
Aku pergi ke bagian pendaftaran untuk mengurus perpindahan kamar. Setelah selesai mengurus perpindahan kamar, aku langsung keluar mencari restoran terdekat untuk mengisi perutku setelah itu aku pergi ke masjid untuk sholat dhuhur.
Pulang dari masjid, aku lalu membeli minuman dan cemilan untuk istriku dan juga untuk putraku Andre. Setelah itu aku gegas kembali di kamar ranap Alya. Sampai di sana ternyata ada dua orang suster yang sedang mengurus kepindahan kamar putriku.
Kami lalu mengikuti suster yang membawa putriku ke kamar ranap yang aku pesan. Sampai di sana, Alya segera dipindahkan ke tempat tidur. Putriku itu masih saja belum sadarkan diri.
"Sus, kenapa putri saya belum sadar juga, ya?" tanyaku khawatir.
"Mungkin pengaruh obat biusnya, pak. Tunggu saja!" jelas suster.
"Baiklah, sus," ucapku.
Suster lalu keluar dari kamar ranap Alya. Kamar yang aku pesan ada satu tempat tidur tambahan untuk orang yang menunggui. Di sana juga ada meja dan juga sofa. Ada kulkas kecil di sudut ruangan serta televisi. Kamar mandinya pun cukup bagus. Ruangannya persis seperti kamar Hotel.
Aku lalu duduk di dekat istriku yang sedang berbaring di tempat tidur di sebelah tempat tidur Alya. Sementara putraku berbaring di sofa.
"Gimana yank, kamu suka kamarnya?" tanyaku.
"Iya, mas. Aku suka. Kamarnya nyaman."
"Alhamdulillah kalau kamu suka, yank. Tapi harganya mahal!" ucapku.
"Nggak apa-apa, mas. Uang bisa dicari karena kenyamanan itu penting!" sahutnya.
"Hhmm, iya yank!"
"Oh iya, mas sudah kabarin ibu sama Aminah belum?" tanya istriku.
"Ya Allah, mas sampai lupa. Mas mau hubungin Aminah dulu kalau gitu, yank."
Aku segera menghubungi nomor kontak adikku berkali-kali. Ternyata tidak juga diangkat, mungkin dia sedang sibuk. Aku lalu mengirimkan pesan singkat saja.
"Gimana mas?" tanya istriku.
"Aminah enggak angkat telepon mas. Mungkin dia sedang sibuk tapi mas sudah kirimkan pesan, kok!" jawabku.
"Oh ya sudah kalau gitu, mas," sahut istriku.
"Kamu tidur lah yank, nanti kalau Alya sudah sadar, mas bangunin biar masnya saja yang jaga sekarang," ucapku.
"Iya, mas!" sahut istriku yang memang sudah terlihat letih dan mengantuk.
Aku lalu duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur putriku. Aku usap lembut pucuk kepalanya penuh kasih sayang. Aku lalu membisikkan doa-doa di telinganya juga beberapa surah AlQuran. Semoga dia mendengar dan segera sadar.
Satu jam kemudian aku lihat tangan putriku bergerak. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu merintih kesakitan.
"Uuhhgg! Yaah, , , "
"Sayang? Apa yang sakit, nak?" tanyaku cemas. Dadaku rasanya sesak. Andai aku bisa menggantikan sakitnya.
Matanya mulai terbuka lebar, "Ayah, ," ucapnya lirih.
"Iya, nak. Ayah di sini!" sahutku seraya mencium dahinya lembut.
Putriku mulai terisak, "Ibu,"
__ADS_1
"Ibu? Kenapa ibu, nak?"
"Aku benci ibu,yah,"
Aku menggelengkan kepala, "Sayang, nggak boleh benci sama ibu, nak!" tegasku.
"Ibu pembohong. Ibu nggak sayang sama aku!" ucapnya sedih.
"Nggak, nak. Itu nggak bener! Ibu sayang sama Alya!" ucapku.
Aku tidak ingin kedua anakku membenci ibunya. Andre sudah kelihatan mulai membenci ibunya dan aku tidak ingin Alya juga seperti kakaknya. Tapi kejadian yang harus di alami oleh putriku itu tidak menutup kemungkinan gadis kecilku itu ikut membenci ibu kandungnya juga.
Putriku makin terisak hingga istri dan putraku terbangun karena kaget.
"Alya," ucap istriku lalu turun dari tempat tidur.
Andre gegas mendekati adiknya, "Adek Alya kenapa? Mana yang sakit?" tanyanya cemas.
"Kaki aku kenapa? Susah di gerakin," ucapnya lirih sambil terisak.
"Adek kan tadi kecelakaan," jelas Andre.
"Suami ibu. Suami ibu jahat, mas!"
"Adek di apain sama suaminya ibu?" tanya Andre dengan menahan emosi.
Alya malah makin kencang menangis.
Tok tok tok
Ceklek. Pintupun terbuka. Kami yang ada di dalam ruangan kompak menoleh. Lisa.
"Alya, sayang!" serunya seraya berlari menghampiri putriku.
"Ibu?" putriku kaget pun kami bertiga.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu, nak?" Lisa hendak mencium Alya.
Putriku langsung memalingkan wajahnya, "Pergi! Aku benci sama ibu!" usirnya.
"Ibu salah apa, nak? Sampai kamu benci sama ibu. Ibu sedih melihat kamu seperti ini. Ibu sayang banget sama Alya," sahut Lisa dengan wajah sedih. Aku tidak tahu apa dia benar-benar sedih dengan keadaan putrinya.
"Ibu bohong! Ibu nggak sayang sama aku. Aku begini gara-gara ibu sama suami ibu!" teriak Alya histeris.
"Ibu benar-benar sayang sama Alya! Semua ini gara-gara ayah kamu bukan ibu. Kalau saja ayah kamu nggak melarang kamu ikut ibu, kamu pasti baik-baik saja!" sahut Lisa seraya melirik sinis kearahku.
"Ayah memang benar sudah melarang aku. Aku nggak mau ibu di sini! Pergi!"
"Alya, kamu tega usir ibu, nak?"
"Ibu yang tega sama aku! Suami ibu sudah jahat sama aku."
"Itu nggak benar, nak. Kamu jangan percaya kata-kata ayah kamu!"
"Bukan ayah yang bilang tapi aku tahu sendiri! Bahkan orangtua di rumah itu juga mau jahatin aku!"
__ADS_1
"Orang tua? Orang tua siapa maksud Alya?" tanyaku kaget.
"Orang tua yang tinggal di rumah suami ibu, yah."
"Siapa orangtua yang di maksud Alya, Lisa?" tanyaku seraya melirik Lisa.
Lisa mengedikkan bahunaya, "Humm, bapaknya mas David, mungkin,"
"Apa yang di lakukan orang itu sama Alya, nak?"
"Dia-dia, , , " putriku makin sesenggukan.
"Sayang, jawab ayah!" pintaku seraya mengusap air matanya yang terus mengalir bagai anak sungai.
"Dia-dia maksa peluk aku terus mau cium juga, , ," tangisnya makin kencang.
"Apa! Astagfirullah. Kurang ajar!" darahku seperti mendidih.
Aku lalu menoleh ke arah Lisa, "Dan kamu nggak tahu apa yang di lakukan oleh orangtua itu pada putri kamu, Lisa?" tanyaku emosi.
"A-aku mana tahu! Alya juga nggak bilang sama aku!" sahutnya gugup.
"Aku nggak mau lihat ibu. Ibu jahat!"
"Sebaiknya kamu keluar, Lisa!" usirku.
"Nggak!" tolaknya.
"Lebih baik kamu urusi saja suami kamu itu! Alya aman bersamaku."
"Alya, ibu sayang sama Alya!" seru Lisa.
"Ayah, aku nggak mau ibu di sini! Aku nggak mau lihat ibu!" Alya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu dengar kan, Lisa!" ucapku dengan nada tinggi.
"Kamu! Aku akan balas penghinaan ini! Tunggu saja, mas!" ucapnya emosi lalu segera meninggalkan ruang ranap putriku.
Alya masih menangis. Istriku lalu menghampiri dan memeluknya erat.
"Alya jangan sedih lagi ya, nak. Ada ayah dan bunda di sini," hibur istriku.
"Kenapa bukan bunda saja yang melahirkan aku?" ucapnya terisak.
"Ssstt, nggak boleh bilang gitu. Alya dan mas Andre tetap anak-anak bunda, kok. Jangan sedih lagi, ya!" ucap istriku seraya mencium dahi putriku penuh kasih sayang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
23