
"Terimakasih ya, nak. Kamu sudah menolong kakak kamu. Ayo mama bantu ke kamar kamu!" ucap Lisa.
Darren lalu berbaring di atas tempat tidurnya.
"Jadi ada yang hendak mencelakai Alya?"
"Tiga orang. Entah kenapa aku sampai nekat, padahal mereka besar-besar sedangkan aku kurus begini."
"Alhamdulillah, kalian masih di lindungi Allah!"
"Iya, ma. Kalau aku sampai nggak tergerak untuk menolongnya, sampai mati aku pasti akan menyesal."
"Hhmm, mama bangga sama kamu, nak!"
"Kak Alya cantik ya, ma. Ada miripnya dikit sama mama. Matanya. Aku merasa tidak asing saat menatap matanya. Ternyata kak Alya mewarisi mata mama!"
"Hhmm, dia dulu memang dekat sama mama di bandingkan Andre."
Darren menarik nafasnya berat, "Kak Alya pasti sedih banget saat mama meninggalkannya." Darren menatap kosong ke langit-langit kamarnya.
"Hhmm, ada sesuatu yang membuat mama harus meninggalkan Alya pada ayahnya. Mama bukanlah seorang ibu yang baik," ucap Lisa lirih.
"Hhmm, maafkan aku, ma. Bukan maksudku menyalahkan mama. Ah, anggap saja ini sudah takdir. Mama jangan sedih lagi, ya. Semoga kak Alya dan mas Andre mau memaafkan mama."
"Kamu nggak benci kan sama mama?"
"Kenapa? Mama adalah pahlawan bagiku. Tanpa mama, aku nggak akan bisa hidup sampai sekarang."
"Terimakasih ya, nak."
Darren tersenyum lalu memeluk mamanya.
"Laki-laki tadi siapa?"
"Oh yang tadi itu mungkin pacarnya kak Alya. Tadi dia bilang kalau kak Alya adalah calon istrinya."
"Oh, ya?" Mata Lisa berbinar. Dia menatap putranya.
"Dia juga dosennya kak Alya, ma."
"Hhmm, semoga dia adalah jodoh terbaik untuk Alya."
"Aamiin."
"Lalu kuliah kamu bagaimana? Sudah daftar, nak?"
Darren menggelengkan kepalanya, "Aku ambil diploma satu saja, ma. Biaya kuliah mahal banget. Percuma di paksain nanti berhenti di tengah jalan kan sayang."
"Kamu bilang mau kerja?"
"Biaya masuknya besar, ma. Sudahlah, aku nggak mau memaksakan diri. Kalau diploma satu, In Sya Allah aku bisa."
"Hhmm, ya sudah nak. Mama terserah kamu saja. Sekarang kamu istirahatlah dulu, ya," Lisa lalu keluar dari kamar Darren.
***
"Alya, tunggu!" panggil Kevin.
Alya berhenti di samping mobil Kevin.
"Al, kenapa kamu lari? Nggak pamit lagi?" ucap Kevin kesal.
"Pak Kevin mau antar aku pulang, nggak?"
"Hhh, baiklah. Ayo naik!" titah Kevin lantas membukakan pintu mobil untuk Alya.
"Jelaskan!" pinta Kevin saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Jelaskan apa, pak?" tanya Alya malas.
"Kenapa kamu langsung lari? Kamu kenal sama ibunya si Darren?"
"Dia ibuku," jawab Alya lirih.
Mobil mendadak berhenti.
"Pak Kevin apa-apaan, sih?" ucap Alya kesal.
__ADS_1
"Hhmm, maaf. Kamu tadi bilang apa?"
Alya menarik nafas lalu menghembuskannya kasar.
"Dia ibu kandungku."
Dahi Kevin berkerut, "Ibu kandungmu?"
"Jalan, pak. Aku mau pulang!" pinta Alya.
"Alhamdulillah bisa bertemu dengan ibu kandung kamu, kan. Jadi kita nggak perlu repot mencarinya jika kita nanti mau menikah," ucap Kevin.
"Apa? Menikah?" tanya Alya kaget.
"Iya! Saat kita menikah, saya ingin ibu kamu datang!"
"Apa? Ng-nggak!" Alya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak mau menikah dengan saya?"
Alya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan nggak mau menikah denganmu, pak. Tapi aku nggak mau ada ibu. Batin Alya.
"Al? Kamu menangis?" tanya Kevin seraya memegang dagu Alya hingga menoleh ke arahnya.
Kevin lalu menarik Alya yang mulai menangis ke dalam pelukannya, mengusap rambut Alya dengan lembut. Alya semakin menangis sesenggukan.
"Ssstt, jangan menangis," ucap Kevin sambil terus mengusap rambut gadis itu untuk memberikan ketenangan.
Setelah tangisan Alya reda, Kevin melepaskan pelukannya. Menatap mata gadis itu lekat lalu mengusap sisa airmatanya dengan ujung jarinya.
"Hey, ada ingusnya!" celetuk Kevin membuat wajah Alya memerah.
Gadis itu lalu memalingkan wajahnya.
"Yah, pakaian saya basah sampai tembus ke dada, nih. Ini air mata apa ingus, ya?" ucap Kevin dengan wajah geli.
"Paan, sih!" ucap Alya kesal.
"Makanya jangan nangis, jadinya ingusan, kan? Yah, harus mandi tujuh kali ni gara-gara kena ingus kamu!"
"Iiiihh, nyemplung saja langsung ke sumur!"
"Nggak apa-apa. Habis itu langsung lupa!"
"Oohh, begitu, ya?"
"Iyalah!" sahut Alya lalu memalingkan wajahnya ke jendela.
Tiba-tiba Kevin menarik tangan Alya hingga wajah mereka saling berhadapan. Kevin tak memberikan lagi waktu bagi Alya untuk berpaling. Kevin langsung menyambar bibir itu yang dalam posisi terbuka karena kaget.
Mata Alya membulat sempurna, hingga beberapa detik kemudian dia mendorong tubuh Kevin hingga dosennya itu terdorong ke belakang. Jantung Alya berdetak kencang dengan dada yang naik turun. Dia kesal sekali.
"Pak Kevin jahat!" Alya memukul-mukul dada Kevin.
"Supaya kamu nggak akan bisa lupain saya seumur hidup kamu!" Kevin menangkap tangan Alya.
"Lepasin!" Alya memberontak.
Kevin pun melepaskan pegangan tangannya.
"Antar aku pulang atau aku pulang sendiri!"
Kevin langsung melajukan kendaraannya dengan senyum tipis di bibirnya. Kamu nggak akan pernah bisa lupain saya, Al. Batin Kevin.
Pak Kevin nyebelin. Sudah berapa kali dia cium aku. Batin Alya kesal. Detak jantungnya pun masih belum beraturan.
Alya lalu menyentuh bibirnya pelan.
"Kenapa di sentuh-sentuh, hmm? Mau lagi?" goda Kevin.
"Hiihh," dengus Alya sambil berpaling. Kalau aku nggak cinta sama pak Kevin, aku sudah laporin dia sama mas Andre. Batin Alya.
Mereka pun tak ada lagi yang berniat memulai obrolan. Sampai tiba di depan rumah, Alya langsung membuka pintu mobil lalu berlari masuk ke rumahnya.
"Hey!" teriak Kevin.
Kevin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat Alya yang sudah masuk ke rumahnya tanpa mengatakan apa-apa. Kevin memutuskan untuk langsung saja pulang.
__ADS_1
"Mbak Alya? Kok kak Kevinnya nggak di ajak masuk?" tanya Annisa.
"Hhmm, ada urusan katanya," sahut Alya malas.
"Tapi kan memang nggak pernah masuk."
"Ayah ada?" tanya Alya mengalihkan pembicaraan.
"Ada, kita baru saja mau makan siang. Mbak Alya nggak biasanya pulang cepat."
"Iya, mbak kan sudah mau wisuda. Jadi besok juga mbak sudah mulai santai."
"Oh begitu."
"Al?" sapa Anto yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ayah!" Alya mendekati ayahnya lalu bersandar di bahu kokoh ayahnya.
"Kenapa, nak?"
"Aku tadi bertemu ibu," jawab Alya lirih.
"Apa? Di mana?" tanya Anto kaget.
"Di rumahnya."
"Di rumahnya? Kenapa kamu bisa sampai di rumahnya?"
"Hhmm, aku mengantarkan anaknya ibu,"
"Anak? Darren?"
Alya mendongakkan kepalanya, "Kok ayah tahu Darren?"
"Darren, kakak tingkat Annisa yang waktu itu di tolong mas Andre di rumah sakit."
"Apa? Kok ayah nggak cerita?"
"Maaf, nak. Ayah hanya nggak ingin kamu sedih. Lalu kenapa kamu mengantar Darren pulang?"
"Darren. Dia menyelamatkan aku saat ada beberapa orang yang menggangguku, yah. Dia terluka, jadi aku antar dia pulang setelah mengobati lukanya."
"Kenapa bisa seperti itu? Kalian bertemu di mana?"
Alya lalu menceritakan awal mula dia di ganggu teman-temannya.
Rahang Anto mengeras, tangannya pun mengepal hingga terlihat memutih.
"Kurang ajar!"
"Aku nggak menyangka kalau anak itu adalah Darren anaknya ibu, yah. Lukanya cukup parah karena di keroyok tiga orang yang berbadan lebih besar darinya. Kalau dia nggak ada, entahlah apa yang akan terjadi padaku, yah."
"Darren? Darren siapa, mbak?" tanya Annisa.
Anto dan Alya saling pandang.
.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo
.
.
.
.
.
__ADS_1
21,4