
Pagi-pagi sekali semua orang sedang sibuk di kamar masing-masing. Bolak balik menatap cermin kaca memastikan kalau penampilannya sudah oke.
Di dalam kamarnya, Andre pun sedang duduk di depan cermin kaca. Menatap pantulan dirinya sambil merenung.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok.
Andre bangkit dari duduknya lantas berjalan ke arah pintu.
Ceklek. Alina berdiri di depan pintu.
"Mas sudah siap belum? Sudah di tungguin sama ayah!" tanya Alina yang sudah mengenakan pakaian yang seragam dengan yang lain.
"Iya, dek." jawabnya lirih.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Semua barang yang hendak di bawa ke rumah calon istri Andre sudah di masukkan ke dalam mobil. Mereka menggunakan dua mobil karena adiknya Anto dan suaminya juga ikut. Bibi dan mang Toto pun ikut serta.
"Bunda, bagaimana penampilanku?" tanya Alina seraya memutar tubuhnya di depan keluarga.
"Putri bunda cantik!" puji bundanya.
"Hehee, karena bundaku juga cantik!" dia balas memuji bundanya.
Mereka pun lalu sarapan bersama. Tak lama setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat menuju kediaman orang tua Kanaya.
Perjalanan ke rumah orangtua Kanaya menghabiskan waktu hampir satu jam. Saat mereka sampai di depan pagar rumah, terlihat sudah banyak tamu yang datang. Mereka lalu masuk ke halaman rumah untuk memarkirkan mobil.
Semua orang kebagian membawa barang-barang seserahan kecuali Andre dan ayahnya. Mereka disambut dengan ramah oleh tuan rumah. Semua barang seserahan dibawa masuk. Andre diminta duduk di depan penghulu. Dan tepat pukul sembilan pagi, acara akad nikah pun dimulai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Caroline Wiranatha binti Jhohan Wiranatha dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana, sah?" tanya bapak penghulu.
"Sah!" sahut orang-orang yang ada di sana.
Kanaya keluar dari kamarnya dengan di dampingi oleh maminya. Kanaya lalu duduk disebelah Andre dan langsung mencium punggung tangan laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu.
Setelah proses akad nikah selesai, semua tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Saat tamu sedang asyik bersantap, pengantin melakukan sesi foto berdua dan juga bersama keluarga. Setengah jam kemudian satu persatu tamu undangan pulang setelah memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
Menjelang pukul sebelas siang, tamu sudah pulang semua hanya tinggal keluarga besar Kanaya dan juga Andre. Keluarga Andre pun berpamitan pulang untuk beristirahat sebelum acara resepsi yang akan digelar sehabis salat Isya di ballroom hotel berbintang.
Kanaya lalu mengajak Andre untuk istirahat di kamarnya.
"Silahkan masuk, dok!" ajak Kanaya setelah membuka pintu kamarnya.
Andre pun lalu masuk. Setelah menutup kembali pintu kamarnya, "Dokter mau ke kamar mandi?" tanyaKanaya.
"Kok masih panggil saya dokter?" tanya Andre seraya menatap manik mata wanita yang baru saja saya menjadi istrinya itu.
"Hhmm, mau di apanggil apa?" tanya Kanaya gugup saat Andre terus saja menatap netranya secara intens.
"Mas!" jawab Andre pelan namun penuh penekanan.
"Hhmm, mas?" ulang Kanaya.
"Hhmm," sahut Andre.
Andre mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya. Wajah istrinya itu terlihat memerah. Dia lantas memejamkan matanya.
__ADS_1
"Pakaianmu nggak di ganti dulu, hmm?" bisik Andre di telinga Kanaya membuatnya merinding.
Kanaya membuka matanya dengan malu-malu, "Hhmm, i-iya, mas," sahutnya pelan.
"Mas bantu, ya?" tawar Andre yang di berikan anggukan oleh Kanaya.
Mereka lalu berdiri di depan cermin kaca. Tatapan mata mereka tertuju ke depan kaca. Saling memandang satu sama lain dari pantulan kaca.
Andre perlahan menyibak rambut Kanaya untuk membuka resleting di belakang. Hembusan nafas Andre yang menyentuh tengkuk Kanaya membuat wanita itu makin merinding hingga tanpa sengaja dia mengeluarkan suara yang membuat Andre menghentikan gerak tangannya.
Wajah Kanaya makin merah saja. Baru kali ini dia berada dalam satu kamar berdua saja dengan lawan jenis selain papi dan kakaknya. Pun Andre. Tanpa Kanaya sadari, tangan Andre bergetar saat kembali membukakan resleting pakaian Kanaya.
Kanaya lantas menoleh saat merasakan gerakan tangan Andre. Mereka saling memandang dengan kedua tangan Andre berada di atas bahu Kanaya. Andre mendekatkan wajah mereka berdua. Kanaya perlahan memejamkan matanya. Andre lalu mencium bibir ranum istrinya. Ciuman pertama untuk mereka berdua terasa kaku hingga Kanaya terbatuk-batuk.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Andre cemas, "Maaf,"
"Hhmm, a-aku nggak apa-apa, mas!" jawab Kanaya malu.
Andre kembali mencium istrinya lembut. Tangannya yang berada di atas bahu Kanaya kembali bergerak melepaskan perlahan pakaian pengantin istrinya itu.
Andre lantas membawa istrinya ke atas tempat tidur dan kembali memberikan ciuman dan sentuhan-sentuhan.
Namun belum sempat Andre melakukan tugas pertamanya sebagai seorang suami, tiba-tiba Kanaya berteriak.
"Aakkhh!"
Andre yang kaget langsung duduk, "Kenapa, sayang?"
"A-aku. Hhmm, maaf. Aku sepertinya datang bulan," ucap Kanaya lirih dengan wajah tertunduk.
Hhh, Andre menarik nafasnya berat sembari mengusap wajahnya perlahan. Kanaya lantas buru-buru ke kamar mandi setelah menyambar selimut yang mereka pakai berdua.
Saat Andre hendak mengambil pakaian yang sudah berserakan di atas tempat tidur, Andre melihat sedikit noda darah di atas sprey.
"Hhh!" Andre menggelengkan kepalanya.
Lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.
"Mas!" panggil Kanaya.
Andre menoleh ke kamar mandi, "Hmm? Ada apa?"
"Aku bisa minta tolong?" tanya Kanaya malu-malu.
"Minta tolong apa? tanya Andre.
"Mas tutup mata dulu, ya. Sebentar saja!" pinta Kanaya lembut.
"Apa? Kenapa?"
"Hhh, sebentar saja, mas. Satu menit, deh!"
"Hhmm, nggak ah. Gelap kalau mata di tutup!" tolak Andre.
"Iihh, sebentar, mas!" pinta Kanaya memohon.
"Mas tuh takut gelap!" ucap Andre bohong.
"Hahh? Masa laki-laki takut gelap? Ada ya laki-laki takut gelap!"
__ADS_1
"Laki-laki juga manusia, sayang," sahut Andre dengan menahan senyum.
"Hhh," Kanaya kesal.
Kanaya kemudian keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk kecil yang hanya menutup sedikit area pribadinya.
Dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya di dalam lemari dan juga sesuatu di dalam laci meja riasnya lantas segera kembali masuk ke dalam kamar mandi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Andre. Andre hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya itu.
"Hhh," gumam Andre lantas berbaring di atas tempat tidur yang sudah berantakan dengan berbantalkan tangannya sendiri.
Tak lama kemudian Kanaya keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian lengkap. Dia lantas membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan sprei baru dari sana.
"Maaf, mas. Aku mau ganti spreynya dulu, ya!" ucap Kanaya pelan.
Andre lantas berdiri kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Dia memperhatikan saja saat istrinya mengganti sprei. Terlihat kalau istrinya itu kesulitan saat memasang sprei. Berapa kali dia bolak-balik karena selalu salah. Wajahnya pun terlihat kesal.
"Ada yang bisa mas bantu?" tawar Andre sedikit mendekati istrinya.
Kanaya menoleh, "Tidak usah, mas. Aku bisa, kok!" tolak Kanaya malu.
"Nggak apa-apa, biar mas bantu. Kamu pasang di sebelah sana, mas pasang di sini!" ucap Andre lagi.
Akhirnya mau tidak mau, Kanaya menerima bantuan suaminya. Mereka memasang sprey bersama.
"Tuh kan cepat selesai!" ucap Andre.
Kanaya hanya tersenyum malu. Dia lalu membawa sprey kotornya ke atas keranjang.
Andre duduk di sisi tempat tidur, "Sayang, sini!" panggilnya.
Kanaya menoleh ke arahnya. Wanita itu masih berdiri di dekat keranjang pakaian kotor. Andre lantas menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya. Kanaya pun mendekat lantas duduk di samping Andre dengan wajah menunduk.
"Maaf ya mas aku nggak tahu kalau aku akan datang bulan hari ini," ucap Kanaya lirih.
"Iya, nggak apa-apa, kok!" jawab Andre. "Mas akan sabar menunggu!" imbuhnya.
"Terima kasih, mas!" ucap Kanaya.
"Kita istirahat saja, yuk!" ajak Andre yang di berikan anggukan oleh Kanaya.
.
.
.
.
Maaf masih ada banyak typo yang bertebaran.Terimakasih sudah membaca 😊🙏
.
.
.
.
.
__ADS_1
23