Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 128


__ADS_3

Annisa dan Alina


Saat ini si kembar sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah kejadian saat study tour, mereka jadi makin dekat.


"Sebaiknya kita cepat beritahu ayah dan bunda mengenai kejadian di hotel itu, Nis!" ucap Alina setelah selesai sarapan.


"Nanti saja, Lin. Aku belum siap. Takut ayah bunda marah."


"Loh, justru kalau kita kasih tahunya lama, mereka bisa lebih marah. Bahkan mungkin nanti nggak akan percaya lagi sama kita karena sudah ngerahasiain masalah itu!"


"Hhh, nanti malam, deh. Kamu temani, ya!"


"Ok!"


"Ayo anak-anak, kita berangkat sekarang!" titah ayah.


"Iya, yah!" sahut mereka berdua.


Setelah berpamitan dengan bunda dan juga nenek, mereka berangkat sekolah.


Sampai di sekolah, saat mereka sedang berjalan ke arah kelas mereka, tak sengaja Annisa melihat kakak tingkat yang bersamanya malam itu sedang berdiri di dekat kelasnya. Annisa tertegun sesaat saat mereka tak sengaja saling pandang.


"Nis, kamu kenapa?" tanya Alina.


"Hhmm, aku nggak apa-apa, kok!" sahut Annisa gugup.


Sampai di kelas, Annisa kembali melamun. Entah dia sudah mulai merasa tidak nyaman lagi di sekolah.


"Lin? Mungkinkah ada yang benci sama aku?"


"Hhmm, kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Entahlah, aku hanya merasa saja."


"Ya nggak mungkinlah. Kita nggak punya musuh jadi mana mungkin ada yang benci sama kamu!"


"Tapi kejadian di hotel itu? Pasti karena dia benci sama aku, Lin!"


"Hhh, tapi kamu nggak apa-apa, kan? Mungkin orang iseng saja."


"Nggak, Lin. Pasti ada yang benci sama aku."


"Hhh, kamu jangan berpikiran negatif gitu, Nis!"


"A-aku takut!" keluh Annisa dengan mata berkaca-kaca.


Alina lantas memberikan pelukan untuk kembarannya itu.


"Jangan takut. Kita akan selalu sama-sama, ok?"


Annisa mengangguk. Tapi aku denger kak Darren bilang kalau aku akan di permalukan. Kenapa. Batin Annisa.


Waktunya pulang sekolah. Mereka sedang duduk menunggu jemputan di taman yang ada di dekat gerbang sekolah. Saat sedang sibuk dengan gawai masing-masing tanpa sengaja, Annisa melihat seseorang yang sejak study tour sering mengusik hatinya. Darren.


Kakak tingkatnya itu sedang berada di parkiran sepeda motor. Dia sedang menundukkan kepalanya seperti sedang memperbaiki sepeda motor tapi di sana tak hanya ada Daren, tapi juga ada tiga orang lainnya.


Kak Darren sedang apa di sana, ya. Batin Annisa.


Annisa perlahan berjalan mendekati Darren. Tapi belum juga dia sampai, tiba-tiba dia melihat Darren di pukul wajahnya oleh temannya yang ternyata adalah Ryan. Kakak tingkat yang mencoba mendekati Alina.

__ADS_1


Buukk! tinju Ryan mendarat tepat di pipi Darren.


"Kamu bisa nggak, sih!" ucapnya dengan nada tinggi.


Darren terlihat mengusap pipinya.


"Apa yang kamu bisa, heehh? Dasar nggak berguna!" makinya.


Annisa berhenti di balik dinding. Entah dia merasa takut saat melihat kakak tingkatnya Ryan.


Tak lama kemudian, Ryan terlihat menstarter sepeda motor itu dan tepat di depan wajah Darren asap knalpotnya tiba-tiba keluar. Darren gegas berdiri sembari mengusap-usap wajahnya.


"Rasain tuh. Percuma saja kerja di bengkel tapi benerin gitu saja nggak bisa!"


"Aku belum terlalu paham, Yan," jelas Daren.


"Makanya kerja sambil mikir biar paham. Ingat ya, aku hanya potong hutang kamu seratus ribu saja. Jangan lupa bayar yang sembilan ratus lagi!" ucap Ryan seraya mendorong bahu Darren.


Ryan dan teman-temannya lantas naik ke motor masing-masing dan meninggalkan Darren di sana sendirian. Darren mengusap wajahnya kasar lantas melangkah dengan gontai ke arah sepedanya.


"Kak Darren?" Annisa tiba-tiba sudah berdiri di belakang Darren.


"Annisa. Kamu? Sejak kapan di situ?" tanya Darren gugup sembari menutupi sebagian wajahnya.


"Aku-aku tadi lihat kakak!"


"Lihat apa?"


"Wajah kakak kenapa hitam semua? Ada yang berdarah juga?" tanya Annisa seraya menyentuh wajah Darren.


"Nggak kenapa-kenapa!" ucap Darren sembari memalingkan wajahnya.


"Tapi mata kakak merah, loh!" ucap Annisa terlihat khawatir.


"Kakak tadi di pukul sama kak Ryan, kan?"


"Apa? Kamu salah lihat!"


"Aku lihat, kak! Kak, apa orang itu adalah kak Ryan?" tanya Annisa hati-hati.


"Orang apa maksud kamu?"


"Orang yang di ruangan itu? Yang berdebat sama kakak saat aku di sekap!"


"Hah, kamu jangan asal ngomong!"


"Lalu kenapa kak Ryan tadi bahas soal hutang kakak yang satu juta? Bukankah kakak punya hutang sama orang itu gara-gara menolak. . . ."


"Pulanglah Annisa!" titah Darren.


"Hhh, aku ingin tahu, kak?"


"Aku bilang pulanglah. Nanti saudara kamu nyariin."


"Jawab dulu, kak!"


"Jangan keras kepala!" ucap Darren dengan nada tinggi hingga gadis itu kaget.


"Hhh, aku nggak akan pulang,"

__ADS_1


"Terserah!" Darren lantas naik ke sepedanya hendak meninggalkan Annisa sendirian di sana.


"Kak Darren tunggu!" teriak Annisa tapi Darren tak mau menoleh dan terus mengayuh sepedamya menuju gerbang sekolah.


"Kenapa kak Darren merahasiakan itu. Apa dia segitu takutnya sama orang itu?" gumam Annisa.


Dia lalu kembali ke taman di mana Alina sedang menunggu ayah mereka datang menjemput.


"Annisa, kamu dari mana?" tanya Alina khawatir.


"Aku. . ."


"Ayah sudah jemput. Ayo, kalau lama nanti ayah nyariin!"


"Iya!" sahut Annisa.


Mereka gegas keluar gerbang di mana ayah mereka sudah menunggu di luar.


"Kamu darimana, Nis?" tanya ayahnya khawatir saat mereka sudah naik ke mobil.


"Hmm, aku tadi ada perlu sama temanku, yah."


"Hhmm, lain kali bilang. Alina nyariin kamu kemana-mana!"


"Hhmm, iya yah. Maaf ya Lin!" ucap Annisa semabari menoleh ke arah kembarannya.


"Kamu ketemu siapa tadi?" tanya Alina curiga.


"Bukan siapa-siapa, kok."


"Nis, kamu ngerahasiain sesuatu dari aku, kan?"


"Iihh, nggak lah!" jawab Annisa bohong.


Dia lalu menoleh ke arah jendela. Di jalan, dia melihat Darreen sedang mengayuh sepedanya. Kasihan kak Darren. Gara-gara aku, dia jadi punya hutang satu juta. Kelihatannya dia bukan orang mampu. Study tour kemarin saja sampai di bayarin eh malah jadi punya hutang. Batin Annisa.


Annisa menoleh sampai Darren tidak terlihat lagi.


"Kamu lihatin apa sih, Nis?" tanya Alina penasaran.


"Hhmm, bukan apa-apa, kok!" jawab Annisa bohong.


Sementara Darren sesekali mengusap wajah dan matanya yang terasa perih akibat asap dari sepeda motor yang tiba-tiba keluar tepat di depannya tadi.


"Hhh, semoga saja nggak kenapa-kenapa mataku!" gumamnya.


Annisa. Entah kenapa Ryan sampai begitu bencinya sama gadis itu. Setahuku gadis itu tidak pernah macam-macam di sekolah. Apa jangan-jangan si Ryan suka sama Annisa tapi cintanya di tolak makanya jadi benci? Aahh, kasihan juga Annisa. Dia sepertinya baik. Dan juga cantik. Kenapa aku jadi ingat dia terus, ya.


"Aahh Darren. Tahu diri donk! Annisa itu anak orang kaya sedangkan kamu, untuk menambah uang saku saja harus kerja di bengkel sepulang sekolah." gumamnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


10


__ADS_2