Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 203


__ADS_3

Darren lalu naik angkot menuju ke rumahnya. Tidak sampai satu jam dia sudah sampai di depan gang rumahnya. Saat dia hendak menyeberang jalan tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kecepatan sangat kencang dan menabrak tubuhnya. Daren terhempas beberapa meter ke trotoar. Dia pun langsung tidak sadarkan diri. Seketika suasana menjadi sangat ramai di sana. Dan pengendara sepeda motor itu pergi entah kemana.


***


Hari ini kondisi Kanaya belum juga membaik. Dia masih demam dan tidak mau makan. Akhirnya Andre membawa istrinya itu ke rumah sakit untuk mengecek kesehatannya.


Sampai di IGD, Andre meminta rekannya dokter kandungan untuk memeriksa istrinya.


"Kok dokter kandungan, mas?" tanya Kanaya heran.


"Iya, nggak apa-apa, sayang. Mas sudah memeriksa kamu tapi belum tahu sakitmu apa. Atau kamu cek darah saja?"


"Hhmm, terserah mas saja. Tapi kalau ternyata aku nggak hamil kan jadinya kecewa," ucap Kanaya lirih.


"Hhmm, nggak apa-apa. Kalau ternyata belum beruntung ya kita coba lagi. Coba terus sampai berhasil," ucap Andre mencoba mengajak istrinya becanda.


"Mas iiihh!" wajah Kanaya memerah.


"Hmm, mau juga, kan?"


Kanaya hanya tersenyum malu lalu memalingkan wajahnya.


Tak lama kemudian dokter kandungan yang biasa memeriksa Kanaya datang. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk di USG saja supaya jelas.


"Kenapa harus di USG, dok? Apa aku hamil?" tanya Kanaya bingung.


"Kemungkinan iya, jadi untuk memastikannya kita lakukan USG saja," saran dokter.


"Hhmm, baiklah," sahut Kanaya.


"Santai saja, sayang. Kalau belum, ya kita coba lagi. Mas nggak akan marah," hibur Andre.


"Hhmm, terimakasih, mas."


Mereka lalu menuju poli kandungan. Karena Andre juga sebagai dokter di rumah sakit itu jadi mereka tidak perlu antri.


Kanaya berbaring lalu di oleskan gel di perutnya. Sebuah alat tersambung ke layar monitor.


"Alhamdulillah," ucap dokter.


"Kenapa, dok?" tanya Andre penasaran.


"Usianya baru empat minggu," jelas dokter.


Mata Andre dan Kanaya membulat. Mereka saling pandang sekilas lantas kembali menatap ke layar monitor.


"Alhamdulillah," ucap Andre kemudian di ikuti oleh Kanaya.


Andre lalu memeluk dan menciumi wajah istrinya gemas. "Alhamdulillah, terimakasih, sayang!"


"Mas, malu sama dokter," ucap Kanaya.


Andre langsung melepaskan pelukannya sembari tersenyum malu. Saking bahagianya sampai lupa.


Kanaya lalu turun dari ranjang, kembali duduk di sebelah Andre.


"Kalau kondisi bu Kanaya lemah, lebih baik opname saja," saran dokter.


Kanaya dan Andre saling pandang. Kanaya lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku mau di rumah saja, mas," pinta Kanaya.


"Kalau bu Kanaya masih mau makan ya nggak apa-apa. Yang terpenting untuk ibu hamil itu ya banyak makan makanan yang bergizi."


"Bagaimana, kamu mau makan?" tanya Andre.


"Hhmm, aku akan paksain makan, mas."


"Hhmm, baiklah. Kita nggak usah menginap."

__ADS_1


Setelah mendapatkan resep dari dokter, Andre dan Kanaya hendak pulang ke rumah.


Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Kanaya pingsan. Untung saja Andre berjalan sambil merangkulnya.


"Sayang!" ucap Andre kaget dan langsung menggendong istrinya lalu membawanya kembali lagi ke poli kandungan.


"Sebaiknya menginap saja, dok," ucap dokter kandungan yang menangani Kanaya.


"Baiklah, dok," sahut Andre.


Tak butuh waktu lama, kamar ranap Kanaya sudah siap. Andre langsung membawanya ke sana.


Beberapa menit, Kanaya sadar.


"Mas," ucapnya lirih.


"Kamu sudah sadar, sayang? Apa yang kamu rasain?" tanya Andre khawatir.


"Pusing. Perutku juga mual sedikit, mas."


"Makan, ya. Supaya bisa minum obat."


"Hhmm, tapi mual."


"Demi calon bayi kita, kamu paksain makan sedikit demi sedikit, ya!" pinta Andre dengan wajah memohon.


Kanaya menarik nafas panjang, "Baiklah, mas."


"Mas belikan roti dulu ya, buat mengganjal perut?"


Kanaya mengangguk, "Iya, mas."


"Mas tinggal sebentar, ya."


Kanaya mengangguk lagi, "Jangan jauh-jauh belinya!"


"Iya, sayangku!" Andre mencium dahi istrinya penuh kasih sayang.


"Sayang, ngantuk, ya?" tanya Andre saat tiba di kamar, istrinya hendak memejamkan matanya.


"Mas,"


"Yuk makan dulu!" titah Andre lalu menyuapi istrinya sepotong demi sepotong roti.


"Minum, mas,"


Andre pun dengan penuh perhatian menyuapi istrinya air minum.


Beberapa saat selesai makan, Kanaya tertidur. Andre dengan setia menjaganya. Tak lupa Andre memberikan kabar pada keluarganya.


"Hhmm, aku kirim kabar ke mami nggak, ya," gumam Andre. Dia tampak bingung.


Tak lama Andre pun ikut tidur di kursi yang ada di sebelah istrinya.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ranap Kanaya. Andre mengerjapka matanya. "Hhmm, siapa, ya." gumamnya.


Dengan masih menahan rasa kantuk, Andre berjalan ke arah pintu.


Ceklek.


"Dre, ayo ikut aku sekarang!" titah Ferri.


"Fer, ada apa? Kanaya sakit," tolak Andre.


"Sebentar saja, Dre."


"Tapi Kanaya?"


"Kita minta tolong suster menjaganya sebentar," usul Ferri.

__ADS_1


"Tapi ada apa sih, Fer?" tanya Andre malas.


"Darren."


"Darren? Kenapa, dia?"


"Korban tabrak lari."


"Tabrak lari? Darren?"


"Ayolah, Dre!"


"Kanaya?"


"Nah itu ada suster Wati. Kita minta dia jagaian istri kamu," ucap Ferri.


"Hhmm, baiklah."


Setelah meminta tolong suster untuk menjaga istrinya, Andre gegas pergi ke IGD. Ternyata di sana ada ibunya dan juga suaminya. Jadi mereka tahu jika Darren kecelakaan.


"Andre," sapa Lisa dengan air mata di pipinya.


Andre memberikan senyum pada ibunya lalu mengikuti langkah kaki Ferri.


"Dia nggak sadar. Lukanya sangat parah. Kakinya retak di bagian paha kiri dan betis kanannya. Kepalanya juga," jelas Ferri membuat Andre merinding mendengarnya. "Dia harus segera di operasi tapi orangtuanya tidak memiliki biaya."


Andre menarik nafasnya berat, "Berapa biayanya?"


"Bacalah kertas ini. Ada keterangannya."


Andre lalu membacanya, "Enam puluh lima juta," gumam Andre. Uangku nggak cukup. Batinnya.


"Bagaimana, Dre. Darren nggak bisa menunggu lama. Bayar administrasinya saja dulu."


Ayah. Semoga ayah mau membantu. Andre lalu keluar dari ruang IGD.


"Dre," panggil Lisa dengan suara bergetar.


Andre menarik nafas panjang, "Darren harus segera di operasi. Apa orangtuanya setuju?"


Lisa terlihat bingung antara mengangguk dan tidak. Dia lalu menoleh ke sampingnya di mana David sedang terdiam mematung. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan.


"Mas," Lisa memanggil suaminya pelan.


David tak juga menoleh. Lisa memanggilnya lagi sembari menyentuh bahunya.


"Mas."


David terhentak. Sepertinya dia sedang dalam lamunan hingga membuatnya seperti tidak menyadari sekelilingnya.


David mendongak. "Ada apa?" tanyanya lirih.


"Darren mau di operasi," jelas Lisa.


"Tapi?"


Andre memang merasakan benci dengan laki-laki di samping ibunya itu, mengingat apa yang pernah dia lakukan. Merebut ibunya dari sisi ayahnya dan juga kejadian yang menimpa Alya saat masih kecil dulu. Tapi mengingat Darren yang tidak tahu apa-apa, timbul rasa kasihan. Bantu Darren, Dre. Dia adik kamu. Darren tidak bersalah. Darren sangat membutuhkan pertolongan kamu. Andre bermonolog.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


19


__ADS_2