Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 93


__ADS_3

Usia kandungan istriku sudah memasuki bulan ketujuh. Dia terlihat mulai sering sakit-sakitan. Sering mengeluhkan sakit kepala dan juga makin mudah lelah. Dia jadi lebih sering berbaring di tempat tidur saja.


Sebenarnya hari ini aku tidak ingin ke minimarket karena aku tidak tenang meninggalkannya di rumah tapi kalaupun aku bawa ke minimarket, kondisinya tidak memungkinkan.


Aku selalu memaksanya untuk mengobati penyakitnya karena aku makin khawatir melihat kondisi istriku itu. Tapi setiap kali aku mencoba untuk mengajaknya memeriksakan penyakitnya, dia pasti bilang kalau pusing yang dia rasakan itu karena kehamilannya, bukan karena penyakitnya.


"Aku nggak apa-apa, mas. Mungkin karena kehamilan pertamaku di usia yang sudah rawan jadi kondisiku lemah begini. Mas nggak perlu khawatir, ya!" Itu yang selalu dia ucapkan.


Dia hanya mau memeriksakan kandungannya saja. Alhamdulilah dokter mengatakan kalau kandungan istriku baik-baik saja dan si kembar juga dalam keadaan sehat-sehat saja di dalam sana.


Aku hari ini sibuk membuat laporan keuangan minimarket. Hari ini sudah memasuki akhir bulan dan aku harus menyelesaikan laporan bulanan hari ini juga. Dan aku juga harus menyiapkan uang gajian para karyawan.


Tapi pikiranku tetap saja merasa tidak tenang. Ya aku beberapa kali melakukan kesalahan perhitungan hingga aku pusing sendiri dibuatnya.


Setelah semua amplop yang berisi uang untuk gaji karyawan sudah aku simpan kembali di brankas, aku berniat berbaring sebentar untuk merilekskan tubuh.


Baru saja aku hendak memejamkan mataku tiba-tiba handphone-ku berdering. Andre. Ada apa Andre menelpon, tidak biasanya. Batinku


"Assalammu'alaikum."


"Apa, nak?"


"Baiklah ayah segera pulang!"


Aku mematikan sambungan telepon. Aku harus segera pulang. Ibuku menemukan istriku tengah terbaring di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri di dekat pintu kamar mandi.


Ya Allah, semoga istri dan calon kembarku baik-baik saja. Gegas aku keluar dari kantor lalu naik ke mobil. Aku melajukan mobil ke arah rumah.


Sampai di halaman, aku langsung berlari menuju kamarku yang ada di lantai atas. Sebenarnya aku sudah meminta istriku untuk tidur di lantai bawah saja karena kondisinya yang semakin lemah tapi dia tetap tidak mau.


Karena kamar di lantai satu hanya ada satu saja yang di tempati oleh ibuku dan juga Alya. Padahal aku juga sudah mengatakan kalau ibu akan tidur di kamar atas saja dan Alya pun sudah mulai bisa berjalan walau belum bisa berjalan normal seperti biasa.


Saat aku sampai di kamar, istriku masih terbaring di lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri. Tidak ada yang kuat untuk membawanya ke atas tempat tidurnya.


"Sejak kapan Santi pingsan, bu?" tanyaku pada ibu.


"Ibu tidak tahu, nak. Ibu tadi manggil dia karena ibu membawakan makanan untuk dia tapi dia tidak menyahut. Akhirnya ibu buka pintu kamar kamu dan ternyata istri kamu sudah terbaring tak sadarkan diri di sini!" jelas ibu dengan wajah khawatir.


Kedua anakku juga terlihat khawatir bahkan putriku Alya sampai menangis melihat Bundanya seperti itu.


Aku gegas menggendong istriku dan membawanya ke mobil. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Ibu dan kedua anakku juga ikut dan ibu yang akan menjaga istriku di kursi belakang.

__ADS_1


"Bunda kenapa, yah?" tanya putriku sambil menangis.


"Doakan bunda baik-baik saja ya, nak!" sahutku.


Aku melajukan mobil menuju ke rumah sakit yang biasa didatangi istriku untuk periksa kandungannya. Karena dokter kandungan mengatakan jika istriku akan melahirkan secara caesar. Karena istriku tidak akan mampu melahirkan secara normal dengan kondisi kesehatan dan juga kondisi bayinya yang kembar.


Sampai di rumah sakit, aku langsung membawa istriku ke IGD. IGD saat itu tidak terlalu banyak pasien jadi istriku bisa segera ditangani.


"Tolong istri saya, sus!" teriakku sembari menggendong tubuh lemah istriku.


"Baringkan di brangkar ya, pak!" titah suster.


Aku lalu membaringkan istriku di atas brangkar. Setelah itu aku di minta untuk menunggu di luar.


Kami semua menunggu di ruang tunggu. Jantungku berdetak sangat kuat hingga dadaku terasa penuh sesak. Belum lagi kepalaku yang tiba-tiba berdenyut hebat dan juga tubuhku yang mendadak jadi lemas. Aku benar-benar merasa ketakutan. Entah perasaan takut akan apa. . .


Sepuluh menit menunggu.


"Keluarga pasien ibu hamil yang baru datang mana, ya?" tanya suster.


Kami semua menoleh. Aku gegas menghampiri suster.


"Bapak urus administrasinya sekarang karena dokter akan melakukan tindakan operasi pada pasien."


"Istri saya mau di operasi, sus?" tanyaku kaget.


"Iya, pak. Dokter akan melakukan operasi caecar pada pasien untuk menyelamatkan nyawa bayinya."


"Apa, sus?"


"Bapak silahkan ke bagian administrasi dulu, ya. Kita harus secepatnya menolong pasien!" desak suster.


Tanpa pikir panjang, aku gegas ke bagian adiministrasi. Setelah itu aku kembali lagi ke ruang tunggu di depan IGD.


Tak lama kemudian dokter memanggilku dan memberitakukan jika setelah melakukan pemeriksaan, kondisi istriku sangat lemah dan itu bahaya untuk kedua janin yang ada dalam kandungannya. Ternyata kanker otak istriku kembali ke stadium tiga. Dan istriku satu jam lagi akan di operasi.


Aku hanya mengangguk pasrah mendengar semua penjelasan dari dokter.


Istriku lalu di pindahkan ke ruang OK. Dia masih terpejam dengan wajah putih pucatnya. Aahh, andai saja aku bisa memaksanya untuk memeriksakan penyakitnya, mungkin tidak akan jadi separah ini. Penyesalan yang tidak ada gunanya.


Kami mengikuti sampai ke ruang OK. Kami menunggu di ruang tunggu yang terdapat banyak kursi panjang yang ada di sana. Tidak ada satupun di antara kami yang berniat untuk memulai berbicara. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

__ADS_1


Putriku memeluk neneknya sambil berurai air mata sementara putraku seperti orang bingung menatap kosong. Aku hanya bisa berdoa dalam hati semoga istri dan bayi kembarku diberikan keselamatan, kesehatan dan umur yang panjang.


Pikiranku gusar. Aku sungguh takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada mereka. Santi adalah sosok istri idaman. Dia tidak pernah menyakiti hatiku. Dia selalu berusaha menyenangkanku. Aku layaknya seorang raja baginya. Memilikinya sebagai istri adalah anugerah terindah yang hadir dalam hidupku. Entah bagaimana jadinya hidupku tanpa sosok lembut itu.


"Nak!" panggil ibuku.


Aku yang duduk di sebelahnya hanya menoleh saja.


"Ke masjid. Sholat dan berdoalah untuk istri dan bayi kembar kalian. Tidak ada gunanya bersedih di sini!" titah ibuku.


Aku mengusap wajahku kasar. Aku sampai lupa kalau aku belum sholat ashar. Aku lalu pamit pada ibu untuk mencari masjid yang ada di rumah sakit ini.


Setelah bertanya pada satpam, aku gegas ke masjid yang ada di samping rumah sakit. Masjid yang tidak terlalu besar. Masih ada beberapa orang yang sedang khusuk sholat.


Aku selesai mengambil wudhu lalu mulai menunaikan kewajibanku. Lama aku berdoa, memohon sangat untuk kesembuhan istri dan kedua buah hatiku.


Aku melangkahkan kaki dengan tidak bersemangat ke ruang OK. Dua kali aku harus merasakan perasaan seperti ini. Dua kali aku harus duduk menunggu di depan ruang di mana orang yang aku sayang sedang berjuang di meja operasi. Berpasrah pada sang pemilik kehidupan.


Satu jam berlalu. Aku semakin gelisah. Aku ingin ikut masuk ke dalam tapi aku tadi tidak terpikir untuk menemani istriku daripada aku gelisah menunggu di sini. Rasanya menunggu di sini begitu lama. Hhhh. . .


.


.


.


.


.


.


Maaf jika ada typo 😊🙏


.


.


.


16

__ADS_1


__ADS_2