
Setelah berhasil menenangkan istrinya, Andre lalu memberi kabar tentang kondisi istrinya pada keluarganya dan juga keluarga istrinya. Saat ini, sudah ada bundanya di rumah sakit. Sedangkan ayahnya masih harus menjemput si kembar di sekolah.
Tak lama kemudian, orangtua Kanaya pun datang.
"Kenapa bisa sampai keguguran? Menjaga bayi yang masih dalam perut saja nggak bisa?" tanya papi Kanaya dengan wajah kesal.
"Sudah pi, jangan marah-marah. Kasihan Kanaya. Dia masih sedih."
"Lagipula kenapa harus menyusul suami kerja? Naik angkutan umum lagi!"
"Taxi, pi!" sanggah mami.
"Hahh, sama saja. Percuma punya suami yang bermobil kalau masih naik taxi. Sendirian! Nggak ada guna!" ucapnya sinis.
Andre hanya diam mendengarkan ocehan papi mertuanya itu. Untung saja bundanya sedang di kamar mandi. Semoga saja bunda nggak mendengar ucapan papi. Batin Andre.
Tak lama kemudian papi Kanaya keluar dengan membanting pintu.
"Maafkan papi kalian, ya!" ucap mami Kanaya lembut.
Kanaya hanya diam saja dalam pelukan mamanya. Tak lama kemudian Santi keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba handphone Andre berdering. Ayah.
"Assalammu'alaikum, yah!"
"Baiklah, aku jemput di parkiran!"
Andre lalu memutuskan sambungan telponnya.
"Aku mau jemput ayah di parkiran!" pamit Andre lalu keluar dari ruang ranap Kanaya.
Saat Andre melangkahkan kakinya ke lift, dia mendengar suara yang sangat dia kenal tak jauh dari lift. Andre pun mendekat, bersembunyi di balik dinding.
["Hahaaa, kamu memang bisa om andalkan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!" ]
["Om yakin tidak lama lagi rencana om untuk memisahkan Kanaya dan suaminya akan berhasil!"]
Dahi Andre berkerut. Bicara sama siapa ya, papi. Kenapa menyebut nama Kanaya dan juga aku. Batin Andre curiga. Dia lantas mengambil handphonenya.
["Kamu sudah membuat Kanaya dan suaminya bertengkar hebat dan suaminya pasti menuduh Kanaya ada apa-apa denganmu. Suaminya itu tidak memaafkan pengkhianat. Dia pasti akan menceraikan Kanaya. Dan berita baik lainnya adalah Kanaya keguguran."]
["Hahahaa. Kamu tenang saja. Om yakin mereka akan bercerai dan kamu bisa menikahi putri om!"]
]"Tentu saja. Kamu tidak usah khawatir. Sabar. Ok!"]
["Ok. Sudah dulu. Om masih di rumah sakit."]
Andre mengepalkan tangannya. Dia menatap mertuanya itu dengan tatapan nyalang.
Saat mertuanya selesai menelepon, Andre buru-buru bersembunyi. Setelah mertuanya itu kembali lagi ke kamar ranap Kanaya, Andre masuk ke dalam lift.
"Aku akan bawa istriku pergi darimu, papi mertua!" gumam Andre dengan rahang mengeras.
Andre lalu menjemput ayah dan adiknya di parkiran mobil.
"Mas Andre!" panggil Alina lantas memeluk kakaknya itu.
"Mas Andre, sabar, ya. Pasti mbak Kanaya bisa hamil lagi!"
__ADS_1
"Iya. Aamiin!" sahut Andre seraya mengacak-acak rambut Alina gemas.
"Dre, sabar ya, nak!" ucap Anto.
"Hhmm, iya, yah!"
Mereka lalu naik ke lift menuju kamar ranap Kanaya.
Sampai di kamar, ternyata istrinya sedang menangis dalam pelukan maminya sementara bundanya hanya duduk diam menatap Andre seoalah ada yang ingin dia bicarakan.
"Pak Anto, bagaimana nasib putri saya ini."
"Mungkin sudah takdirnya, pak. Semoga mereka segera di berikan lagi amanah."
"Sudah jelas, putra anda tidak bisa menjaga putri saya dengan baik!" ucap papi Kanaya sinis.
"Tapi saat kejadian kan putra saya sedang bekerja dan tidak tahu kalau istrinya datang!" jelas Anto.
"Hhmm, sepertinya mereka sedang bertengkar. Saya tahu dari asisten rumah tangga saya. Itu sebabnya putri saya ini sampai nekat menyusul suaminya yang tidak mempedulikannya."
"Annisa dan Alina ikut bunda, yuk!" ajak Santi lalu buru-buru menggandeng kedua putrinya keluar dari ruang ranap Kanaya.
"Papi, ini semua kecelakaan, pi!" ucap mami Kanaya.
"Itu artinya suaminya tidak bisa menjaga putri kita dengan baik, mi!"
"Aku yang salah, pi," ucap Kanaya lirih.
"Kamu itu sudah susah masih saja belain suami kamu!" papi Kanaya masih saja emosi.
"Pi. Jangan bicara seperti itu. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri," ucap mami Kanaya bijak.
Andre tersenyum tipis, "Tapi istri saya tidak berkhianat, papi!" tegas Andre.
"Kamu sudah lihat sendiri kan, di rumah saya!"
"Menuduh itu perbuatan yang sangat kejam. Saya tidak mungkin menuduh istri saya seperti itu!" tegas Andre lagi.
"Aku nggak berkhianat, mas. Percaya sama aku. Aku mohon," ucap Kanaya lirih.
"Kanaya! Papi tidak pernah mengajari kamu mengemis!"
"Papi? Kenapa papi bicara seperti itu? Putri kita hanya ingin menjelaskan kebenarannya. Kita tidak boleh menuduh yang tidak-tidak, pi!" ucap mami Kanaya.
"Kalau memang kamu percaya sama putri saya, kenapa kamu meninggalkannya begitu saja sampai dia harus kehilangan calon bayinya?"
"Saya memang sempat salah paham, tapi saya tidak tahu kalau Kanaya menyusul ke rumah sakit. Saya janji akan memperbaiki hubungan kami!" jelas Andre.
"Tidak bisa. Kamu sudah membuat putri saya menderita! Saya tidak terima!"
Anto menarik nafasnya berat, "Sebaiknya, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa campur tangan kita. Ini hanyalah kesalahpahaman," ucap Anto.
"Anda bisa berkata seperti itu karena Kanaya bukan putri anda. Lihat putri saya itu, dia kesakitan. Dia hampir saja kehilangan nyawanya! Karena putra anda tidak bisa menjaganya dengan baik!"
"Saya minta maaf atas kecerobohan putra saya, pak!" ucap Anto.
"Huhh!"
__ADS_1
"Aku ingin bicara sama mas Andre berdua saja!" pinta Kanaya tiba-tiba."
"Baiklah, sayang!" sahut mami Kanaya.
"Kamu usir papi?" tanya papi Kanaya kaget.
"Aku ingin bicara berdua saja sama suami aku, pi!"
"Baiklah, ayah tunggu di luar ya, nak. Sabar!" pamit Anto seraya menepuk bahu putranya.
Dengan kesal, papi Kanaya pun meninggalkan Andre dan Kanaya berdua saja.
Andre berjalan mendekati istrinya.
"Mas,"
Andre langsung memeluk istrinya yang masih terisak. Kemudian menghujani wajah istrinya itu dengan ciuaman.
"Maafin mas. Maafin mas!"
"Aku yang minta maaf, mas. Aku nggak mengkhianati mas. Sungguh. Aku cinta banget sama mas!"
"Mas percaya, sayang!"
"Sungguh, mas?"
"Hhmm, mas percaya sama kamu. Maafin mas, ya. Karena emosi, kita harus kehilangan calon bayi kita. Maafin mas, sayang!"
Mereka kembali berpelukan.
Hhh, papi makin berbahaya. Aku harus lebih hati-hati lagi. Dan Kanaya lebih baik tinggal di rumah bunda saja yang jauh lebih aman.
"Sayang, setelah ini kita tinggal di rumah bunda saja, ya. Kamu mau, kan?"
Kanaya mengangguk, "Iya, mas. Aku nurut saja sama mas."
"Kamu tahu kan di rumah papi, siapapun bebas masuk. Dan bisa sewaktu-waktu menggoda kamu. Mas nggak ingin kejadian tadi terulang!"
"Hhmm, iya, mas. Aku juga nggak mau!" sahut Kanaya. Dia kembali terisak, "Aku sudah kehilangan calon anakku!"
"Hhmm, semoga Allah kembali mempercayakan seorang anak untuk kita, ya!"
"Aamiin!"
"Ya sudah kamu jangan sedih lagi. Mas akan selalu ada untuk kamu!"
"Hhmm. . ."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
22,3