Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 185


__ADS_3

Karena Kevin yang terus mendesaknya, Alya akhirnya mau juga ikut Kevin ke rumah Darren tapi dia hanya akan menunggu di mobil saja.


Annisa dengan wajah semringah naik ke mobil. Penampilannya juga tidak seperti biasa. Gadis itu benar-benar terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Dia terlihat sangat cantik dengan mengenakan pakaian terbaiknya. Tak lupa dia membawakan oleh-oleh untuk Darren.


"Hati-hati, ya. Jangan pulang malam!" titah Anto.


"Iya, yah. Kita nggak akan lama," sahut Alya. Aku juga nggak mau berlama-lama di sana. Batin Alya.


"Denger ya, dek. Ayah bilang jangan lama-lama!" ucap Alya sembari menoleh ke kursi belakang.


"Ayah bilang kan jangan pulang malam bukan jangan lama-lama, mbak."


"Nis, mbak nggak jadi ikut, deh," ucap Alya kesal lantas hendak turun dari mobil.


"Mbak Alya, iiihh. Iya-iya, kita nggak akan lama!" sahut Annisa tidak kalah kesal.


"Sudah kok malah ribut, kita pergi sekarang, ya?" tanya Kevin.


"Iya, kak!" sahut Annisa cepat.


Kevin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Alya. Tak ada yang berbicara, mereka sibuk masing-masing. Annisa terlihat sangat bersemangat. Sedangkan Alya terlihat sekali kalau terpaksa. Dia terus menatap keluar jendela dengan wajah di tekuk.


Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Kevin.


"Yakin mau tunggu di sini, hmm?" tanya Kevin pada Alya.


Alya menoleh sekilas lalu menganggukkan kepalanya.


"Hhh, baiklah. Yok, Nis!" ajak Kevin yang langsung turun dari mobil.


Annisa pun gegas turun mengukuti Kevin, "Mbak, aku tinggal sebentar, ya," pamit Annisa.


"Iya," jawab Alya.


Kevin melangkah perlahan di ikuti Annisa di sampingnya. Annisa tidak banyak bertanya.


Dari depan gang, sudah terlihat rumah Darren.Tapi rumah itu terlihat sepi begitupun rumah di sekelilingnya. Mungkin karena saat ini hari sedang terik-teriknya jadi banyak yang memilih berdiam diri saja di rumah.


Kevin berhenti di depan rumah Darren.


"Hhmm, kak Kevin. Ini ya rumah kak Darren?" tanya Annisa.


"Iya," jawab Kevin.


Tok tok. Kevin mengetuk pintu rumah Darren.


"Assalammu'alaikum," ucap Kevin.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang laki-laki seusia Anto yang membukakan pintu.


"Cari siapa?" tanyanya ketus dengan wajah tidak ramah sama sekali. Annisa langsung berdiri di belakang Kevin.


Kevin menelan salivanya dengan susah, "Hhmm, saya cari Darren, om," jawab Kevin.


"Darren? Ada perlu apa cari dia?"


"Hhmm, saya ada perlu sama Darren, om."


"Iya, ada perlu apa?"


"Hmm, mau jenguk Darren."


David menatap Kevin dari ujung kaki sampai ujug rambut, "Kamu temannya Darren? Sepertinya tidak seusia dengan anak saya."


Ooh, jadi ini ayahnya Darren. Galak juga. Batin Kevin.


Ayah kak Darren gitu amat, ya. Serem, iih. Batin Annisa.


"Ah, iya om. Saya kenalannya putra om."


"Kak Kevin?" Darren sudah berdiri di belakang papanya. Ada Annisa juga. Batin Darren.


I-itu kak Darren. Matanya dan bibirnya memar semua. Annisa melirik ke arah Darren namun tetap berada di belakang Kevin.


"Kevin, siapa?" tanya David melirik tajam ke arah putranya.


"Hhmm, saya dosen di tempat putra bapak ingin mendaftar kuliah," jelas Kevin akhirnya.


"Kamu dosen?" dahi David berkerut.


"Hmm, iya, yah. Beliau ini dosen."


"Dosen? Kenapa tadi kamu memanggilnya kak bukan pak?"


Kevin menggaruk-garuk kepalanya sedangkan Darren jadi salah tingkah. Pun Annisa tetap berdiri di belakang Kevin dengan sesekali mengintip.

__ADS_1


"Hhmm, aku. . ." Darren bingung harus menjelaskan apa.


"Kamu jangan berusaha menipu saya, ya!" ucap David dengan nada tinggi.


Kevin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Dia lalu mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu yang menunjukkan identitasnya sebagai seorang dosen.


"Ini, om. Kartu dosen milik saya," ucap Kevin.


David menerimanya lalu membaca apa yang tertulis di sana, sesekali dia melirik ke arah Kevin mungkin ingin memastikan wajah yang ada di foto dengan wajah yang ada di depannya. Setelah merasa yakin, kartu itu dia kembalikan kepada Kevin.


"Hhmm, lalu gadis itu siapa? Dari tadi ngintip-ngintip terus!" tanya David dengan wajah tidak sukanya ke arah Annisa.


Annisa yang kaget reflek menoleh lalu berdiri di samping Kevin.


"Oh, dia ini adik saya," jawab Kevin.


"Adik?" wajah David sepertinya kurang percaya tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Silahkan masuk. Eh, duduk di teras saja!" titahnya lalu masuk ke rumahnya setelah sebelumnya melirik ke arah putranya.


"Darren, bagaimana kabar kamu?" tanya Kevin sembari berjalan hendak duduk di teras tapi Darren diam saja.


"Eeehhh! Ada saya loh di sini!" ucap Kevin kesal karena pertanyaannya tidak di jawab oleh Darren karena ternyata Darren dan Annisa sedang pandang-pandangan.


"Ehhm, kak," sahut Darren malu.


Annisa pun wajahnya sudah memerah.


"Kalian ini, baru juga beberapa menit, saya sudah di cuekin."


"Hhmm, maaf, kak," jawab Darren.


"Bagaimana luka kamu?" tanya Kevin lagi sembari duduk di kursi yang ada di teras.


"Alhamdulillah, sudah mendingan, kak."


"Kalau masih sakit, ikut kakak ke rumah sakit."


"Terimakasih, kak. Tapi nggak perlu," tolak Darren.


"Oh, iya kan sudah di jenguk seseorang ya jadi pasti cepat sembuhnya."


"Hmm,"


Annisa pura-pura memainkan handphonenya.


"Hhmm, aku mau kuliah di dekat sini saja, kak. Ada yang untuk diploma satu."


"Kuliah di tempat saya saja. Nanti saya yang urus segala sesuatunya. Kamu bisa mendapatkan beasiswa."


"Beasiswa? Kakak serius?" tanya Darren kaget.


Kevin mengangguk. Beasiswa dari saya. Toh kamu juga masih ada hubungan sodara sama Alya. Dan tentunya sebagai ucapan terimakasih karena sudah melindungi kehormatan Alya. Batin Kevin.


"Wah, selamat ya kak," ucap Annisa.


"Tapi kak Kevin yakin aku pasti dapat beasiswa?"


"Hhmm,"


"Tapi nilai-nilai saya pas-pasan, kak," ucap Darren.


"Sini kakak lihat!" pinta Kevin.


"Hhmm, sebentar aku ambilkan," jawab Darren lantas masuk ke rumahnya.


"Nis, kenapa senyum-senyum sendiri, hmm?"


Annisa gelagapan, "Ng-nggak apa-apa, kak," jawabnya gugup lantas pura-pura memainkan handphonenya lagi.


Tak lama kemudian, Darren keluar dengan membawa map lalu mengulurkannya pada Kevin.


"Ini, kak. Nilaiku nggak bagus. Apa mungkin nisa dapet beasiswa?"


"Hhmm, saya lihat dulu!" ucap Kevin lalu mengeluarkan isi map lantas membacanya.


"Hhmm, lumayan, kok. Kamu yakin mau ambil komputer?"


"Iya kak, yakin!" jawab Darren.


"Ya sudah kalau gitu."


"Bisa ya kak Darren dapet beasiswa?" tanya Annisa.


"In Sya Allah!" jawab Kevin.

__ADS_1


"Semoga saja ya kak Darren bisa kuliah di sana dengan beasiswa," ucap Annisa.


"Aamiin," sahut Darren.


"Gimana, kamu nggak perlu ke rumah sakit?" tanya Kevin.


"Sepertinya nggak perlu, kak!" jawab Darren.


"Hmm, kalau gitu kita pulang saja ya, Nis!" ajak Kevin.


"Pulang?" tanya Annisa dan Darren hampir bersamaan.


"Lah, kenapa?"


"Hhmm, nggak apa-apa, kak," jawab Darren.


Annisa memasang wajah kecewanya.


"Nggak ada keperluan lain lagi, kan. Darren juga sudah mendingan nggak mau di bawa ke rumah sakit,"


"Hhmm, iya kak."


"Ya sudah, kita pulang dulu. Oh iya, ini handphone buat kamu. Sudah ada nama saya di sana," ucap Kevin seraya mengulurkan sebuah handphone ke tangan Darren.


"I-ini buat saya, kak?" tanya Darren kaget.


"Iya, kakak sudah nggak pake lagi!"


"Kakak baik banget," ucap Darren terharu.


"Biasa saja. Yok, Nis. Kita pulang!"


"Hhmm, iya kak," jawab Annisa lirih.


"Kasihan mbak kamu terlalu lama menunggu di mobil,"


"Oh, iya."


"Loh, siapa yang menunggu di mobil?" tanya Darren kaget.


"Mbak Alya," jawab Annisa.


"Hhmm, kak Alya nggak mau ke sini, ya," ucap Darren lirih.


"Dia sedang malas saja. Kapan-kapan saya akan ajak ke sini," ucap Kevin.


"Hhmm, kak Kevin terimakasih banyak, ya."


"Sama-sama. Nanti kakak hubungi kamu."


"Iya, kak."


"Mana ayah kamu, kita mau pamitan?" tanya Kevin.


"Nanti biar aku yang pamitkan, kak!"


"Oh, ya sudah. Kita pulang dulu."


"Kak Darren, kita pulang dulu, ya. Kakak cepat. sembuh. Oh iya sampai lupa, ini aku bawain makanan untuk kakak," pamit Annisa seraya mengulurkan paper bag ke tangan Darren.


"Hhmm, terimakasih banyak, Nis."


"Iya kak, sama-sama," sahut Annisa.


.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. 🙏


.


.


.


.

__ADS_1


13


__ADS_2