
Lisa berjalan mendekati kami, "Pinjem sama siapa sepeda motornya? Sampai kapan pun nggak akan bisa beli!" ucap Lisa sinis.
"Kenapa ibu bilang seperti itu? Sepeda motor ini punya ayah,kok. Baru saja ayah beli. Aku sama mas Andre juga ikut sewaktu ayah membelinya!" jelas Alya dengan suara bergetar.
"Aduh,bu. Sedang hamil kok suka menghina orang. Ingat bu,mulutnya di jaga!" ucap ibu-ibu yang kebetulan ada di dekat kami. Dia menatap Lisa dengan tak kalah sinis sambil menggelengkan kepala.
Lisa dan suaminya lalu buru-buru pergi dari sana. Alya menatap dengan wajah sedih ke arah ibunya itu begitupun dengan Andre.
"Biarin saja,nak. Orang sombong seperti itu nggak usah di pedulikan!" ucap ibu itu.
"Tapi dia itu adalah ibuku!" sahut Alya.
Mata ibu itu membulat, "Apa? Jadi itu tadi ibu kamu? Kok bisa?" tanya ibu itu heran.
"Ibu sudah menikah lagi," jelas Alya.
"Ya Allah. Kamu yang sabar ya,nak!" ucap ibu itu seraya mengusap lembut pucuk kepala putriku yang masih terlihat bersedih.
"Tidak apa-apa,kok bu. Mari bu,kita mau masuk dulu!" pamitku pada ibu itu.
"Oh iya,pak."
"Ayo nak,kita masuk. Kalian mau beli apa?" tanyaku seraya merangkul kedua anakku
Aku dan anak-anakku lalu masuk ke minimarket.
"Nah,kalian mau beli apa? Ambil saja yang kalian mau,ya!" titahku.
Aku membebaskan saja kedua anak untuk membeli apapun yang mereka mau. Setelah Alya dan Andre selesai mengambil apa yang mereka mau,aku segera mengantri di kasir untuk membayarkan belanjaan mereka tak lupa aku membeli kebutuhan rumah.
Aku dan anakku lalu pulang ke kost. Sampai di kost,kedua anakku berubah menjadi pendiam tidak seperti biasanya. Sepertinya mereka masih mengingat kejadian saat di minimarket tadi. Wajah mereka terlihat sedih.
"Ini jajanan kalian. Ayo dimakan!" ucapku pada anak-anakku.
Andre dan Alya lalu memilih makanan mereka masing-masing tapi tidak langsung mereka makan. Mereka kembali melamun dengan raut wajah sedih. Sungguh sakit sekali rasanya hati ini melihat Andre dan Alya bersedih seperti itu.
"Kalian kok diam saja? Tidak suka makanannya,ya?" tanyaku.
Karena tidak ingin melihat ku sedih,kedua anakku lalu memakan makanan yang tadi mereka beli.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian,Pak Sugi kembali menghubungiku. Memintaku datang ke bengkel untuk mengambil sisa uang waktu itu. Dengan bersemangat aku pergi ke bengkel pak Sugi dan dia kaget saat melihatku mengendarai sepeda motor.
"Sepeda motornya baru ya,pak Anto?" tanya pak Sugi sambil senyum.
"Alhamdulillah saya sudah bisa membeli sepeda motor walaupun second," jawabku.
"Alhamdulillah ya,pak," sahut pak Sugi.
"Iya pak. Ini juga hasil dapat orderan dari bengkel bapak."
"Alhamdulillah kalau begitu pak Anto. Saya senang mendengarnya."
"Iya,pak. Akhirnya kesampaian juga membeli sepeda motor."
"Tapi pak Anto sudah lama nih tidak kasih orderan untuk bengkel," ucap pak Sugi.
"Oh iya,pak Sugi. Beberapa bulan ini saya sibuk bekerja di rumahnya pak Taufik jadi kuli bangunan di rumahnya," jelasku sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa,pak. Yang penting halal!" ucap pak Sugi.
Kami lalu ngobrol-ngobrol sebentar. Tak lama kemudian pak Sugi menyerahkan amplop putih ke tanganku.
"Pak,ini sisa yang kemarin," jelas pak Sugi.
Setelah dari rumah pak Sugi aku segera pulang ke kost. Saat aku melintasi sebuah toko elektronik terlintas dalam pikiranku untuk membeli sebuah TV untuk hiburan kedua anakku di kost.
Aku lalu memarkirkan sepeda motorku di depan toko. Setelah melihat dan menimbang-nimbang,akhirnya aku membeli sebuah tv LCD yang ukuran paling kecil.
Gegas aku pulang ke kostan. Ternyata kedua anakku sudah duduk manis sambil memegang alat tulis masing-masing. Ya,kedua anakku itu memang rajin belajar. Walau tidak pernah mendapatkan juara tapi mereka selalu masuk ranking lima besar.
Melihat ayahnya yang pulang dengan membawa kotak kardus TV,senyum kedua anakku langsung mengembang.
"Ayah,ayah beli TV baru ya?" seru Alya antusias.
"Iya nak. Alhamdulillah ayah tadi dapat rezeki jadi bisa membelikan kalian tv," sahutku.
"Ayo cepat di pasang tvnya,yah!" pinta Alya tidak sabar.
"Ayah mandi dulu ya,nak. Hampir maghrib," tolakku halus.
Alya menganggukkan kepalanya, "Hhmm,iya yah."
__ADS_1
Selesai mandi,aku.mengajak Andre ke masjid untuk sholat maghrib. Kemudian langsung pulang ke kost.
Sampai di kost,aku segera memasang tvnya. Alhamdulillah aku mampu membelikan barang untuk hiburan kedua anakku di kost supaya mereka tidak terlalu bosan.
Mereka duduk manis sambil menikmati suguhan acara di tv sementara aku menyiapkan makan malam untuk kami bertiga.
Aku bersyukur walau tanpa istri,aku mampu berperan ganda untuk kedua anakku. Setelah makan malam siap,kami lalu makan malam bersama.
***
Tanpa terasa pembangunan rumah pak Taufik sudah selesai. Sore ini aku menerima gaji terakhirku. Aku gegas pulang ke kost. Aku berniat mengajak keluargaku makan malam di luar.
Sampai di kost,aku mandi lalu berganti pakaian. Aku buka amplop yang tadi di berikan oleh pak Taufik.
Alhamdulillah,gajiku di lebihin jadi total ada lima juta. Jumlah yang sangat banyak untukku. Aku lalu membuka uang simpananku yang aku taruh di lemari pakaianku. Alhamdulillah,jumlahnya sekarang makin banyak. Aku berencana besok akan menyimpan uangku ke bank.
Aku mengambil beberapa lembar uang untuk aku pakai mentraktir makan keluargaku dan memberi uang bulanan untuk ibuku. Setelah itu aku gegas pergi kerumah ibuku.
Sampai di rumah ibu,semua orang sudah bersiap. Aku mengantarkan mereka bergantin. Terlebih dahulu aku mengantar Andre dan Alya,ibu dan terakhir adikku Aminah dan anaknya.
Kami makan di warung tenda di pinggir jalan seperti waktu itu. Tapi kali ini aku mencari tempat yang lain karena anakku Alya tidak mau lagi makan di tempat yang sama seperti waktu itu. Mungkin itu mengingatkan Alya tentang ibunya.
Setelah menunggu tidak berapa lama pesanan kami datang. Semua keluargaku makan dengan lahab begitupun denganku. Aku sangat bahagia,semoga rezekiku makin lancar supaya aku bisa selalu membahagiakan keluargaku.
Tak jauh dari warung tenda,ternyata ada pasar malam dadakan. Aku dan keluargaku lalu pergi ke sana. Kedua anakku dan juga keponakanku sangat bahagia sekali di ajak kesana. Sudah lama sekali mereka tidak pergi ke tempat seperti ini.
Aku membebaskan pada mereka mau main apa saja dan juga membeli barang apapun yang mereka mau termasuk ibu dan juga adikku. Ternyata di sana juga ada yang menjual pakaian. Aku lalu membelikan pakaian untuk kedua anakku,keponakanku,ibu dan juga untuk adikku.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak membelikan mereka pakaian mungkin terakhir lebaran tahun lalu. Untungnya uang yang aku bawa cukup jadi aku juga bisa membeli pakaian untuk diriku sendiri.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Keponakanku sudah mengantuk dan tertidur dalam gendongan ibunya. Kami lalu memutuskan untuk pulang. Terlebih dahulu aku mengantarkan adikku karena anaknya yang sudah tertidur. Lalu ibuku dan terakhir kedua anakku.
Beruntung tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah ibu jadi mereka tidak terlalu lama menunggu. Setelah mengantar ibuku pulang,aku gegas menjemput kedua anakku. Kami langsung pulang ke kost.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.19