Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 138


__ADS_3

Darren baru saja sampai di sekolah. Dia memarkirkan sepedanya di tempat biasa. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya keras. Saat dia menoleh ternyata itu adalah Ryan.


"Mana, cepat bayar hutangmu itu!" ucap Ryan seraya menadahkan tangannya.


"Maaf Ryan, aku belum punya uang!" jawab Darren lirih.


"Apa kamu bilang, belum punya uang? Sudah hampir satu bulan ini!" ucap Ryan dengan nada tinggi.


"Tapi aku benar-benar belum ada uangnya sekarang. Aku hanya ada uang seratus ribu. Kalau kamu mau menunggu satu minggu lagi, aku akan bayar lima ratus ribu dulu!" ucap Daren.


"Apa kamu bilang? Aku harus menunggu satu minggu lagi tapi kamu baru mau bayar lima ratus ribu?" Ryan makin emosi. "Aku maunya sekarang juga!" ucap Ryan lagi.


"Tapi aku hanya punya seratus ribu sekarang!" jelas Darren.


"Aku nggak peduli, pokoknya kamu harus bayar hari ini juga sembilan ratus ribu!"


"Tapi dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu, Ryan? Aku sungguh-sungguh nggak punya. Nih kamu bisa lihat isi dompetku!" ucap Ryan lalu mengambil dompet di saku celananya lantas menunjukkannya pada Ryan. Di dalam dompet Darren memang hanya ada uang seratus ribu lebih.


"Dasar orang miskin kamu. Makanya jangan sok jadi orang!" ucap Ryan ketus.


Darren hanya menunduk saja.


"Pokoknya aku tunggu satu minggu lagi. Uang sembilan ratus itu harus sudah ada. Aku nggak mau kalau cuma lima ratus ribu!" desak Ryan lantas pergi dari sana setelah mendorong Darren kuat hingga terjatuh.


Darren lantas berdiri seraya membersihkan celananya yang kotor terkena tanah. Darren tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari jauh. Annisa.


Ada apa lagi antara kak Darren sama Kak Ryan, ya? Kenapa kak Rian mendorong kak Darren sampai terjatuh begitu? Kenapa kak Ryan begitu jahat? Batin Anisa.


"Nis, ayo jalan. Kenapa malah berhenti?" tanya Alina sambil menarik tangannya kembarannya.


"I-iya, Lin!" sahut Annisa gugup sambil matanya sesekali menoleh kearah Darren.


Kak Darren kasihan banget, sih. Batin Anisa. Wajahnya terlihat sedih.


Saat jam istirahat, Annisa memaksa Alina untuk pergi ke kantin padahal Alina sedang tidak ingin.


"Ayo Lin, kita ke kantin. Aku ingin sekali makan bakso!" paksa Anisa.


"Tapi aku sedang malas kemana-mana, Nis!" tolak Alina.


"Aku lapar, Nis! Kamu tahu tadi kan aku hanya sarapan sedikit!" paksa Annisa.


"Tapi aku sedang tidak ingin makan nih."


"Ya sudah kalau kamu nggak mau temani, aku ke kantin sendiri! Sebentar saja, ya!" ucap Annisa memohon.


"Nis, kamu ingat pesan ayah sama bunda, kan? Kalau kita tidak boleh berpisah. Kita harus selalu bersama-sama!" Alina mengingatkan.


Annisa menarik nafasnya panjang, "Habisnya kamu nggak mau temani aku, sih!" keluh Annisa. "Kamu tega aku kelaparan."


"Huuhh, iya-iya, aku temani!" sahut Alina malas.


Mereka lalu pergi ke kantin bersama. Annisa tahu kalau Darren sering ke kantin. Alina sering memperhatikan kakak tingkatnya itu sering membeli gorengan yang harganya paling murah di kantin.


Sampai di kantin, mereka memilih meja yang ada di sudut. Annisa meminta Alina untuk menunggu di sana supaya tidak ditempati orang lain. Sementara Annisa memesan baksonya.


Saat Annisa hendak memesan bakso, dari jauh dia melihat Darren sedang makan gorengan.


"Kak Darren!" sapa Annisa.


Darren yang mendengar ada yang memanggilnya langsung menoleh.


"Kamu?" tanya Darren yang langsung menelan makanannya terburu-buru sampai hampir tersedak.

__ADS_1


"Kak, aku mau bicara penting!" ucap Annisa.


"Aku rasa nggak ada yang perlu kita bicarakan," tolak Darren halus.


"Itu menurut kakak tapi menurutku banyak yang harus kita bicarakan!"


"Maaf, aku mau kembali ke kelas!" ucap Darren yang langsung beranjak dari sana.


Annisa buru-buru mencegahnya dengan menarik tangan Darren.


"Hey, apa-apaan. Lepas!" ucap Darren pelan namun penuh penekanan.


"Aku ingin bicara,kak. Penting!" desak Annisa.


"Berapa kali aku bilang kalau diantara kita tidak ada yang perlu dibicarakan. Pergilah!" usir Darren dengan nada sedikit lebih tinggi.


"Kalau kak Darren nggak mau bicara denganku, aku akan menceritakan kejadian di hotel itu sama pihak sekolah!" ancam Annisa akhirnya.


Darren terkejut mendengar ucapan Annisa.


"Apa kamu bilang?"


"Sudah kubilang kan, kak. Aku mau bicara penting!" jawab Annisa.


"Huhh, yasudah bicaralah sekarang!" ucap Darren.


"Tapi nggak di sini, kak!" sahut Annisa. "Aku ingin bicara di sana!" tunjuknya keluar kantin yang sedikit lebih sepi.


Annisa lantas pergi ke sana diikuti Darren dari belakang. Sampai di sana Annisa langsung mengatakan semua apa yang ingin dia bicarakan.


"Berapa sisa hutang kakak sama kak Ryan?" tanya Annisa.


"Buat apa kamu tanyakan itu? Itu bukan urusanmu!"


"Itu juga jadi urusanku,kak. Karena semua itu gara-gara aku!" ucap Annisa.


"Aku dengar semua yang kakak bicarakan dengan kak Ryan saat itu. Kakak berhutang itu karena kakak tidak mau menuruti keinginan kak Ryan untuk hendak berbuat jahat padaku. Tentu saja itu ada hubungannya denganku. Ingat kak, kalau kakak tidak mau mengatakan padaku, aku akan menceritakan semua pada pihak sekolah!" ancam Annisa.


"Ceritakan saja, mereka pasti takkan percaya!" jawab Daren.


"Jadi kak Darren nggak takut ya aku laporkan masalah itu sama pihak sekolah?" Annisa sungguh kesal di buatnya.


"Kenapa aku harus takut? Mereka tidak akan percaya dengan ucapanmu!"


"Ok! Aku akan ke kantor kepala sekolah sekarang juga!" ancam Annisa lantas gegas berlalu dari hadapan Darren.


Tapi baru saja Annisa berjalan beberapa langkah, Darren menyusul dan menarik tangan gadis itu.


"Ok! Kamu mau menghancurkan masa depan aku yang aku sendiri tahu kalau akan suram nggak seperti masa depan kamu yang dari sekarang saja sudah terlihat cerah. Begitu!?"


Annisa menarik nafasnya panjang, "Kak, aku hanya ingin tahu. Aku sudah janji kan nggak akan cerita sama siapa-siapa bahkan sama Alina sekalipun. Itu karena apa? Karena aku nggak mau kakak kena masalah!" tegas Annisa.


Darren mengusap wajahnya kasar lalu menarik nafasnya berat, "Baiklah!" ucap Darren akhirnya.


"Ok. Aku dengarkan!"


Darren lantas menceritakan semua yang Annisa ingin tahu.


"Jadi kak Ryan benci sama aku? Apa salahku?" tanya Annisa bingung bercampur sedih.


"Kalau itu aku juga nggak tau, Nis! Coba kamu ingat-ingat!"


"Aku nanti akan coba mengingatnya, kak!" ucap Annisa lalu merogoh sakunya untuk mengambil dompet lantas memberikan sembilan lembar uang kertas merah pada Darren. Tapi Darren langsung menolaknya.

__ADS_1


"Kak. Semua masalah kakak sama kak Ryan itu karena aku!"


"Tapi nggak gini juga, Nis. Sama saja kamu menghina aku!" ucap Darren pelan namun dengan penekanan.


"Astagfirullah. Aku minta maaf kak, kalau kakak merasa seperti itu. Aku hanya nggak ingin kak Ryan terus mengganggu kakak. Lagipula semua juga bermula dari aku. Aku mohon terima dan bayarkan pada kak Ryan. Kalau kakak nggak mau, anggap saja kakak pinjam dari aku. Kapan kakak ada uangnya boleh kakak balikin. Yang penting kakak sudah bebas dari kak Ryan. Tolong terimalah, kak!" pinta Annisa dengan wajah memohon.


Darren diam sejenak, "Baiklah. Ini aku anggap sebagai pinjaman. Aku akan bayar!"


Sudut bibir Annisa tertarik ke atas. Dia menarik nafas panjang lantas menyelipkan uang itu di tangan Darren.


"Terimakasih, kak."


"Aku yang terimakasih. Aku akan balikin secepatnya!" janji Darren.


Tiba-tiba Annisa mengusap sudut bibir Darren. Tatapan mereka terkunci. Darren buru-buru memalingkan wajahnya.


"Hhmm, ma-maaf kak. Tadi ada sisa gorengan di sana!" ucap Annisa gugup.


Wajahnya memerah menahan malu. Huhh, apa yang sudah kamu lakukan, Nis! Malu-maluin saja! Dia mengumpat dalam hati.


"I-iya nggak apa-apa!" sahut Darren.


"Aku pergi dulu!" pamit Annisa yang segera berlalu dari hadapan Darren dengan setengah berlari.


"Annisa," gumam Darren sambil terus menatap Annisa sampai menghilang di balik pintu.


"Kamu kemana saja sih, Nis!?" tanya Alina kesal saat Annisa sudah kembali ke meja di mana Alina menunggu.


"Maaf, Lin!" ucap Annisa penuh sesal. "Jangan marah donk!" imbuhnya lagi.


"Aku khawatir, tahu!" Alina masih kesal.


"Iya, maaf. Yuk kita ke kelas!" ajak Annisa.


"Nggak jadi makan bakso?"


"Istirahat sudah hampir habis. Hehee!" sahut Annisa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Huuhh!" sahut Alina yang masih kesal. Dia berlalu begitu saja dari hadapan Annisa.


"Lin, tunggu, donk!" seru Annisa sembari berlari menyusul kembarannya.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran. Terimakasih sudah membaca. 😊🙏


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


19


__ADS_2