
"Mau ke mana kita sekarang?" tanya Kevin pada Alya yang duduk di sebelahnya.
"Ya ke kampus," jawab Alya.
"Memangnya kamu ada mata kuliah pagi ini?" tanya Kevin.
"Iya ada," jawab Alya.
"Hmm, kenapa pesan saya semalam nggak dibalas cuma dibaca saja?"
"Ya kan pesannya nggak perlu dibalas. Pak Kevin kan nggak tanya apa-apa!" jawab Alya.
"Oh begitu, ya?" tanya Kevin.
"Hhmm. . ."
"Oh iya, kamu tidak lama lagi wisuda kan?"
"Iya kalau nilaiku bagus. Bukannya pak Kevin nggak akan memberikan nilai jika aku nggak mau menuruti keinginan pak Kevin?"
"Saya bilang minta maaf, Al. Saya sengaja melakukan itu supaya bisa deket terus sama kamu!"
Seketika wajah Alya memerah. Gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya supaya Kevin tidak memperhatikan perubahan wajahnya.
"Al, nanti kamu kosong jam berapa?" tanya Kevin.
"Pagi ini aku ada mata kuliah selama dua jam. Setelah itu kosong selama satu jam dan setelahnya ada lagi mata kuliah selama dua jam!" jelas Alya.
"Jadi selesai jam berapa tuh?" tanya Kevin
"Mungkin pulul dua siang," jawab Alya.
"Kita makan siang lagi, kamu mau? Sekaligus saya antar kamu pulang," ucap Kevin.
"Nggqk usah, pak. Nanti ada yang lihat lagi dan mereka pasti berpikir yang tidak-tidak."
"Tidak usah memusingkan apa yang orang pikirkan terhadap kita. Yang tahu tentang diri kita ya hanya kita sendiri. Mereka hanya melihat dari luarnya saja!"
"Tapi aku nggak enak pak, ada temanku yang sudah curiga kalau kita punya hubungan."
"Tapi kita memang punya hubungan, kan?" tanya Kevin lantas menyentuh ujung jari Alya.
Baru disentuh sedikit saja, jantung Alya sudah berdetak kencang.
"Iya hubungan kita kan antara mahasiswa dan dosen pembimbingnya," jawab Alya.
"Hanya sebatas itu?" tanya Kevin.
"Iya, kan?" jawab Alya.
"Hahaha!" Kevin tertawa.
Alya langsung menoleh, "Kenapa pak Kevin tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Alya.
"Nggak apa-apa, kok!" ucap Kevin.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka berdua sampai akhirnya mobil Kevin tiba di kampus.
"Apa sebaiknya aku turun sedikit jauh dari kampus saja, pak?" tanya Alya.
"Loh, kenapa? Lantas kamu mau jalan kaki?" tanya Kevin tidak setuju.
"Aku berhenti di sini saja, pak!"
"Loh, kenapa di sini? Ayolah Alya kampus masih jauh!"
__ADS_1
"Pak?" paksa Alya lagi tapi Kevin terus saja melajukan mobilnya.
"Aku berhenti di sini saja, pak. Aku nggak mau mau nanti ada yang lihat dan akan jadi bahan gosif di kampus."
Kevin lantas memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa kamu harus mempermasalahkan apa yang ada di pikiran orang lain? Biarkan mereka ingin bicara apa saja!"
"Aku ingin kuliah dengan tenang, pak. Tak lama lagi aku harus menyusun skripsi. Aku butuh ketenangan. Aku tidak ingin ada gosip-gosip yang membuat aku tidak konsentrasi dalam menyelesaikan tugas akhir ku. Aku ingin mendapatkan nilai yang bagus!"
Hhh, Kevin menarik nafasnya panjang. Dia tidak boleh egois. ,"Oke baiklah, kita berhenti di sana saja. Di dekat minimarket itu tidak terlalu jauh dari kampus."
"Nggak apa-apa di sini saja, pak!"
"Tapi kalau dari sini ini masih terlalu jauh, Al. Nanti kamu capek!" bujuk Kevin.
"Kan sekaligus olahraga!" Alya beralasan.
"Dari parkiran ke kelas kamu juga kan jalan kaki, kan itu sudah termasuk olahraga."
"Tapi, pak. Aku mohon, aku enggak mau jadi pembicaraan teman-teman."
Kevin menarik nafasnya berat, "Turunlah!" tegas Kevin.
Alya lalu membuka pintu mobil. "Terima kasih pak, sudah mengantar aku!" ucap gadis itu lantas turun dari mobil. Dia berjalan terburu-buru dengan menutupi sedikit wajahnya supaya tidak ada yang mengenalinya.
Dari tempat Kevin memarkirkan mobilnya sampai ke kampus memakan waktu tidak sampai lima menit saja. Itulah sebabnya Alya mau berjalan kaki saja sampai kampus.
Sampai di di depan gerbang kampus, ada teman ke fakultasnya.
"Hai, tumben kamu jalan kaki biasanya kan diantar sama kakakmu yang dokter itu," ucap Wati.
"Oh iya. Tadi aku mampir sebentar ke minimarket!" ucap Aliya bohong.
"Alhamdulillah mas Andre baru saja menikah."
"Kamu sih telat!" ucap temannya yang satu lagi bernama Sisi.
"Alya selalu menolak kalau aku mau mampir ke rumahnya. Maklumlah kita orang susah tidak boleh bertamu ke rumah orang kaya!" ucapnya sinis.
"Aku nggak pernah berpikir seperti itu!" ucap Alya. "Kan sudah sering aku bilang kalau mas Andre itu kerja sambil kuliah jadi dia selalu pulang malam. Bahkan kami saja sebagai adik-adiknya jarang bertemu."
"Iya kan aku mampir ke rumahmu hari minggu."
"Tapi hari minggu itu waktu untuk berkumpul keluarga. Mas Andre saja enggak pernah mau keluar selain sama keluarga."
"Alasan saja kamu, Al!" ucapnya ketus.
Alya menarik nafas berat lantas segera berlalu dari sana.
"Aku ke kelas dulu, ya!" pamitnya.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Alya sedang berjalan ke arah gerbang sekolah. Dan sudah Alya duga kalau Kevin pasti akan menghampirinya.
Pintu mobil terbuka, "Al, naik!" titah Kevin.
Dengan menahan kesal, Alya pun naik ke mobil Kevin. Sebenarnya Alya sangat senang saat Kevin mengantar dan menjemputnya. Hanya saja dia tidak ingin menjadi bahan gosip makanya dia keberatan. Tapi Kevin sepertinya tidak mau mengerti.
"Kenapa wajahmu seperti itu, hmm?"
"Pak, tolong mengertilah. Aku nggak mau ada gosip. Apalagi kalau bapak memberiku nilai bagus, nanti teman-teman berpikir karena kita dekat bukan memang karena kemampuanku."
Kevin diam. Dia terus fokus menyetir. Saat sudah jauh dari kampus, dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Maaf, kalau keinginan saya membuat kamu susah. Ok, mulai besok, saya nggak akan antar jemput kamu lagi!" ucap Kevin pelan namun penuh penekanan.
__ADS_1
Alya menoleh. Dia memperhatikan raut kecewa di wajah dosennya itu.
"Pak, aku. . . Hhh, bukan maksudku seperti itu."
Alya tersenyum getir. Kenapa susah sekali membuat dosennya itu mengerti. Alya menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aku memang nggak pandai berbicara hingga sering membuat orang menjadi salah paham.
"Pak, aku-aku suka sama bapak. Tapi aku nggak bisa kalau terlalu sering bertemu bapak!"
"Kamu bilang apa barusan? Coba ulangi lagi!"
"A-aku nggak bisa terlalu sering bertemu sama pak Kevin!"
"Bukan yang itu, Al!"
"Hhmm, yang mana, pak?"
"Al? Kamu seneng banget berpura-pura bodoh, ya!"
"Hhmm, aku-aku suka sama pak Kevin!" ucap Alya lirih sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa, Al? Coba ulangi lagi!"
"Iiihh, seneng banget deh pura-pura nggak denger!" ucap Alya sebal.
Kevin langsung meraih tangan Alya lalu menggenggamnya erat.
"Jadi kamu mau menjadi wanita spesial saya, hmm?"
"A-aku nggak mau pacaran, pak!"
"Hhh, siapa yang ajak kamu pacaran, hmm?"
Alya mendongakkan kepalanya, "Jadi maksud pak Kevin?"
"Lebih dari pacar!"
"Haahh, apa?"
"Kamu lulus kuliah dulu!"
"Aku nggak mengerti!"
"Nanti juga kamu mengerti. Hhmm, makan siang sekarang, yuk. Mas sudah laper banget!"
Dahi Alya berkerut, "Mas?"
"Mas!"
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. 🙏
.
.
.
22
__ADS_1