Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 148


__ADS_3

Darren baru saja sampai di minimarket. Dia lalu menyimpan tasnya ke dalam loker. Setelah itu dia pergi ke gudang yang ada di sebelah ruang karyawan.


"Assalammu'alaikum, pak Rudi!" sapa Darren ramah.


"Wa'alaikumsalam."


"Saya harus mengerjakan yang mana, pak?" tanyanya.


"Kamu tunggu saja dulu di sini. Sebentar lagi ada mobil masuk!"


"Oh iya, pak!" sahut Darren.


Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, mobil barang datang.


Darren membantu sopir dan kernetnya menurunkan barang lalu memasukkannya ke dalam gudang sementara Rudi mencatat jumlah barang yang masuk ada yang kurang apa tidak. Setelah itu semua barang di simpan di tempatnya.


Rudi lalu memberikan catatan barang apa saja yang sudah habis di minimarket. Setelah menyiapkan barang-barang apa saja yang harus di tambahkan, Darren kemudian memasukan barang-barang itu ke dalam trolly


Setelah trolly cukup penuh, Darren membawanya ke minimarket lalu mengisinya ke rak-rak yang kosong.


Anto memperhatikan saja teman sekolah si kembar itu bekerja. Anak itu cukup rajin walau usianya masih sekolah. Apa orang tuanya mengizinkan dia bekerja, ya. Batin Anto.


Tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka delapan malam. Darren bersiap untuk pulang ke rumah.


"Rumah kamu di mana, Darren?" tanya Anto.


"Rumahku di daerah Pahlawan, pak!" jawab Darren.


"Bagaimana kalau saya antar kamu pulang?" tawar Anto.


"Terima kasih, pak. Tapi saya naik sepeda saja!" tolak Darren halus.


"Malam-malam begini apa kamu berani?"


"In Sya Allah saya berani, pak!"


"Kamu tidak merasa capek setelah pulang dari sekolah langsung bekerja?" tanya Anto penuh perhatian.


"Alhamdulillah aku nggak capek, pak!" jawab Darren.


"Kalau begitu, kamu hati-hati, ya!" pesan Anto.


Anto pun gegas naik ke mobilnya dan segera berlalu dari sana. Sementara Darren mulai mengayuh sepedanya pulang ke rumah.


Tiba-tiba dia merasa hatinya tidak enak. Dan benar saja, dari jarak tiga puluh meter, dia dapat melihat papanya sedang berkacak pinggang di teras depan rumahnya.


Darren menelan salivanya kasar. Jantungnya berdetak kencang. "Papa pasti akan memarahi aku lagi," gumamnya.


Darren memarkirkan sepedanya di depan teras.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


Bukannya menjawab salam dari anaknya, David justru masuk ke dalam rumah. Darren menyusul masuk ke rumah. Tapi baru saja dia hendak menutup pintu tiba-tiba. . .

__ADS_1


Plaaakkk!


Tangan papanya melayang sukses ke pipi kirinya dengan keras membuat Darren hampir saja terhuyung jika dia tidak menahan tangannya di dinding.


Dia merasaan bibirnya berdarah. Tiba-tiba mamanya berteriak, "Pa, apa yang kamu lakukan?" teriak Lisa lantas memeluk anak laki-lakinya itu sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kamu nggak apa-apa kan, nak?" tanya Lisa khawatir.


"Kamu sudah berani menjadi pembangkang, ya?" teriak David dengan tatapan nyalang ke arah anak satu-satunya itu.


"Sudah, pa. Jangan sakiti Darren. Dia pulang malam itu karena bekerja bukannya main-main!" jelas Lisa.


"Saya tidak suka ada yang membantah saya!" ucap David pelan tapi tegas.


Darren melepaskan pelukan mamanya lalu dia hendak masuk kamar. Tapi buru-buru dicegah oleh David. David mencengkram tangannya kuat hingga membuat Darren meringis sakit.


"Sudah, pa!" pinta Lisa.


"Kamu sudah tidak mengindahkan peringatan papa, ya!"


"Biarkan Darren istirahat, pa!"


"Besok kamu tidak boleh keluar rumah. Tidak ada sekolah tidak ada bekerja!" imbuhnya.


"Tidak boleh begitu dong, pa. Anak kita harus sekolah, setidaknya harus lulus SMA!" jelas Lisa.


"Kalau dia sudah mau mematuhi perintah saya, baru dia boleh kembali sekolah tapi jika tidak, jangan harap dia bisa keluar dari rumah ini!" ancam David lagi.


"Ingat, papa kasih kesempatan buat kamu besok. Kalau kamu masih pulang malam, kamu akan tau akibatnya!" ancam David lantas segera berlalu dari hadapan mereka.


Dia mengusap wajahnya kasar. Tanpa terasa ada titik air di sudut matanya. "Sebenarnya aku ini anak kandung papa bukan, sih?" gumamnya.


"Tentu saja kamu anak kandung papa, nak!" Lisa tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


Darren menoleh, "Kalau benar aku anak kandung papa, kenapa papa kalau marah, kasar banget sama aku, ma?" tanya Darren.


"Kamu tahu kan kalau papa kamu nggak bisa dibantah tapi kamu sering membantahnya. Cobalah kamu sekali saja menurut sama papa kamu, nak!"


"Aku butuh uang, ma. Bulan kemarin aku bahkan belum bayar SPP. Sekarang aku sudah kelas dua belas, ma. Kalau aku nggak melunasi SPPku, aku nggak akan bisa ikut ujian!" jelas darren.


"Berapa uang SPP kamu yang belum di bayar, nak? Mama akan usahakan!" ucap Lisa.


"Satu bulannya dua ratus empat puluh ribu. Aku dari bulan kemarin belum bayar jadi semua empat ratus delapan puluh ribu, ma."


"Hhh, kapan terakhir bayar, hhmm?"


"Akhir bulan, ma. Dan bulan depan aku juga harus bayar lagi!"


Lisa menarik nafas panjang. Beban hidupnya yang terasa berat sejak suaminya kesulitan mencari pekerjaan karena mantan narapidana. Suaminya hanya bisa kerja serabutan.


"Kamu doakan mama bisa mendapatkan uang itu, ya!"


"Iya, ma. Jadi aku nggak bisa kerja lagi, ma? Sayang banget aku sudah kerja di sana selama satu minggu lebih."

__ADS_1


"Hhh, apa bisa kamu minta bayaran kamu itu, nak?"


"Gajiannya bulanan, ma. Dua juta karena aku baru. Banyak sebulan dua juta kan, ma? Uangnya bisa kita tabung atau kalau mama butuh. Coba mama bujuk papa supaya membolehkan aku bekerja."


"Banyak ya dua juta. Tapi apa kamu nggak capek nak, pulang sekolah langsung kerja?" tanya Lisa khawatir.


"Nggak, ma. Mama bilangin sama papa, ya?" pinta Darren dengan wajah memohon.


"Iya, nak. Mama akan coba merayu papa kamu. Semoga saja dia mau!"


Darren lalu memeluk mamanya penuh kasih sayang.


"Terimakasih ya, ma. Aku sayang banget sama mama!"


"Mama juga sayang banget sama kamu, nak!" sahut Lisa.


Andai kamu tahu kalau kamu sebenarnya punya kakak. Batin Lisa.


Darren melepaskan pelukannya.


"Mama obati ya, luka kamu ini?" tanya Lisa seraya mengusap luka bekas tamparan suaminya tadi.


"Nggak usah, ma. Biar kan saja lukanya!" tolak Andre halus.


"Kamu usap-usap dengan air dingin sedikit saja, ya!"


"Iya, nanti saja, ma."


"Ya sudah mama tinggal dulu. Jangan lupa makan!" pamit Lisa.


"Iya, ma!" sahut Darren.


Dia sudah bisa sedikit tersenyum. Darren lalu pergi ke dapur untuk mengambil air dingin guna mengobati luka bekas tamparan papanya.


"Aku harus jadi orang yang sukses. Tapi terlebih dahulu aku harus tetap bekerja di minimarket supaya bisa mengumpulkan uang untuk aku tabung."


"Hhh, Annisa. Aku akan jadi orang yang sukses. Setelah itu aku akan datang lagi!" gumamnya.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran


.


.


.

__ADS_1


.23


__ADS_2