
Pov Lisa
Sejak mas David di penjara, hidupku makin susah. Uang penjualan rumah hampir habis untuk biaya menyewa pengacara tapi tetap saja mereka dipenjara. Bahkan aku hanya diberikan uang sepuluh juta saja oleh adik suamiku.
Aku sudah protes sama mas David tapi adik mas David yang sombong itu tetap tidak mau memberikan aku uang lagi. Padahal uang hasil penjualan rumah masih ada lima puluh juta lagi. Sedangkan aku tidak boleh tinggal di rumah mereka. Lalu aku harus kemana dengan uang sepuluh juta itu?
Adik mas David mengusirku. Dia bilang kalau dia tidak sudi tinggal bersamaku.
"Bawa semua barang-barang kamu dari rumahku! Aku nggak sudi satu rumah dengan pelakor!" usirnya dengan angkuh.
"Aku harus kemana? Apa kamu nggak kasihan sama keponakan kamu ini?" aku masih terus memohon.
"Aku nggak peduli. Siapa yang tahu itu anaknya mas David apa bukan!"
"Kurang ajar, kamu!" ucapku berapi-api.
"Terserah. Sekarang pergi sana yang jauh. Atau mau aku bilang sama para tetangga di sini kalau kamu itu pelakor! Iya?"
Aku memunguti barang-barangku yang dia lempar sambil menggendong Daren. Awas kamu! Aku akan balas ini! Ucapku dalam hati lantas segera berlalu dari hadapannya.
Padahal aku sudah mengadukan kelakuan adiknya itu pada mas David tapi suamku itu tidak mau membujuk adiknya untuk menerima aku tinggal di rumah mereka.
Entah apa yang harus aku lakukan dengan uang sepuluh juta itu sementara mas David dipenjara selama lima belas bulan. Aku benar-benar harus berhemat jika masih ingin makan. Sungguh aku bingung dibuatnya. Lagi-lagi semua karena mas Anto. Dia sekarang enak-enakan hidup mewah sementara aku, hidupku susah.
Aku lalu mencari sebuah kamar kost yang murah saja supata uangku tidak cepat habis. Bulan pertama, aku di kamar kost saja tanpa melakukan apapun tapi justru itu membuat aku ingin makan terus apalagi Daren minum ASInya kuat, makanya aku mudah lapar. Jika seperti itu terus, bisa-bisa cepat habis uangku.
Akhirnya aku memutuskan untuk berjualan saja, karena aku tidak mungkin bekerja meninggalkan Daren sendirian. Sementara untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga tidak ada yang mau menerimaku jika aku membawa bayiku.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali sambil menggendong bayiku, aku pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk aku berjualan. Aku memutuskan untuk berjualan gorengan saja di pagi hari karena aku pikir pagi hari orang membutuhkan sarapan jadi semoga saja jualanku cepat habis. Tapi mungkin karena belum ada yang tahu jadi hari pertama aku jualan masih sepi. Jadi terpaksa aku bagikan ke tetangga dan sisanya sebagai teman makan nasi. Darimana gizinya kalau begini.
Saat sore hari aku mencoba kembali berjualan gorengan. Tapi tidak sebanyak saat aku berjualan pada pagi hari. Namun sampai menjelang maghrib, gorenganku tidak habis semua. Rasanya sedih sekali. Tapi mau bagaimana lagi.
***
Si kecil Daren sudah berusia lebih satu tahun. Putraku itu sudah pandai berjalan. Dia juga tumbuh semakin tampan. Wajahnya sangat mirip dengan mas David.
Terkadang suka ada laki-laki yang mendekatiku. Tapi aku sudah tidak mau lagi. Aku takut apalagi kebanyakan dari mereka adalah pria beristri. Lagipula aku dan mas David belum bercerai dan mas David sudah berpesan setelah dia bebas, dia akan mencariku dan Daren.
Tapi jika ingat susahnya hidup yang aku jalani sekarang membuat aku bimbang antara menolak atau menerima saja tawaran dari lelaki yang mendekatiku.
"Aku akan memenuhi kebutuhan kamu dan putra kamu! Kamu tidak perlu lagi bersusah payah berjualan gorengan hanya untuk bertahan hidup!" ucap salah seorang laki-laki yang mendekatiku yang bernama pak Randi. Dia adalah pria yang memiliki dua istri.
"Maaf pak Randi, aku pikir-pikir dulu," ucapku sengaja mengulur waktu.
Setiap kali aku berjualan, keuntunganku hanya cukup untuk membeli beras dua liter saja walau kadang bisa lebih tapi itu sangat jarang sekali.
Aku berbaring di atas kasur tipis yang memang sudah di sediakan pemilik kost. Rasanya badanku pegal-pegal semua. Beruntung Daren bukan tipe anak yang nakal dan rewel. Asalkan aku ada di dekatnya, dia tidak akan berulah. Dia akan sibuk dengan mainannya yang hanya satu-satunya dia miliki sambil sesekali melirik ke arahku. Maafin mama, nak. Sudah membuat hidup kamu susah dan terpisah dari ayah kamu.
***
Aku sudah siap hendak ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan aku pakai untuk jualan jualan.
Dengan berjalan kaki, aku menempuh jarak lebih satu kilometer untuk sampai ke pasar tradisional yang menjual segala jenis sayuran dengan harga lebih miring. Sesekali putraku minta di gendong jika dia sudah kelelahan.
Saat melewati sebuah rumah sakit, aku seperti mas Anto. Aku yang penasaran lalu mendekat. Ternyata benar, itu mas Anto. Untuk apa dia sepagi sudah berada di rumah sakit. Apa ada yang sakit? Semoga bukan Andre dan Alya.
__ADS_1
Walau mungkin aku bisa di sebut sebagai ibu yang jahat, tapi tetap saja aku menyayangi kedua anakku itu. Mereka saja yang sudah tidak lagi menyayangiku. Mentang-mentang sekarang sudah hidup enak, mereka sudah melupakan ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia.
Setelah aku tanyakn sama suster jaga, ternyata yang sakit itu istrinya mas Anto yang baru saja melahirkan bayi kembar. Namun ternyata sekarang, istrinya itu dalam keadaan koma sudah dari beberapa bulan lalu.
"Dasar, perempuan lemah. Melahirkan saja bisa sampai koma. Padalah sudah caecar. Dasar! Huuuhh!" gumamku.
Aku lalu pergi dari rumah sakit itu dan melanjutkan pergi ke pasar. Kapan-kapan aku akan menyelidikinya.
***
Keesokan harinya aku sengaja menitipkan Daren pada tetangga setelah selesai berjualan. Dan keberuntungan berpihak padaku. Aku melihat kalau mas Anto hendak meninggalkan rumah sakit. Setelah aku yakin mas Anto sudah pergi, aku kembali bertanya pada suster di ruangan mana Santi di rawat.
Jadi selama empat bulan, perempuan itu 'koma' dan di rawat di ICU. Banyak sekali uang mas Anto sampai dia berani untuk menempatkan istrinya di ruang ICU selama empat bulan.
Satu hari saja bisa berjuta-juta apalagi ini sudah empat bulan. Benar-benar kaya istri mas Anto itu.
Tapi biarkan saja, toh aku cukup senang tahu istri mas Anto itu ternyata sedang sakit parah. Suster tidak mau mengatakan penyebabnya dan supaya aku menanyakan sendiri penyakit wanita itu pada mas Anto langsung. Mana mungkin aku akan melakukan hal bodoh itu.
.
.
.
.
23
__ADS_1
Maaf masih ada typo.