
Pov Lisa
Mas David pagi-pagi sekali sudah pergi dari rumah entah mau kemana. Sudah dua minggu ini dia menganggur,entah kapan dia akan mencari pekerjaan lagi sementara keuanganku sudah menipis. Dia tiap hari kerjanya hanya marah-marah saja,aku benar-benar stress dibuatnya.
Satu jam lebih dia baru pulang dan langsung marah-marah dan yang membuat aku aneh dia marah-marah sama mantan suamiku,mas Anto. Ada apa lagi dengan mereka. Setahuku mereka sudah lama tidak pernah bertemu lagi.
"Sombong sekali nantan suamimu itu,kalau tidak ada orang saja sudah aku tabrak dia!" ucapnya emosi.
"Siapa maksud mas?" tanyaku tidak mengerti.
"Siapa lagi mantan suami kamu,heehh?" bentaknya.
"Mas Anto?" tanyaku lagi.
"Memangnya ada berapa mantan suami kamu sebenarnya? Sepuluh?" dia malah makin emosi.
"Apa-apaan sih mas ini? Mantan suami aku ya hanya mas Anto! Memangnya kenapa sama kalian,datang-datang langsung marah-marah nggak jelas!" akupun tak kalah emosi.
"Apa kamu tidak tahu sekarang dia sudah menikah dengan wanita yang kaya? Jadi sombong dia sekarang. Awas saja aku akan bikin perhitungan dengannya!" ucapnya emosi lalu keluar lagi sambil membanting pintu.
Jadi mas David tadi habis bertemu dengan mas Anto. Ketemu di mana mereka. Emangnya apa yang terjadi sih sampai dia marah-marah seperti itu. Batinku.
Siangnya mas David baru saja pulang entah mana. "Mas habis cari kerja?" tanyaku.
"Kamu bolak-balik tanyain aku cari kerja. Kenapa tidak kamu yang cari kerja sendiri hah? Kamu tahu si Melly saja kerja sekarang tapi kamu bisanya makan tidur saja dirumah!" jawabnya ketus.
"Mas kok jadi banding-bandingin aku sama si Melly,sih?"
"Kenapa memangnya? Coba kamu seperti si Melly,kerja bantu suami! Jangan hanya bisa minta saja!"
"Memangnya si Melly itu kerja di mana sih? Mas bangga banget sama wanita itu? Paling juga dia jadi asisten rumah tangga!" sahutku tak kalah ketus.
"Kata ibunya dia kerja di minimarket."
"Minimarket di mana?"
"Anehnya dia bisa membawa Davina ikut dia bekerja di minimarket."
"Mana ada yang mau menerima wanita bekerja sambil membawa anak,mas."
Dahiku berkerut. Aneh memangnya di minimarket mana si Melly bekerja. Batinku, "Emangnya Melly kerja minimarket mana,mas?" tanyaku.
"Minimarket di daerah Selatan G!" jawabnya.
Dahiku berkerut. Aku seperti pernah mendengar nama daerah itu di sebutkan oleh putriku Alya waktu itu.
"Apa nama minimarketnya?" tanyaku.
"Nama minimarketnya 'Bunda'."
__ADS_1
"Apa,mas? Nama minimarketnya 'Bunda'? Apa tidak salah?" tanyaku. Aku ingat Alya pernah mengatakan ibu sambungnya memiliki usaha minimarket dan nama minimarketnya 'Bunda' . Mas Anto pintar juga mencari istri kaya.
"Iya. Memangnya kamu tahu?"
"Setahuku nama minimarket 'Bunda' itu nama minimarket milik istrinya mas Anto!"
"Ah yang bener kamu? Tahu dari mana?" tanya mas David tak percaya.
"Putriku Alya yang memberitahuku. Setahuku minimarket itu terletak di dekat daerah G."
Mas David terdiam. Sepertinya dia sedang berfikir.
Keesokan paginya saat aku selesai dari pasar membeli sayur,aku lihat mas David sedang bersiap-siap hendak pergi. Aku pikir dia ingin mencari pekerjaan. Alhamdulilah. batinku.
"Mas mau kemana?" tanyaku
"Nggak usah banyak tanya!" jawabnya Ketus.
"Mas,keuanganku sudah menipis,loh! Satu minggu lagi kalau mas masih tidak kerja,kita nggak bisa makan."
"Makanya kamu kerja dong. Ambil cucian tetangga kek apa kek,jangan bisanya minta saja sama suami!" ketusnya.
"Kalau aku kerja lalu Daren sama siapa,mas?Mas kan tidak mau ngurusin anak kita."
"Ya kamu bawa kerja dong. Melly saja bisa membawa anaknya kerja masa kamu tidak bisa sih!"
Lagi-lagi mas David membandingkanku dengan mantan istrinya itu. Aku kesal sekali dibuatnya. Awas saja kalau aku ketemu sama Si Meli itu, aku akan memberi dia pelajaran.
Selang dua jam kemudian mas David pulang dengan membanting pintu,padahal aku baru saja menidurkan Daren yang dari tadi rewel. Akhirnya bayiku kembali bangun dan menangis meraung-raung. Mas David lalu masuk kamar.
"Kamu bisa nggak sih ngurus anak? Anak kok nangis terus!" ucapnya ketus.
"Dia baru saja tidur tapi mas pulang banting pintu jadi dia kebangun dan nangis-nangis lagi. Makanya mas bisa nggak sih bicara atau melakukan apapun dengan pelan?"
"Banyak ngatur kamu! Urus saja anak dan rumah yang benar."
"Mas,aku bisa mengurus anak dan rumah yang benar tapi mas juga harus bisa mencari uang yang benar!" ucapku ketus.
Plaakk!! Tiba-tiba mas David menamparku. Aku sangat kaget. Bisa-bisanya dia memukul aku.
"Mas!" bentakku sambil memegangi pipiku yang terasa panas.
"Kenapa memangnya? Makanya jadi istri itu jangan suka ngelawan sama suami. Di bilangin malah ada saja jawabnya!"
"Kamu keterlaluan,mas!"
Mas David lalu keluar dari kamar sambil membanting pintu kamar. Benar-benar keterlaluan memang mas David. Aku benar-benar menyesal menikah dengan dia. Andai aku tidak punya anak sudah aku tinggalkan dia.
Suasana rumah kembali hening dan bayiku sudah kembali tertidur pulas. Aku keluar dari kamar. Aku lihat mas David sedang duduk di ruang tamu. Sepertinya dia sedang stress.
__ADS_1
"Buatkan aku kopi!" titahnya saat melihatku.
Tanpa menjawab,aku langsung ke dapur untuk membuatkannya kopi. Aku lalu menaruhnya di atas meja di hadapannya.
"Maafkan,mas," ucapnya lirih.
"Nggak apa-apa. Mungkin mas sudah bosan denganku. Aku dan anakku hanya menyusahkan," sahutku lirih,pura-pura sedih di hadapannya.
Ya,aku lupa kalau mas David memang orangnya nggak bisa di lawan atau di bantah ucapannya. Tapi dia akan luluh saat aku menangis. Aku jadi sebisa mungkin menangis supaya dia kembali luluh padaku.
"Mas nggak bosan sama kamu. Mas hanya pusing nggak punya pekerjaan sementara kamu hanya menuntut saja," ucapnya mulai lembut.
"Ya sudah,besok aku akan kerja sambil bawa Daren. Kalau perlu aku akan ajak Daren mengemis saja kalau nggak dapet kerjaan!" ucapku sambil terisak lalu meninggalkannya ke kamar.
Tapi tiba-tiba mas David menarik tanganku kuat hingga aku jatuh di pangkuannya.
"Bilang apa kamu tadi,heh?"
"Bawa Daren mengemis! Lepasin!" sahutku sambil melepaskan diri darinya tapi dia begitu kuat.
"Sekali lagi kamu bilang itu,mas akan kurung kamu di kamar!"
"Jadi mau mas apa? Semua salah! Bunuh saja aku!" teriaku sambil terisak.
Dia lalu memelukku erat. Sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangatnya.
"Mas akan cari uang untuk kita!" tegasnya, "Tapi kamu harus mau membantu mas."
"Hhmm,bantu apa?"
"Bantu mas menghancurkan mantan suami kamu!"
"Hhmm," aku mengangguk. Aku juga benci sama mas Anto apalagi sekarang hidupnya malah enak sejak pisah dariku sementara saat bersamaku hidupnya susah.
"Hhmm,ke kamar yuk!" ajak mas David kemudian.
Aku kembali mengangguk. Aku tahu apa yang mas David mau. Aku pun sudah lama menginginkannya karena sudah lama kami hanya bertengkar dan bertengkar terus. Dia lalu menggendongku ke kamar.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
11