
Kami segera kembali ke mobil. Aku langsung menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil ke arah rumah orangtua David. Semoga aku bisa menemukan putriku di sana.
"Semoga Alya ada di sana," ucapku lirih.
"Aamiin. Dan semoga Alya baik-baik saja bersama ibunya!" sahut istriku.
Hari mulai terik. Jalanan masih begitu padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Aku dan istriku saling diam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak terasa lebih setengah jam kami baru sampai. Rumahnya masuk ke gang jadi mobil tidak bisa masuk. Terpaksa aku memarkirkan mobil di pinggir jalan yang tidak jauh dari gang.
"Yank, kamu tunggu di mobil saja, ya!" titahku.
"Tapi, mas?" protes istriku dengan dahi berkerut.
"Yank, perasaan mas nggak enak! Jadi tolong menurutlah!" tegasku dengan wajah serius. Istriku memang lebih aman di mobil saja mengingat kondisinya yang kurang fit di masa kehamilan. Apalagi harus menghadapi Lisa dan David. Entah apa yang akan terjadi di sana nanti.
Wajahnya langsung murung. Tak mempedulikan reaksinya, aku lalu membuka pintu mobil.
"Kunci dari dalam. Kalau mas datang baru kamu buka! Ingat, jangan kemana-mana sebelum mas datang!" tegasku lagi sebelum turun dari mobil. Istriku hanya mengangguk lemah tak berani membantah ucapanku.
"Mas hati-hati, ya!" ucapnya lirih.
"Iya, sayang!" sahutku menenangkannya.
Aku melangkahkan kaki lebar-lebar. Rumah-rumah di sini di bangun tidak beraturan jadi aku bingung mencari nomor rumah orangtua David. Aku lalu bertanya pada warga yang kebetulan lewat di dekatku.
"Maaf pak, saya mau tanya. Rumah orangtuanya David di mana, ya?" tanyaku ramah.
"Orang tua David? David yang baru menikah lagi itu?" si bapak balik bertanya.
Aku bingung, apa David yang itu,ya, "Iya, pak!" sahutku akhirnya. Kalau pun salah orang tak mengapa. Aku akan bertanya pada orang lain lagi.
"Oohh, dari sini masnya belok kiri lalu berjalan tiga rumah. Nah, rumah orangtua David itu yang bercat putih tanpa pagar!" jelas si bapak seraya menunjuk ke arah belokan di kiriku.
"Oh, terimakasih, pak!" ucapku.
Aku lantas pergi ke arah yang di tunjuk oleh bapak tadi. Dari jauh aku sudah melihat rumah yang di maksudnya. Rumah sederhana itu terlihat sepi. Aku lalu berdiri di depan pintu lalu mengetuknya pelan.
Tok tok tok
Hingga lebih lima menit aku mengetuk pintu barulah pintu di buka.
"Siapa?" seorang wanita muda berdiri di depanku seraya menatapku intens dari kepala sampai kaki. Wajahnya terlihat tidak ramah.
"Saya Anto!" jawabku.
"Hhmm, cari siapa?" tanyanya datar.
"David. Saya cari David!" jawabku.
__ADS_1
Dahinya berkerut, "Cari mas David? Ada perlu apa dengannya?" tanyanya heran.
"Saya ada perlu dengan David dan juga istrinya Lisa!" jelasku.
Wajahnya berubah masam, "Hhhmm, Lisa si pelakor itu," ucapnya sinis.
"Hhmm," sahutku. Aku bingung harus menjawab apa. Ternyata mantan istriku itu sudah mendapatkan cap seperti itu di beberapa orang yang aku temui.
"Tunggulah!" ucapnya dengan tatapan menyelidik ke arahku.
Dia lalu masuk dengan membiarkan pintu rumahnya terbuka sedikit. Aku bisa mendengar suaranya memanggil David dan Lisa dengan ketus.
Tak lama kemudian Lisa keluar. Perempuan yang pernah mendampingiku selama sepuluh tahun itu terlihat lebih kurus dengan kantung mata yang membuat wajahnya tidak terlihat segar.
Dahinya berkerut saat melihatku. Tatapannya sinis.
"Tahu darimana aku di sini?"
"Mana putriku?" tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keberadaan putriku. Aku tidak butuh basa-basi lagi menghadapinya.
"Dia akan tinggal denganku!" tegasnya lalu melipat kedua tangan di dada.
"Hak asuh Alya ada padaku dan kamu tahu itu!" tegasku.
"Aku ibunya!"
"Iya, semua juga tahu. Bahkan kamu ibu seperti apa, semua juga tahu!" ejekku.
"Ibu kandung yang hanya mementingkan urusan pribadinya tanpa mempedulikan anak, apa bisa merawat anaknya dengan baik? Dan tidak semua ibu sambung itu jahat!"
"Kalau semua kebutuhan ibunya dapat di penuhi oleh ayah si anak, tentu ibunya tidak akan berbuat macam-macam! Ingat itu! " ucapnya sinis.
"Hhhmm, alasan yang bagus. Jadi sekarang semua kebutuhanmu apa sudah terpenuhi?" aku pun tak kalah sinis.
Wajah Lisa memerah, seperti menahan marah. Aku hanya tersenyum dalam hati. Aku bisa berkata seperti itu karena tahu kalau ibu kandung dari anak-anakku itu sedang kekurangan. Kalung yang selalu melekat di lehernya, yang selalu tidak akan pernah mau aku pinjam dengan alasan apapun sudah tidak lagi melekat di lehernya. Entah kemana kalung itu. Kalung kebanggaannya itu sudah raib.
"Tentu saja semua kebutuhanku terpenuhi oleh suamiku sekarang. Tidak seperti saat denganmu!" tegasnya seraya menunjuk wajahku.
"Baguslah. Jadi kenapa kamu harus meminta uang padaku?"
"Bu-bukan untukku! Untuk Alya!" ucapnya gugup.
"Uang dua juta perbulan hanya untuk Alya? Kamu yakin hanya untuk Alya?"
"Kenapa? Kamu nggak mampu?"
"Aku nggak punya banyak waktu. Aku hanya ingin mengambil anakku supaya dia bisa bersekolah dengan benar! Supaya hidupnya kelak nggak susah seperti ayahnya hingga di tinggalkan!" sindirku.
__ADS_1
"Aku hanya meliburkannya sehari saja, kok. Nggak perlu ngomong seperti itu!" dengusnya.
Tak lama kemudian aku mendengar suara teriakan tertahan. Seperti suara yang keluar dari mulut yang setengah tertutup.
"Hhmm, nggak mau, lepasiin!" seperti suara putriku.
"Alya!" teriakku kaget.
Lisa langsung berlari ke dalam rumah. Tiba-tiba ada suara sepeda motor dari arah belakang rumah di iringi teriakan putriku.
"Ayah! Ayah . . . !" teriaknya berkali-kali.
"Alya!" aku kembali meneriakkan nama putriku sambil berlari sekuat tenagaku untuk mengejarnya. Putriku terlihat memberontak dalam dekapan orang itu.
Sepeda motor itu melaju dengan kencang. Aku gegas naik ke mobil lalu menyalakan mesin mobil.
"Alya, mas!" ucap istriku gugup seraya menunjuk ke arah sepeda motor yang membawa putriku.
"Keterlaluan Lisa!" ucapku geram.
"Jangan ngebut, mas. Aku takut orang yang membawa Alya makin ngebut juga."
"Kalau nggak ngebut, kita bisa kehilangan jejaknya, yank!"
Istriku terlihat gelisah. Tubuhku pun terasa gemetar. Bagaimana nasib Alya. Lima menit, sepeda motor itu sudah tidak terlihat lagi. Tapi di persimpangan yang tak jauh dariku ada sekelompok orang-orang yang menghadang jalan.
"Gimana sih orang-orang itu kok malah berkumpul di tengah jalan. Kemana Alya tadi?" dengusku.
"Alya. . .?"
"Sial! Kita kehilangan jejak, kan!" aku makin frustasi.
Sementara aku kesulitan lewat saat hendak melintasi sekelompok orang yang sedang berkumpul di jalan itu.
"Kenapa sih mereka?" aku heran bercampur kesal. Aku pun berniat turun dari mobil.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
08