
Darren pulang malam lagi. Kali ini dia tidak menyangka kalau papanya sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu sedangkan mamanya gelisah di kamarnya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Darren melangkah pulang dengan harapan papanya sudah tidur.
Tok tok tok.
"Assalammu'alaikum," ucap Darren sedikit gugup.
Ceklek.
"Wa'alaikumsalam! Sudah belajar kelompoknya, nak?" tanya Lisa buru-buru sembari memberi kode lewat sebelah matanya.
"Ehhm, iya, ma. Maaf tadi aku. . ."
"Sudah, kamu cepat masuk!" Lisa menggandeng tangan putranya itu menuju kamar mandi.
"Di mana kamu kerja kelompok? Setiap malam?" tanya David dengan nada tinggi.
"Mas, kan rumah temannya jauh. Sudah mau ujian jadi bagus kan belajar kelompok!" jawab Lisa.
"Yang sekolah itu kamu apa anakmu yang manja ini? Kok kamu yang jawab?" tanya David kesal.
"Ehhmm," Lisa memandang cemas putranya itu.
"Ru-rumah temanku di dekat sekolah, pa!" jawab Darren terbata-bata.
"Hhh, besok gantian belajar di sini! Jangan di rumah temanmu terus!" titah David.
"Hhmm, i-iya, pa!" jawab Darren pelan.
Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku mau ajak siapa kerja kelompok, ya? Mama nggak bilang-bilang sih kasih alasan itu sama papa. Batin Darren.
Setelah selesai membersihkan diri, Darren hendak masuk ke kamarnya.
"Sini kamu!" titah David saat melihat putranya yang hendak masuk ke kamarnya.
Darren mematung. Jantung Darren berdegup kencang. Lisa mengusap-usap punggung putranya supaya lebih tenang.
"Sana, di panggil papa. . ." bisik Lisa.
Darren mendekati papanya, berdiri beberapa langkah dari tempat papanya duduk.
"Duduk!" titahnya kemudian.
Dengan ragu-ragu, Darren duduk. Sengaja duduk di sudut sofa supaya jauh dari jangkauan papanya. Pandangannya mengarah ke lantai.
"Kenapa kamu nggak pernah minta uang buat bayar sekolah kamu sama papa, heh? Sudah banyak uang, kamu?"
Darren mendongakkan kepalanya, "Ehhm, aku. . ." Darren menoleh ke arah mamanya.
"Kenapa melirik-lirik mamamu? Jadi laki itu jangan pengecut! Apa-apa minta tolong mama, ngadu sama mama! Papa nggak pernah ajarin kamu seperti itu!"
"Hhmm, a-aku minta uangnya sama mama, pa!" sahut Darren dengan suara bergetar.
Tiba-tiba David meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja di hadapan Darren. Uang biru bercampur merah beberapa lembar.
"Ambil itu buat sekolah kamu! Dan ingat, jangan sampai papa lihat kamu bekerja di bengkel lagi! Paham!"
Darren dan Lisa tentu saja kaget. Mereka melihat ke atas meja tanpa berkedip. Tidak menyangka kalau papanya akan memberikannya uang banyak malam ini.
"Kenapa diam? Nggak mau?" tanya David heran.
"Hhmm, buat aku, pa?" tanya Darren gugup.
__ADS_1
"Kamu masih bisa dengar, kan?"
"Hhmm, i-iya, pa. Te-terima kasih!" ucap Darren lantas mengambil uang di atas meja dengan tangan gemetar kemudian menoleh ke arah mamanya. Lisa menganggukkan kepalanya.
"Istirahat sana!" titah David.
"I-iya, pa!" Darren buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Lisa pun ikut masuk ke dalam kamar putranya.
"Alhamdulillah. Uangnya di simpan buat kebutuhan sekolah kamu ya, nak!" ucap Lisa sembari duduk di sebelah putranya yang masih memegang uang pemberian papanya tadi.
"Satu juta, ma!" jelas Darren seraya menunjukkan lembaran-lembaran uang itu.
"Hhmm, kamu simpanlah!"
"Mama butuh uang?"
Lisa tersenyum, "Tadi papa kamu sudah kasih mama uang juga, kok!"
"Beneran, ma?"
Lisa menganggukkan kepalanya, "Iya!" jawab Lisa bohong.
Jangan sampai Darren tahu kalau papanya jarang kasih uang. Biarlah aku usaha sendiri. Aku ingin keluargaku damai. Mas David dan Darren akur sebagai ayah dan anak. Batin Lisa.
Hhh, Darren menarik nafas panjang, "Alhamdulillah. Semoga papa berubah ya, ma. Mama jangan capek-capek kerjanya. Doakan aku bisa membahagiakan mama kelak."
"Mama sekarang sudah bahagia kok. Yang terpenting buat mama itu, kamu!"
"Hhmm, terimakasih, ma. Sudah menyayangi aku!"
"Tentu saja mama sayang kamu, nak!"
"Aku juga sayang mama!"
"Aku sudah kenyang, ma."
"Kenyang? Makan sama apa?"
"Hhmm, tadi makan nasi sama telur rebus."
"Hhmm, kamu punya uang dari mana? Kan mama hanya kasih lima ribu?"
"Uang yang kemarin masih ada jadi aku bisa beli makan hari ini, ma."
"Hhmm, syukurlah. Mama mau istirahat dulu." pamit Lisa lantas bangkit dari duduknya.
"Ma?"
Lia menoleh, "Ada apa?"
"Bagaimana pekerjaanku? Masa aku harus berhenti? Aku sudah nyaman kerja di sana, ma. Aku ingin setelah lulus bisa kuliah sambil kerja di sana. Gajinya lumayan, ma."
"Hhmm, kapan kamu gajian? Kamu berhenti setelah gajian saja, nak. Mama takut papa kamu tahu. Nanti setelah lulus sekolah, baru kamu ijin lagi sama papa kamu kalau mau kembali bekerja."
"Hhmm, aku nggak tahu kapan gajiannya, ma. Kan aku sempat libur beberapa hari sakit."
"Ya sudah, kalau sudah gajian, kamu bilang mau berhenti dulu mau fokus ujian akhir. Bilang juga nanti setelah lulus mau kerja lagi di sana."
"Hhmm, iya deh, ma!"
"Ya sudah kamu istirahatlah!" Lisa kemudian keluar dari kamar putranya.
Berhenti kerja di minimarket keluarga Annisa. Aku sudah nyaman di sana. Mereka semua baik. Kalau sudah resign lalu kembali minta kerja, aku nggak enak hati. Ah, jadi bingung.
__ADS_1
***
Pelajaran baru saja selesai. Waktunya siswa dan siswi di sekolah Darren untuk istirahat. Seperti biasa, Darren akan pergi ke kantin. Walau sekarang kantin bukanlah tempat yang nyaman lagi seperti dulu, tapi setidaknya di sana ramai jadi masih cukup aman dari teman-temannya yang sudah tak lagi bersikap layaknya seorang teman.
Saat hendak menuju ke kantin, dia berpapasan dengan si kembar Annisa dan Alina.
"Kak Darren!" sapa Annisa.
"Nis. . ." sahut Darren.
"Kakak bentar lagi ujian akhir, ya."
"Iya, Nis."
"Mau kuliah di mana nanti kalau sudah lulus?"
"Kuliah? Kakak belum tahu."
"Hhmm, kakak cita-citanya mau jadi apa dulu. Baru deh bisa tahu mau kuliah di mana."
"Yang pasti, kakak mau jadi orang sukses!"
"Aamiin! Semoga kakak bisa jadi orang yang sukses, ya!"
"Iya, Nis."
"Kakak bisa kuliah sambil kerja di minimarket. Nanti bilang sama ayah minta sift pagi apa siang."
"Hhmm, misal kakak istirahat dulu lalu minta kerja lagi bisa nggak ya, Nis?"
"Kakak mau berhenti kerja di minimarket, kenapa?"
"Kan sebentar lagi kakak ujian akhir. Kakak harus belajar!" jelas Darren.
"Oohh, iya. Tentu saja bisa. Ayah pasti akan terima kakak lagi, kok!"
"Beneran, Nis?"
"Tentu saja, kak. Ayahku kan baik!"
Darren tersenyum. Ayah kamu memang baik, Nis. Kalau orang lain mana mungkin mau terima aku bekerja. Aku yang notabene anak dari mantan istri yang sudah menyakitinya. Batin Darren.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. Selamat membaca. Terimakasih 😊🙏
.
.
.
.
.
22
__ADS_1