
Darren baru saja sampai di minimarket. Dia bekerja seperti biasa. Mengerjakan tugasnya dengan rapi dan teliti. Dia terlihat makin bersemangat.
Aku harus rajin bekerja supaya bisa menabung dan semoga aku bisa kuliah dengan uang gajiku sendiri. Batinnya. Senyuman tak hilang dari bibirnya. Dia pun begitu ramah pada siapapun termasuk pada pembeli yang datang.
Sebelum maghrib waktunya sebagian karyawan untuk beristirahat secara bergantian. Kebetulan saat Anto hendak ke masjid, Darren pun juga menuju ke masjid. Mereka bertemu saat hendak pulang kembali ke minimarket.
"Pak Anto," sapa Darren seraya menundukkan kepalanya.
"Darren. Kamu sudah makan?" tanya Anto dengan hangat.
"Aku baru mau beli makanannya, pak!" jawab Darren.
"Kalau begitu, ayo bareng sama saya!" ajak Anto.
"Hhmm, " Darren terlihat ragu.
Pak Anto pasti makannya di restoran mahal seperti biasa aku lihat. Wah, uangku mana cukup makan di sana. Batin Darren.
"Ayo!" ajak Anto lagi lantas berjalan menuju restoran langganannya.
Darren terpaksa mengikuti dari belakang. Bener kan restoran ini. Batin Darren. Biasanya dia kalau istirahat kerja, cukup dengan membeli roti, makan nasi di rumahnya saja. Dia ingin berhemat.
Sampai di restoran, Anto memilih meja yang di dekat pintu. Dia lalu duduk di ikuti oleh Darren.
"Kamu mau makan apa?" tanya Anto sembari menyodorkan buku menu pada Darren.
Darren menelan salivanya saat membaca buku menu di tangannya. Waduh, paling murah harganya dua puluh ribu?
"Mau makan apa?" tanya Anto lagi.
"Hhmm, aku-aku pesan es teh saja, pak! " jawab Darren.
"Loh, kok cuma pesan es teh?" tanya Anto heran.
"Hhmm, aku nggak laper, pak!" jawab Darren.
"Tadi pulang sekolah sudah makan?"
"Hhmm, belum, pak. Tapi aku memang nggak laper!"
"Hhmm, yasudah."
Anto lalu memesan makanannya. Setelah menunggu sepuluh menit, pesanannya datang.
"Ayo di makan!" titah Anto setelah waiter menyajikan makanan di meja mereka.
"Hhmm, tapi. . ."
"Ayo di makan! Jam istirahat kamu sebentar lagi habis!" titah Anto setengah memaksa.
"Hhmm, i-iya, pak!" jawab Darren pelan.
Dia lalu menyantap makanannya dengan terpaksa. Ini daging. Berapa harganya. Waduh, aku nggak punya uang. Batin Darren. Dia seperti kesulitan menelan makanannya.
"Kenapa? Nggak enak, ya? Mau pesan yang lain?" tanya Anto.
Darren mendongak, "Hhmm, ng-nggak, pak. Ini enak banget, kok!" jawab Darren cepat.
Anto sudah menghabiskan makannya. Sedangkan Darren seperti memaksakan diri untuk menelannya.
Anto lalu merogoh kantongnya lantas mengeluarkan dompetnya kemudian menyelipkan beberapa lembar uang di bawah piring bekas makannya.
Tak lama kemudian Darren sudah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Kamu sekarang sudah kelas dua belas, kan?" tanya Anto.
Darren mengangguk, "Iya, pak!"
"Hhmm, sepulang kerja kamu masih sempat belajar, kan? Jangan sampai karena kerja, kamu jadi nggak sempat belajar!"
"Hhmm, aku sempat belajar kok, pak. Kadang sampai pukul sebelas aku baru tidur."
"Iya, belajar itu nomor satu. Jangan sampai karena sibuk bekerja, kamu sampai lalai untuk belajar."
"Iya, pak!"
"Hhmm. Ya sudah kita kembali lagi ke minimarket!" ajak Anto.
"Tapi aku mau bayar makanan ini dulu!"
"Hhmm, sudah di bayar."
"Aduh, aku. . ." Darren terlihat bingung.
"Nggak apa-apa. Saya yang ajak ya saya yang bayar. Kan begitu!" jelas Anto membuat Darren terdiam.
Oh, jadi siapa yang ajak makan, maka dia yang bayarin. Tahu gitu, aku semangat tadi makannya. Sop daging satu porsi empat puluh lima ribu belum nasi sama esnya. Itu sama dengan uang jajanku dua minggu dari mama. Batin Darren.
Mereka pun sama-sama kembali ke minimarket. Anto ke ruangannya sedangkan Darren kembali ke gudang.
"Kamu di ajak pak Anto makan, ya?" tanya Didi temannya.
Darren mengangguk, "Iya,"
"Wah makan enak tuh!"
Darren tersenyum. Dia jadi ingat betapa bodohnya dia tadi yang sampai tidak berselera makan karena memikirkan harga makanannya.
"Kamu nggak coba sift pagi, Darren?"
"Sift pagi?" tanya Darren.
"Iya. Aku sih lebih nyaman sift pagi!"
Hhmm, aku kan sekolah mana bisa kerja sift pagi. Batin Darren.
Tibalah waktunya minimarket tutup. Darren melajukan sepedanya dengan sedikit ngebut saat berada di jalan yang sedikit sepi supaya bisa lekas sampai ke rumah.
Saat sudah sampai di gang dekat rumahnya, jantung Darren tiba-tiba berdegup kencang. Rasanya dia takut untuk pulang. Takut menghadapi kemarahan papanya.
"Papa ada di rumah nggak, ya? Ahh, semoga mama berhasil membujuk papa supaya mengijinkan aku bekerja, " gumam Darren.
Dari jauh, rumah terlihat sepi. Sampai di depan rumah pun seperti tidak ada orang. Biasanya akan terdengar suara televisi tapi kali ini sepi. Darren lalu memarkirkan sepedanya di depan teras.
Dia mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Darren mengetuk pintunya perlahan. Beberapa menit berlalu. Darren kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Ceklek.
Deg. Jantung Darren seakan berhenti berdetak.
"Papa. . ." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Masih berani pulang kamu, haahhh?" ucap David dengan tatapan nyalang.
"Pa, a-aku. . ." Darren menunduk tidak berani menatap papanya.
Tiba-tiba David menarik kasar tangan Darren lalu menyeretnya ke kamar mandi.
"Ampun,pa. Jangan!" pinta Darren dengan wajah memohon.
David lalu mengguyur Darren dengan air beberapa kali dari bak mandi. Padahal kalau malam Darren tidak pernah berani mandi kecuali dengan air hangat.
"Mandi, lalu masuk ke kamar kamu!" titahnya lalu meninggalkan Darren di kamar mandi.
Sementara Darren sudah menggigil kedinginan.
"Mas, aku mohon jangan terlalu keras sama anak kita! Dia bisa sakit, mas!"
"Biar dia lebih menghargai aku sebagai papanya!"
"Mas, Darren itu kerja supaya bisa membantu keuangan kita juga!"
"Apa kamu bilang? Membantu keuangan kita! Supaya semua orang tahu kalau aku sebagai papanya nggak mampu menghidupinya. Begitu, hahh?"
"Bu-bukan begitu, mas!"
"Sudah! Kalau kamu ikut-ikutan membangkang, kamu juga akan tahu akibatnya!" ancam David lantas kembali lagi ke depan kamar mandi.
Dia menggedor kuat pintu kamar mandi.
"Kaluar!" titahnya.
Tak lama kemudian Darren keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Dia terlihat menggigil kedinginan. David menarik tangannya lalu membawanya ke kamar.
"Mulai hari ini kamu nggak akan kemana-mana atau kamu mau yang lebih dari ini!" ancam David lantas menutup pintu kamar Darren dan menguncinya dari luar.
"Pa, buka, pa!" teriak Darren dari dalam kamarnya.
Darren terus berusaha membuka pintu kamarnya.
"Pa, kenapa papa kunci Darren dari luar?"
"Karena kamu tidak bisa menjaga anak itu!"
Lisa menarik nafasnya berat, "Mas, apa salahnya dia bekerja? Toh dia bisa tetap sekolah, kan?"
"Aku nggak suka bantah! Kamu mau juga membantah, hehh?"
Lisa menangis lalu berlari masuk ke kamarnya.
David mengusap wajahnya kasar.
"Punya istri, anak, sama-sama pembangkang!" teriaknya lantas membanting pintu dengan kasar.
.
.
.
Maaf masih ada typo. 😊🙏
.
.
__ADS_1
21