Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 33


__ADS_3

Pov Santi


Aku mengenal pria itu di sebuah rumah sakit di saat aku baru saja selesai periksa dikarenakan kepalaku yang tiba-tiba sakit saat mengendarai mobil.


Setelah selesai periksa,aku hendak pulang namun kepalaku sedikit pusing jadi aku duduk sebentar di depan kamar ranap anak-anak. Dan ternyata pria itu duduk disebelahku.


Kami akhirnya terlibat obrolan. Dari obrolan kami,aku merasa kalau pria yang ternyata bernama Anto ini adalah sosok pria yang baik.


Aku lalu berdiri hendak pulang,tapi baru beberapa langkah kepalaku tiba-tiba pusing kembali dan tahu-tahu aku sudah tidak sadarkan diri. Saat aku sadar aku sudah di ruang IGD dan ternyata pria itu yang membawaku.


Entah mengapa aku ingin mengenalnya lebih jauh jadi aku meminta suster untuk memanggilnya. Ternyata pria itu mau menemuiku. Aku mencoba meminta tolong diantarkan pulang ke rumah.


Aku tahu tidak seharusnya aku langsung percaya begitu saja dengannya karena kita baru saja kenal. Tapi aku meminta tolong padanya sekaligus ingin tahu lebih jauh tentang dia,apakah dia benar-benar sosok pria baik.


Jika tidak,tentu dia akan mencelakaiku saat di perjalanan tapi ternyata sampai di rumah pun,dia tidak melakukan hal yang merugikan ku. Itu membuatku makin yakin kalau dia benar-benar pria yang baik.


Dia lalu buru-buru mau pulang karena ternyata dia sedang mencari pekerjaan. Aku lalu memberikan kartu namaku supaya dia bisa menghubungiku jika dia masih membutuhkan pekerjaan.


Dan tidak aku sangka besoknya ternyata dia menghubungiku. Dia masih membutuhkan pekerjaan dan mau bekerja di minimarketku. Sejak dia bekerja di minimarket ku,hari demi hari aku semakin kagum dibuatnya. Dia bekerja di minimarket dengan giat dan sangat bertanggung jawab dengan posisi yang aku berikan.


Setiap kami berdekatan,aku merasa jantungku selalu berdebar-debar. Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Sejak suamiku meninggal,aku belum pernah lagi merasakan getaran jika berdekatan dengan seorang pria.


Saat aku dan mas Anto membantu di gudang,tiba-tiba kepalaku kembali sakit dan akhirnya aku pingsan. Aku memang tidak bisa kelelahan tapi aku tidak mungkin berdiam diri saja di rumah sementara minimarket ku harus ada yang mengurus. Aku tidak mungkin mempercayakan begitu saja minimarketku pada karyawan.


Mas Anto lalu membawaku ke kantor. Setelah aku sadar,aku minta di antarkan ke rumah sakit. Aku ingin bertemu dokter pribadiku. Saat bertemu dengan dokter pribadiku,betapa kagetnya aku saat mendengar penjelasan dari dokter.


Ternyata kanker ku sudah semakin parah yang awalnya baru stadium satu sekarang sudah stadium tiga. Aku jujur saja sangat ketakutan. Aku belum lagi mempunyai keturunan. Aku tidak mau garis keturunan keluargaku berhenti setelah kematianku. Aku juga butuh pewaris yang akan meneruskan usaha keluargaku walau usaha minimarketku tidak terlalu besar.


Aku lalu memberanikan diri menceritakan masalahku pada mas Anto. Entah apa yang sudah merasuki pikiranku hingga dengan tanpa malunya aku meminta dia menjadi ayah dari anakku.

__ADS_1


"Apa saya bisa minta tolong?" tanyaku pada mas Anto.


"Minta tolong apa ya,mbak?" mas Anto balik bertanya.


"Penyakit saya bertambah parah. Saya ingin sekali mempunyai keturunan,mas!" ucapku lirih.


Mas Anto diam sesaat, "Kalau boleh tahu mbak sakit apa?" tanya mas Anto.


"Saya memiliki penyakit kanker otak. Tadi dokter bilang sudah stadium tiga!" jelasku dengan raut wajah putus asa.


"Apa mbak tidak mencoba berobat ke luar negeri?" tanyanya.


"Dulu sering sewaktu masih ada suami saya. Tapi sejak suami saya meninggal,saya sudah tidak semangat lagi berobat ke luar negeri!"


"Jadi maksudnya mbak Santi ingin menikah lagi supaya bisa memiliki keturunan?" tanya mas Anto.


Aku mengangguk pelan lalu menoleh ke arah jendela tidak mau menatap ke arahnya, "Iya!" jawabku.


Aku lalu menggeleng lemah," Saya tidak mempunyai calon!" jawabku.


Tanpa terasa air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya lolos juga.


"Apakah mas mau jadi ayah dari anakku?" tanyaku dengan suara bergetar seraya memegang tangannya. Entah kenapa aku bisa tidak tahu malu begitu.


Aku lihat dia diam saja,aku jadi semakin malu. Andai saja aku bisa menghilang saat itu juga.


"Ma-maafkan saya. Lupakan saja pembicaraan kita ini!" ucapku kemudian lalu memalingkan wajahku ke luar jendela.


Dan ternyata dia tidak langsung menolakku. Dia bilang kalau dia bukan laki-laki yang baik. Dia takut aku menyesal menikah dengannya seperti mantan istrinya dulu. Aku meyakinkannya kalau sekarang harta sudah tidak penting untukku. Aku hanya ingin memiliki keturunan dari darah keluargaku.

__ADS_1


Dia bilang dia akan menanyakan dulu kepada kedua anaknya apakah mereka mengizinkannya untuk menikah lagi apa tidak. Jika kedua anaknya setuju barulah dia akan menikahiku. Aku mengerti posisinya. Aku pun akan menunggu sampai anak-anak mereka menyetujuinya untuk menikah denganku.


Pada hari minggu mas Anto mengajak kedua anaknya ke rumahku. Mereka adalah anak-anak yang manis walau pada awalnya anak sulung mas Anto terlihat dingin tapi setelah kami mulai bermain dan bercanda bersama,sikapnya mulai hangat. Aku sangat bahagia saat bersama anak-anaknya mas Anto. Aku merasakan


saat bersama mereka seperti sebuah keluarga.


Aku mengajak mereka ke kebun belakang dan samping rumah. Dulu suamiku rajin bercocok tanam. Selain buah rambutan,ada juga buah mangga,alpukat,pisang,jambu air. Semua suamiku yang menanamnya.


Andre dan Alya sangat senang. Andre dengan semangat mengambil buah rambutan langsung naik ke dahannya tanpa takut. Banyak buah yang mereka ambil dan aku masukÄ·an ke kantong plastik supaya bisa mereka bawa pulang.


Alya,putri bungsu mas Anto cepat sekali akrab denganku. Jujur saja itu sangat membahagiakanku. Aku ingin gadis kecil itu menjadi putriku. Aku berjanji aku akan menjadi ibu sambung yang baik untuk kedua anak mas Anto. Aku akan menganggap mereka seperti anaknya sendiri.


Mereka pun menghormatiku sebagai tuan rumah. Tidak nakal seperti anak-anak seumuran mereka. Sepertinya mas Anto mendidik mereka dengan sangat baik itu membuatku yakin menjadikan mas Anto pendamping hidupku. Pria yang pantas menjadi ayah dari anakku.


Aku yakin jika suatu saat sudah waktunya aku pergi,aku bisa pergi dengan tenang karena ada yang menjaga anakku dan meneruskan usaha keluargaku. Aku percaya mas Anto pasti akan bisa berbuat adil terhadap semua anak-anaknya.


Hari ini mas Anto akan mengajak Alya dan Andre ke rumahku lagi. Aku seneng banget. Aku berharap mereka menyukaiku dan tidak akan menolak jika aku menjadi ibu sambung mereka.


Nah,itu mereka sudah datang. Mas Anto makin tampan. Wajar jika kedua anaknya pun cantik dan tampan. Seandainya aku bisa memiliki anak darinya,betapa bahagianya aku. . .


.


.


.


.


.

__ADS_1


09


__ADS_2