
Sampai di kamar hotel,aku langsung menggendong istriku ke kamar mandi hingga dia berteriak karena kaget.
"Mas!" protesnya lantas menggerakkan tubuhnya isyarat hendak turun dari gendonganku.
"Waktunya mandi,yank!" sahutku tanpa mempedulikan protesnya.
Aku gegas menutup pintu kamar mandi. Hobi baruku,mandi di bathup berlama-lama dengannya.
Karena sudah hampir maghrib,kami hanya mandi setengah jam saja. Sambil menunggu maghrib tiba,aku mengajak istriku membaca satu dua ayat suci Alquran.
Setelah selesai sholat maghrib,aku berbaring di tempat tidur sementara istriku memesan makanan untuk makan malam kami. Karena seharian kami banyak habis waktu di luar,malam ini kami hanya menghabiskan waktu di kamar hotel saja.
Istriku ikut berbaring di sebelahku. Aku tiba-tiba saja menenggelamkan wajahku di perutnya yang rata.
"Mas. . ." serunya kaget.
Aku hanya tertawa. Aku lalu membisikkan sesuatu di perutnya. Hampir tidak terdengar.
"Mas ngomong apa barusan?" tanyanya seraya mengusap lembut rambutku.
"Coba tebak?"
"Hhmm,aku nggak jelas dengernya tadi."
"Iya,jadi coba tebak!"
"Hhmm,mas laper?"
Aku menggeleng lembut hingga dia menggerakkan perutnya,mungkin terasa geli.
"Lalu apa?"
"Tebak donk sayang!"
"Hhmm,mas. Aku nggak pandai main tebak-tebakan!"
Aku berbalik hingga menghadap ke wajahnya.
"Mas kangen!"
Dahinya berkerut, "Kangen?"
Aku menganggukkan kepalaku, "Iya,sayang!"
"Hhmm,tapi sebentar lagi pesanan kita di anterin,mas!"
"Terus kenapa?" tanyaku.
"Ya nanti saja,kita makan malam dulu. Aku laper banget,mas!"
Aku tertawa.
"Kenapa mas tertawa?" tanyanya heran.
"Kamu tahu nggak apa yang mas kangeni?"
"Hhmm," wajahnya terlihat merah karena malu. Tebakannya memang salah.
"Mas kangen banget menggengong bayi. Rasanya sudah lama sekali. Alya sudah berumur hampir tujuh tahun."
"Hhmm,mas sangat mengharapkan banget aku lekas hamil?"
"Tentu saja,yank!"
"Hhhmm,kalau aku ngecewain bagaimana?"
"Ya kita usaha terus donk! Kita bulan madu terus!"
__ADS_1
"Iiihh!" dia mengacak lembut rambutku.
Tak lama kemudian pelayan hotel datang mengantarkan makanan kami.
"Nih makan yang banyak,yank!" ucapku seraya mengulurkan sendok ke mulutnya. Dia langsung menyantapnya lalu tak mau kalah ikut menyuapiku.
Acara suap-suapan pun selesai. Kami lalu duduk di sofa yang menghadap tv. Aku lalu tidur di pangkuannya dengan menghadap ke arahnya.
"Jadi kita kembali lagi ke sini bulan depan,yank?"
Istriku mengangguk, "Iya,mas."
"Hhmm. . ."
Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku bangkit untuk duduk lalu mengambil handphone. Putraku.
"Hallo,nak!" aku.
"Ayah pulang hari ini apa besok?" putraku.
"Besok pagi ayah sama bunda baru pulang,nak. Ayah sama bunda capek banget hari ini jadi malam ini istirahat dulu di hotel. Kenapa?"
"Hhmm,nggak apa-apa yah. Ayah sama bunda jaga diri di sana!" putraku.
"Iya,nak. Andre sama adek baik-baik di sana,ya. Tolong jagain adek Alya!" aku.
"Iya,yah. Titip salam buat bunda!" putraku.
"Bunda sama ayah juga titip salam buat adek,ya," aku.
"Iya,yah. Assalammu'alaikum!" putraku.
"Wa'alaikumsalam!" aku.
Sambungan telephone terputus.
***
Beruntung area parkir di depan teras sebagian di beri atap jadi ada yang berteduh di atas sepeda motor. Aku keluar melihat-lihat suasana. Langit gelap sebagian putih,mungkin hujan akan lama.
Tanpa aku duga,aku melihat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih kecil sedang menangis. Aku seperti mengenalnya. Aku lalu mendekat ke arah wanita itu.
"Mbak Melly!" ucapku kaget.
Dia pun tak kalah kaget lalu menoleh ke arahku, "Mas?"
"Sedang apa kamu di sini? Sama siapa?" tanyaku penasaran.
"Hhmm,aku-aku sama. . ." dia menggantung ucapannya. Dia terlihat gugup sambil terus menenangkan anaknya yang masih menangis.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Aku nggak sengaja lewat sini,mas," jawabnya lirih.
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Aku mau pulang tapi tiba-tiba hujan."
Aku amati dia dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Sungguh penampilannya pasti akan membuat siapapun iba. Dengan pakaian yang hampir basah semua. Keadaan anaknya pun tak jauh berbeda.
"Hhmm ayo ikut saya!" ajakku.
Dia menoleh ke arahku sekilas lalu kembali melihat anaknya. "Ikut? Ikut kemana?" tanyanya gugup.
"Ikut ke kantor. Ada istri saya. . ."
Dia langsung mendongakkan kepalanya, "Is-istri?" dia memotong pembicaraanku.
__ADS_1
"Iya. Saya sudah menikah lagi!" jelasku.
Entah mengapa aku lihat wajahnya berubah merah. Dia lalu menunduk.
"Ayo,di sini dingin. Kasihan anak kamu!" ajakku lagi.
"Te-terimakasih. Tapi saya di sini saja sama anak saya!" tolaknya tanpa mau melihat ke arahku
"Hhmam. . . mam. . .!" celotehan anaknya di sela tangisnya. Aku tidak mengerti maksudnya. Dia terus mengucapkan kata itu berulang-ulang.
"Iya,sayang. Sebentar lagi,ya," mbak Melly berusaha menghibur anaknya.
"Mas? Kok ada di sini?" tiba-tiba istriku sudah ada di belakangku.
Aku langsung menoleh, "Sayang?"
"Siapa dia,mas?" tanya istriku sambil menatap lakat-lekat ke arah mbak Melly dan anaknya.
"Dia yang mas tolong waktu di rumah sakit kita pertama ketemu itu,yank!" jelasku.
"Oohh,anak yang mas bantu karena sakit itu?"
Aku mengangguk, "Iya,yank!"
"Hhmm,namanya siapa,mbak?" tanya istriku pada mbak Melly.
"Sa-saya Melly," jawab mbak Melly.
"Mbak Melly ikut masuk,yuk. Di sini udaranya dingin banget mana banyak angin,kasihan si kecil!" ajak istriku ramah.
"Terimakasih,mbak. Sebentar lagi juga hujan berhenti!" tolaknya lagi.
Sementara anaknya masih terus menangis sambil mengoceh 'mamam,mamam'.
"Tuh,si kecil mau mamam mungkin,mbak! Ayo!" ajak istriku lagi seraya menggandeng mbak Melly.
Mbak Melly akhirnya mau tak mau mengikuti langkah kaki istriku. Istriku memang wanita yang baik. Aku benar-benar tidak salah menjadikannya istri.
Aku pun mengikuti mereka dari belakang. Istriku mengajak mbak Melly ke kantor.
"Mas,ACnya tolong matiin saja,ya. Dingin!" pinta istriku saat aku juga sudah masuk ke kantor.
Aku langsung mematikan AC. Istriku mengajak mbak Melly duduk di sofa.
"Mas,aku mau bikinkan mbaknya teh hangat dulu! Dia pasti kedinginan."
"Hhmm,biar mas saja yang bikin. Kamu temani saja mbaknya di sini!" sahutku.
"Hhmm,iya mas."
Aku gegas ke ruangan di sebelah gudang. Ruangan yang di pakai untuk para karyawan beristirahat bergantian dan tempat makan sekaligus dapur kecil. Aku lalu membuatkan dua gelas teh hangat manis lalu membawakannya ke kantor tak lupa aku juga membawa roti isi lalu meletakkannya di atas meja di depan sofa.
"Mbak,di minum dulu tehnya!" tawarku.
Mbak Melly mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas. "Terimakasih!" ucapnya pelan.
"Mas tinggal,ya. Kalian ngobrollah!" pamitku kemudian.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
21