Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 155


__ADS_3

Alya sedang duduk di depan ruangan Kevin. Dia hendak menghadap ke dosen pembimbingnya itu. Antara rasa takut, malu dan juga rasa ingin bertemu menjadi satu.


"Masuk!" tiba-tiba Kevin sudah berdiri di belakangnya.


"Iya, pak!" sahut Alya.


Kevin dengan sabar dan penuh perhatian memberikan bimbingan pada mahasiswinya itu.


Sesekali dia mencuri sentuh ujung jari Alya hingga membuat gadis itu merah merona.


Disentuh ujung jarinya saja, wajahnya jadi memerah seperti itu. Bagaimana kalau sampai. . ? Kevin senyum-senyum sendiri dengan khayalannya.


Kenapa sih pak Kevin senyum senyum gitu? Batin Alya.


"Hhmm, sudah ya pak. Hari ini sampai sini dulu!" pinta Alya soalnya dosennya itu sepertinya sengaja memberi penjelasan yang terlalu panjang dan rumit membuat Alya bingung dan pusing.


"Apanya sudah selesai? Kamu belum paham, kan?"


"Tapi sudah satu jam lebih, pak!" ucap Alya sebal.


"Memamgnya kenapa? Mau sepuluh jam juga nggak masalah. Saya nggak ada pekerjaan hari ini!"


"Tapi aku masih ada urusan, pak," ucap Alya memohon.


"Urusan apa saya temani!"


"Hhmm." Aku kan cuma nggak mau terlalu lama dekat-dekat dia. Hhh, pak Kevin benar-benar nggak pengertian! Batin Alya.


"Ayo sini saya jelasin lagi. Kamu juga bisa baca-baca di google sebagai referensi. Dan tulisan-tulisan saya ini sudah pas buat kamu!"


"Hhh, iya pak. Kan sudah bisa lihat contoh dari tulisan bapak sama baca google juga jadi sekarang aku boleh pulang, yah!"


Kevin menepuk dahinya sendiri.


"Pinter kamu ya cari-cari alasan menghindari saya, hmm?"


Alya justru senyum-senyum sendiri.


"Kenapa senyum-senyum, hmm? Kerjakan di sini saja. Jadi kalau ada yang tidak kamu paham, bisa langsung bertanya sama saya!"


"Aku harus kerjain yang lain juga, pak. Oh iya, aku mau fotokopi sama beli pulpen di toko depan."


"Alasan saja kamu! Sudah sana, kalau sudah selesai balik lagi ke sini!"


"Haaahh!"


"Ada apa lagi?"


Bapak nggak tahu ya kalau jantungku ini sedang bertalu-talu? Dasar! Hhmm, masa sih pak Kevin benar-benar suka sama aku. Orang seperti dia bisa suka sama mahasiswi yang kurang gaul ini? Harusnya kan dia suka sama mahasiswi yang populer.


"Aku. . ."


"Apa?"


"Aku mau pulang, pak!"


"Pulang? Masih jam segini!"


"Hhmm, aku. Perutku laper. Aku mau makan di rumah!"


"Ayo kita cari makan!"


"Aku mau makan di rumah, pak!"


"Bereskan buku-bukumu. Kita cari makan siang sekarang!"


"Tapi aku belum lapar, pak!" tolak Alya halus.


"Tadi kamu bilang lapar?"


"Hhmm," Alya garuk-garuk kepalanya.


"Sekarang sudah pukul sebelas, masa belum lapar? Ayo cepat!" paksa Kevin.


Alya segera membereskan buku-bukunya lalu menyimpannya ke dalam tas. Dia buru-buru pergi menuju parkiran tanpa menunggu lagi Kevin.


"Hei, tunggu!" panggil Kevin namun Alya tidak mengindahkannya.


Dia terus saja berjalan ke arah parkiran.


"Lebih baik aku jalan duluan daripada harus berjalan berdua bersama pak Kevin!" gumamnya.


Aku tidak ingin semua mata melihat ke arah kami. Tentu saja aku tidak ingin gosip dengan cepat menyebar.


Sampai di parkiran yang tidak terlalu ramai, Alya menunggu tidak jauh dari mobil Kevin terparkir. Tak lama kemudian Kevin sudah berhasil menyusulnya. Kevin segera membukakan minta mobil untuk Aliya.


"Ayo naik!" titahnya.


Alya gegas naik ke mobil supaya tidak ada temannya yang melihat.

__ADS_1


"Kamu dari tadi di panggil nggak mau nyahut."


"Hhm, nggak denger, pak!" jawab Alya bohong


Dan memang Kevin memanggilnya pelan.


"Kamu mau makan dimana?" tanya Kevin.


"Terserah bapak saja!" jawab Alya.


"Terserah saya, ya?"


Alya menganggukkan kepalanya.


Kevin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke arah Alya yang sibuk dengan gawainya. Sudut bibir Kevin terangkat.


Tanpa Alya sadari, mobil yang di kendarai Kevin memasuki pagar dengan halaman yang sangat luas. Ada dua orang satpam yang berjaga di sana.


Kevin lalu memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk Alya.


"Ayo!"


"I-ini di mana?" tanya Alya bingung sembari menoleh ke kiri kanan.


"Ayo turun dulu!"


"Tapi, ini di mana, pak?" Alya masih tidak mau turun dari mobil.


"Turun dulu, yuk!"


Alya masih tidak bergeming.


"Al?"


"Tapi ini di mana?"


"Hhh, rumah saya!"


"Haahh?" Alya membuka mulutnya.


"Ayo. . ." ajak Kevin seraya mengulurkan tangannya.


Kenapa pak Kevin ajak aku ke rumahnya? Bukannya tadi mau ajak aku makan siang? Tanya Alya dalam hati.


"Please, Al?"


Alya menarik nafas panjang. Dia lalu turun dari mobil tanpa mau menerima uluran tangan dari Kevin.


Mau tidak mau akhirnya Alya mengikuti langkah kaki Kevin. Besar banget rumah pak Kevin. Tinggal sama siapa saja? Jangan-jangan saudaranya banyak lagi. Duuhh, pak Kevin kenapa juga ajak aku ke rumahnya.


Tok tok tok. Kevin mengetuk pintu.


"Assalammu'alaikum. . ."


Tak lama kemudian barulah pintu rumah terbuka.


"Wa'alaikumsalam!" sahut seorang ibu paruh baya. "Tuan Kevin."


"Tolong siapkan makan siang untuk dua orang, bi!"


"Ada tuan Kenzo sama nyonya di dalam, tuan!"


"Bang Ken, datang?" tanya Kevin kaget.


"Iya, tuan!"


Hhh, perlu apa bang Kenzo datang ke sini? Ahhh, kenapa harus hari ini, sih. Batin Kevin kesal.


Kevin lalu menoleh ke arah Alya yang terlihat bingung.


"Yuk masuk!" ajaknya.


"Tapi, pak?"


"Please. . ."


"Hhmm."


Alya ikut masuk ke rumah Kevin. Dari pintu masuk terdengar suara dua orang pria dan wanita sedang mengobrol sambil tertawa.


"Ayo kita ke sana!" ajak Kevin menunjuk ke samping yang terdapat jendela kaca yang memperlihatkan sebuah kolam renang.


Alya mengikuti langkah kaki Kevin. Di dekat kolam renang ada sebuah gazebo.


"Kita duduk di sana, yuk!" ajak Kevin sembari menunjuk ke arah gazebo.


Alya terus mengikuti langkah kaki Kevin.


Sampai di gazebo, mereka duduk menghadap ke kolam renang.

__ADS_1


"Tadi bapak bilangnya mau ajak aku makan siang. Kok malah ke sini?"


"Makan siang di sini!"


"Bapak nggak bilang tadi."


"Tadi kamu bilang terserah makan di mana kan?"


"Hhmm,"


"Nah sekarang saya tanya, kamu mau makan di ruang makan apa di sini? Jangan bilang terserah lagi!"


"Ada siapa saja?"


"Ada abang saya sama istrinya."


"Orangtua bapak?"


"Mereka di desa."


"Bapak punya desa?"


"Nenek dan kakek saya."


"Hhmm, kirain bapak nggak pernah ke desa."


"Memang nggak pernah! Saya nggak suka!"


"Loh kenapa nggak suka?"


"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?"


"Di desa itu enak loh. Udaranya sejuk. Apalagi lihat sawah sama sungai."


"Hhmm."


"Maaf tuan, makan siangnya sudah siap."


"Kamu mau makan di sini apa gabung di ruang makan?"


"Hhmm, aku terserah bapak saja."


"Mas! Panggil saya mas!"


"Hhmm? Nggak mau!"


"Al?"


"Masa aku panggil dosenku 'mas' ?"


"Di sini saya bukan dosen kamu!"


"Hhmm? A-apa?"


"Ayo kita ke ruang makan. Dan ingat, panggil saya 'mas' !"


Sampai di ruang makan, Kenzo dan istrinya sudah lebih dulu duduk di sana.


"Wah, sejak kapan kamu punya kekasih, Kev?"


"Permisi!" ucap Alya sopan.


"Ayo, duduk!" titah Kevin.


"Akhirnya punya kekasih juga kamu, ya."


"Kamu mau makan apa? Mas ambilkan, ya?" ucap Kevin lantas mengambilkan nasi dan lauk ke piring Alya.


Dia dari tadi tidak mau menjawab bahkan menoleh ke arah Kenzo. Kenzo menatap sinis ke arah Kevin.


.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.

__ADS_1


15


__ADS_2