
Andre baru saja memarkirkan mobilnya di depan garasi. Istrinya sudah menyambutnya di depan pintu.
"Assalammu'alaikum, sayang!" ucap Andre.
"Wa'alaikumsalam, mas!" sahut Kanaya seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Kok tahu mas datang?"
"Tahu, donk!" sahut Kanaya dengan senyum manja.
"Hhmm," Andre mencium pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan pagar. Terlihat Kevin turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Alya.
"Hhmm, Kevin hutang penjelasan padaku!" gumam Andre yang masih bisa di dengar oleh Kanaya.
"Kenapa, mas?"
"Tuh, Alya pulang di antar lagi sama Kevin!" jelas Andre.
"Oohh, nggak apa-apa, mas. Toh Kevin itu kan teman mas juga."
"Iya, makanya mas butuh penjelasan."
Alya sudah di dekat mereka, wajahnya terlihat malu-malu.
"Assalammu'alaikum," ucap Alya.
"Wa'alaikumsalam." sahut Andre dan Kanaya.
"Dari mana sama Kevin, dek?" tanya Andre.
"Hhmm, aku. Aku tadi habis bimbingan sama pak Kevin, mas!" jelas Alya.
"Bimbingan?"
"I-iya, mas. Kan pak Kevin itu dosen pembimbingku!"
"Hhmm, gitu, ya!"
"Iya, mas. Aku masuk dulu, mas!" pamit Alya dan buru-buru masuk ke rumah.
Andre menggelengkan kepalanya.
Malam harinya setelah makan malam.
"Mas, bagaimana keadaan kak Darren?" tanya Annisa.
"Alhamdulillah, dia sudah membaik. Besok pagi di pindah ke ruang ranap biasa."
"Alhamdulillah!" ucap Annisa.
"Alhamdulillah, Annisa sekarang sudah nggak sedih lagi mikirin kesehatan kak Darren!" sahut Alina.
"Tapi mas kesal sama si Darren!"
"Kesal kenapa, mas?" tanya Annisa kaget.
"Iya, dia maksa minta pulang hari ini. Tadi juga dia sempat nolak waktu mas mau hubungi keluarganya."
"Masih belum boleh pulang, dia?" tanya Anto.
"Belum, yah. Lagipula dia sempat nggak sadar, kan. Masih harus di kontrol dokter. Tapi dia maksa banget mau pulang sampai mas ancam kalau ada apa-apa, kita nggak mau tanggung jawab, eh dia bilang biar dia yang tanggung sendiri! Bikin aku kesal saja."
"Hhmm, apa mungkin karena dia takut biaya rumah sakitnya mahal, mas!" jelas Annisa.
"Oh, iya. Sebelumnya dia tanya berapa biaya rumah sakit, tapi mas bilang nggak tahu."
"Kira-kira berapa ya, mas?" tanya Annisa.
"Mas nggak tahu, dek. Besok mas coba tanyakan."
"Ayah, besok aku boleh jenguk kak Darren?" tanya Annisa takut-takut.
"In Sya Allah ya nak, kalau ayah nggak sibuk di minimarket!" jawab Anto.
"Kamu sama si Darren nggak ada hubungan apa-apa kan, dek?" tanya Andre curiga.
Wajah Annisa memerah, "Ng-nggak kok, mas!"
"Hhmm, bagus kalau nggak. Karena kalian sama-sama masih sekolah!"
"I-iya, mas!"
"Berteman saja nggak apa-apa, mas nggak melarang."
"Iya, mas."
__ADS_1
"Oh iya, kamu jadi menghubungi keluarga Darren?" tanya Anto.
"Aku sudah menghubungi ibunya, yah."
"Mereka sudah datang?"
"Hhmm, aku tunggu sampai sore tapi belum ada yang datang, yah."
"Semoga besok ada keluarganya yang datang," ucap Anto.
"Iya, yah. Sepertinya Darren itu sedang tertekan dan banyak masalah. Aku bisa merasakan itu!"
"Kasihan, ya," ucap Santi.
"Iya, bunda. Aku juga kasihan sama kak Darren!" ucap Annisa.
Satu jam kemudian semua anggota keluarga sudah pergi kamar masing-masing.
"Sayang, mas mau ke kamar Alya sebentar, ya!" ucap Andre.
"Hhhmm, mungkin Alya sudah mau tidur, mas."
"Iya, semoga saja belum. Mas tinggal dulu, ya!"
"Iya, mas. Jangan lama-lama, ya!"
"Memangnya kenapa?"
"Hhmm, nggak apa-apa kok, mas!"
"Hhmm, yakin nggak apa-apa?"
Kanaya mengangguk lalu tersenyum.
"Tunggu ya, kamu siap-siap saja!" bisik Andre.
"Haahh? Siap-siap?"
"Iya siap-siap saja pokoknya!"
Andre keluar dari kamarnya. Dia lalu naik ke atas menuju kamar adiknya Alya.
Tok tok tok.
Ceklek.
"Mas Andre?"
Alya menggelengkan kepala.
"Boleh mas masuk? Ada yang ingin mas bicarakan!"
"Silahkan, mas!" Jawab Alya.
"Mas mau bicara tentang apa, mas?" tanya Alya penasaran.
"Kamu sama Kevin ada hungungan apa?"
"Apa, mas!" tanya Alya kaget.
"Kamu sering di antar pulang sama dia? Pasti ada sesuatu, kan?"
"Hhmm, mas. Pak Kevin yang maksa antar aku pulang."
"Mas tahu."
"Tadi aku di ajak makan siang di rumahnya!" jelas Alya.
"Jadi tadi kamu di ajak ke rumahnya?" tanya Andre kaget.
Alya menunduklan kepalanya.
"Hhmm, mas hanya minta tolong jaga diri kamu, ya! Bukan mas nggak percaya sama kamu dan dia tapi godaan mungkin saja terjadi."
"Iya, mas aku tahu."
"Ya sudah, mas tinggal dulu. Tidurlah jangan begadang!"
"Iya, mas."
Andre lalu kembali ke kamarnya.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Andre seraya berbaring di belakang istrinya.
Andre memeluk istrinya dari belakang.
Kanaya menoleh, "Mas?"
__ADS_1
"Mas kangen!"
Kanaya membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
Andre membelai lembut wajah istrinya itu. "Kamu sudah siap kan, sayang?"
Kanaya mengangguk dengan wajah merona malu.
Andre mendekatkan wajah mereka berdua lalu mencium bibir istrinya itu sekilas. Mereka mulai memadu kasih. Andre menyingkap selimut yang membalut tubuh istrinya.
Dia kaget bercampur senang. Istrinya itu ternyata sudah memakai pakaian khusus untuknya.
"Sayang? Ini. . ."
"Apa mas suka?"
"Suka banget sayang."
"Hhmm. . ."
Hasrat Andre makin naik. Dia mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada istrinya. Sampai Kanaya terlihat mendamba, Andre pun mulai memberikan sentuhan panas. Dan malam panjang mereka pun di mulai.
Sementara di dalam kamar Anto. Dia sedang di pijat oleh istrinya.
"Pijatan kamu enak, yank!" puji Anto.
"Mas suka?" tanya Santi.
"Suka banget, yank!" jawab Anto.
"Hhmm, pegal-pegalnya berkurang, kan?"
"Tentu saja sudah berkurang, yank!"
"Hhmm, Alhamdulillah kalau begitu, mas."
Tiba-tiba Anto membalik badannya hingga mereka saling berhadapan.
"Yank?"
"Hhmm, kenapa, mas? Pijat yang depan, ya?"
"Mas yang ingin pijat kamu!" ucap Anto dengan senyum menggoda.
"Hhmm, mas. Kirain apa."
"Kamu mau kan mas pijatin?"
Santi tersenyum malu seraya menganggukkan kepalanya.
Anto mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut pasa istrinya.
Santi pun membalas sentuhan suaminya. Umur tidak jadi penghalang mereka merajut cinta.
"Kamu masih belum berubah, yank. Selalu bisa membuat mas seneng."
"Mas. . ."
"Mas sayang kamu!"
"Aku jusa sanga mas!"
"Yuk!"
Santi mengangguk.
Malampun terasa panas bagi sepasang suami istri yang sudah berumur yang sudah tidak lagi bisa menahan hasrat.
***
Di sebuah kamar ranap di rumah sakit, seorang ibu sedang membelai lembut putra kesayangannya yang sedang terbuai. Rasa cinta seorang ibu yang takut kehilangan anaknya. Tak peduli jarum jam sudah menunjuk di angka berapa, dia tidak berniat menyusul sang putra menjemput mimpi.
"Semoga mas David terbuka hatinya. Dia akan menyayagi putranya dengan sepenuh hati. Tak ada yang bisa membuatku bahagia selain melihat putra dan suamiku berdamai." gumamnya.
.
.
.
Maaf masih banyak typo.
.
.
.
__ADS_1
.
23.2