Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 158


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Andre seperti biasa sibuk di IGD. Antrian pasien cukup banyak. Menjelang siang, barulah pasien tinggal sedikit.


Saatnya giliran Andre beristirahat.


"Aku istirahat dulu, ya!" pamit Andre pada rekan kerjanya.


"Iya. Kamu nggak mau jenguk si Darren?"


"Iya, mungkin nanti saja."


"Tadi pagi saat aku visit, ada ibunya."


"Oh, ya? Alhamdulillah kalau sudah ada keluarganya!" ucap Andre.


"Mereka maksa mau pulang hari ini!"


"Iya, kemarin dia juga maksa pulang. Benar-benar memaksa. Padahal sudah aku jelaskan tentang kondisinya."


"Hhhmm, sepertinya itu karena mereka memikirkan biaya rumah sakit!" jelas dokter Ferry.


"Hhmm, kalau memang mereka tidak mampu bayar, aku yang akan menanggungnya!"


"Kamu memang dokter berhati mulia, dokter Andre!"


"Ahh, biasa saja. Aku hanya membantu semampuku saja. Kalau biayanya sampai puluhan juta, aku juga nggak akan mampu!"


"Hhhmm, aku rasa nggak sampai puluhan juta."


"Iya, makanya aku bisa bantu!"


Tiba-tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan masuk.


"Handphone kamu bunyi tuh!"


"Iya, aku lihat dulu!" ucap Andre.


[ Mas, makan siang di mana?]


Andre menyunggingkan senyumnya.


[ Mas makan di restoran dekat sini. Nggak apa-apa kan sayang, mas nggak pulang siang ini? ]


[ Iya, mas. Nggak apa-apa ]


[ Ya sudah mas mau cari makan dulu. Kamu juga makan, ya. Yang banyak! ]


[ Iya, mas.]


[ Dah, sayang! ]


[ Dah, mas! ]


Andre menyimpan lagi handphonenya di saku celana.


Andre lalu pergi ke restoran langganannya. Iya lalu memesan menu makanan seperti biasanya.


Setengah jam kemudian dia sudah kembali lagi ke rumah sakit dengan membawa sebungkus makanan yang dibeli dari restoran untuk Darren.


Dengan langkah cepat, Andre menuju ruang ranap Darren yang baru karena Darren sudah tidak lagi di rawat di ruang observasi.


Andre lantas mengetuk pintu.


Tok tok tok tok.


Tanpa menunggu Andre langsung membuka pintu.


"Assalammu'aikum!" ucap Andre.


"Wa'alaikumsalam!" sahut Darren yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Bagaimana keadaan kamu hari ini?" tanya Andre hangat seraya menaruh makanan ke atas nakas.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku makin baik, dok. Hhmm, a-apa aku boleh pulang besok?" tanya Darren hati-hati takut Andre marah.


"Hhhmm, dokter yang menangani kamu bilang apa?"


"Besok lusa aku baru boleh pulang," jawab Darren lirih.


"Ya sudah, jadi besok lusa kamu baru boleh pulang!"


"Hhmm,"


Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Seorang wanita masuk sembari membawa kantong plastik di tangannya.


"Nak, ibu hanya ada uang lima ratus ribu. Masih kurang dua juta lagi untuk biaya rumah sakit kamu!" ucap seorang wanita yang berusia lebih empat puluh tahun itu.


Darren dan juga Andre reflek menoleh.


"Dokter, ini mama aku," ucap Darren dengan senyum menyungging di bibirnya.


Mata Andre membulat sempurna, "I-ibu?"


Wanita yang ternyata Lisa itu menoleh, "Ka-kamu? Kamu siapa? Kenapa panggil saya 'ibu'?"


"Dokter kenal sama mamaku?"


Andre hanya menatap wanita itu dan Darren secara bergantian.


Jadi Darren adalah adikku? Hhmm, bayi yang dulu pernah di bawa ibu ke rumah nenek itu si Darren. Pantas kok aku merasa dekat dengannya. Batin Andre.


"Assalammu'alaikum," Annisa masuk bersama Alina dan ayahnya.


"Mas Anto?" Lisa kaget.


"Kamu!" Anto pun tak kalah kaget.


"Jadi pak Anto sama mama sudah saling kenal?" tanya Darren bingung.


"Permisi!" pamit Andre lantas segera keluar dari ruang ranap Darren tanpa bicara apa pun lagi.


"Mas Andre!" panggil Alina.


Anto pun menyusul Andre keluar dari ruang ranap Darren.


"Ayah!" panggil Alina setengah berteriak. Dia pun menyusul ayahnya keluar dari ruang ranap Darren.


"Loh, Aline!" panggil Annisa.


Annisa bingung. Dia menoleh ke arah Darren dan juga Lisa. Sedetik kemudian, Annisa menyusul keluar.


"Mama? Mama kenal pak Anto?" tanya Darren kaget.


"Hhmm, i-iya, nak!"


"Lalu dokter Andre?"


"Dokter Andre?"


"Iya, ma. Kenapa dokter Andre tadi manggil mama, ibu?"


"Hhmm, ceritanya panjang, nak!" jawab Lisa yang terlihat salah tingkah.


Jadi dokter tadi, Andre. Hhh, anakku jadi dokter. Mas Anto benar-benar berhasil mendidik dan mengurus anak-anakku dengan baik tidak sepertiku. Batin Lisa.


"Tapi kenapa pak Anto dan mama kaget tadi pas ketemu? Ada apa ini, ma? Kalian saling kenal?"


"Hhh, sudahlah sayang. Nanti saja mama cerita. Sekarang bagaimana kita bisa bayar rumah sakit ini, nak?"


"Pinjam sama papa nggak bisa, ma? Aku akan bekerja keras untuk membayarnya!"


"Papa kamu justru nggak ijinkan kamu kerja, nak!"


"Lalu bagaimana, ma? Apa-apa nggak mau. Buang saja aku ke jalanan!" Darren terlihat frustasi.

__ADS_1


"Kamu jangan bicara seperti itu, nak. Besok mama akan pinjam sama bu Ana. Satu minggu lagi mama akan terima gaji darinya."


"Gaji mama kan cuma 1 juta di dua rumah. Itu hanya cukup untuk kita makan."


"Hhhh," Lisa hanya bisa menghela nafas berat.


Tiba-tiba Darren turun dari ranjang.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau pinjam uang sama pak Anto. Semoga beliau mau meminjamkan!"


"Eehh, jangan, nak. Malu!" Lisa berusaha menahan Darren supaya tidak keluar. Dia memegangi tangan Darren kuat.


"Kenapa malu, ma? Pasti mama kenal kan sama pak Anto?"


"I-iya, nak. Mama hanya kenal saja!"


"Kenal saja? Dokter Andre manggil mama 'ibu'!"


"Hhmm, mungkin dia salah orang!"


"Ma, aku nggak bodoh! Aku akan bertanya langsung sama mereka!" Darren terus berusaha melepaskan pegangan tangan mamanya.


"Darren mama mohon! Kembalilah ke tempat tidur kamu!"


"Nggak! Lepasin aku, ma!" Karena kondisi Darren yang masih lemah, dia kalah kuat dari mamanya.


Darren lalu jatuh terduduk.


"Kenapa, ma?"


"Mama mohon. Pikirkan kesehatan kamu saja, nak!"


"Aku bukan hanya badan yang sakit, tapi jiwaku juga, ma! Aku hidup dengan papa kandung yang seperti papa tiri yang bahkan lebih jahat dari papa tiri yang sebenarnya!"


"Jangan bicara seperti itu, nak!" Lisa mulai berkaca-kaca.


"Pasti ada sesuatu antara dokter Andre sama mama. Jangan-jangan dokter Andre itu anak mama. Iya kan, ma?"


Lisa tidak bisa menahan tangisnya. Dia jadi ingat masa lalunya dulu. Betapa egoisnya dia dulu. Dan akhirnya, yang benar akan menang dan yang salah pasti akan kalah.


"Andre. . ." Lisa mengusap air matanya.


"Andre? Mama panggil dokter Andre hanya dengan nama?"


"Andre adalah kakak kamu!" ucap Lisa. Tangisnya pun pecah.


"Kakak? Maksud mama, dokter Andre itu kakakku? Kakak kandungku? Lalu pak Anto?"


"Mas Anto. Dia mantan suami mama!"


"A-apa, ma? Mantan suami?"


Lisa mengangguk lemah.


"Jangan bilang kalau Annisa juga anak mama! Nggak-nggak!" Darren menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia juga tidak bisa menahan tangisnya yang dari tadi dia coba untuk tahan.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. 😊🙏


.


.

__ADS_1


.


18


__ADS_2