
Aku sedang di kantor memasukkan data pemasukan dan pengeluaran minimarket tiba-tiba handphoneku berbunyi. Istriku.
"Halloo,"
"Polisi nyariin mas?"
"Baiklah, mas segara pulang!"
Aku lalu mematikan handphone dan juga komputer kemudian merapikan meja kerjaku. Setelah itu aku keluar dari kantor dan gegas pulang kerumah.
Setengah jam perjalanan, aku sampai di rumah. Di teras sudah ada dua orang polisi sedang menunggu ditemani oleh ibuku. Aku lalu memarkirkan mobil di halaman rumah dan gegas menemui mereka. Sepertinya wajah kedua orang polisi itu tidak asing bagiku. Oh iya, aku ingat. Mereka adalah dua orang polisi yang pernah mendatangiku di rumah sakit saat Alya di rawat.
Ada apa lagi mereka menemuiku. Apakah ada hubungannya dengan David? pikirku dalam hati.
"Assalammu'alaikum," aku memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka hampir berbarengan.
"Silakan masuk, pak. Kita bicara didalam saja!" ajakku.
Kami lalu masuk ke dalam rumah. Aku mempersilahkan kedua orang polisi itu untuk duduk di ruang tamu.
"Ada perlu apa ya, pak?" tanyaku ramah.
"Begini pak Anto. Ini mengenai kasus penculikan putri bapak. Saudara David sudah kami tahan tadi pagi dan kasusnya sedang kami tangani. Kami masih membutuhkan keterangan dari korban yaitu putri bapak!" jelas pak polisi.
"Apakah putri saya akan di jadikan saksi, pak polisi?" tanyaku.
"Tidak, pak. Kami hanya meminta keterangan saja. Karena korban masih dibawah umur jadi belum bisa di jadikan saksi tapi nanti mungkin bapak yang akan di panggil untuk jadi saksi!" jelas pak polisi.
Aku lalu memanggil putriku untuk keluar. Putriku lalu diminta untuk menceritakan kejadian sebenarnya dari awal saat dia dijemput di sekolah oleh ibunya sampai dia dibawa paksa oleh David. Alya menceritakan bagaimana saat dia di rumah orang tua David. Sungguh sikap Lisa terhadap putrinya sudah tidak lagi seperti dulu. Aku benar-benar kecewa pada wanita itu. Putriku pasti sangat trauma sampai kedua netranya berkaca-kaca saat menceritakan semuanya.
Semua keterangan putriku sudah di rekam oleh kedua orang polisi itu. Setelah itu mereka berpamitan pulang.
"Ayah Kenapa mereka menanyakan kejadian itu sama aku?" tanya putriku heran.
"Nggak apa-apa, nak. Polisi hanya ingin tahu saja, kok!" jelasku.
"Oohh, tapi suaminya ibu nggak di tangkap kan sama pak polisi, yah?"
Hhh, aku mau jawab apa.
"Hhmm, begini, nak. Kita serahkan saja urusan itu sama bapak polisi, yah. Ayah juga nggak tahu!" kilahku.
"Iya, yah."
__ADS_1
Aku lalu duduk mensejajarkan diri dengan putriku lalu memegang kedua pundaknya, "Ayah minta tolong, ya. Selain ayah, kamu jangan mau di ajak siapapun! Kamu paham, kan?"
"Termasuk sama ibu, yah?"
"Menurut Alya?"
Putriku itu menunduk lalu menggelengkan kepalanya, "Aku takut sama ibu, yah," ucapnya lirih.
Hhh, aku menarik nafasku berat. Sudah aku duga. Dan aku masih tidak mengerti tujuan Lisa membawa putriku tinggal dengannya jika dia merasa Alya hanya merepotkannya saja. Apa karena dia mengharapkan uang bulanan Alya dari aku yang dia minta dua juta waktu itu? Hhmm, tapi kenapa? Bukankah dia bilang kalau suaminya banyak uang dan mampu memenuhi semua keinginannya. Huuhh, aku harus selidiki.
Aku lalu memeluk putriku itu dengan penuh kasih sayang tak lupa mencium dahinya lembut. Ayah akan selalu menjaga dan melindungimu,nak!
"Ya sudah, Alya ke dalam lagi, ya. Ayah mau kembali ke minimarket!" titahku lantas mendorong kursi rodanya ke ruang keluarga.
"Bagaimana, nak?" tanya ibuku.
"Bagaimana, mas? tanya istriku hampir berbarengan.
"Alya hanya di tanyain saja, kok. Aku mau kembali ke minimarket dulu, ya."
Aku lalu mendekati istriku, "Mas ke minimatket dulu, yank. Kamu di rumah saja, kan?"
Istriku mengangguk, "Hati-hati di jalan, mas. Jaga ini!" ucapnya seraya mengusap dadaku.
"Iya, mas jaga hanya untuk kamu!" sahutku seraya mencubit hidungnya.
Hhh, ya anak ya istri, sama-sama tidak mau di tinggal lama.
"Iya, sayang! Assalammu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam!" sahut mereka.
***
Kembali ke minimarket, aku tidak langsung ke kantor tapi melihat-lihat aktivitas dalam minimarket. Barang-barang yang cepat habis karena banyaknya pembeli. Rasanya ingin memperluas area minimarket tapi tidak ada tanah kosong kecuali parkiran.
Kalau area parkiran di potong untuk memperluas minimarket,maka hanya cukup untuk menampung dua mobil dan sepuluh sepeda motor saja sedangkan pembeli yang datang mengendarai mobil bisa lebih dari tiga apalagi kalau awal bulan dan saat liburan, area parkiran tidak cukup untuk menampung kendaraan yang datang. Terkadang ada beberapa kendaraan yang terpaksa parkir di pinggir jalan.
Setelah melihat-lihat persediaan barang di etalase dan dia rak-rak, aku berjalan ke arah gudang untuk melihat stok di sana.
Sampai di depan pintu gudang, aku lihat mbak Melly dan salah satu karyawanku sedang terlibat pembicaraan serius.
"Saya nggak apa-apa kok sama janda," ucap karyawanku yang bernama Rudi.
"Hhmm, tapi saya masih mau fokus kerja saja pak!" sahut mbak Melly.
__ADS_1
"Kok manggilnya 'pak' lagi, sih? Panggil 'mas' donk!" pintanya dengan wajah memohon.
Mbak Melly tetap menunduk. Wanita itu memang jarang sekali mau menatap lawan jenisnya jika berbicara.
"Hhmm, maaf. Sudah terbiasa jadi suka lupa. Tapi nggak enak juga sama yang lain, kan semua saya panggil 'pak' ."
"Loh, tapi sama si Adit, kamu panggil dia 'mas', kan?"
"Hhmm, mas Adit kan jauh lebih muda dari saya. Mau panggil nama saja nggak enak jadi saya panggil "mas Adit' saja!"
"Hhuuhh, kamu itu! Biasain panggil saya 'mas' juga, donk!" Rudi mengulurkan tangannya hendak memegang tangan mbak Melly. Wanita itu sedikit bergerak mundur. Kenapa Rudi terlalu agresif begitu? Mbak Melly walaupun janda tetap masih menarik di tunjang sikapnya yang sopan dan baik membuat orang menyukainya.
"Hmm, Assalammu'alaikum!" ucapku.
Mereka berdua kaget dan langsung menoleh ke arahku.
"Pak?" ucap mereka berdua hampir berbarengan.
Sekilas aku lihat wajah mbak Melly memerah. Mungkin dia malu.
"Barang hari ini sudah masuk belum?" tanyaku berbasa-basi.
"Hhmm, su-sudah, pak!" jawab mbak Melly gugup.
"Belum semua, pak!" jawab Rudi.
"Loh, mana yang benar?" tanyaku bingung.
"Hhmm, barang yang datang kan ada dua mobil, pak. Yang satu tadi sudah datang tinggal yang satu lagi dari PT. X!" jelas Rudi.
"Hhmm, baiklah. Nanti kalau barang datang beritahu saya!" titahku.
Aku lirik sekilas mbak Melly yang masih menunduk. Seperti orang yang salah tingkah. Semoga saja si Rudi tidak macam-macam terhadap mbak Melly. Kalau dia berani macam-macam, sungguh terlalu. Dia tahu di dalam gudang juga ada CCTV. Bahkan di setiap sudut minimarket pun di pasang CCTV.
Aku lantas kembali ke kantor. Menyalakan komputer sekaligus mengecek CCTV. Semoga tidak ada yang mencurigakan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
10