"Iya,sih. Dari dulu mami papi ingin sekali menimang cucu,tapi aku belum bisa mengabulkannya."
"Apa kamu nggak mau punya anak dari mas?"
"Mas,tentu saja aku mau! Makanya aku pilih mas jadi suami aku!"
"Mas,mbak,ini pesanannya!" ucap pelayan restoran yang tiba-tiba sudah ada di dekat kami.
"Terimakasih!" ucapku dan mbak Santi berbarengan.
"Yuk,kita makan dulu!" ajakku yang di beri anggukan oleh mbak Santi.
Kami lalu mulai menyantap makanan kami.
Setelah dari restoran,aku langsung mengantarnya ke rumah.
"Mas,mobil bawa saja. Toh aku kemana-mana di antar sama mas,kan!" ucap mbak Santi saat kami sudah sampai di rumahnya.
"Mas kan bawa motor. Lagipula mas hanya sendirian. Kalau ajak anak-anak saja baru mas bawa mobil kamu," tolakku halus.
"Iya! Kamu baik-baik di rumah! Kalau butuh mas,telpon saja!"
"Iya,mas. Terimakasih untuk hari ini."
Aku tersenyum, "Mas ke minimarket dulu,ya!" pamitku.
***
Hari pernikahanku pun tak terasa sudah tiba. Pagi ini keluargaku sibuk mempersiapkan apa saja yang hendak dibawa ke rumah calon istriku. Aku pun sudah rapi dengan pakaian Kokoku. Aku juga sudah menyewa dua buah mobil untuk membawa semua keluargaku dan juga tetangga yang ingin ikut ke acara pernikahanku.
Saat kami baru saja keluar rumah tiba-tiba Lisa muncul di depan pintu pagar. Tentu saja aku sangat kaget,untuk apa dia pagi-pagi ke sini dengan membawa serta bayinya juga. Aku tidak mempedulikannya dan segera naik ke mobil. Tetangga yang ikut pun sudah menunggu di mobil satunya.
"Ibu!" seru Alya.
Lisa lalu mendekat Alya dan memegangi tangannya saat putriku itu hendak naik ke mobil.
Ibuku lalu mendekati Lisa, "Maaf,Lisa. Kami sekeluarga sedang terburu-buru dan harus segera pergi!" pamit ibuku.
Lisa menatap ibuku sinis, "Aku hanya ingin mengajak Alya main sama adiknya,bu!"
"Iya,tapi lain kali saja. Sekarang benar-benar nggak bisa," jelas ibu.
Lisa tak peduli ucapan ibu, "Alya,kamu ikut ibu,yuk! Kamu nggak mau main sama adik?"
Alya menatapku bingung, "Tapi aku mau ikut ayah,bu. Nanti saja,ya!" tolak Alya.
"Kamu di ajarin apa sama ayah kamu? Aku ini ibu kamu,nak. Kamu nggak peduli lagi sama ibu?" ucapnya dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Iya tapi sekarang aku harus ikut ayah,bu!"
Lisa terus merayu putriku. Ibu dan adikku terlihat gelisah. Tiba-tiba Andre turun lagi dari mobil, "Dek,nanti kita telat loh! Ayo!" Andre menarik tangan Alya. Adiknya itu hanya menurut saja. Mereka gegas naik ke mobil,duduk di kursi depan di sebelahku.
"Andre,kamu nggak sopan sama ibu!" teriak Lisa.
"Ayah,ayo jalan nanti tante Santi nungguin. Sekarang sudah jam delapan lebih nanti kita telat!" seru Andre.
Aku menatap Lisa sekilas. Ada kebencian di sorot matanya. Ini semua keinginan kamu sendiri,Lis. Batinku. Aku segera menghidupkan mesin mobil.
Acara akad nikah akan di mulai pukul sembilan,dan sekarang sudah pukul delapan lebih sedangkan perjalanan ke rumah calon istriku itu memakan waktu satu jam jika tidak macet. Aku menjadi gusar. Entahlah kenapa Lisa bisa datang di waktu yang tidak tepat.
Pukul sembilan kurang,handphone Andre berbunyi. Dia lalu merogoh saku celananya.
"Siapa,nak?" tanyaku penasaran.
"Hhmm,tante Santi,yah!"
Deg. Pasti dia sudah menunggu. Padahal kemarin aku janji akan datang sebelum pukul sembilan tapi saat ini kami masih di jalan dan mungkin baru akan sampai setengah jam lagi. Ini pun aku sudah ngebut.
"Jawab saja,nak. Bilang kita masih di jalan!" titahku pada Andre.
"Iya,yah!" jawabnya lalu segera menjawab panggilan telpon dari mbak Santi.
"Hallo,tante."
"Wa'alaikumsalam."
"Iya,kita masih di jalan,te."
"Iya,tunggu ya tante!"
"Iya,tante. Wa'alaikumsalam."
Andre lalu memutuskan panggilan telponnya.
"Tante bilang apa,nak?"
"Tante tanya kita ada di mana,yah. Aku bilang kita sedang di jalan."
Hhuuhh,semoga saja aku tidak terlambat. Mbak Santi pasti sedang bingung,aku belum juga sampai rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
11
__ADS_1