
Aku dan Andre terus berjalan mengelilingi taman untuk mencari istri dan anakku. Suasana sore hari yang teduh membuat banyak pengunjung yang datang ke taman hingga aku kesulitan mencari mereka.
Aku pun kembali mencoba menghubungi istriku tapi ternyata handphonenya mati. Aku semakin khawatir.
"Handphone bunda nggak bisa di hubungi!" jelasku pada Andre yang berjalan di sampingku. Dia juga terlihat cemas. Kami semakin mempercepat langkah kaki menyusuri setiap taman.
"Kamu di mana,nak?" gumamku sambil membayangkan wajah putriku.
Semoga mereka baik-baik saja.
Setelah hampir setengah jam kami mencari tiba-tiba Andre bilang, "Yah,itu sepertinya bunda sama adek,deh!" tunjuknya ke arah kolam ikan yang berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari kami. Posisi istri dan anakku membelakangi kami.
Aku dan Andre gegas ke sana. Semakin dekat jantungku semakin berdegup kencang. Di sana,istriku sedang berbicara dengan pria yang mungkin seumuran dengannya. Pria itu menggenggam tangan istriku erat. Dan mereka saling memandang. Deg. Jantungku rasanya mau lepas dari tempatnya.
"Alya!" panggilku saat kami sudah berjarak hanya tiga meter saja.
Istri dan anakku reflek menoleh ke belakang ke arah aku dan Andre. Santi buru-buru menarik tangannya dari pegangan pria itu. Dia terlihat kaget saat menyadari kedatangan kami. Sementara pria itu menatap aneh ke arahku.
"Mas?" ucapnya lirih.
Aku menatap tajam ke arah istriku dan pria itu secara bergantian.
"Ayah,kok nyusul kita?" tanya Alya.
"Kita pulang,nak!" ajakku yang langsung menarik tangan putriku menjauh dari sana.
"Mas!" panggil istriku yang mengikutiku dari belakang.
Aku diam saja tanpa mempedulikannya. Aku yang begitu mengkhawatirkannya ternyata dia malah sedang asik ngobrol dengan pria lain di taman. Pantas saja di tunggu lama belum juga kembali. Aku sungguh tidak menyangka istriku seperti itu.
Aku langsung mengajak kedua anakku naik ke mobil. Aku tidak ingin kedua anakku melihat kami bertengkar,jadi aku berusaha menahan diri.
"Hari sudah sore,kita langsung pulang saja,ya!" ucapku seraya menoleh ke kursi belakang. Istriku sudah duduk di sampingku.
"Iya,ayah. Aku juga capek!" sahut Alya.
"Adek tadi beli apa?" tanya Andre.
"Tadi aku di beliin boneka sama teman bunda. Nih,bagus kan mas?" jelasnya seraya menunjukkan boneka kecil di tangannya. Aku hanya menoleh sekilas.
__ADS_1
Jadi mereka menyogok putriku dengan barang iu. Batinku.
Aku lihat dari sudut mataku,istriku sedang menunduk seraya memilin-milin jemarinya. Mungkin dia tidak menyangka akan ketahuan olehku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam tanpa ada yang mau memulai obrolan.
Tak lama kemudian,kami sampai di rumah. Aku langsung pergi ke kamar,begitupun kedua anakku pergi ke kamar mereka.
Aku rebahkan diri di sofa seraya memejamkan mataku. Aku lalu memijat-mijat dahiku,kepalaku terasa sakit. Dadaku,tentu saja terasa sesak. Entah di mana istriku,dia tidak menyusulku ke kamar. Mungkin dia sedang menyiapkan alasan untuk di berikannya padaku. Entahlah.
Sepuluh menit kemudian pintu kamar terbuka,sepertinya itu Santi. Dia lalu duduk di sofa.
"Mas,ini aku bawain buah potong. Aku suapin,ya?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya yang sedang memegang buah potong ke mulutku.
Aku diam saja,entah aku merasa malas bicara dengannya. Jujur saja aku merasa kaget dan dadaku sesak melihatnya di taman tadi. Apa dia tidak merasa kalau aku sedang marah? Atau dia pura-pura tidak tahu.
"Mas Mas marah ya?" tanyanya kemudian. aku masih tetap dengan sikap diamku.
"Mas,tadi itu temanku. Kami tidak sengaja bertemu dan dia mengajakku ngobrol. Maaf sudah membuat mas menunggu lama."
Teman dia bilang? Apa ada teman yang bersikap seperti itu? Apa Santi tidak bilang kalau dia sudah menikah lagi. Entahlah,ada rasa kecewa juga di hatiku. Aku yang belum lama di khianati istri,apa harus mengalami itu ĺagi.
"Mas,jangan diam saja. Mas marah sama aku?"
"Mas,tadi itu teman lama aku. Aku bener-bener nggak sengaja tadi bertemu dengannya di taman!" jelasnya.
Dia terlihat kaget mendengar suaraku.
"Aku-aku tadi sudah berusaha melepaskan tanganku tapi dia tetap memaksa,mas."
"Melepaskan tangan karena aku datang,kan? Kalau aku dan Andre nggak datang,apa kamu akan melepaskan tangan si brengsek itu?" ucapku dengan suara makin tinggi.
Dia terlihat pucat, "Mas?"
"Kamu tahu kan kenapa aku berpisah dari ibu anak-anakku? Dan kamu mau mengulanginya lagi,iya?"
"Mas! Kenapa mas berpikir seperti itu?"
"Harusnya aku sadar diri,kalau orang sepertiku nggak pantas bersanding dengan wanita kaya sepertimu! Pria tadilah yang pantas denganmu!"
"Mas! Aku nggak pernah berpikir seperti itu! Harta nggak penting buatku!" jelasnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Aku menarik rambutku kasar. Walau Santi tidak melakukan seperti apa yang Lisa lakukan,siapa yang tahu. Dadaku rasanya sesak membayangkannya.
Aku bangkit dari dudukku,hendak keluar dari kamar tapi Santi menarik tanganku.
"Mas mau kemana?" cegahnya.
"Aku mau kemana? Aku ini gembel yang nggak memiliki apapun! Rumah saja numpang di rumah istri! Mau kemana lagi aku!"
"Mas! Kenapa mas bicara seperti itu?"
"Memang seperti itu kenyataannya! Aku hanyalah pria miskin. Makanya aku selalu di remehkan wanita!" ucapku berapi-api.
"Astagfirullah,mas! Aku nggak pernah menganggap kamu seperti itu!"
"Sudahlah. Aku cukup mengerti! Aku hanya nggak menyangka kamu begitu di saat pernikahan kita yang baru saja terjadi kemarin!"
"Aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama dia,mas! Sumpah!" ucapnya dengan menahan tangis.
"Kamu pikirkan lagi pernikahan kita mumpung baru berapa hari!" tegasku.
"Mas!" dia memegang tanganku erat,tangisnya pecah, "Sumpah,mas. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia! Jangan bicara seperti itu,mas."
Aku menepiskan tangannya. Mereka selalu tidak mau mengaku padahal sudah ketahuan. Apakah aku ini terlihat begitu bodoh sampai mereka pikir akan mudah membohongiku. Aku lalu keluar dari kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus bertahan?" gumamku seraya menuruni anak tangga.
Aku berjalan keluar rumah. Entah aku mau kemana. Aku benar-benar merasa kecewa dan sakit. Di tempat umum,istri yang baru saja aku nikahi berpegangan tangan mesra dengan pria lain bahkan di depan putriku yang tidak mengerti apa-apa.
Aku menyayanginya terlepas dari penyakit yang di deritanya. Apalagi semenjak kami menikah,aku makin mencintainya. Banyak harapan yang ingin aku bangun bersamanya. Tapi sekarang,aku sudah tidak lagi berani berharap. Setiap melihat wajahnya,dadaku kembali sesak. Rasanya luka lamaku terbuka kembali. Apakah aku terlalu berlebihan?
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
23