Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 106


__ADS_3

"Kita dapat undangan dari mbak Melly sama si Rudi, yank!" ucapku saat sudah di kamar bersama istriku.


"Mbak Melly ibunya Davina?" tanya istriku kaget.


"Iya."


"Mas serius?"


Aku mengangguk seraya membetulkan bantal supaya lebih nyaman.


"Alhamdulillah. Lalu si Rudi itu?" dahi istriku berkerut.


"Rudi yang di bagian gudang, yank!"


"Loh, masa sih, mas?" istriku makin tidak percaya.


"Tuh, undanganya ada di atas meja depan tv. Mas ambilkan dulu!" ucapku lalu bangkit dari tempat tidur. Aku berjalan ke arah meja yang ada di depan tv lalu mengambil surat undangannya.


"Ini, yank," ucapku seraya mengulurkan surat undangan itu pada istriku.


Istriku lalu membacanya, "Hhmm, semoga saja Rudi adalah jodoh yang terbaik buat mbak Melly ya, mas. Dia juga berhak bahagia sama sepertiku. Mempunyai suami sebaik mas!" ucap istriku setelah meletakkan undangan itu ke meja rias.


Aku tersenyum simpul, "Kamu selalu memuji mas, yank!"


"Loh, memang kenyataannya begitu. Sejak bersama mas, aku jadi takut dengan penyakitku. Dulu, aku sama sekali nggak takut dengan penyakitku itu. Aku nggak peduli! Mas yang membuat aku bangkit dan semangat lagi!"


"Alhamdulillah, yank! Nanti kita datang, kan? Itu acaranya di rumah mbak Melly, kan?"


"Pasti datang, mas! Aku ingin memberi kado spesial buat mbak Melly!"


"Hhmm, kamu mau kasih dia kado apa?"


"Apa ya, mas? Yang dia butuhkan di rumah. Misal mesin cuci, Ac."


"Hhmm, boleh juga itu, yank! Kamu memang wanita yang baik dan pengertian nggak hanya sama suami tapi sama semua orang!" ucapku seraya merangkulnya dari samping.


"Hhmm, mas juga seneng banget muji-muji aku!"


Aku lalu memeluk dan mencium pucuk kepalanya, "Mau, yank!"


"Hhmm, mau apa, mas?"


"Mau kamu!"


"Hmm, mas. Aku sampai lupa!" dia melepaskan paksa pelukanku lalu menatapku dengan tatapan khawatir.


"Lupa apa, yank? Kamu bikin mas kaget saja!"


"Aku-aku belum memakai alat kontrasepsi, mas. Gimana kalau aku. . ." dia menggantung ucapanya.


Hhh, aku menarik nafas panjang, "Besok mas temani kamu ke dokter kandungan, ya!"


"Tapi, mas? Gimana kalau aku?"


"Hamil?"


Dia mengangguk dengan wajah sedih.


"Yank, hamil punya suami ini. Kenapa harus sedih, hmm?"


"Tapi, mas?"


"Rezeki!"


"Iihh, mas ini. Aku takut!"


"Pasrahkan semua sama Allah, yank! Jodoh, rezeki, maut, itu sudah ketentuan dariNYA! Termasuk juga anak!"

__ADS_1


"Iya, mas. Aku tahu. Tapi si kembar satu tahun saja belum masa sudah di kasih adik?"


"Nanti si kembar sudah satu tahun kalau adiknya lahir!"


"Mas iiihhh!" dia mencubit perutku berulang-ulang.


Aku tertawa bercampur meringis karena cubitannya, "Hahaa, bener kan, yank!"


"Nyebelin, deh!" wajahnya berubah masam.


"Sudah ah, gitu di pikirin! Ingat, kamu nggak boleh banyak pikiran, yank!"


"Mas sih nyebelin! Aku takut malah di candain!"


"Ya sudah deh, malam ini mas puasa lagi!" aku berpura-pura sedih.


"Loh, semalam kan sudah? Kok bilang puasa lagi?"


"Iya, puasa lagi. Seperti empat bulan lalu! Kasihannya. . ."


"Iihh, mas mau tiap hari?"


"Iya! Buat gantiin puasa mas yang berbulan-bulan lalu! Tapi kamu mau kan tiap hari, hmm?" godaku.


Wajahnya memerah, "Hhmm, tapi aku takut, mas. Aku-aku nggak mau hamil lagi."


"Iya, sayang. Mas ngerti kok. Mas hanya becanda saja. Besok mas antar ke dokter kandungan, ya!"


"Tapi malam ini?" dia menatapku cemas.


"Malam ini kita tidur! Jangan di pikirin, ya!" ucapku seraya mengusap wajahnya lembut.


"Mas nggak marah, kan?"


"Kenapa harus marah? Kalau mas marah, itu sama saja mas egois!"


Senyumnya mengembang begitu manis. Aah, istriku, aku sudah mau menahan diriku tapi kamu malah justru menggodaku.


Pagi harinya, kesibukan mulai terjadi di kamar kami. Istriku yang masih belum berani memandikan si kembar sendirian akhirnya masih di bantu oleh ibu.


"Si kembar makin banyak geraknya. Kalau nggak hati-hati bisa bahaya!" ucap ibu.


"Iya, bu. Mana licin lagi kena sabun," sahut istriku.


"Semoga saja bulan depan, mereka sudah makin kuat duduknya jadi kamu nggak perlu takut lagi mandiin si kembar!" ucap ibu pada istriku.


"Aamiin!"


"Nah, akhirnya selesai!" ibu lalu membawa bayiku ke atas tempat tidur.


"Langsung kasih susu, ya!" titah ibu.


"Iya, bu. Susunya sudah siap, kok!" sahutku.


Setelah acara memandikan si kembar selesai, kami lalu turun ke bawah untuk sarapan.


"Makan yang banyak ya, anak-anak!" titahku.


Kami lalu sarapan bersama. Setelah itu kami ke ruang keluarga karena si kembar di sana bersama ibuku.


"Bu, titip si kembar, ya. Aku sama Santi mau ke dokter dulu pagi ini!" ucapku pada ibu.


"Loh, mau periksa apa lagi?" tanya ibu heran.


"Aku mau pakai alat kontrasepsi, bu," jawab istriku malu-malu.


"Alat kontrasepsi itu apa, bunda?" tanya Alya penasaran.

__ADS_1


Aku dan istriku saling pandang.


"Alat kontrasepsi itu di pakai untuk ibu yang baru saja punya bayi!" jawab ibu.


Dahi Alya berkerut sedangkan aku dan istriku hanya tersenyum mendengar jawaban ibu. Aku juga bingung harus memberikan jawaban yang bagus seperti apa untuk putriku yang serba ingin tahu itu.


"Jadi, kalau nanti aku punya bayi bisa pakai alat kontrasepsi ya, nek?"


"Iya, sayang!"


"Alatnya seperti apa, nek?"


"Hhmm, itu rahasia dokter!" lagi-lagi ibu bisa memberikan jawaban yang pas.


"Memangnya apa gunanya alat itu, nek?"


Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.


"Hhmm, itu memang di suruh sama dokternya! Sana kalian berangkat sekolah, nanti kesiangan, loh!" titah ibuku akhirnya menyelamatkanku dari pertanyaan yang membuatku pusing.


"Iya, ayo!" ajakku.


Setelah memberikan kecupan sayang untuk si kembar, kami lalu keluar rumah. Mobil sudah menunggu.


Aku gegas melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju sekolah anak-anakku.


"Nanti Alya tungguin ayah jemput, ya! Kalau ayah belum datang, Alya tunggu di depan kantor saja!" pesanku pada putriku saat kami sudah sampai di depan gerbang sekolah.


"Iya, yah!" sahutnya.


Aku kembali melajukan mobil ke rumah sakit. Setelah menunggu lebih setengah jam, nama istriku di panggil."


"Hallo, apa kabar bu Santi?" sapa dokter dengan ramah.


"Alhamdulillah baik, dok!"


"Ada yang bsa saya bantu, bu?" tanya dokter.


"Saya ingin menggunakan alat kontrasepsi, dok!"


"Hmm, apa sebelumnya sudah pernah menggunakan?"


Istriku menggeleng cepat.


"Hhmm, sudah berhubungan?"


Istriku mengangguk malu.


"Hmm, kalau begitu kita USG saja dulu, ya!"


"Kok USG, dok? Saya nggak hamil!" tanya istriku kaget.


"Kita kan nggak tahu sudah ada kehidupan baru di rahim bu Santi apa belum. Jadi kita USG saja dulu ya biar tahu. Mari bu, kita lihat langsung. Setelah yakin tidak ada apa-apa, baru ibu bisa memakai alat kontrasepsi!" jelas dokter.


"Hhmm, baiklah dok!"


"Ibu berbaring di ranjang itu, ya!" titah dokter.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


23.5


__ADS_2