
Setelah mendengarkan penjelasan dari Alya, dokter yang merawat Darren lalu keluar dari ruangan.
"Jadi dia yang waktu itu mendekati kamu saat hendak saya antar?" tanya Kevin dengan tatapan menyelidik.
"Pak Kevin masih ingat?"
"Dia menyukai kamu!"
"Hhmm, a-aku nggak tahu."
"Kapan kamu bisa mengerti seseorang menyukai kamu, hmm? Apa harus dengan kata 'cinta'?" tanya Kevin dengan mata yang menatap Alya lekat-lekat.
Alya memalingkan wajahnya.
"Jadi siapa saja mereka?"
"Hhmm, lupain saja, pak. Aku nggak mau jadi panjang."
"Lupain? Mereka hampir merusak kamu dan kamu mau lupain begitu saja?" mata Kevin membulat dengan tatapan tajam ke arah Alya.
"Tapi kan hampir. Lagipula mereka pikir aku. . "
"Pikir kamu apa?"
"Hhmm, lupain saja, pak. Aku mohon. Nanti kalau urusan jadi panjang, bisa-bisa dia ikut terlibat!" pinta Alya sembari menunjuk ke arah Darren.
"Apa?"
"Lagipula aku sebentar lagi kan wisuda, pak. Aku nggak akan ke kampus ini lagi tapi dia? Dia sepertinya mahasiswa baru. Aku baru kali ini melihatnya.
Tiba-tiba Darren menggerakkan badannya.
"Aduuhhh," keluhnya lirih.
"Hey, kamu sudah bangun?" sapa Kevin.
"A-aku. . ." Darren berusaha untuk duduk, "Badanku rasanya remuk," gumamnya.
"Kamu mau minum?" tawar Kevin.
"Hhmm, i-iya," sahutnya. Tenggorokannya memang terasa kering.
Kevin lalu mengulurkan botol air mineral yang sudah dia buka tutupnya pada Darren. Darren langsung menenggaknya perlahan. Setelah itu dia memejamkan matanya sesaat.
"Tasku!" ucapnya lantas membuka mata.
"Tas kamu aman!" jawab Kevin.
"A-aku mau pulang."
"Kamu sudah kuat berdiri?"
Darren menurunkan kakinya ke tepi ranjang.
"In Sya Allah."
"Di mana rumah kamu?" tanya Kevin.
"Di jalan Bunga."
"Ok, nanti saya antar."
"A-aku bisa pulang sendiri."
"Nanti kamu pingsan di jalan."
"Sudah enakan?" tanya Alya lembut lalu mengulurkan sepotong roti pada Darren, "Makanlah dulu!"
Darren pun menerima roti pemberian Alya, "Aduh," Darren memegangi bibirnya.
"Sakit banget, ya?" tanya Alya lalu reflek mengusap bibir Darren dengan jarinya.
"Al?" mata Kevin tajam menatap Alya.
Alya menarik lagi tangannya.
"Makanlah pelan-pelan!" titah Kevin.
Dengan menahan sakit di bibirnya, Darren mengunyah rotinya perlahan. Entah dia merasa perutnya sangat lapar.
Beberapa saat kemudian, dengan di bantu Kevin berjalan, mereka pun pulang dengan Kevin yang mengantar dengan mobilnya.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanya Kevin.
"Aku Darren, kak," jawab Darren.
"Pak bukan kak. Saya dosen di sini!"
"Tapi aku kan nggak kuliah di sini masa ikut manggil 'pak'?"
Dahi Kevin berkerut, "Maksud kamu?"
"Hhmm, aku tadi baru mau lihat-lihat saja. Sepertinya nggak jadi kuliah di sana."
"Jadi kamu baru mau kuliah?" tanya Kevin kaget.
"Hmm, tapi nggak jadi."
"Loh kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu mau ambil jurusan apa sebenarnya? Kalau sudah tutup, mungkin masih bisa saya bantu mendaftar."
Darren menggelengkan kepalanya, "Aku mau kuliah komputer yang diploma satu saja."
"Apa? Kenapa nggak diploma tiga saja?"
"Ng-nggak apa-apa,"
Alya menoleh ke belakang di mana Darren duduk.
"Kakak cariin kuliah komputer diploma tiga di kampus, ya?" tawar Alya.
"Hhmm, terimakasih, kak. Aku diploma satu saja."
"Hhmm, kamu takut ketemu lagi sama mereka? Biar mereka jadi urusan saya!" jelas Kevin.
"Terimakasih, kak. Tapi aku mau cari kuliah yang diploma satu saja. Supaya cepat lulus dan bisa langsung cari kerja."
"Hhmm, jaman sekarang susah mencari kerja hanya dengan lulusan diploma satu saja."
"Hhmm, iya tapi aku hanya bisa diploma satu aja setidaknya aku bisa menggunakan komputer."
"Tanggung itu?"
Kevin menarik nafas panjang, "Berapa nomor kontak kamu?"
"Aku nggak punya handphone, kak."
"Apa? Jangan becanda kamu!"
"Beneran," jawab Darren lirih.
"Hhmm, yang sebelah mana rumah kamu?" tanya Kevin saat mereka sudah sampai di jalan bunga.
"Itu, kak. Ada gang kecil itu."
"Masuk gang, ya? Mobil saya nggak bisa masuk," ucap Kevin.
"Iya, hanya bisa masuk sepeda motor saja."
"Hhmm, jadi mobil saya parkir di mana?"
"Itu, kak. Di depan gang itu ada tanah kosong!" tunjuk Darren.
"Hhmm, baiklah."
Kevin lalu memarkirkan mobilnya. Mereka turun dari mobil lalu Kevin membantu Darren berjalan karena kakinya masih sedikit sakit.
"Maaf ya kak, aku merepotkan saja."
"Nggak apa-apa. Nanti obatnya tadi jangan lupa di minum. Kalau besok pagi masih sakit, kamu harus ke rumah sakit lagi. Nanti saya yang antar."
Sampai di rumah Darren, suasana terlihat sepi. Mereka menunggu di teras.
Rumahnya sederhana banget. Batin Kevin sembari menatap sekeliling rumah Darren.
"Kok nggak ada orang?" tanya Kevin.
"Mungkin mama papa sedang keluar."
"Hhmm," Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Darren, sekali lagi kakak ucapkan banyak terimakasih sama kamu. Kalau nggak ada kamu, mungkin kakak. . ." ucap Alya lirih.
"Alhamdulillah kak. Aku bersyukur nggak sampai telat menolong kakak," sahut Darren.
"Lebih baik kamu kuliah diploma tiga saja di kampus, nanti saya bantu. Bagaimana?" tanya Kevin serius.
"Hhmm, terimakasih, kak. Tapi. . ."
"Sudah jangan membantah. Ini sebagai ucapan terimakasih saya karena kamu sudah membantu calon istri saya!" tegas Kevin.
"Calon istri?" tanya Alya dan Darren kompak.
"Jangan asal ngomong!" dengus Alya.
"Siapa yang asal ngomong?" Kevin menatap Alya lekat-lekat. Alya memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Wah, aku jadi obat nyamuk, nih," gurau Darren.
"Hahaa," Kevin tergelak.
"Paan, sih!" Alya terlihat kesal.
"Oh iya, itu mamaku!" ucap Darren seraya menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang membawa kantong plastik besar tengah berjalan ke arah mereka.
Alya dan Kevin reflek menoleh.
"I-ibu?" ucap Alya lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Matanya tak berkedip menatap Lisa.
"Ibu?" tanya Darren kaget dengan pandangan menatap ke arah Alya. Begitupun dengan Kevin.
"Darren, kamu kenapa, nak?" ucap Lisa kaget melihat kondiri putranya. Dia belum memperhatikan Alya.
"Jadi Darren ini anaknya ibu?" tanya Alya membuat Lisa menoleh ke arahnya.
"Kamu siapa?" tanya Lisa heran.
"Alya? Maksud kamu apa?" tanya Kevin heran.
"Alya? Ka-kamu Alya?" tanya Lisa kaget.
Alya gegas pergi dari sana tanpa berpamitan lagi. Dia setengah berlari meninggalkan rumah Darren.
"Alya, tunggu!" panggil Kevin yang langsung mengejar Alya.
"Alya!" panggil Lisa yang terpaku di tempatnya berdiri sembari memandang kepergian Alya.
"Ma, mama kenal sama kak Alya?" tanya Darren bingung.
"Alya, adiknya Andre," ucap Lisa lirih.
"Apa, ma? Jadi kak Alya itu kakakku?"
Lisa mengangguk dengan wajah sedih.
"Kenapa kak Alya pergi? Apa dia sama seperti dokter Andre yang marah sama mama?"
Lisa menarik nafasnya berat lalu duduk di samping putranya.
"Kamu kenapa jadi begini, nak?" tanya Lisa sembari mengusap wajah Darren yang terluka.
"Aku tadi menolong kakakku, ma," jawab Darren lirih.
"Menolong kakak kamu?"
Darren mengangguk.
.
.
.
.
.
Maaf masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😊🙏
.
.
__ADS_1
.
13