
Tiba-tiba Ferri keluar, "Bagaimana keluarga Darren?"
Semua orang menoleh.
"Dre, boleh ibu minta tolong, nak?"
"Hhmm?" dahi Andre berkerut.
"Ibu-ibu boleh pinjam uang?" tanya Lisa pelan. Dia terlihat malu.
David berdiri, "Lisa, kenapa kamu pinjam uang dengannya?Apa kamu kenal?" tanya David penasaran.
"Iya, aku akan bayarkan ke bagian administrasiya," jawab Andre lantas gegas ke bagian administrasi.
Setelah itu Andre kembali ke ruang IGD. Darren sedang di pindahkan ke ruang OK untuk di lakukan operasi. Lisa terlihat terisak. David lalu merangkulnya.
Andre ikut masuk ke ruang OK sampai operadi Darren selesai. Darren lalu di pindahkan ke ruang ICU.
"Darren," isak tangis Lisa.
Mereka bergantian masuk ke ruang ICU.
"Terimakasih, kamu sudah membantu anak saya," ucap David dengan tangan di lipat di depan dada.
"Sama-sama," jawab Andre lirih.
Andre lalu kembali ke ruang ranap Kanaya.
"Terimakasih, sus," ucap Andre.
"Sama-sama, dokter," sahut suster.
"Mas," panggil Kanaya.
"Maaf ya, sayang," ucap Andre lalu memeluk istrinya.
"Suster bilang, mas sedang menolong orang. Siapa, mas?"
"Maaf, ya. Bukan maksud mas sengaja tinggalin kamu. Tadi mas baru dari operasi Darren," jelas Andre.
"Operasi Darren? Darren yang. . ."
"Iya. Dia korban tabrak lari," jelas Andre sedih.
Kanaya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, "Tabrak lari? Lalu sekarang bagaimana, mas?"
"Setelah operasi, langsung di pindahkan ke ruang IGD."
"Bagaimana kondisinya sekarang, mas?"
"Masih belum sadar," jawab Andre lirih.
Waktu mulai merambat malam. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ranap Kanaya. Andre berjalan ke arah pintu. Ada ayah dan bundanya.
"Andre,"
"Kanaya," Santi mendekati menantunya lalu duduk di sebelahnya. "Bagaimana keadaan kamu, nak?"
"Alhamdulillah, setelah cairan infus masuk, jadi lebih enak, bun."
"Alhamdulillah," ucap Santi lantas menyimpan paper bag yang berisi pakaian ganti dan juga makanan untuk Andre dan Kanaya.
Andre dan Anto duduk di sofa, mengobrol berdua.
"Ayah mau kan bantu Darren?" tanya Andre penuh harap.
"Ayah sih mau saja, nak. Tapi tetap semua tergantung bunda kamu setuju apa nggak. Karena uang itu tidaklah sedikit," sahut Anto.
__ADS_1
"Iya, yah. Aku tahu. Aku janji akan membayanrnya," "Andre mengerti dengan apa yang ayahnya katakan dan lagi sumber uang keluarga bersala dari minimarket milik bundanya. Dia tahu jika ayahnya tidak pernah memakai uang minimarket tanpa sepengetahuan bundanya. Dia tahu kalau ayahnya berusaha memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya.
"Ayah akan bicarakan ini dengan bunda kamu," ucap Anto.
"Iya, yah. Terimakasih."
Anto lalu mendekati istrinya, "Yank, ada yang ingin mas bicarakan," ucap Anto.
"Iya, mas."
Anto dan Santi duduk di sofa berdua.
Anto menarik nafas panjang, "Tadi Andre bilang kalau Darren jadi korban tabrak lari, yank. Kondisinya parah."
"Darren? Darren temannya Annisa?" tanya Santi kaget.
Anto menganguk, "Sekarang dia di rawat di ruang ICU."
"ICU? Parah banget ya, mas?"
"Iya, yank. Kedua kakinya retak. Kepalanya juga," jelas Anto
"Ya Allah, kasihan banget!"
"Maka dari itu, Andre meminta bantuan untuk meminjamkan uang untuk biaya Darren."
"Mereka butuh berapa, mas?" tanya Santi.
"Total biaya enam puluh lima juta. Baru di bayarkan sepuluh juta."
"Hhmm, nggak apa-apa bayarkan saja, mas," ucap Santi.
"Bayarkan, maksudnya?"
"Iya, kita bayarkan saja. Nggak usah pinjam. Nggak apa-apa," jelas Santi.
Santi tersenyum, "Mas, menolong orang yang membutuhkan itu kan suatu perbuatan yang baik. Aku nggak apa-apa, kok."
Anto tersenyum, begitu terharu dengan sifat istrinya yang dermawan, "Alhamdulillah, mas nggak salah pilih kamu sebagai ibunya anak-anak, yank!"
"Ah mas, biasa saja, kok!" sahut Santi.
"Sudah malam, kita pulang dulu, yuk. Nanti mas trasfer saja uangnya ke rekening Andre."
"Iya, mas."
Mereka pun berpamitan untuk pulang.
***
Keesokan paginya, Andre bangun lebih dulu dari istrinya. Dia langsung membersihkan diri lalu menunaikan ibadan subuh. Andre lalu mendekati istrinya yang masih terlelap.
"Hhmm, wajahnya sudah tidak terlalu pucat lagi. Di bangunkan nggak, ya. Takut subuh keburu habis," gumam Andre.
Tiba-tiba Kanaya menggeliat lalu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Sayang," sapa Andre.
"Hhmm, mas."
"Bagaimana sudah enakan?" tanya Andre sembari mengusap lembut wajah istrinya.
Kanaya menganggukkan kepalanya, "Iya, mas."
"Alhamdulillah. Subuh dulu, yuk. Sebentar lagi waktunya habis," titah Andre.
Kanaya mengangguk.
__ADS_1
Setelah itu Andre berniat mencari sarapan di luar. Saat baru saja sampai di dekat pintu IGD, ada yang memanggil namanya.
"Andre!"
Andre pun menoleh, "Ibu," gumamnya.
"Dre, kamu mau kemana, nak?"
"Aku mau beli sarapan,"
"Oh iy ibu dengar istri kamu juga di rawat ya, karena sedang hamil."
"Iya, bu."
"Hhmm, selamat ya, nak. Semoga kandungan istri kamu selalu sehat."
"Terimakasih, bu."
"Hhmm, oh iya. Terimakasih, kamu sudah mau membayarkan tagihan rumah sakit Darren. Sisanya ibu akan usahakan sendiri."
"Hhmm, ibu ada uangnya?"
Lisa terlihat bingung, "I-iya, ada," jawabnya terbata-bata.
"Hhmm, aku akan usahakan membantu lagi. Bagaimana Darren apa sudah sadar?"
Lisa terlihat sedih, lalu mengangguk. "Belum, entah kapan dia akan sadar. ."
"In Sya Allah kakinya akan sembuh. Sama seperti Alya dulu, kakinya patah tapi Alhamdulillah bisa sembuh."
Wajah Lisa berubah. Hatinya sakit mendemgar ucapan putra pertamanya itu. "Hhmm, maafin ibu atas kejadian itu."
"Hhmm, In Sya Allah. Oh iya aku mau keluar mau mencari sarapan," ucap Andre.
"Oh iya, silahkan, nak."
Andre lalu pergi keluar mencari sarapan. Setengah jam kemudian dia sudah kembali. Ternyata dia kembali bertemu dengan ibunya. Andre lalu memberikan dua bungkus sarapan untuknya.
"Terimakasih, Dre," ucap Lisa.
"Sama-sama. Aku permisi dulu, bu. Istriku pasti sudah menunggu," pamit Andre.
Lisa kembali ke ruangan putranya.
Di kursi yang ada di ruang tunggu, David sedang duduk melamun.
"Mas, pagi-pagi kok melamun. Ini ada sarapan," ucap Lisa sembari menaruh makanan di samping David duduk.
"Makanlah dulu, mas."
David hanya menoleh sesaat namun membiarkan saja sarapannya.
"Mas, dokter bilang Darren kalau hari ini dia sudah sadar akan di pindahkan ke ruang ranap biasa. Tapi sampai sekarang, anak kita belum juga sadar," ucap Lisa sembari terus menyantap sarapannya dengan sangat pelan seperti tidak berselera.
Mas kenapa, ya. Dari kemarin diam saja. Batin Lisa merasa aneh dengan sikap suaminya yang biasanya temperamen menjadi diam.
Selesai sarapan, Lisa lalu masuk ke ruang ICU. Tubuh itu masih terbaring kaku. Ada rasa sesak menghimpit dadanya. Dia baru menyadari apa saja yang sudah di alami putranya itu. Apakah dia sudah pernah membahagiakannya. Apakah putranya itu pernah merasa bahagia. Lisa pun tak tahu jawabannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
03